Jumat, 20 Mei 2011

Awas..! Tipu Daya setan Yang Menyesatkan

annur-21

21- Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (An Nur 21)

Ada 5 pesan bagi orang ber-iman yang terkandung dalam surat An Nur ayat 21 ini yaitu:
  1. Selalu waspada dan tidak mengikuti bisikan serta bujuk rayu syetan.
  2. Syetan selalu membujuk dan menganjurkan manusia untuk melakukan perbuatan keji dan mungkar.
  3. Tanpa pertolongan dan rahmat Allah tidak ada satu orangpun yg bisa selamat dari bujuk rayu dan tipu daya syetan itu.
  4. Namun demikian Allah menyelamatkan siapa yang dikehendaki dari tipu daya dan bujuk rayu syetan.
  5. Allah Maha mendengar dan maha melihat segala sesuatu.
Syetan adalah musuh utama manusia yang selalu mengikuti manusia kemanapun dia pergi. Syetan selalu membisikan fikiran buruk dan membujuk manusia untuk melakukan perbuatan maksiat, keji dan mungkar, setiap detik. Syetan tidak pernah letih dan lelah dalam usahanya menyesatkan manusia. Tidak ada satu orangpun yang bisa lolos dari usaha bujukan, rayuan dan tipu daya syetan ini.

Manusia memang berada pada pihak yang lemah. Syetan bisa melihat manusia dari tempat yang manusia tidak mampu melihatnya dan syetan mampu berjalan keluar masuk aliran darah manusia dengan bebasnya. Itulah sebuah pertarungan yang tidak seimbang. Banyak sudah manusia yang menjadi korban, termakan bujuk rayu syetan sehingga terjerumus kejurang yang dalam dan hancur seluruh kehidupannya.

Tipu daya syetan ini masuk kedalam hati dan fikiran manusia dari yang berpendidikan rendah sampai yang berpendidikan tinggi. Ilmu pengetahuan syetan tumbuh dan berkembang mengikuti ilmu orang yang diikutinya, syetan juga ikut belajar, kuliah, diskusi bersama orang yang diikuti. Jika orang yang diikuti mendapat gelar sarjana, doktor, profesor, kyai, ulama, mentri, presiden, maka syetan yang mengikutinyapun mendapat gelar dan ilmu yang sama dengan orang yang diikuti. Ia membujuk orang yang diikuti untuk melakukan kecurangan, perbuatan maksiat sesuai dengan ilmu yang mereka miliki. Maka munculah koruptor kelas kakap, jendral dan kepala negara yang memicu timbulnya peperangan. Bankir yang khianat membawa lari uang nasabah. Kontraktor yang membabat hutan semaunya dan menimbulkan bencana alam dimana mana. Ulama, ustadz atau kyai yang memperalat agama untuk kepentingan pribadinya, dan lain sebagainya.

Kekacauan dan kemelut kehidupan dunia yang dilakukan oleh orang terpelajar, kaum intelektual yang menguasai teknologi dan berpendidikan tinggi serta carut marut kehidupan dilingkungan kumuh dan dikalangan orang yang tidak berpendidikan tinggi adalah hasil bujuk rayu dan bisikan syetan yang masuk kedalam hati dan fikiran mereka. Kemelut dalam rumah tangga, perkelahian antar kelompok, perkelahian antar kampung, perampokan, pembunuhan, pencurian, perjudian, perzinahan, mabuk-mabukan adalah hasil kerja nyata bisikan dan bujuk rayu syetan yang berhasil mempengaruhi manusia yang diikuti oleh syetan ini.

Kalau tidak ada rahmat Allah dan karunianya maka tidak ada seorang manusiapun yang mampu meloloskan diri dari jeratan tipu daya dan bujuk rayu syetan tersebut. Namun demikian Allah menuntun dan membimbing siapa yang dikehendakinya sehingga mampu menghindar dari tipu daya dan bujuk rayu syetan yang menyesatkan itu. Allah menjamin bahwa hambanya yang taat patuh dan selalu ingat pada-Nya tidak akan pernah termakan bujuk rayu syetan, sebagimana disebutkan dalam surat Al Israak 65 dan surat An Nahl 99:

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, Kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga. (Al Israak 65)

Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. (An Nahl 99)

Menghadapi pertarungan yang tidak seimbang ini, marilah kita selalu berlindung pada Allah yang maha kuat dan mengetahui yang ghaib dan nyata. Walaupun kita tidak dapat melihat syetan dengan mata fisik, namun dengan pertolongan Allah mata batin kita bisa melihat dan mewaspadai semua gerak gerik dan tipu daya syetan tersebut. Selalu ingat dan berlindung pada Allah setiap saat, sebagaimana syetan juga berusah menyesatkan kita setiap saat, insya Allah hati akan menjadi awas dan mampu mengawasi syetan yang selalu mengikuti kita kemanapun pergi. Tanpa pertolongan Allah sangat sulit bagi kita untuk menang dan selamat dari bujuk rayu dan tipu daya syetan.

Orang yang dikuasai syetan

Tidak ada satu orangpun yang bisa selamat dari tipu daya syetan tanpa pertolongan Allah. Hanya orang yang selalu ingat dan berlindung pada Allah saja yang bisa selamat dari tipu daya dan bujuk rayu syetan. Orang yang tidak pernah mau mengingat Allah, merasa kuat, mampu, sombong dan bangga dengan kemampuan dirinya sangat rentan terhadap bujuk rayu dan tipu daya syetan. Mereka merasa benar dan hebat sendiri serta tidak menyadari jika syetan telah menipu dan menyesatkan diri mereka dari jalan yang benar.

Allah membiarkan orang yang tidak mau kenal dan ingat pada-Nya menjadi bulan-bulanan syetan, mereka telah ditipu syetan sehingga memandang baik semua perbuatan mereka yang buruk, dan memandang buruk semua perbuatan yang baik. Mereka mengabdikan hidupnya hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan memenuhi semua bisikan dan bujuk rayu syetan. Dalam surat An-Nahl ayat 99 Allah menyatakan bahwa syetan tidak mempunyai kekuatan untuk mempedaya orang yang beriman dan bertawakal pada-Nya, syetan hanya mampu menyesatkan dan mempedaya orang yang mengambilnya sebagai pemimpin dan mempersekutukan Allah dengan sesuatu sebagaimana disebutkan dalam surat An Nahl ayat 100.

an-nahl-100
 
Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 100)

(fadhilza.com)

Sucikan Hati

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari (kiamat) ketika tidak lagi bermanfaat harta maupun keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 88-89).

Untuk memperjelas kandungan ayat yang mulia ini, marilah kita simak keterangan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya….

Artinya; tidaklah harta yang dimiliki oleh seorang manusia -meskipun dia berikan emas sepenuh isi bumi- untuk menebus adzab Allah, demikian juga anak keturunannya bahkan meskipun seluruh manusia yang ada di muka bumi ini dia pergunakan untuk menebus adzab itu niscaya tidak akan diterima oleh Allah. Sebab pada hari itu tidak ada yang bermanfaat selain keimanan kepada Allah, keikhlasan dalam beragama kepada-Nya, dan juga sikap berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku-pelakunya. Oleh karena itu Allah menyatakan (yang artinya), “kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” maknanya; selamat dari kotoran dosa dan kesyirikan. Muhammad bin Sirin mengatakan, “Hati yang selamat bisa menyadari bahwa Allah adalah (sesembahan) yang haq. Dan meyakini bahwa hari kiamat itu pasti datang tanpa ada keraguan padanya, dan Allah pasti membangkitkan orang-orang yang sudah terkubur.” Sedangkan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan makna “kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” artinya, “Hati tersebut hidup dan mempersaksikan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah.” Sementara Mujahid dan Al-Hasan menerangkan bahwa makna hati yang selamat yaitu bersih dari syirik. Sa’id bin Al-Musayyib melengkapi bahwa makna hati yang selamat adalah hati yang sehat; yaitu hati seorang mukmin, karena hati orang kafir dan munafik adalah hati yang sakit. Sebagaimana hal itu Allah sebutkan (dalam ayat yang artinya), “Di dalam hati mereka terdapat penyakit.” (QS. Al-Baqarah : 10). Sedangkan Abu Utsman An-Naisaburi mengatakan, “Hati yang selamat itu adalah hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tentram di atas As-Sunnah.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 6/48).

Karakter hati yang selamat

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyebutkan beberapa karakter/ciri hati yang selamat; yaitu hati tersebut diisi dengan : keikhlasan, ilmu, keyakinan, kecintaan kepada kebaikan dan menganggap kebaikan itu sesuatu yang indah di dalam hatinya, keinginan dan kecintaannya senantiasa mengikuti apa yang Allah cintai, begitu pula hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang Allah berikan (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 593).

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa hati tidak akan benar-benar bisa selamat kecuali jika terbebas dari lima hal; [1] syirik yang memupuskan tauhid, [2] bid’ah yang menyimpangkan dari As-Sunnah, [3] menuruti keinginan nafsu yang membuat berpaling dari perintah (syari’at), [4] kelalaian yang membuat dzikir terbengkalai, [5] hawa nafsu yang mengikis kemurnian ibadah dan keikhlasan (lihat Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 138. Cet. Dar Al-Aqidah).

Sebagian orang bijak mengatakan, “Bukankah apabila orang yang sakit itu dihalangi dari makan dan minum serta tidak mengkonsumsi obat maka dia akan mati?”. Mereka (teman-temannya) menjawab, “Benar.” Lalu dia mengatakan, “Maka demikian pula hati; apabila ia terhalangi dari memperoleh ilmu dan hikmah selama tiga hari niscaya hati itu juga mati.” (lihat Al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 144).

(abu0mushlih.wordpress.com)

Cinta Ditolak, Dukun Bertindak

Sebagian pemuda yang dimabuk asmara akibat mengobral pandangan kepada perempuan-perempuan yang juga tidak punya rasa malu mungkin akrab dengan slogan ini, ‘Cinta ditolak, dukun bertindak’. Ada dua hal pokok yang perlu kita kritisi dalam slogan ini.

Pertama, cinta yang salah penerapan. Ketika orang berbicara cinta, maka yang terpikir di otak para remaja adalah pacaran, apel, nonton bareng, dan seabrek kegiatan mendekati zina lainnya. Yang kedua, ketika kepentingan hawa nafsu mereka tidak terpenuhi, maka otomatis mereka lari kepada para dukun yang notebene justru menceburkan mereka ke dalam dosa yang jauh lebih berat yaitu syirik dan kekafiran.

Ini tidak jauh dengan ungkapan, ‘Lepas dari gigitan singa, terjatuh ke mulut buaya’. Nah, tentu ini merupakan musibah dan bencana yang menghancurkan iman dan jati diri seorang insan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia berkenan mengampuni dosa lain di bawah tingkatan syirik bagi orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa’ : 116).

Perhatikanlah, inilah realita umat yang hari ini kita hadapi… Ketika aqidah dan akhlak generasi muda telah terkikis dan luntur dari lubuk hati mereka, maka secara otomatis syaitan dan bala tentaranyalah yang bekerja dan memegang kendali dalam tubuh dan akal pikiran mereka. Maka tidaklah mengherankan jika banyak remaja yang menggandrungi kisah-kisah fiksi yang menyajikan lika-liku dunia perdukunan dan sihir menyihir, bahkan ia menempati posisi best seller yang terjual laris dalam waktu yang singkat, laa haula wa laa quwwata illa billaah!

Sementara di sisi lain, kita saksikan kitab-kitab para ulama salaf masih menjadi barang langka yang menghiasi rak dan meja para pemuda dan generasi penerus perjuangan Islam di masa depan. Jangankan memiliki kitabnya, membaca tulisan arab gundul pun mereka tidak sanggup melakukannya… Sungguh memprihatinkan, sebuah umat yang telah diwarisi dengan al-Kitab dan as-Sunnah oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun justru lebih menggandrungi kitab-kitab ‘sihir’ yang memalingkan mereka dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Ketika dahulu para sahabat asyik menelaah dan menyimak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perbincangan mereka sehari-hari -sampai-sampai mereka menangis-, namun pada hari ini kita saksikan obrolan kaum muda hanya dipenuhi dengan gelak tawa dan isak tangis palsu gara-gara menonton film favorit, pertandingan sepak bola yang sarat dengan suporter ala jahiliyah, dan artis idola atau ramalan bintang anda hari ini, fa inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya maka sungguh dia telah kafir kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. al-Bazzar dengan sanad jayid qawiy, disahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib [3044]). al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang dimaksud wahyu yang diturunkan tersebut adalah al-Kitab dan as-Sunnah (Fath al-Majid, 268).

Dalam riwayat al-Bazzar yang bersumber dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu dengan lafaz, “Barangsiapa yang mendatangi paranormal, tukang sihir, atau dukun, lalu dia membenarkan perkataannya maka sungguh dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Shahih Targhib wa Tarhib [3044]). Dalil ini menunjukkan bahwa dukun dan tukang sihir dihukumi kafir, karena mereka telah berani mengaku mengetahui ilmu gaib, padahal perbuatan itu merupakan kekafiran. Demikian juga orang yang membenarkan perbuatan mereka dan meyakini apa yang mereka ucapkan dan meridhai perbuatan tersebut maka hal itu juga termasuk kekafiran, demikian papar Syaikh Aburrahman bin Hasan (Fath al-Majid, hal. 268).

Tentu saja hal ini menunjukkan kepada kita bahwa praktek perdukunan dan paranormal -apa pun istilahnya- merupakan penyakit masyarakat yang sangat ganas dan mematikan. Gara-gara ulah mereka aqidah masyarakat menjadi rusak, tatanan agama menjadi tidak lagi dihiraukan, muncul permusuhan, pengambilan harta tanpa hak, dan pertumpahan darah di atas muka bumi. Lebih parah lagi jika orang-orang itu -dukun/paranormal- telah dilabeli dengan gelar kyai atau pakar pengobatan alternatif. Pada hakikatnya ini adalah penyesatan yang dipoles dengan kata-kata yang indah.

(abu0mushlih.wordpress.com)

Surat Untuk Anakku

Bismillah,

Untuk anakku yang tercinta…

Nak, walaupun engkau belum bisa baca, belum sepenuhnya mengerti, namun ummi ingin mengatakan, ummi amat mencintaimu. Ketika kau masih dalam kandungan, seringkali ummi elus perut ummi, karena sayangnya ummi padamu, tak sabar ingin menggendong dan membelaimu. Terbayang ketika kau baru lahir…tangisanmu mengiringi tangis bahagia ummi. Ketika kau ummi gendong, tak terhitung elusan, kecupan dan tatapan sayang ummi padamu. Engkau benar-benar anugrah terindah yang diberikan Allah bagi ummi. Ummi lewati hari-hari dengan penuh warna, dan berharap agar kau dapat tumbuh kembang dengan baik.

Ketika bayi, ummi pengen cepat kau bisa makan, ummi pengen segera menyuapimu. Tapi ketika sudah cukup usiamu untuk makan, seringkali ummi tak sabaran ketika kau tiba-tiba males makan.

Sebelum jalan, ummi berharap bisa segera menuntunmu. Tapi ketika kau mulai bisa jalan dan selalu bergerak kesana kemari, kadang ummi meraa kerepotan dan kurang sabar dengan hasratmu yang selalu mencari tahu dan mencoba sesuatu.

Ketika kau belum pandai bicara, ummi pengen cepat berkomunikasi denganmu. Tapi ketika kau mulai berceloteh dan mulai berkata-kata, ummi kadang merasa pening dan kerepotan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu tentang segala sesuatu.

Maafkan ummi kalau ummi kadang kurang sabar merawatmu…Maafkan ummi kalau ummi kadang kurang perhatian padamu…

Kadang ummi disibukkan sesuatu, sehingga mungkin kau merasa sering ummi abaikan.

Ummi sayang engkau tapi kadang ummi mebentakmu…Ummi sayang engkau tapi kadang tangan ummi ini tak sengaja memukulmu, menyubitmu…

Walau mungkin tidak keras, tapi pasti tetap terasa sakit di tubuh mungilmu, bahkan mungkin hatimu lebih sakit ini lagi…

Ummi sayang engkau, tapi kadang ummi jengkel jika kau rewel, ummi sayang engkau, tapi tak jarang air mata mengalir di mata beningmu…Ummi membuatmu menangis…

Padahal engkau adalah titipan Allah, engkau amanah dari Allah untuk ummi!

Maafkan ummi nak, ummi belum bisa jadi ibu terbaik bagimu…

Tapi insyaAllah nak, mulai detik ini, ummi berusaha untuk jadi ummi yang lebih baik lagi.

Karena ummi pengen kau menjadi anak shalih, kebanggaan umat. Karena kau bukan hanya anak ummi, tapi generasi penerus perjuangan kami. Ummi akan buat kau cinta dengan agama ini…Ummi akan buat kau faham dengan Islam, dan ummi akan buat kau bangga dengan agama ini.

Apalagi nak, rintangan dihadapanmu semakin kuat dan beraneka macam. Bahaya mengancam dari berbagai arah…kau bisa kebawa arus atau jadi korbannya.

Ya Allah…apa yang terjadi pada masa depan anak-anak kami jika situasinya seperti ini terus? Apakah mereka bisa sekolah dan apakah kami bisa menyekolahkannya? Listrik terus saja naik, minyak tanah semakin mahal dan semakin langka. Apakah nanti anak-anak kami kembali mundur ke belakang, dengan penerangan oncor dan memakai kayu bakar?

Nak, ditanganmulah masa depan umat ini. Lewat kalianlah kami harapkan kebangkitan umat ini. Hancurkan kapitalisme! Hancurkan liberalisme! Jangan takut celaan orang-orang yang mencela… Terapkan Islam! Tegakkan Syari’at Allah! Agar kehidupanmu berkah dalam ridlo-Nya. Ummi yakin kau pasti bisa, ummi yakin kau pasti mampu, ummi yakin kau pasti sanggup. Karena kau buah hati ummi, permata hati ummi, generasi penerus perjuangan kami. Dengan pertolongan Allah dan do’a dari kami Insya Allah kau akan berhasil mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum muslimin di muka bumi ini.

Aamiin…

Rabbii hablii minasshoolihiin… Rabbii hablii minasshoolihiin… Rabbii hablii minasshoolihiin…

(eramuslim.com)

Katalog Spesial

Beberapa tahun lalu, ada seseorang dari Jakarta, menawarkan kepada saya agar mengikuti jejaknya yang lumayan sukses sebagai penjual dengan sistem MLM. Tawaran yang menurut saya menggiurkan dan lumayan untuk menambah uang di dompet yang sering mengempes.

Penghasilannya lumayan, karena diskon untuk kita sebesar kurang-lebih 35 persen hingga 40 persen dari harga jual. Maka saya pun mengirimkan data diri dan berharap inilah salah satu jalan rejeki buat saya. Cara kerjanya tidak berat, hanya menawarkan Produk melalui sebuah katalog kepada calon pembeli. Saya mengganggap ini Insya Allah pekerjaan ringan, karena saya kan sering ketemu orang diberbagai pertemuan.

Hingga tiba saatnya, maka saya pun menerima beberapa sampel Produk dan beberapa katalog. Produknya lumayan bagus dan memang berkelas. Saya pun gembira dengan beberapa sampel itu, dan saat melihat-lihat katalognya, bagus-bagus gambarnya. Dan berbagai macam foto Produk ada di situ.

Hingga saat membuka bagian yang menawarkan pakaian dalam wanita. Terpajang indahnya. Memperlihatkan badan-badan yang memamerkan auratnya agar yang melihatnya terpikat untuk membeli.

Saya tak mampu membayangkan, jika setiap orang yang saya tawarkan, akan meneliti lekuk tubuh sang pria dan wanita yang pastinya akan menimbulkan hasrat syahwat bagi yang melihatnya. Saya tak mungkin melakukan itu hanya karena ingin sebuah keuntungan, yang dampaknya akan sangat 'mengerikan' menurut saya.

Saya memberitahu kepada pengirim katalog, bahwa saya tak mampu menjalankan bisnis ini, karena jalan ini tidak sesuai dengan nurani saya yang masih berusaha dengan susah payah mengurangi hal-hal yang terlarang menurut syariat.

Jka saya memaksakan diri demi sebuah rupiah, maka saya akan menjadi seorang pendakwah 'Aurat', karena membenarkan dan menyarankan orang untuk melihat-lihat aurat yang bukan mahramnya, dan bukankah ini sebuah da'wah juga? Tapi dakwah yang berseberangan dengan nilai-nilai agama kita.
Biarlah mereka mencari rejeki sesuai dengan pemahaman mereka, dan biarlah saya mencari rejeki halal dengan pemahaman yang saya pegang erat di dada saya ini.

Ya Allah, berilah kepada saya pemahaman untuk mengetahui sesuatu itu salah, dan saya bisa menghindarinya. Dan berilah saya pemahaman yang benar itu benar, dan saya dapat menjalaninya. Tiada daya dan kekuatan melainkan semua berasal dari-Mu Ya Rabb...

 (eramuslim.com)
 
 

Belajar Memahami Ketetapan Allah

“Tidak sekali pun nafas yang engkau hembuskan, kecuali di dalamnya ada ketentuan Allah yang berlaku atas dirimu.”

Ini adalah cerita sedih seorang sahabat. Di usianya yang masih terbilang muda, ia harus rela hidup menjanda. Sebuah kisah cinta yang tragis. Di hari pernikahannya, usai merayakan walimah, suaminya jatuh sakit. Sakit yang pada akhirnya mengantarkan sang suami menghadap-Nya.

Mimpi tentang kebahagian hidup berumahtangga pun pupus sudah. Tak terbayangkan kepedihan yang dirasakan sahabatku ini. Angan-angan yang telah dirajut sejak lama, terurai dalam sekejap.

Teramat berat. Tentu saja. Bayangkanlah seandainya hal itu menimpa diri kita?

Tapi, inilah hidup. Ada sukanya dan ada dukanya. Ada senangnya dan ada sedihnya. Kita tidak dapat senantiasa melewati lorong hidup yang terang, kadang kita harus melewati lorong hidup yang gelap. Kita tidak dapat berharap hidup menyapa kita dengan keindahannya setiap waktu.

Kalau kita dihadapkan pada pilihan antara senang dan sedih,kita pasti memilih untuk senang. Jika kita dihadapkan pada pilihan kaya dan miskin, pasti kita lebih memilih kaya. Jika kita dihadapkan pada pilihan antara sehat dan sakit, pasti kita memilih sehat.

Namun, ini bukan tentang apa yang kita inginkan. Ini tentang apa yang harus kita jalani, sebagai bagian dari ketetapanNya. Pilihan kita hanyalah Ridho dengan takdirNya. Karena sejatinya, seburuk apapun yang terjadi, sepedih apapun yang kita rasakan, ketetapan ALLAH tetap hal terbaik bagi setiap hamba-hambaNya. Karenanya akan senantiasa ada hikmah dari segala hal yang menimpa kita.

Musibah yang menimpa sahabatku ini, di kemudian hari memberi ruang perdebatan, ketika banyak orang-orang yang mengatakan itu terjadi karena pilihan tanggal pernikahannya adalah hari yang buruk. Bagi sahabatku, ini adalah ujian lain bagi kemantapan aqidahnya.

Tidak ada yang harus disesali dari pilihan tanggal pernikahan tersebut. Jodoh adalah keputusan Allah. Dan dilangsungkan pernikahan pada tanggal yang telah disepakati , juga merupakan keputusan Allah. Tidaklah terjadi sesuatu kecuali atas kehendak-Nya.

Tidak ada hari yang buruk. Setiap hari adalah baik. Karena hari adalah putaran waktu yang ditandai dengan terbit tenggelammnya matahari. Yang membuat “hari menjadi buruk” adalah sikap negative para hamba dalam merespon ketetapanNya.

Sahabat,

Sesungguhnya, keseluruhan hidup kita adalah karunia. Jika pun ada takdir buruk berupa musibah yang menerpa kita, mungkin saja, sesungguhnya Allah menghindarkan kita dari musibah yang lebih besar. Bisa jadi, ini adalah tangga untuk naik kepada derajat yang lebih tinggi di sisiNya. Bisa jadi, dengan musibah ini Allah menghapus dosa-dosa kita.

Inilah juga tanda dari rasa sayang-Nya, karena setiap musibah yang menimpa setiap hamba sesungguhnya adalah sapaan kasih dari-Nya, agar kita mendekat kepadaNya.

Mungkin ada saat ketika kita bertanya kepada-Nya, “Why it happens to me?”

Mungkin ada saat ketika kita meratap, ”God, it’s completely hard!”

Sahabat,

Engkaulah muslimah terpilih. Bukankah Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka ia diuji (dengan musibah yang menimpa).” (HR. Bukhari)

Engkau istimewa, karenanya DIA memperlakukanmu dengan istimewa. Rasakan ini sebagai bentuk cintaNya yang demikian dalam kepadaMu. Bukankah Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila Allah menyenangi seorang hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya.” (HR. Baihaqi)

Engkau luar biasa. Karena hanya orang-orang luar biasa yang mendapat ujian luar biasa. Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau imannya lemah dia diuji dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus menerus sehingga ia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

Dan sesungguhnya Allah SWT tidak akan menimpakan beban di luar kesanggupan kita. Segala ujian yang menimpa kita sesuai dengan kadar ketahanan yang kita miliki.

Sahabat,

Semoga Allah menghapus dosa-dosamu asbab musibah yang menimpamu. Semoga Allah mencatatnya sebagai kebaikan atas kesabaranmu menghadapi cobaan ini. Semoga Allah memberi pengganti yang lebih baik. Semoga Allah memberimu pasangan hidup (lagi) yang akan mencintaimu karenaNya, dan akan engkau cintai karenaNya. Semoga Allah karuniakan kepadamu “Pangeran Impian” to brighten your days. Semoga Allah kirimkan kepadamu dalam waktu dekat.

Salam cinta untukmu...

(eramuslim.com)

Tiada Kata Selain Syukur

Masihkah Ada Alasan untuk Tidak Bersyukur?

Alhamdulillah,

Allah beri aku kesempatan untuk sedikit melihat “ke dalam”, pada diri yang hina ini.

Ini tentang kisah waktu kuliah. Dan nyaris, aku tersungkur waktu itu. Aku rasakan rembesan bulir bening itu, mengambang di pelupuk mata. Sungguh, Allah betapa agungnya Engkau yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya. Dengan sebaik-baik bentuk. Dengan penciptaan yang teramat sangat sempurna! Maha Agung Engkau wahai Allah! Betapa Maha Agungnya. Andai semua kata-kata yang menunjukkan kemuliaan, keagungan, dan kebesaran itu digabungkan jadi satu, sungguh masih belum dapat mewakili betapa amat sangat Maha Agungnya Engkau.

Tak ada satu amstrong pun di bagian tubuh ini, kecuali sebuah penciptaan yang luar biasa. Sangat luar biasa sempurnanya. Sesuatu yang sering terlupa. Maka, masih adakah alasan untuk tidak bersyukur?

“Ingatlah kamu sekalian kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, serta Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2] : 152)

Kesyukuran itu jarang sekali terucap ketika ni’mat itu masih meliput diri kita. Merasa itu hanyalah sebuah hal yang ‘memang begitu adanya’ teramat biasa-biasa saja. Tapi, jika sedikit saja tercerabut, maka, kita akan merasakan kehilangan yang amat sangat luar biasa.

Sekarang, mari sedikit mengamati apa yang menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja itu.

Pernahkah kita membayangkan betapa beruntungnya kita bisa makan nasi?

Mungkin sebagian bilang, “ah, makan nasi mah lumrah. Biasa!”

Ah, tidak!

Bersyukurlah ketika kita masih bisa makan nasi. Mungkin kita tak bisa bayangkan, betapa tersiksanya orang yang alergi terhadap nasi. Ini kasus nyata! Seorang pasien di sebuah Rumah Sakit yang sedang diterapi terhadap penyakit alergi makan nasi. Maka, bukankah sangat pantas kita bersyukur ketika kita bisa makan nasi dengan mudahnya.

Mungkin, menghirup udara adalah hal yang biasa-biasa saja bagi kita. Kita boleh dengan sepuas-puasnya menghirup gratis. Tapi, bagaimana dengan orang yang tak mampu lagi bernafas sehingga oksigen itu harus dibeli? Bukankah tiada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur ketika Allah masih memberikan kesempatan untuk menghirup udara-Nya dengan bebas?

Permisalan lain, ketika kita tertidur dengan mudahnya, pulas. Pernahkah kita membayangkan ada orang yang bahkan ia harus tersiksa setengah mati untuk dapat tidur? Bersyukurlah, ketika bisa tidur dengan pulas. Bersyukurlah. Aku pernah berada di fase ini. Ketika aku membutuhkan energi banyak untuk hanya sekedar tertidur! Betapa tidak enaknya. Betapa tidak enaknya ketika tidur harus dengan obat penenang. Maka, masih adakah alasan untuk tidak bersyukur?

Ketika kita bisa buang air besar dengan lancar pun, semestinya kesyukuran itu ada! Semestinya. Betapa tidak enaknya ketika saluran feses malah dialihkan melalui perut. Lalu, adakah alasan untuk tidak bersyukur?

Sungguh, setiap satuan terkecil komponen tubuh kita, adalah penciptaan luar biasa dan telah teroganisir dengan benar-benar sangat sempurna! Amat sangat sempurna! Andai saja, semua kerja tubuh ini, semua proses yang berjalan di dalamnya dikendalikan oleh kesadaran manusia, MAKA TAK ADA MANUSIA YANG SANGGUP HIDUP! TAK ADA! Maka, apakah masih ada alasan untuk tidak bersyukur?

Oh, kita bisa bayangkan bagaimana sempurnanya penciptaan diri kita! Betapa amat sangat sempurnanya. Dalam kuliah, kadang aku sering berpikir-pikir sendiri. Dari disiplin ilmu yang kuplajari, bahwasannya penyakit itu terjadi, ketika ada sesuatu yang tidak seimbang. Ada sesuatu yang kurang. Ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang tidak bekerja sesuai sistemnya. Kemudian berakibat, kekacauan sistem, sehingga tubuh tak dapat beraktivitas normal. Maka kemudian seorang Farmasis mendesain sesuatu obat yang dapat mengembalikan keseimbangan, kerusakan dan kehilangan dari tubuh itu untuk dapat kembali normal.

Tahukah engkau, bahwasannya belum ada satu obat pun yang dapat menggantikan secara spesifik ketidakseimbangan itu! Tak ada! Sekali lagi kukatakan, TIDAK ADA! Manusia tak sanggup untuk membuatnya, sebab sangat luar biasa sempurnanya penciptaan itu. Yang bisa manusia lakukan hanyalah membuat ia mendekati normal —yang kemudian dilengkapi dengan efek samping karena ia tak bekerja spesifik hanya pada satu tempat— untuk kemudian tubuh itu sendiri memperbaikinya. Me-regenerasinya. Atas kehendak-Nya.

Jika dijabarkan satu per satu mengenai keajaiban itu, takkan cukup lautan ini jadi tinta dan hamparan bumi ini jadi kertas. Sungguh, begitu banyaknya hal yang menakjubkan! Maka, apakah masih ada alasan untuk tidak bersyukur? Masihkah?

“Maka, nikmat Tuhan mana lagikah yang kau dustai?” (QS. Ar-Rahman [55] : 55)

Semoga ini memberikan sedikit wacana serta mengingatkan diriku, dirimu, dan kita semua agar tidak lupa bersyukur.

(eramuslim.com)