Selasa, 19 April 2011

Senyum dan Diam

Sebentar lagi, usia sudah mendekati kepala empat. Anak pun sudah empat. Berumah tangga sudah empat kuadrat alias 16 tahun. Banyak hal dan banyak pencapaian yang sudah saya dapatkan dalam kurun waktu itu. Dengan rasa syukur yang mendalam, kiranya inilah karunia terindah yang dianugerahkan Allah kepada saya. Tak berbanding dan tak tertandingi. Alhamdulillah, tak ada yang pantas terucap kecuali pujian itu. Tinggal bagaimana mengelolanya sehingga nikmat itu menjadi berkembang dan berdaya guna keberadaannya. Tidak hilang, tidak rusak, namun justru mengembang, berbuah, berbarokah. Netepi dalil lain syakartum – la’azidannakum.

Maka tatkala, saya ketemu dengan para yunior yang sekarang punya kedudukan dan posisi kunci, dengan kehidupan yang mapan, godaan mulai berdatangan. Obrolan pun berkembang pada arti hidup. Masih banyak orang yang mengukur pencapaian hidup dengan sebuah kedudukan. Makin tinggi kedudukan berarti semakin sukses. Semakin bermartabat, semakin berkelas. Mereka sering berkata, “Wah, seharusnya Mas ini sudah jadi manager. Apalagi usia sudah hampir kepala empat.” Menanggapi hal itu saya hanya tersenyum dan diam saja.

Lain lagi, godaan yang datang ketika saya ketemu dengan para senior. Secara tidak sengaja bincang – bincang pun mengarah pada ukuran kesuksesan hidup. Lain dengan para yunior yang masih banyak berlagak, para senior ini lebih bermutu, biasanya mereka bicara kesuksesan dari berbagai pandangan. Sebagian ada yang meneropong dari jenjang pendidikan. Secara tak sengaja mereka berseloroh, “Sudah rampung belum S3-nya?” Dengan polos dan lugunya, pernyataan itu saya balas dengan senyum dan diam saja.

Sebagian lagi ada yang memandang kesuksesan dari kaca mata kemandirian dan pemberdayaan. Mereka bilang, “Sekarang sudah usaha apa? Dan berapa orang pekerjanya?” Mendengar ucapan itu, saya pun tak kuasa, hanya tersenyum dan diam saja. Sebagain lainnya ada yang memandang kesuksesan hidup ini dari tingkat spiritualitasnya. Dengan enteng dan bangganya mereka berkata, “Sudah pergi ke Kulon belum?” Mendengar kalimat itu, saya pun hanya bisa tersenyum dan diam saja.

Lain lagi jika saya ketemu dengan para ustadz. Ketika mereka berbincang tentang al-ilmu, saya pun terdiam. Tatkala mereka bertanya, “Sudah sampai mana pencapaianmu?” Saya pun tersenyum menanggapinya. Banyak hal yang saya respon dengan senyum dan diam semata. Bukan karena mengiyakan atau menolak. Bukan pula membantah atau mendebat. Justru dengan tersenyum dan diam itulah, saya bisa melihat wajah nyata kehidupan dengan apa adanya. Semakin menenteramkan hati. Mempraktekkan panjangnya diam. Menerampilkan sodakoh senyuman. Dan menambah kedalaman syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada saya.

Ternyata dengan banyak senyum dan diam, semakin terkuak rahasia – rahasia hidup ini. Maksud – maksud yang tak terungkap, terkadang bisa tertangkap dengan sikap diam ini. Orang yang mau pamer, orang yang pengin dihormati, orang yang berniat baik, orang yang mau berbuat tidak baik, semua terekam dalam diam - sunyi dan senyum ini.

Pun halnya dengan diri sendiri. Dengan senyum dan diam, ternyata mampu mengobsesi diri menjadi lebih baik dan baik. Punya kekuatan dahsyat untuk berbuat baik untuk sesama dan sekitarnya. Memperbaiki diri dan terus berusaha baik selalu. Begitu elok ketika jiwa dan raga menyatu dalam kesatuan nuansa diam dan tersenyum ini. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (Rowahu Bukhory (5672), Muslim dalam bab al-Luqothoh (14), Abu Dawud (91), An-Nasa’i (401) At-Tirmidzi (809)). Dan firman Allah:”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” An-Nisaa : 114.

Maka, saya pun malu sejatinya, jika harus menjawab setiap pertanyaan itu semua - apalagi dengan maksud mengimbangi lawan bicara. Sebab bagi saya firman Allah dalam Surat Ali Imron 139 sudah mencukupinya. Allah berfirman, “Janganlah kamu merasa hina, dan janganlah kamu bersedih hati, sejatinya  kamulah orang-orang yang paling mulia, jika kamu menjadi orang-orang yang beriman.” Apalagi yang mau dicari?

Tatkala kita sudah merasa berada di puncak, kemudian sekeliling kita ramai menawarkan dan membicarakan hal – hal yang banyak, berteriak, adakalanya baik dan kebanyakan angin lalu semata, tak lain sikap yang relevan adalah memberinya senyum dan diam saja. Sebab kalau direspon tak bakal cukup waktu. Tak bakal rampung urusannya. Termasuk ketika ada yang bertanya, “Sekarang istrinya sudah berapa?” Saya pun menoleh, menatap sang penanya, kemudian tersenyum dan diam saja.

Arti Sebuah Kebaikan

Janganlah anda pernah sungkan untuk berbuat baik, karena suatu kebaikan yang sepele dapat membawa kebahagiaan. Hal ini dapat kita simak dalam kisah Dr. Howard Kelly.
Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa sekeping uang, dan ia sangat lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.
Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?” Wanita itu menjawab: “Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan” kata wanita itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata : “Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.”

Belasan tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut.

Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan. Wanita itu sembuh! Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatuannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut.

Ia membaca tulisan yang berbunyi, “Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu..” (Tertanda), Dr. Howard Kelly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa: “Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.

Hidup, Amal Dan Cinta

Untuk variasi, kadang kalau mau nderes, saya suka gambling. Ambil kitab, tegakkan dan biarkan kitab terbuka dengan sendirinya. Acak. Atau ambil kitab, pegang dan buka sembarang. Hal itu sering saya lakukan kalau pas tidak ada ide. Lagi penat bin sumpek. Kalau halaman yang terbuka ternyata tidak menarik, ritual itu diulangi lagi. Sampai dapat sesuai selera. Bahkan tak jarang malah ganti kitab. Selain cara di atas, biasanya saya juga pakai gaya kuno, telusur dari daftar isi dan buka lembar per lembar. Dari bab, sub bab kemudian ke judul, baru lari ke halaman yang dimaksud. Topiknya pasti yang menarik hati saja, hindari yang ruwet dan berat - berat. Yang menyenangkan dan menambah semangat maupun keimanan saja. Ada kalanya, kegiatan seperti itu membuahkan sesuatu yang mengharukan, seperti mendapatkan sesuatu yang benar – benar baru. Dahsyat. Laksana mendapat durian runtuh. Maklum, memory manusia memang terbatas. Lupa seolah menjadi menu dimana - mana. Padahal sebenarnya hanya pengulangan saja kan? Namanya saja deres. Namun, karena situasi dan kondisinya berbeda inilah, akhirnya hasilnya pun beda pula rasanya. Untuk  kali ini saya akan berbagi sesuatu yang saya dapatkan dari kegiatan kecil berupa deres ini, dengan hasil yang saya sebut mengharu-biru cakrawala batin saya.

Dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata, “Jibril datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena kamu pasti mati, beramallah sesukamu karena kamu akan dibalas dengannya, dan cintailah orang yang kamu cintai sesukamu karena kamu pasti berpisah dengannya. Dan ketahuilah sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin adalah qiyamul lail (sholat malam) dan kehormatan mukmin adalah rasa kayanya (menahan diri dari meminta – minta) jauh dari sesama manusia.” (rowahu at-Thabrani fi Mu’jam al-Ausath)

Dimanakah daya tariknya? Wuih…, banyak sekali menurut saya. Pertama, dari gaya bahasanya. Saya suka sekali dengan pemakaian kata syi’ta - sesuka – sukamulah. Ngledek banget rasanya. Orang jawa bilang nglulu. Ingat sama Ahli Badar yang fenomenal itu. Kesan awal begitu menggoda, seperti mendapatkan kebebasan; terserah lho deh! Tapi dikunci dengan akhir pernyataan yang pakem. Kalimat yang imbang. Seperti dilepas, kemudian ditarik lagi. Diangkat terus dijatuhkan. Sebagai mukmin seperti ditantang kemukminannya. Tunjukkan merahmu, begitu kalau boleh meminjam salah satu iklan rokok.

Kedua, yang dibahas hal yang esensial lagi universal: hidup, amal dan cinta. Boleh hidup sesukanya, tapi ingat, semua orang pasti mati. Artinya bersiaplah untuk bekal setelah mati. Seorang bijak pernah ditanya, ''Apa yang Anda dan murid-murid Anda lakukan dalam hidup ini?'' Ia menjawab, ''Kami hanya duduk, kami hanya berjalan, dan kami makan.'' Si penanya tidak mengerti apa maksudnya. ''Tetapi,'' lanjutnya, ''Bukankah setiap orang juga duduk, berjalan, dan makan?'' ''Ya,'' sahut sang bijak,'' Tetapi ketika kami duduk, kami sadar kami sedang duduk. Ketika kami berjalan, kami sadar bahwa kami sedang berjalan. Ketika kami makan, kami sadar kami sedang makan.'' Jadi, sadarlah selalu kemana hidup ini berjalan dan untuk apa hidup kita sebelum gerbang kematian benar – benar datang menyapa.

Boleh berlaku dan beramal seenaknya, tapi semua diri nanti akan menerima ganjarannya masing – masing. Kalau benar dapat, kalau salah ya bersiaplah; guwak byuk.  Beramal, bukan sekedar baik tapi harus tepat sasaran; buat diri dan sekitar. Ada seorang Bapak tua sedang asyik menanam pohon buah – buahan di sebuah bukit yang gundul dan gersang. Bukit itu akhirnya penuh dengan pepohonan dan buah – buahan. Orang jadi senang dan memperoleh manfaat dari budi baik si Bapak itu. Karenanya, menghantarkan si bapak menerima penghargaan sebagai pengakuan akan jasanya. Pada malam penghargaan si Bapak ditanya, “Apa yang melatarbelakangi tindakan yang mulia itu?” Si Bapak dengan spontan menjawab, “Bumi telah lama memberikan kebaikan kepada saya dan orang – orang terdahulu juga telah mewariskan kebaikan yang banyak kepada saya. Mudah – mudahan dengan tindakan kecil saya ini, saya bisa membalas budi dengan memberikan sesuatu kepada generasi berikutnya dan orang – orang yang akan datang serta menjaga kelestarian dan keindahan bumi tercinta ini.”

Terus mencinta juga begitu, silahkan mencintai siapa pun dan apapun, tapi nanti akan berpisah juga. Jangan mencinta secara membabi - buta. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil terus menggumam, ''Lulu..., Lulu....!'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. ”Dokter kenapa orang ini?”, tanya si pengunjung. Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat kamar lain ia terkejut melihat penghuninya terus - menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu...., Lulu, Lulu...”. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanya pengunjung memastikan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.'' Hati – hatilah dengan masalah cinta ini. Salah mencinta bisa petaka.

Ketiga, ditunjukkan dua hal yang menjadi pemuncaknya; yaitu qiyamul lail dan prawiro. Berdiri di saat yang lain tertidur. Dan tidak blubut meminta – minta kepada manusia. Ta’afuf. Terjaga. Tiba – tiba dengan cepat terlintas dalam benak saya arti 4L dalam hadits ini. Kebutuhan  berupa kebutuhan fisik untuk hidup (to live), berikutnya kebutuhan social emosional, saling kasih - sayang dan memperhatikan (to love), kemudian kebutuhan mental (to learn) dan terakhir adalah kebutuhan meninggalkan warisan (to leaving a legacy).

Keempat, seperti sebuah tamparan buat saya yang mengaku mukmin, ketika disebut qiyamul lail dan prawiro. Kata yang selalu menjadi impian tak pernah kesampaian. Dan ingin selalu didapatkan, tapi susahnya bukan kepalang. Tak lain karena jarangnya bisa melakukannya. Jadinya, seperti punguk merindukan bulan. Walau terus selalu mencoba meraihnya.

Kelima, segera saya menutupnya. Karena tak tahan mengulang dan mengulangnya. Semakin diulang semakin dalam sakitnya. Tambah lama tambah dalam dan lebar. Dan malam itu, dalam luka yang menganga, dan rindu yang dalam, tiba – tiba serasa saya dibangunkan dan punya kekuatan  untuk bersimpuh kepada-Nya. Alhamdulillah, Alhamdulillah……

Tempat-Tempat Masuknya Syetan

Syetan masuk ke dlm diri seseorang untuk merusak dan menyesatkan itu melalui beberapa hal  yaitu :

1.الْجَهْلُ  :  Kebodohan

Kebodohan itu mematikan hati dan membutakan penglihatan sehingga orang bodoh itu tidak mengerti mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang sunnah dan mana yang bid'ah mana yang halal dan mana yang harom, mana yang hak mana yang batal, begitu seterusnya. Karena keadaan yang demikian maka syetan memanfaatkan kebodohan ini untuk merusak dan menyesatkan manusia. Untuk itu Allah melarang menjadi orang yang bodoh. Allah berfirman didalam surat Al An'am ayat 35 Yang Artinya : " Dan jika Allah menghendaki, niscaya Allah mengumpulkan mereka di atas petunjukNya, maka jangan sekali-kali kamu menjadi orang yang bodoh

Nabi Musa AS. Perna berdo'a

Yang artinya : " Berkata Musa : aku berlindung kepada Allah bahwa aku termasuk orang yang bodoh "

2.الْغَضَبُ :  Marah

Marah itu termasuk tempat masuknya syetan yang besar dan perangkapnya. Syetan mempermainkan kemarahan seseorang dalam rangka menyesatkan pelajunya itu seperti anak kecil mempermainkan bola seenaknya, begitu mudahnya orang yang marah itu dipalingkan dari kebenaran sehingga bulut yang biasa sopan nisa mengeluarkan kata-kata yang jorok, kasar, bisa mencacimaki, mengumpat, mencela, mencemoh, dll. Anggota badannya bisa tak terkendali, sehingga memukul, menyerang, merobek-robek, melukai, membunuh dll yang jelek. Hati orang yang marah dipenuhi rasa dengki, iri hati, menyimpan dendam terhadap orang yang dimarahi.

" Bersabda Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam : sesungguhnya aku mengerti satu kalimat yang kalu dia mengucapkannya niscaya hilang marah yang ia temui, yaitu : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

حُبُّ الدُّنْيَا .3  :  Cinta dunia


Sesungguhnya syetan telah mengiasi dunia dengan gebyarnya dalam hati kebanyakan manusia sehingga mereka condong pada dunia dan merasa senang dengan dunia, mereka berlomba-lomba mencari dunia dengan sungguh-sungguh, dunia dujadikan tujuannya, mereka saling membenci dan saling dengki karena dunia. Maka iblispun memanfaatkan sedemikian rupa sehingga manusia menjadi sesat.

Bersabda Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam

Yang artinya : " Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam Bersabda : demi Allah bukan fakir yang aku kuatirkan, tetapi aku kuatir terhadap dunia yang dibentankan kepada kalian seperti telah dibentankan kepada manusia sebelum kalian, maka kalian berlomba mendapatkannya seperti mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya, lantas dunia merusak kalian seperti halnya telah merusak mereka "

4. طُوْلُ اْلأَمَلِ  :   Panjang angan-angan


Seorang hamba jika panjang angan-angannya, dia akan melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan cenderung tidak pemperdulikan waktu, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang dia angan-angan oleh hatinya, meramalkan dunia dengan berbagai macam  usaha dan akan merobohkannya sendi-sendi kepentingan akhiratnya.

Bersabda Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam

Yang artinya : " Dari Abi Huroirah berkata : aku mendengar Rosulullah bersabda : tidak henti-hentinya hati orang tua itu tetap muda dalam dua hal yaitu dalam cinta terhadap dunia dan panjang angan-angan"

Jika kita mengerti tinggal berapa sisa umur kita dan sudah berapa umur yang kita lewati nicaya kita akan hidup lebih berhati-hati dalam menggapai apa yang kita angan-angankan, dan niscaya kita lebih senang untuk menanam amal kita dan lebih senang memperpendek apa yang diingikannya.

Kita akan merasa keberadaan kita di dunia seperti orang asing atau seperti orang yang sedang menyeberang jalan. Bersabda Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam :
Yang artinya : " jadilah kamu di dunia seolah-olah kamu itu orang asing atau yang menyeberang jalan."

Untuk itu Ibnu Umar berkata :

Yang artinya : " jika engkau ada pada sore hari jangan kamu menuggu datangnya waktu pagi, atau jika engkau ada pada pagi hari, jangan kamu menunggu datangnya sore hari, ambillah sehatmu untuk sakitmu dan hidupmu untuk matimu."

Bersabda Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam :

Yang artinya : " gunakan lima sebelum lima : gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu."

Ingat janganlah angan-anganmu sebagai tempat masuknya syetan untuk mempermainkanmu dengan adanya angan-angan yang muluk-muluk padahal kosong belaka, sehingga waktumu hanya habis kesibukan-kesibukan-kesibukan duniamu saja dan mengorbankan akhiratmu.

Abdullah Bin Haram (Malaikat Menaunginya Dengan Sayap-Sayapnya)

Jabir berkata, "Ketika ayahku terbunuh dalam perang Uhud, aku membuka wajah ayahku lalu aku menangis. Para sahabat melarangku menangis sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak berkomentar atas tangisanku itu. Bibiku juga menangisi kematian ayahku.

Pada saat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Engkau tangisi dia atau tidak, malaikat tetap akan menaungi dengan sayap-sayapnya hingga kalian mengangkatnya'."
Dalam riwayat lain Jabir berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, 'Maukah kamu aku beritahukan bahwa Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara langsung kepada ayahmu?' Allah berfirman,artinya : 'Inilah hambaKu! Mintalah engkau kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan permintaanmu!!'

Jasad itu menjawab, 'Aku ingin sekiranya Engkau mengembalikan aku ke dunia (menghidupkan aku) lagi, sehingga aku mempunyai kesempatan untuk ikut berperang lagi dan terbunuh yang kedua kali. Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, 'Telah aku gariskan, bahwa mereka yang telah meninggal tidak akan kembali.' Jasad itu berkata, 'Kalau demikian sampaikan hal ini kepada orang-orang setelahku.' Lalu Allah menurunkan ayat,
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ {169}

'Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.' (Ali Imran: 169) (HR. Ahmad,3/298; al-Bukhari, 1244.)

Allah Telah Mengampuni Dosa Al-Kifli

Al-Kifli adalah seorang pemuda Bani Israil, yang tak pernah lepas dari dunia maksiat. Suatu ketika ia tertarik dengan kecantikan seorang wanita. Lalu ia memberikan uang kepada wanita itu sebanyak 60 dinar.

Ketika dalam posisi sebagaimana seorang suami menggauli isterinya, tiba-tiba wanita itu gemetar. Al-Kifli bertanya, "Apakah aku memaksamu melakukan ini?" Wanita itu menjawab, "Tidak, hanya saja perbuatan ini belum pernah aku lakukan seumur hidupku. Aku lakukan ini semata-mata demi memenuhi kebutuhan hidupku."

Al-Kifli berkata, "Berarti kamu takut kepada Allah untuk memenuhi ajakanku ini sementara aku tidak takut kepadaNya." Kemudian al-Kifli meninggalkan wanita tersebut dan menghadiahkan uang tersebut kepadanya.
Ia berkata, "Al-Kifli tidak akan pernah bermaksiat lagi kepada Allah." Pada malam hari itu ia mati sementara keesokan harinya di pintu rumahnya terdapat tulisan bahwa Allah telah mengampuni dosa al-Kifli. (Nurul Iqtibas, hal 36.)

Ayah Membangunkan Sebuah Rumah untuk Anaknya, Namun Ia Membalasnya dengan Membunuhnya

Ada seorang laki-laki yang bekerja sebagai tukang bangunan. Dia menikahkan putranya dan membangunkan untuknya sebuah rumah dengan tangannya bersama teman-teman tukang bangunan lainnya. Setelah berjalan beberapa tahun, sang ayah menjadi tua dan tidak kuat berjalan. Maka sang anak menempatkannya di rumahnya. Sang anak tersebut hanya memberi sisa-sisa makanan untuk ayahnya dan tidak memperhatikan kebersihan ayahnya.

Pada suatu hari, istrinya berkata kepadanya, "Silahkan kamu pilih, aku yang di rumah ini atau ayahmu?" Dia pun memilih istrinya daripada ayahnya. Saat itu juga, sang istri menyuruh suaminya untuk mengusir ayahnya, dan dia pun langsung melaksanakannya. Dia mengambil ayahnya dari kamar, dan membuntelnya dengan selimut, lalu menyeretnya keluar menuruni anak tangga. Tatkala turun, papan tangga yang membengkokkan papan tangga yang lain mengenai kepala ayahnya. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh sang ayah kecuali melihat anaknya dengan pandangan pasrah. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Yang berkata hanyalah air matanya yang bercucuran dari kedua matanya. Memang, dia sudah tidak kuat bergerak, tidak bisa berbicara, akan tetapi kemudian anaknya mengusirnya keluar rumah. Padahal kala itu musim panas, panasnya matahari seakan membakar wajah.

Tidak lama kemudian ada dua orang laki-laki yang berjalan melewati tempat tersebut. Tiba-tiba mereka melihat selimut itu. Karena penasaran, mereka membukanya, dan ternyata mereka mendapati seorang laki-laki tua di dalamnya yang telah meninggal dunia. Kemudian keduanya pun melapor kepada polisi. Polisi pun menghukum sang anak lima belas tahun penjara. Dia tinggal di penjara, jauh dari istrinya dan anaknya yang masih kecil, yang belum genap lima tahun.

Lima belas tahun kemudian, setelah masa tahanan selesai, istrinya datang ke penjara bersama anaknya yang telah beranjak dewasa. Mereka berdua datang dengan mobil yang dikendarai oleh anaknya. Tatkala keduanya sampai di pelataran penjara, laki-laki itu telah keluar dari penjara dan melihat keduanya datang. Lalu dia pun menghampiri keduanya yang berada di mobil. Ketika dia mendekati mobil, tiba-tiba anaknya kalut. Seharusnya dia menginjak rem, tapi malah menginjak gas, sementara ayahnya berada di depan mobil. Dia pun menabrak ayahnya dan menjatuhkannya ke tanah dalam keadaan mati. (Abna` Yu'adzdzibuna Abna`ahum, hal. 53.)

Kisah Seorang Anak yang Berusaha Membunuh Ibunya, Tiba-tiba Tangannya Lumpuh

Telah diriwayatkan, bahwa ada seorang anak yang durhaka memiliki istri pelacur yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Ibunya sering menasihatinya akan kejelekan istrinya. Akan tetapi dia tidak mendengar nasihat sang ibu karena terpengaruh dengan istrinya. Istrinya adalah seorang pelacur yang bukan berasal dari negerinya dan bukan dari daerahnya. Maka dari itu, bagi orang yang hendak menikah, hendaklah dia berhati-hati agar tidak menikah dengan seorang perempuan yang tidak diketahui keluarga dan orang-orang yang ada di sekitarnya, agar dia tidak binasa dengan kesudahan yang tidak dia inginkan. Ketika terjadi perselisihan antara dia dengan ibunya, maka dia berniat membunuh ibunya agar berlepas diri darinya, sebagaimana yang disarankan oleh istrinya. Maka dia berkata kepada ibunya, "Maukah ibu pergi jalan-jalan bersamaku?"

Sang ibu menyangka bahwa anaknya telah berubah menjadi anak yang berbakti kepadanya, maka dengan gembira dia menjawab, "Tentu anakku, aku mau pergi bersamamu. Semoga Allah memberimu taufik kepada kebaikan." Sang anak adalah seorang sopir. Ibunya ikut naik mobil bersamanya dan pergi ke padang pasir, sementara dia merencanakan kejahatan kepada ibunya. Ketika ibunya menangis bahagia karena anaknya berbakti kepadanya dan mau mengajaknya jalan-jalan, maka mobil itu melaju di jalan raya umum hingga kemudian keluar dari jalur dan melaju di sahara, sampai ke gundukan bebatuan dan tempat binatang liar.

Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya dan berkata kepada ibunya, "Turunlah." Sang ibu yang shalihah itu bertanya, "Apakah kita sudah sampai ke tempat orang yang mengundang kita?" Dia menjawab, "Tidak ada seorang pun yang mengundang kita, akan tetapi aku akan membunuh ibu, karena ibu telah membuat susah kehidupanku dan istriku." Maka dengan serta merta ibunya menangis seraya mengatakan, "Kalau begitu tempatkanlah aku di sebuah rumah sendirian." Dia berkata, "Jika aku melakukan itu, niscaya orang-orang akan mencelaku. Tapi jika aku membunuh ibu, maka tidak ada yang mengetahui kita." Ibunya berkata, "Allah Mahatahu dengan perkaramu, dan Dia pasti akan membalasmu dan juga istrimu."

Dengan nada mencemooh, dia berkata kepada ibunya, "Kalau begitu, Allah pasti akan menyelamatkan ibu dari cengkeramanku." Dengan suara lantang ibunya berkata, "Allah pasti akan membalasmu. Aku tidak takut mati selama kamu sudah berketetapan hati untuk membunuhku. Karena Allah Ta’ala telah berfirman, 'Maka apabila telah datang waktunya (kematian), mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya'." (Al-A'raf: 34).

Lantas, sang anak hendak membunuh ibunya. Akan tetapi ibunya berkata, "Biarkanlah aku shalat dua rakaat terlebih dahulu, apabila aku telah sampai pada posisi duduk tasyahud dalam keadaan membaca tasyahud, maka bunuhlah aku jika kamu mau. Karena aku tidak mau melihatmu membunuhku."

Demikianlah, ibunya kemudian menghadap kiblat dan dengan suara yang penuh kepercayaan kepada Allah, dia bertakbir, "Allahu Akbar." Dia mulai shalat dengan khusyu' yang sempurna. Sementara anaknya menunggu diam penuh ketakutan. Akan tetapi Allah Mahatahu apa-apa yang ada di dalam hati, Maha Mengetahui yang tersembunyi, Maha Penolong kepada orang yang terzhalimi, Dzat yang apabila berkehendak melakukan sesuatu, maka hanya dengan mengatakan, "Jadilah", maka jadilah ia.

Tatkala ibunya telah sampai pada posisi tasyahud, kedua mata anaknya itu memerah dan anggota badannya gemetar. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada seorang pun yang datang. Dia pun mengangkat batu yang ada di tangannya, dari belakang ibunya, hendak menjatuhkan batu itu ke kepala ibunya dan memecahnya menjadi dua. Namun tidak lama kemudian, ibunya mendengar teriakan keras dari anaknya. Dalam keadaan takut dia menoleh ke anaknya untuk mengetahui apa yang terjadi? Ternyata dia melihat anaknya tenggelam ditelan bumi. Tangannya yang membawa batu telah lumpuh dan tidak dapat menggerakkannya. Maka sang ibu pun berteriak menangisi anak satu-satunya, "Anakku, ya Rabbi, aku tidak punya anak selainnya…, apa yang terjadi padamu anakku?"

Dengan kedua tangannya yang penuh belas kasihan, sang ibu mengeluarkan anaknya dari bumi yang menelannya seraya mengatakan, "Sekiranya aku mati tanpa terjadi hal ini padamu wahai anakku."
Sungguh, Allah Yang Mahakuasa telah membalas anak durhaka ini. ( Aqibah Uquq al-Walidain, hal. 69-71)

Akibat Memperlakukan Seorang Ibu Sebagai Pembantu Bagi Dirinya

Seorang anak berlaku kasar kepada ibunya. Dia tidak hanya suka teriak-teriak di wajahnya, akan tetapi suka mencaci dan memakinya. Ibunya yang telah tua, seringkali berdoa kepada Allah Ta'ala agar Allah meringankan kekerasan dan kekejaman anaknya. Dia menjadikan ibunya sebagai pembantu yang membantu dan mengurusi segala kebutuhannya, sedangkan ibunya sendiri tidak membutuhkan pengurusan dan bantuannya. Betapa sering air matanya mengalir di kedua pipinya, berdoa kepada Allah Ta'ala agar memperbaiki belahan hatinya dan memberikan hidayah kepada hatinya.

Pada suatu hari dia menemui ibunya dengan raut wajah kejahatan yang terlihat dari kedua matanya. Dia berteriak-teriak di wajah ibunya, "Apakah ibu belum menyiapkan makanan juga?" Dengan segera ibunya mempersiapkan dan menghidangkan makanan untuknya. Akan tetapi tatkala dia melihat makanan yang tidak dia suka, maka dia melemparnya ke tanah.

Dia marah dan berucap, "Sungguh, aku kena musibah dengan wanita yang sudah tua renta, aku tidak tahu, kapan aku bisa berlepas diri darinya." Ibunya menangis seraya berkata, "Wahai anakku, takutlah kamu kepada Allah terhadapku. Tidakkah kamu takut kepada Allah? Tidakkah kamu takut akan murka dan kemarahan-Nya?" Karena mendengar kata-kata ibunya, maka kemarahannya pun memuncak, dia memegang baju ibunya dan mengangkatnya. Dia mengguncang-guncang ibunya dengan kuat seraya menghardik, "Dengar, aku tidak mau dinasihati. Bukan aku yang mesti dibilang harus bertakwa kepada Allah."

Lalu dia melempar ibunya. Ibunya jatuh tersungkur. Tangisnya bercampur dengan tawa anaknya yang penuh dengan kepongahan seraya mengatakan, "Ibu pasti akan mendoakan kecelakaan bagiku. Ibu mengira Allah akan mengabulkannya." Kemudian dia keluar rumah sambil mengolok-olok ibunya. Sementara sang ibu, dia berlinangan air mata kesedihan, menangis siang dan malam tiada henti.

Adapun anaknya, dia lalu menaiki mobilnya. Bergembira dan bersuka cita sambil mendengarkan musik. Dia kencangkan volume tapenya. Dia lupa akan apa yang telah dia perbuat terhadap ibunya yang malang. Dia meninggalkan ibunya dalam keadaan bersedih hati sendirian, hatinya menelan rasa sakit, mengalami kesedihan yang sangat mendalam.

Dia punya acara ke luar kota. Tatkala mobilnya melaju di jalan raya dengan kecepatan membabi buta, tiba-tiba ada seekor unta berada di tengah jalan. Dia terguncang dan kehilangan keseimbangan. Dia mencoba untuk menguasai keadaan, akan tetapi tidak ada jalan keluar dari takdir. Dalam kecelakaan itu, ada potongan besi mobil yang masuk ke dalam perutnya, akan tetapi dia tidak langsung tewas. Allah ta'ala menangguhkan kematiannya. Dia berpindah dari operasi satu ke operasi yang lain, hingga akhirnya terbaring di tempat tidur, tidak bisa bergerak sama sekali. (Aqibah Uquq al-Walidain, hal. 69-71.)

Kisah Tukang Cukur

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Allah.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau Allah itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya Si konsumen.
“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa Allah itu tidak ada”.
“Katakan kepadaku, jika Allah itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” .

“Jika Allah ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.
“Saya tidak dapat membayangkan Allah Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan Si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (Jawa : mlungker-mlungker – Red), kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini tidak ada tukang cukur..!”
Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kamu kok bisa bilang begitu?”.
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu tidak! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.
 “Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
“Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.

“Cocok, saya setuju..!” kata Si konsumen.
“Itulah point utamanya!.. Sama dengan Allah.
“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.

Sebenarnya Allah itu ada ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?
Mengapa orang-orang tidak mau datang kepada-Nya, dan tidak mau mencari-Nya..?
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur terbengong!!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..mengapa aku tidak mau datang kepada Allah, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”

Wanita dan Agama

Tak ada agama maka Tak ada hak : kenapa saya khuruj fi sabilillah......
Kehidupan indah adalah kehidupan dalam agama.
Bahkan susah payahnya binatang dalam kehidupannya tidak dijanjikan kebahagiaanya oleh Allah SWT.

Lihatlah siklus hidup hewan dia punya anak, kemudian anaknya diajari cari makan, anaknya besar kawin, makan tidur kemudian punya anak lagi, diajari cari makan lagi, kawin lagi.....tak pernah fikirkan perintah Allah bagaimana dia dapat amalkan dan juga orang lain mampu amalkan juga..

Contoh,
Burung betina bertelur begitu susah payah, ia siapkan sarang yang kokoh untuk meletakan telurnya, setiap hari terbang bawa rumput, ranting, dahan hanya untuk sekedar buat sarang.
Saat telur sudah jadi, ia sibuk menjaga agar telur tidak dimangsa musuhnya, dia letakan sarang di tempat yang aman.

Kemudian saat dia menetas sang induk tak makan berhari-hari bahkan ad yg berbulan-bulan. Setelah jadi anak, sang induk mencarikan makan bolak balik ke sarangnya, kalau jumlah anaknya 4 ekor maka sang induk 4 kali balik untuk menyuapinya.
Tapi, setelah anak burung dewasa maka sang anak tak perlu tau siapa ayahnya, ibunya, saudaranya, dan sebagainya.

Bahkan kepada ibunya tak ada ucapan terima kasih yang ia haturkan.
Bertemu tak saling sapa burung tadi.
Bahkan Allah SWT tak hargai pengorbanan induk tadi yang membesarkan anaknya dengan susah payah.
Bahkan juga tak jarang sang anak berebut makanan dengan ibunya, tapi anak burung tadi tak berdosa dan sang ibu pun tak ber-pahala dan Allah SWT tak murka kepada anak-anak burung tadi, kenapa?
Karena burung tidak ada agama..

Sedang apabila ada agama maka agama membayar dan menghargai pengorbanan seorang ibu, agama juga tunaikan hak dari seorang ibu atas anaknya, suaminya dan juga sebaliknya.

Agamalah yang beri kita hak, tapi hak agama melebihi hak semua orang maka lebihlah di perlukan memenuhi hak agama. Hari ini agama yatim yang terbesar, banyak rumah yang tak mau terima agama.

Hari ini wanita menuntut hak mereka turun ke jalan jalan dan dirikan komnas wanita dan menuntut gender, persamaan hak, dan sebagainya. Mengapa demikian?

Ini semua karena suami mereka tak amalkan agama sehingga dirumah mereka telah di rampas hak kewanitaanya.

Lihatlah...
Ketika agama tak di amalkan maka wanita telah kehilangan hak, kenapa?
Karena adanya hak wanita karena adanya agama.
Dahulu sebelum agama islam datang para wanita dalam kehinaan.

Di gambarkan oleh al quran:
"Apabila diberi kabar gembira tentang kelahiran anak wanita wajah mereka langsung hitam karena malu dan mereka marah...(An Nahl:59)

Orang punya anak wanita malu sehingga hanya ada 2 (dua) pilihan yang mereka buat,yakni:
"Mereka di asingkan dalam kehinaan atau di pendam hidup-hidup". (An Nahl: 59).

Dahulu Wanita hina sekali sebelum islam datang. Orng romawi dahulu telah jadikan wanita sebagai barang dagangan diperjual belikan.
Di Bali bahkan ada agama yang tak beri wanita harta warisan.

Lantas bagaimana Soal Fir'aun yang membunuh laki-laki? Dan membiarkan wanita hidup?
Apakah Fir'aun memuliakan wanita?
Tentu tidak, tapi Fir'aun berbuat demikian karena takut dengan mimpi yang dia yakini dimana akan lahir seorng bayi yang akan menghancurkan kerajaanya.
Firaun membiarkan wanita hidup untuk jadi budak sex tentaranya dan dipajang di istananya.

Jadi Islamlah yang mengangkat hak wanita dengan diturunkannya sebuah ayat :
"Allah yang memberikan kelahiran anak wanita dan Allah yang memberi kelahiran anak laki-laki. (Assyura: 50)

Wanita disebut lebih dahulu dari laki-laki untuk menghormatinya. Ahli dunia saja yang mengatakan ingin derajat wanita tak ada, yang menulis laki-laki dahulu baru wanita: WC laki-laki / perempuan, suami istri, putra putri, pria dan wanita.

Sedang Al-Quran justru menyebut perempuan dahulu baru laki-laki, bahkan turun suatu surat An-Nisa yang artinya perempuan sedang arrijal tak ada!

Dalam hadist banyak disebutkan hak wanita yang harus di penuhi:
* Diberi makan jika kamu makan, diberi pakaian jika kamu berpakaian dan diberi tempat tinggal jika kamu  berumah.
*Bahkan Nabi SAW mengatakan bahwa sebaik baik kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya
*Nafkah seorang kepada keluarga sama dengan jihad fi sabilillah
*Tidak boleh memukul muka istri kamu
*Seorang suami memandang wajah istrinya dengan kasih sayang dan istri memandang wajah suami dengan kasih sayang maka Allah SWT akan memandangnya dengan kasih sayang.

Jadi wanita akan menerima haknya ketika agama wujud dalam kehidupan.
Sekarang karena agama tak berwujud banyak orang Islam meninggalkan amalan agama, maka banyak wanita yang kehilangan hak.

Memang ada perbedaan dan persamaan antara laki-laki dan wanita, tetapi kesamaanya adalah laki-laki dan wanita perlu belajar iman dan ilmu agama, serta bermujahadah melawan nafsu untuk mendapatkn iman dan ilmu.

Syech Abdul Wahab mengatakan: Kehidupan tanpa agama seperti pasar dimana orang dihargai karena uangnya bukan karena amal kebaikanya.

Begini kalau orang-orang tinggalkan dakwah...Begitulah tak ada agama maka tak ada hak
Carilah untuk kamu wanita dan atau pria sholeh agar dia bisa tunaikan hak kamu dengan baik.
Insya Allah...

Agama Islamlah yang mampu tunaikan hak manusia dengan baik........
Telah Allah letakkan kejayaan umat manusia pada amal agama yang sempurna, tidak ada kejayaan selain itu......

Kita sebagai umat Muhammad bila ingin diakui sebagai umatnya tak boleh berhenti berdakwah.....Nabi telah contohkan bahwa dia tidak pernah berhenti berdakwah, bahkan dakwah Nabi itu ibarat orang yang berenang jika berhenti akan tenggelam......sejak ayat Ya Ayuyuhal Mudatsir turun, beliau SAW langsung melipat bister tempat tidur dan katakan: La roihata Ba'dal Yaum(sejak hari ini tidak ada lagi istirahat).

Nabi di hantar untuk seluruh manusia,Wama 'arsalnaka illa kaafata linnas, sedangkan Allah adalah Robbinas (Tuhan) bagi seluruh manusia..dan Al quran adalah hudallinnas (petunjuk) bagi seluruh manusia

Dalam sejarah nubuwwah Nabi SAW hanya berumur 63 tahun, dan hanya 2 (dua) kali meninggalkan tempat tinggalnya yaitu ketika ke Thaif dan ketika ke Tabuk, pertanyaannya bagaimana agama akan sampai pada Manusia ?

Apakah angin yang membawa? atau burung? Tentu tidak!!!
Agama dibawa oleh sahabat ke seluruh alam, itulah sebabnya Allah berfirman tentang ummat ini:
" Kalian adalah sebaik-baik ummat yang di keluarkan (dilahirkan) untuk manusia.."(Ali imran 110)

Fal yuballigh syahidinu mingkumul ghoib (hendaklah yang tidak hadir sampaikan kepada yang hadir).

Sejak saat itu sahabat pergi kemana dia mengarah.
Yang di barat terus berjalan ke barat, yang ke timur pergi ke timur. Mereka tidak lagi berfikir pulang dulu kerumah, mereka membawa dakwah Rasulullah...SAW.

Sehingga makam mereka bertebaran di seluruh muka bumi dan bila kita pergi haji hanya ada kurang lebih 10.000 orang yang di makamkan di Madinah. Yang lainnya jauh dari tempat lahir mereka 3600 ada di Yordan, Amru bin Naqsya ada di Shakarpursind Pakistan.
Sampai-sampai di Pulau Sumatera Utara ada makam sahabat bertuliskan 38 hijriyah.
Itulah alasan kenapa kita harus khuruj Fi Sabilillah.........agar kebatilan tidak tersebar dan agar islam tidak lagi asing.......
Sampaikan..sampaikan..sampaikan......atau ilmu kita akan kena hisab di akhirat kelak...

INSYA ALLAH............
Sebagaimana Rasulullah katakan:
"Seandainya matahari di tangan kanan dan bulan di tangan kiri, ........ saya tidak akan berhenti kerjakan dakwah,... sampai agama ini tegak atau saya hancur....".

Itulah alasan da'i tinggalkan anak istri ..bukan untuk menzalimi mereka tapi untuk mengisi catatan amal istri mereka....kita tinggalkan anak istri agar kita tak menjadi asbab kerusakan di muka bumi....tinggalkan anak istri untuk selamatkan dari pembantaian syetan di dalam rumah..tinggalkan anak istri sebagai naib Rasulullah...tinggalkan anak istri karena pewaris kitab....tinggalkan anak istri untuk mentransfer fikir Rasulullah SAW dalam kehidupan keluarga muslim..tinggalkan anak istri karena ciri-ciri laki-laki dalam Al-Quran karna tugas lelaki banyak di luar rumah..kita khuruj fisabilillah untuk wujudkan 4 amal anbiya secara serentak...kita tinggalkan anak istri untuk tunaikan hak secara adil dimana ada agama maka ada hak tertunaikan secara adil......

Ketika hadir cinta yang menggebu kepada istriku...maka itulah saat aku pergi meninggalkannya khuruj fi sabilillah...
Aku berhutang cinta kepada istriku di dunia...untuk aku sempurnakan di surga dengan cinta yang Abadi....

Orang-Orang Yang Didoakan Oleh Malaikat


Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)

Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

1.Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (At Targhib wat Tarhib I/37)

2.Orang yang duduk menunggu shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (HR Muslim no. 469)

3.Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.
Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan" (HR Sunan Abi Dawud I/130)

4.Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf" (At Targhib wat Tarhib I/272)

5.Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (HR Bukhari no. 782)

6.Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106)

7.Orang – orang yang melakukan shalat secara berjama'ah di mesjid.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140)

8.Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9.Orang – orang yang berinfak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (HR Bukhari no. 1442 dan HR Muslim no. 1010)

10.Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur" (At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11.Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" ( Al Musnad no. 754)

12.Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (HR Tirmidzi II/343)