Jumat, 15 Juli 2011

♥ .:| Ketika Cinta Harus Memilih Bag. 7 |:. ♥

berhari hari hariku begitu lambat kurasakan. fikiran tidak karuan, hati tidak tenang, dan yang paling kurasakan tidak kuat adalah rasa bersalahku padanya yang sangat menyiksaku. karna kutelah menyakiti seorang wanita yang begitu tulus mencintaiku. Astaghfirullah....aku merasa menjadi orang terkejam didunia ini.

berkali kali aku mengucapkan maafku padanya. tapi rasanya itu tidak cukup walau seribu kali kuucapkan. namun saat malam ku bersimpuh memohon pada-Nya tiba tiba aku berfikir entah ini petunjuk dari Allah atau hanya gumamku saja. "aku sudah berkata jujur padanya, dan jujur itulah pilihan yang terbaik yang kulakukan, karena jika aku tidak jujur, pasti suatu saat nanti dia akan lebih sakit hati kalau dia tau ternyata aku menikah dengan orang lain, dan dia sudah menunggu dan telah terlanjur menolak ikhwan lain yang datang meminangnya karena menungguku. hmm, ini semua juga diluar kendaliku, kan kuserahkan ini semua pada Allah, Insya Allah aku akan selalu mendoakannya dalam setiap shalatku" pikirku

alhamdulillah...pada suatu sore aku chating di fb dengan Vita. saat itu aku belum menceritakan tentang hubunganku denganku dengan Nia.
"mas, kulihat distatus mas, sepertinya mas sedang gundah"kata Vita
"iya, oya vit aku mau tanya sesuatu."kataku
"iya tanya apa?jawabnya
"tentang rencanamu memperkenalkg tuamu setahun lagi, apakah itu berati kamu menerima tawaranku waktu itu?tanyaku ingin memastikan
"jika Allah mengizinkan...iya"jawabnya
"kalau begitu ku rasa tak perlu ada lagi rahasia. o ya aku mau cerita sesuatu padamu. tapi sebelumnya aku minta maaf"kataku
"iya mas. silahkan" jawabnya
"aku dulu sempat memikirkan tentang ucapanmu soal cadangan. jujur, saat itu aku memulai sebuah hubungan dengan seorang wanita aktivis dakwah dumay, tapi dalam hal keistiqomahan dan ilmu insya Allah tak diragukan lagi. dan saat kau punya rencana untuk memperkenalkan aku pada ortumu itu, aku benar benar kaget dan bingung bagaimana caranya aku harus menjelaskan ini padanya. beberapa hari yang lalu aku beranikan diri untuk berkata jujur padanya. aku lihat dari tanggapannya sepertinya dia bisa menerima, tapi tak kusangka dia begitu sakit hati padaku dan kecewa. dia meremove aku dari fb. dan enggan untuk berkomunikasi denganku"jawabku
"masya Allah. trus gimana mas? aku bisa merasakan perasaannya, karena aku pun juga seorang wanita, bolehkah aku minta maaf padanya? ini semua juga salahku karena aku terlalu membiarkan mas lama menungguku" jawabnya
"silahkan, terserah kamu aja" jawabku
"ehm...mas aja tolong sampaikan maafku padanya? bisa gak? jawabnya
"ok. Insya Allah" jawabku

Beberapa hari kemudian aku sampaikan permohonan maaf Vita pada Nia. Ku yakin dia bisa memaafkannya, tapi aku tidak tahu apakah hatinya ridho atau tidak.

setelah perkacapan itu aku agak merasa sedikit lega karena akhirnya aku sudah berkata jujur apa adanya kepada mereka berdua. memang ini mnyakitkan, tapi menurutku yang namanya suatu kebenaran itu harus disampaikan walaupun itu menyakitkan.

seperti seorang anak tiri yang tidak tau bahwa ternyata dia hanyalah anak angkat. pasti dia akan lebih sakit hati bila dia tahu sendiri akan jati dirinya daripada orang tua angkatnya yang menjelaskan secara jujur dan langsung padanya.

aku hanya ingin mencari jalan keluar yang terbaik. dan menurutku kejujuran adalah pilihan yang paling tepat yang kulakukan saat itu. mungkin aku dengan Nia saling kenal hanya untuk menjadi saudara, kakak dan adik, dan mencintai selayaknya saudara sesama muslim. karena yang ku tahu kesempurnaan iman seseorang itu belum terpenuhi sebelum mampu mencintai saudaranya. seperti disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu pelayan Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya (sesama muslim) segala sesuatu yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim)

di setiap sujudku, ku selalu mendoakan untuk kebahagiaannya. semoga mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dariku, yang bisa melindunginya, yang mampu mencintainya sepenuh hati, dan yang mampu menjadi imam yang baik dan bertanggung jawab akan keluarganya. dan aku yakin suatu saat nanti dia pasti akan mendapatkannya, dan dia memang pantas untuk mendapatkannya.

mungkin banyak kejanggalan yang ada dalam cerita ini, bisa dikatakan belum selesai, namun inilah akhir cerita kisah ini, dan apa boleh dikata ini diluar kendali manusia. dan mungkin sudah takdir Yang Maha Kuasa.

Cinta memang tak harus memiliki, dan ada kalanya cinta juga harus memilih diantara pilihan yang ada. pilihlah dengan memanjatkan doa kepada Allah untuk diberikan petunjuk yang terbaik diantara pilihan itu, dan mintalah untuk dimantapkan hati pada salah satu hati. semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari kisah ini. aamiin

afwan wa syukron

..:: ♥ TAMAT ♥ ::..

♥ .:| KETIKA CINTA HARUS MEMILIH BAG. 6 |:. ♥

setelah aku teringat akan Nia. aku benar benar bingung harus bagaimana menjelaskan ini padanya. berhari - hari aku memikirkan cara agar Nia bisa mengerti dan agar dia tidak tersakiti karena aku.

setiap sujud malamku aku selalu berdoa agar diberi pentunjuk oleh Allah. sampai pada suatu malam aku berikan diri untuk mengatakan ini padanya. tapi aku tidak langsung to the point
"ukhti, apakah ukhti serius padaku? tanyaku
"insya Allah. akhi" jawabnya
"tapi. aku tidak bisa memastikan ukhti. aku ini adalah anak terakhir. jadi aku harus menjaga orang tuaku. dan orang tuaku sudah tidak kuat lagi jika untuk perjalanan jauh" jawabku
"tidak apa apa akhi, aku tidak ingin membebanimu karena aku" jawabnya
"o ya. nanti kalo ukhti mau nikah tolong hubungi aku ya, kalo pun aku tidak bisa kesana setidaknya aku bisa mendoakanmu dari sini"jawabku
"memangnya akhi gak mau aku menunggumu"jawabnya
"aku masih lama ukh. 2-3 tahun lagi"
"oh. iya sekali lagi aku gak mau membebanimu akhi tidak apa"jawabnya
"jujur ukhti. sebelum aku mengenal lebih jauh denganmu. aku sudah pernah memberikan tawaran kepada seorang wanita muslimah untuk menikah denganku suatu saat nanti. tapi saat itu dia belum bisa menjawabnya. tapi aku kaget beberapa hari yang lalu dia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya."jawabku
"oh gitu ya. yaudah akhi semoga Allah meridhoimu"jawabnya

alhamdulillah saat itu aku merasa lega karena dia bisa menerima ceritaku. sekalipun tidak bisa kupungkiri ada perasaan kecewa dalam diriku.

keesokan harinya betapa kagetnya aku, ternyata Nia meremove aku dari fb nya. dan dia meluapkan kekecewaanya dalam beberapa statusnya.
"astaghfirullaha'adzim...."gumamku
aku pun langsung mengirim sms pada dia untuk minta maaf padanya.
"ukhti. tolong maafkan aku, ini semua kuakui adalah kesalahanku, aku yang memulai ada rasa padamu, tapi saat kamu juga merasakan rasa yang sama padaku, aku justru memangkasnya saat rasa itu sedang tumbuh dalam hatimu. tolong maafkan aku, ini semua diluar kendaliku" smsku padanya
"iya akhi. aku sudah memaafkanmu" balasnya singkat
"aku tahu kamu kecewa padaku. terbukti dengan dengan ukhti sudah meremove aku dari fb mu. dan statusmu juga...."jawabku
"untuk sekarang ini aku butuh waktu akh. mungkin sekarang kita tidak usah sapaan dulu. afwan" balasnya

betapa sedihnya aku saat itu telah menyakiti seorang wanita yang ternyata tulus untuk mencintaiku. berhari hari aku dilanda kesedihan yang begitu mendalam. pikiranku begitu galau, hatiku tidak tenang, dan setiap detik waktu terasa begitu lama dan rasa bersalah ini selalu menghantuiku.

saat itu hanya dzikirlah selalu terucap dalam bibir ini yang mampu menenangkan hatiku. malam malamku begitu panjang, tak bisa tidur sampai larut, dan sujudku disetiap akhir malam tak henti hentinya kuberdoa kepada Sang Penguasa Hati Allahu Ta'ala, aku memohon padanya untuk memberikan ketenangan pada hati ini, untuk memberikan jalan keluar akan masalahku ini.

beberapa waktu setelah itu, sore hari aku pulang kekampung halamanku, kebetulan esok harinya aku libur dan aku ingin pamit minggu depan aku tidak pulang. disepanjang jalan, aku iringi dengan dzikir pada-Nya karena memang hatiku belum tenang. untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bisa menangis dalam mendalami setiap kalimat-NYA. betapa kecilnya aku ini di dunia ini, betapa besarnya dosaku ini telah kuperbuat. Astaghfirullah, wasubhanallah, walhamdulillah, wala ilahaillallah, wallahu akbar.....

♥ .:| Ketika Cinta Harus Memilih Bag. 5 |:. ♥

pertemananku dengan Nia pun semakin lama semakin dekat. dan rasa suka pun muncul. aku bertanya pada hatiku
"rasa ini apakah karena Allah, atau hanya perangkap syetan saja?"gumamku
tidak kusangka ternyata Nia pun juga merasakan hal yang sama, sebelumnya aku belum tau karena dalam hal perasaan sepertinya tanggapannya menurutku agak datar. aku hanya memberikan clue saja akan perasaanku padanya, tapi belum serius membicarakan untuk sampai menikah seperti yang kutawarkan pada Vita. kedekatanku degan Nia berlangsung sekitar kurang lebih sekitar 1 bulanan lebih seingatku, pastinya aku lupa.

sampai suatu ketika, saat aku sedang berpikir akan dia. aku malah teringat hal yang lain. aku teringat kalau hasil ujianku semester lalu turun drastis. "astaghfirullahal 'adzim, kenapa aku ini malah sibuk mikirin wanita, kalo udah jodoh paling juga gak kan kemana". pikirku

aku mulai mengorek kesalahanku dan introspeksi diriku. dan aku sadar hasil jelek dari semesterku yang lalu adalah penurunan ketaatanku padaNYA, aku terlalu terlena dengan dunia, dan aku merasa ada sisi kesombongan dalam diriku karena semester sebelumnya Alhamdulillah aku dapat IP terbaik diantara temanku. astaghfirullahal'adzim wal hamdulillah, Engkau telah mengingatkanku Ya Allah. aku bersyukur karena aku diberi kesadaran olehNYA akan hal ini

kuputuskan untuk tak terlalu memikirkan hal lain selain lebih mendekatkan diriku pada Rabbku. dan sedikit demi sedikit aku pun bisa menikmati kedekatanku padanya. aku ingat akan sebuah hadits yang menyebutkan
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. ("Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.")
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 4832

alhamdulillah tak henti hentinya kupanjatkan syukurku pada-Nya. karena Dia telah memberikan sedikit hidayah-Nya padaku untuk kembali fokus mendekatkan diri pada-Nya. setelah itu aku mulai memperbaiki kesalahanku yang lalu dan mulai serius menjalani perkuliahanku.

beberapa hari kemudian aku kembali berhubungan dengan Vita, dalam serangkaian smsku padanya, aku kaget ketika dia ingin memperkenalkan aku saat wisuda nanti. dan dia pun ingin aku menanyakan pada orang tuaku tentang tanggapan mereka untuk dirinya.
"mas, bisa gak kalo suatu saat nanti mas menceritakan aku pada orang tuamu tentang aku? tanya Vita
"waduh, afwan untuk sekarang ini aku belum berani, soalnya dari ibuku sendiri belum memperbolehkan aku untuk menikah atau membicarakan tentang hal itu pada mereka"
"mas udah ada rencana untuk memperkenalkan aku pada mereka? tanya nya lagi
"yah kalo kamu mau menerimaku apa adanya Insya Allah saat wisuda nanti aku akan memperkenalkanmu pada mereka" jawabku
"kalo kamu sendiri gimana? tanyaku
"setahun lagi aku wisuda mas, aku cuma kuliah selama 3 tahun di akademi, Insya Allah tahun depan aku akan memperkenalkan mas pada orang tuaku"

setelah serangkaian percakapan lewat sms itu aku berpikir. jika dia berencana memperkenalkan aku pada orang tuanya berarti dia menerima tawaranku waktu itu. aku pun tersenyum senang dalam hatiku.

tapi dalam senyum rasa senangku tiba tiba aku teringat dengan Nia. "waduh, bagaimana dengan Nia? Bagaimana aku menyampaikan ini pada dia?" gumamku
keadaanku pun berubah 180 derajat dari senang berubah menjadi bingung bukan kepalang.

♥ .:| Ketika Cinta Harus Memilih Bag. 4 |:. ♥


setelah aku menyampaikan tawaranku pada Vita. kami pun jarang berhubungan, hanya terkadang saja ketika seperti yang telah kusebutkan cuma ketika punya sms nasihat saja saling ingat mengingatkan dalam kebaikan.

pasca bencana merapi mereda dan aku pun kembali ke bangku perkuliahan seperti biasa. sibuk dengan kuliah sibuk juga dengan organisasi dakwah kampus. tapi tentu aku menitik beratkan pada kuliahku. tapi ku berusaha tetap seimbang keduanya.

suatu ketika dalam serangkaian sms ku dengan Vita. dia bertanya padaku
"ehm. maaf ya mas sekarang aku belum bisa menjawab tawaran mas waktu itu. tapi mas punya cadangannya kan selain aku?" kata Vita
"cadanganya belum jelas. Insya Allah sebelum kamu memberikan jawaban pasti aku belum akan mencari yang lain" kataku
"soalnya gini mas, setelah lulus nanti aku diberik amanah oleh orang tua ku untuk menggantikannya, trus ayahku memintaku setelah lulus untuk bekerja di Belanda" jawabnya

setelah menerima jawaban itu aku merasa seperti tidak memiliki harapan lagi akan dirinya. dilihat dari sisi materi sepertinya dia jauh lebih mapan dari keluargaku. tapi aku ingat akan sebuah hadits yang mana Allah SWT tidak memandang rupa dan harta, tapi melihat hati dan amal kita. “Sungguh Allah tidaklah melihat kepada rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat hati dan amalan-amalan kalian.” (HR. Muslim).

"yang namanya rizki sudah ada yang mengatur, alangkah baiknya aku syukuri saja segala nikmatNYA padaku. masih banyak orang yang bernasib tidak sebaik aku, masih ada orang yang untuk makan saja masih susah. ah, aku takut jika aku melihat orang di atasku terus nanti malah jadi orang yang kufur akan nikmatNYA. lagi pula Allah melihat dari sisi Ketakwaan seseorang" gumamku dalam hati

setelah percakapan di atas aku jagi kepikiran tentang cadangan. dan inilah awal dari kesalahanku bermula. aku tidak menepati janjiku untuk menunggu kepastian jawabannya. ya Allah bodohnya aku ini

saat itu aku kenal dengan seorang wanita muslimah yang aktif dalam dakwah baik untuk akhwat maupun yang campur. dia memiliki pemahaman akan Islam yang bagus, keistiqomahannya Insya Allah tak diragukan lagi. sebut saja namanya Nia. sering kami berdiskusi sama sama dan akhirnya dia menawariku untuk membantunya untuk menjadi salah satu admin di pagenya.
"Akhi. mau gak bantuin aku? tanya Nia padaku
"bantuin apa ukh? jawabku
"akhi mau gak bantu aku jadi admin page ku"jawabnya
"jika menurutmu aku mampu. Insya Allah ku bantu"jawabku
"ok, tunggu konfirmasi dari aku ya"jawabnya
"iya" jawabku

beberapa waktu berselang dia memintaku untuk posting artikel dipagenya.
"akhi, posting artikel dong dipage kita." katanya waktu itu lewat inbox
"ok" jawabku
akupun posting sebuah artikel yang aku ambil dari aplikasi al sofwah buletin yang pernah ku download.
"artikelnya bagus akh" kata Nia lewat inbox
"alhamdulillah" jawabku

setelah itu aku pun aktif di page dakwah itu. dan hubungan kami berdua pun semakin dekat. sebelumnya lewat inbox saja sekarang kami sering sms. untuk memudahkan dalam hubungan ketika ada sesuatu di page kami. karena terkadang ada posting liker yang agak "nyeleneh" kami langsung saling menghubungi untuk segera ditindak lanjuti.

♥.:| Ketika Cinta Harus Memilih bag. 3|:. ♥

Setelah kepulanganku dari posko pengungsi, aku kembali ke kampus bersama teman2 ku satu tim. sesampainya dikampus aku pun bergegas mencari temanku dari panitia pusat untuk meminta kunci motorku karena sebelum berangkat kesana motorku dipinjam olehnya. namun ternyata temanku sedang mengantarkan relawan untuk pergantian shift.

aku pun menunggu di ruang basecamp salah satu organisasi dakwah kampus yang aku ikut di dalamnya. setelah lama menunggu akhirnya dia datang
"assalamu'alaikum" kata mas Bondi
"wa'alaikum salam warah matullah" jawabku
"sorry ya boy, aku tadi nganterin relawan dulu" kata mas bondi
"ok, gak papa mas. aku langsung pulang dulu ya" kataku
"o ya, hati hati" jawabnya
aku pun pulang ke masjid tempat aku tinggal, kebetulan aku tidak nge kos karena aku takut terpengaruh dengan anak anak kos yang sering bergaul terlalu bebas. yah sekalipun tidak semua, lebih baik mencegah daripada sudah terlanjur kan.

sampai dimasjid, aku masuk kamar dan langsung merebahkan badanku. letih capek ngantuk campur aduk jadi satu. sambil tepar di kasur aku tiba tiba aku berpikir sesuatu, tentang anak anakku disana dan juga tentang Vita.
"ah, semoga aja bapak bapak dari FKAM dapat mendampingi anak anak itu. ehm kalo Vita?? kenapa aku mikirin dia. astaghfirullah...." gumamku dalam hati
"oh iya, ku sms aja dia. aku ngirim sms ke dia "harus kenal. Zaini" pesanku singkat
"oh iya mas, afwan tadi gak sempat pamitan" balasnya
"iya gak pa2"jawabku

suatu malam aku pernah mengajak dia diskusi tentang pacaran anak anak muda. ternyata dia adalah salah satu wanita yang tak setuju akan pacaran karena dalam Islam tidak diperbolehkan. dan dia juga belum pernah sekalipun yang namanya pacaran sama seperti aku, padahal menurutku kalo dia mau jadi playgirl sekalipun dia pasti bisa. sampai sampai dia cerita kadang kadang bingung bagaimana cara menolak lelaki yang mengajak dia pacaran

hari hari ku selanjutnya ku jalani seperti biasa. karena masih libur sampae waktu yang tidak ditentukan aku pun pulang ke kampung halamanku yang masih disalah satu kabupaten di jogja. aku masih berhubungan dengan dia tapi hanya sebatas saling sms nasihat saja, gak lebih dari itu.

singkat cerita suatu hari Vita tiba tiba mengirimkan pesan singkat padaku.
"assalamu'alaikum"
"wa'alaikum salam" balasku
"mas boleh tanya sesuatu?" tanya dia
"boleh, silahkan..."jawabku
"dulu mas pertama kali sms aku "harus kenal" begitu, apa ada yang belum sempat tersampaikan??" tanya dia
"ehm. gak kok. memangnya kenapa?" jawabku
"oh gak cuma tanya aja. o ya mas boleh aku minta bantuan mas?"
"boleh. bantuin apa ya?" jawabku
"gini mas, aku baru saja diajak pacaran dengan seorang lelaki namanya Luki, aku sudah menolaknya tapi dia tetap gak mau terima, mas mau gak kirim dia sms mas ngaku kalo mas adalah pacarku, aku udah bingung banget harus berbuat apa"katanya
"waduh gimana ya, emm... mana nomernya. tapi aku gak enak e. aku bayangin kalo posisiku ada pada orang itu. pasti dia bakalan sakit hati banget."
"ini mas nomernya 08XXXXXXX, tolong ya mas, dosa nya aku yang nanggung"jawabnya
aku pun langsung menuruti permitaannya mengirimkan sms pada orang yang disebutkan tadi. ternyata dugaanku benar, sepertinya dia begitu kecewa. tapi apa boleh buat. karena sepertinya saat itu ada kesempatan untuk sekedar memberikan suatu tawaran padanya. aku pun memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu padanya
"o ya vit. btw sudah berapa orang yang sudah kamu tolak? tanyaku
"gak tau mas, banyaklah."jawabnya
"kalo aku daftar, udah urutan keberapa? tanyaku
"ehm. ah mas ini ikut ikutan juga" jawabya
"tapi aku berbeda dari mereka yag mengajakmu pacaran. aku mengajakmu untuk menikah suatu saat nanti. ya seperti katamu tidak ada pacaran dalam Islam"jawabku
"ehm...beri aku waktu mas, aku belum bisa menjawab sekarang. untk saat ini kita jadi saudara saja ya" jawabnya
"ok. gak papa. Insya Allah aku sabar menunggu jawabanmu. lagi pula planing untuk sampai disana juga masih lama" jawabku
"iya mas. mas istikharah aja dulu. aku pun juga begitu" jawabnya
"ok. Insya Allah"

setelah percakapan itu. kami jarang berhubungan, cuma seperti biasa kadang kadang kalo punya sms nasihat kami sering saling mengingatkan.

ღ☆ღ*♥*ღ☆ Ketika Cinta Harus Memilih bag. 2 ☆ღ,¤¤*♥ღ☆ღ

hari kedua aku jadi relawan aku mencoba mewujudkan keinginanku semalam untuk mengajak anak2 pengungsi untuk belajar sholat sama sama. waktu itu aku minta ijin terlebih dahulu kepada panitia pengurus setempat. alhamdulillah mereka mengizinkan, dan justru mereka menyerahkan semuanya pada kami. tapi ketika itu ada satu masalah. aku butuh alat untuk menampilkan film kartun sifat sholat Nabi ini dalam hal ini monitor atau LCD proyektor.
"pak, ini nantikan saya butuh alat pembantu untuk mengajari anak anak belajar sholat, saya butuh monitor pak, boleh saya pinjam pak?" tanyaku
"waduh maaf mas, sepertinya gak bisa" kata bapak2 yg bertugas jaga disana
"oh yasudah pak, makasih" kataku

aku pun berpikir, putar otak gimana nanti aku bisa menampilkan film ini. akhirnya kuputuskan untk menghubungi panitia pusat dikampusku
"assalamu'alaikum, mas mau tanya, nanti shift pergantian relawan dari psikologi datang jam berapa ya? bisa gak kalo nanti dibawakan LCD proyektor dari kampus?" tanyaku,
"wa'alaikum salam, insya Allah nanti sore. ok nanti kuusahakan"kata temanku dari panitia pusat kampus
"alhamdulillah, makasih mas" kataku

sambil menunggu, ternyata anak anak pengungsi pada berkumpul ditenda relawan. ku manfaatkan untuk mendekati mereka.
"eh kalian udah pada bisa sholat belum" tanyaku
"belum mas" kata salah satu dari mereka, kulihat yang lain pun juga begitu kelihatannya
"oya, nanti sore kita nonton kartun yuk, sifat sholat Nabi. mau gak?
"nanti sore mas? ya mas mau mau" kata mereka
senang nya hati ku, jalanku dipermudah oleh Allah untuk mengajari mereka

beberapa saat kemudian datang Vita menghampiriku
"ehm, mas bisa minta tolong? tanya Vita
"iya bisa, ada apa? kataku
"gini mas, itu saya ada pasien yang tensi darahnya sampai 200 an,sekarang dia saya ajak ngobrol, tapi saya kesulitan bahasa, mas bisa bahasa jawa kan? bantuin ya? kata Vita
"ok, dimana sekarang? tanyaku
"disamping ruang medis mas" jawabnya

kami pun kesana. saat masuk ruangan kudapati seorang wanita paruh baya yang berlinang air mata dipipinya.
"bu, ngapunten, ibu kengeng menopo? tanyaku pake bahasa jawa
"ngeten mas, kulo wingi niku pas merapi meletus pisah kalian garwo kulo mas"kata ibu itu
"sakniki, ibu sampun ngertos garwo njenengan wonten pundi?tanyaku
"sakniki wonten posko desa liyo mas, kaliyan anak kulo, nanging kulo dereng tenang mikir garwo kulo sakniki" jawab ibu itu
aku pun menjelaskan pada Vita kalo dia terpisah dengan suaminya, dan sekrang suaminya ada diposko pengungsi lain, tapi dia memikirkannya dan belum bisa tenang.
"ibu shalat nopo mbotenn bu?"tanyaku
"mboten mesti mas"jawabnya
"geh mpun sakniki kajenge ibu tenang ibu sholat rumiyen njeh"kataku
dia pun mau dan ku minta Vita untuk membimbingnya dalam shalat

sore harinya alhamdulillah proyektor sudah ditangan. kukumpulkan anak anak pengungsi ke masjid darurat dibantu oleh teman temanku relawan lain termasuk dari LSM FKAM (Forum Komunikasi Aktivis Masjid) setempat
"assalamu 'alaikum...warah matullahi....wabarakaatuh"kuucapkan salam pada mereka
"wa'alaikum salam warah matullahi wabarakaatuh" jawab mereka dengan nada khas anak anak sama persis seperti masa kecilku dulu
" alhamdulillah....nah adek adek sekarang Mas Zaini mau ngajak nonton bareng sifat sholat nabi, tolong diperhatikan ya? nanti kita praktek sama sama" kataku
mereka pun hnya melongo tanpa ekspresi, akupun langsung memutarkan film itu

setelah film selesai diputar, ternyata adzan maghrib udah terdengar. akupun mengajak mereka untuk wudhu sama sama sambil membimbing mereka. alhamdulillah mereka antusias sekali melaksanakannya. dan kami pun shalat maghrib berjamaah. seusai itu kami bubar sendiri sendiri untuk makan malam

aku kaget waktu itu baru jam 7 kurang anak anak itu sudah mencariku
"mas udah shalat lagi belum" tanya mereka
"belum masih sekitar setengah jam lagi, nanti aja kalo dengar adzan kalian langsung kemari ya"kataku
betapa senang nya hatiku waktu itu karena ke antusiasan anak anak itu. bahkan keesokan harinya mereka bangun lebih dahulu daripada aku untuk mengajaku shalat subuh. subhanallah......

hari ketiga adalah hari terakhir bagiku bertugas disana, ternyata Vita sudah kembali pulang karena dia sudah bertugas disana selama 6 hari. tidak ada satu pun kalimat perpisahan yang terucap diantara kami. hari terakhir ini adalah hari terberatku karena harus meninggalkan anak anak emasku yang masih perlu banyak pendampingan. sempat aku ditanya oleh pihak LSM FKAM
"mas disini berapa hari? kembali kesini lagi gak mas?" tanya mereka padaku
"Insya Allah hari ini saya pulang pak, seperti nya saya tidak kembali kesini" jawabku, aku tak tau mengapa mereka tanya seperti itu padaku

sore hari aku pulang kejogja bersam kawan kawan lainnya. rasanya ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. tapi ku tak tau itu apa. di dalam mobil, kami saling bertukar nomer hp satu sama lain. dan aku pun minta nomer hp Vita pada temanku yang lain. tapi hari sebelumnya memang Vita sudah meminta nomer hpku terlebih dahulu, jadi menurut ku tak masalah

♥ ♥ { [ Ketika Cinta Harus Memilih Bag. 1 ] } ♥ ♥

kisah ini bermula sekitar setahun yang lalu di suatu pagi yang tak begitu cerah ku buka mata ini saat mendengar suara adzan yang bersaut sautan dipagi yang masih cukup gelap dipandangan mata. setelah subuh ku baca beberapa halaman Al Qur'an dan setelah itu karena mataku masih agak mengantuk aku tidur lagi, kebetulan hari ini aku kuliah agak siang. o iya aku disini adalah seorang lelaki sederhana yang sedang menimba ilmu dibangku perkuliahan di salah satu universitas swasta dijogja, sebut saja aku Zaini.

setelah bangun betapa kagetnya aku melihat diluar masjid tempat aku tinggal, debu bertebaran menutupi atap lantai 2 masjidku. setelah aku turun ternyata di bawah pun tak jauh berbeda. hari itu gunung merapi sedang menunjukan aktivitasnya memuntahkan isi perut bumi.

setelah mandi dsb aku berangkat kuliah. disepanjang jalan mobil, motor, bis, jalan raya hampir semua diselimuti oleh debu merapi. mungkin ini semua adalah sebuah sebuah ujian bagi penduduk jogja dan warga sekitar merapi khususnya bagi mereka yang berpikir dan mampu bermuhasabah diri akan peringatan-Nya

ternyata hari itu kuliah diliburkan hingga sampai batas waktu yang tidak ditentukan. ketika itu aku senang karena bisa sedikit istirahat namun juga sedih karena teringat akan saudara saudaraku yang sedang terkena musibah.

pada hari berikutnya dari organisasi mahasiswa kampus membuka pendaftaran relawan merapi dan bantuan logistik. kuputuskan untuk ikut menjadi relawan ke sebuah daerah di dekat candi Prambanan selama 3 hari. setelah kumandaftarkan diri hari itu juga aku berangkat kesana.

sampai disana aku bingung harus berbuat apa, dan akhirnya ku diajak oleh relawan yang bertugas sebelumnya untuk berkenalan dengan relawan lain. dan disinilah awal pertemuanku dengan seorang gadis jelita dan muslimah dari tim medis regu penolong sebut saja dia Vita.
"assalamu'alaikum" ucapku saat memasuki ruangan tim medis
"wa'alaikum salam" jawab mereka
"oh ya ni temen2, perkenalkan ada relawan baru dari kampus kami yang akan menggantikan relawan sebelumnya" kata mas Pebri ketua tim relawan dari kampusku di tempat pengungsian itu
sambil mengatupkan tanganku "kenalin, Zaini" katakau
"oh iya, vita"
dan seterusnya aku berkenalan dengan tim medis lain. waktu itu aku masih biasa biasa saja, dan begitu pun dengan dia

keesokan harinya kami tim relawan dari kampusku diajak sarapan bareng dengan relawan tim medis semalam termasuk juga vita. sambil makan kami ngobrol ngalor ngidul untuk mengenal satu sama lain. setelah makan kami pun membereskan piring gelas dsb. setelah selesai kami dari kampusku dan relawan salah satu kampus lain mencoba membuat kegiatan untuk anak2. pagi itu kami sepak bola bersama anak2. begitu menyenangkan dan juga melelahkan

hari berikutnya aku berpikir mengapa aku tidak mengajari anak anak sholat saja? kulihat setiap sholat jamaah di masjid darurat hanya sedikit yang ikut sholat berjamaah. kebetulan di netbookku ada kartun sifat sholat Nabi yang Insya Allah menarik untuk mereka.

### DI LANGIT ASA (Part VI) ###


Hari menjelang Maghrib. Syifa baru saja tiba di rumahnya setelah beraktivitas selama seharian. Ia langsung menyambar komputernya begitu masuk ke dalam kamarnya. Ia sudah tidak sabar lagi untuk membuka e-mailnya sejak mendapatkan sms dari Eggi siang tadi. Rasanya ia sudah tidak dapat menahan lagi rasa penasarannya terhadap ikhwan yang hendak dita’arufkan Eggi dengannya. Maka, begitu Syifa tiba di rumah, ia pun langsung menghidupkan komputernya dan membuka e-mailnya.

Benar saja! Seperti yang dikatakan Eggi, data beserta foto ikhwan tersebut memang sudah dikirimkan Eggi ke alamat e-mailnya. Syifa membacanya sejenak. Biodatanya begitu singkat dan sederhana. Kata-kata pembuka dan penutupnya pun begitu sederhana. Sesederhana namanya yang penuh makna, Muhammad Fikri. Usianya hanya terpaut 3 bulan dengan Syifa. Ia merupakan karyawan pabrik sebuah perusahaan elektronik ternama. Lulusan SMU dan saat ini sedang kuliah S1 teknik elektro. Ikhwan itu anak keempat dari 5 bersaudara.

Tak terlalu banyak keterangan yang diperoleh Syifa karena begitu singkatnya biodata ikhwan tersebut. Namun bagian akhir biodata sederhana itu sangat menarik perhatian Syifa. ikhwan itu menuliskan sebaris ayat pertama dari surat Al-Qalam :

Nun. Wal qalami wamaa yasthurun.

Syifa tertegun membacanya. Ia tahu persis arti dari ayat itu, ‘Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.’ Sekian kali ta’aruf, baru kali ini Syifa mendapatkan biodata yang sederhana & mencantumkan sebuah ayat yang sangat disukainya. Berbagai pertanyaan pun hinggap di kepala Syifa. Begitu perhatiankah ikhwan itu pada kegemarannya? Begitu dalamkah pemahaman ikhwan itu terhadap agamanya hingga ia tahu sebuah ayat dimana Allah bersumpah demi pena?! Dan… masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuat Syifa semakin penasaran dengan jawabannya. Syifa pun mengakui kalau biodata sederhana itu sangat memikat hatinya dan membuatnya ingin tahu seperti apa sebenarnya ikhwan itu.

Syifa menurunkan tampilan layar komputernya hingga tampaklah wajah Muhammad Fikri yang membuatnya penasaran itu. Syifa memperhatikan foto itu sesaat. Tak ada yang menarik dari penampilan ikhwan itu. Ia terlihat sederhana seperti biodata yang dibuatnya. Wajahnya bulat putih dan terlihat dewasa. Akankah Syifa melanjutkan proses ta’aruf dengan ikhwan itu? Syifa belum bisa menjawabnya. Ia harus istikharah terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan yang terbaik.

"Ku pInang engkau dengan Al-Qur'an....," Suara merdu milik Gradasi yang menembangkan Ku Pinang Dengan Al-Qur’an kembali terdengar dari ponsel Syifa dan membuyarkan perhatian Syifa dari layar komputer.

“Pasti Eggi,” pikir Syifa seraya merogoh ke dalam tasnya. Setelah mendapatkan ponselnya, Syifa melihat layar ponselnya, ternyata Rahma, sahabat Syifa yang dahulu pernah mengaji bersama dengannya.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Apa kabar, Fa?,” jawab Rahma di seberang telepon.

“Khair Alhamdulillah. Ada apa, Ma? Gak biasanya telfon.”

“Hehe..iya nih. Aku ada perlu sedikit sama kamu."

“Perlu apa?,” Syifa penasaran mendengarnya.

“Begini, Fa. Aku punya sepupu ikhwan yang seusia sama kamu. Namanya Firdaus. Dia lulusan sarjana informatika dan sudah bekerja di salah satu instansi pemerintah, PNS pula. Orangnya pendiam seperti kamu, akhlaknya baik, bacaan al-qur’annya bagus, hafalannya lumayan dan dia sedang mencari akhwat yang siap menikah. Kalau kamu belum ada calon, aku ingin menta’arufkan kamu sama sepupuku itu,” ujar Rahma langsung menjelaskan maksudnya menghubungi Syifa.
Syifa menarik napas.

“Kalau calon, terus terang aku memang belum punya.”

“Alhamdulillah.”

“Tapi, Ma. Aku baru saja memulai proses dengan seorang ikhwan.”

“Sejauh mana?.”

“Baru saling tukar CV aja. Bertemu pun belum.”

“Berarti masih ada kesempatan donk. Toh kamu belum dikhitbah dan belum ada kesepakatan apa-apa.”

“Yaa…memang belum sih.”

“Ya sudah, kalau begitu nanti aku kirimkan data dan fotonya besok ke e-mail kamu. Ya, sebagai bahan pertimbangan gak apa-apa kan. Kamu istikharah ja minta petunjuk Allah pilihan yang terbaik. Oke?!.”

”Baiklah, aku tunggu CV-nya. Setelah mantap dan yakin, insya Allah nanti aku kabari,” Syifa akhirnya menyetujui juga.

“Oke! Insya Allah segera aku kirimkan CV-nya. Wassalamu’alaikum,” sahut Rahma dengan nada riang.

Syifa menghela napas. Kali ini ia harus menghadapi 2 pilihan yang sangat sulit dan sama sekali tidak tahu mana yang lebih baik untuknya. Kedua ikhwan itu sama-sama belum dikenalnya. Ia sama sekali tidak tahu seperti apa kedua ikhwan tersebut. Syifa sungguh tidak mengerti harus memilih yang mana. Sepupu Rahma yang sudah PNS dan sarjana, ataukah Fikri yang hanya seorang karyawan pabrik. Syifa sungguh-sungguh tidak tahu.

“Ya, Rabb… berilah hamba petunjuk-Mu mana yang terbaik bagi hamba dari keduanya sehingga hamba tidak salah memilih. Amin…,” do’a Syifadi dalam hati.
Sayup-sayup suara azan Maghrib terdengar dari pengeras suara masjid dan mushola-mushola yang berada di lingkungan tempat tinggal Syifa. memanggil insan-insan yang beriman untuk menghadap Rabb yang telah menciptakannya dalam khusyuknya shalat.


*****



Ahad pagi yang cerah. Secerah penampilan Syifa siang itu dengan gamis kuning bermotif kotak-kotak berwarna biru langit yang berpadu dengan jilbab kuning muda. Wajahnya pun terlihat begitu cerah meski ia merasa tidak ada yang membuatnya merasa sangat gembira hari itu. Hatinya justru sedang berdebar-debar tak karuan tanpa bisa dikendalikannya. Padahal ini bukanlah pertama kalinya Syifa hendak ta’aruf dengan seorang ikhwan. Tapi itulah yang terjadi setiap kali ta’aruf, hatinya selalu saja berdebar tidak karuan.

Syifa menarik nafas dalam-dalam seraya berusaha menata hati dan mengendalikan debar-debar yang dirasakannya. Ummi Zakky yang diam-diam memperhatikan Syifa, tersenyum melihat tingkah Syifa. Bukan sekali ini murabbiyahnya itu melihat Syifa seperti itu. Sejak sang murabbinya pertama kali menta’arufkan Syifa, sejak itu pula ia selalu melihat Syifa seperti itu. Dan …. lagi dan lagi, murabbiyahnya itu hanya tersenyum melihatnya. Karena semua itu adalah fitrah setiap manusia yang memiliki akal dan perasaan.

Syifa kembali menarik nafas. Angannya melayang jauh pada foto ikhwan yang akan ta’aruf dengannya hari itu. Foto yang dikirimkan beserta CV ke alamat e-mailnya seminggu yang lalu. Entah seperti apa wajah asli ikhwan itu. Akankah sama persis seperti yang ada di foto, bulat putih dan terlihat dewasa, ataukah ternyata jauh berbeda dengan yang tergambarkan di foto. Syifa sungguh penasaran karenanya.

Muhammad Fikri. Akhirnya Syifa memilih untuk berta’aruf dengan sahabat baik Eggi itu dari pada Firdaus, sepupu Rahma yang PNS. Entah apa yang membuat Syifa lebih mantap untuk berta’aruf dengannya. Yang ia tahu, kalau hatinya lebih yakin untuk berta’aruf dengannya. Syifa terus berdoa dan berharap semoga pilihannya adalah yang terbaik untuknya.

Usia Fikri 6 tahun di atas Eggi. Karena itu Eggi sudah menganggapnya seperti kakak sendiri. Entah apa yang membuat ikhwan itu bersedia ta’aruf dengan Syifa hingga bersedia jauh-jauh datang dari kota hujan, Bogor ke kota Patriot, Bekasi. Padahal Syifa dan Eggi belum lama kenal dan kenal pun hanya dari jauh. Jangankan mengenal persis pribadi masing-masing, bertemu langsung pun mereka belum pernah. Selain itu, kota Bogor dengan IPB-nya yang terkenal, menyimpan begitu banyak akhwat-akhwat aktivis dakwah yang luar biasa. Sungguh, Syifa tak habis pikir karenanya. Ia hanya berharap itu semua adalah sebuah tanda bahwa ikhwan itu memang jodohnya. Bukankah tak ada hal yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak?!!

Dan kini, baik Eggi maupun Fikri benar-benar berada di hadapan Syifa. Mereka duduk berjejer tepat di hadapan Syifa. Di sebelah kiri Fikri, duduk seorang laki-laki yang usianya terlihat lebih tua beberapa tahun di atas mereka. Laki-laki itu tidak lain adalah murabbi Fikri.

“Subhanallah…. Mereka benar-benar datang,” gumam Syifa pelan, nyaris tidak terdengar. Ia segera membenamkan wajahnya dalam-dalam sambil terus berusaha menghilangkan geroginya agar tak terlihat salah tingkah di hadapan mereka. “Bismillah…. Ya Allah, jika memang ia jodohku, mantapkanlah hatiku dan mudahkanlah segalanya. Namun jika bukan, lapangkanlah hatiku agar bisa menerima segala ketetapan-Mu dengan ikhlas,” doa Syifa dalam hati.

Tanpa banyak basa-basi, suami Ummi Zakky yang merupakan pemilik rumah tempat ta’aruf itu dilaksanakan segera membuka dan memimpin acara hari itu. Acara dimulai dengan perkenalan antar kedua murabbi, yaitu Ummi Zakky dan murabbi Fikri. Eggi juga tidak ketinggalan memperkenalkan dirinya pada Ummi Zakky mengingat dialah yang sejak awal berperan menjodohkan Fikri dan Syifa.
Setelah saling berkenalan, acara inti pun dimulai. Fikri sebagai tamu, lebih dahulu memperkenalkan dirinya dan menjelaskan kondisi dirinya dan keluarganya. Tak ketinggalan pula ia menjelaskan mengenai tujuannya menikah beserta semua visi misi dan harapan-harapan yang ingin diwujudkannya dalam sebuah pernikahan.
Fikri terlihat begitu santai. Bahkan sesekali candaan kecil meluncur dari mulutnya sehingga membuat suasana tidak terlihat kaku dan sangat formil. Emosinya tampak sangat terkontrol dan dapat menguasai keadaan. Mungkin karena usianya yang sudah cukup matang dan usia tarbiyahnya yang sudah cukup lama. Jauh berbeda dengan Syifa yang sejak awal kedatangan Fikri tadi sudah sangat tegang. Sehingga ia pun tak dapat berkata banyak dan tampak begitu kaku meski terkadang ia ikut tersenyum manakala Fikri berusaha mencairkan suasana dan ketegangan yang dirasakannya.

Seperti biasa, Ummi Zakky mengingatkan keduanya akan semua konsekuensi yang harus dijalani setelah pernikahan, seperti tinggal mengikuti suami dan memiliki anak. Ia meminta Syifa dan Fikri membicarakannya agar nantinya mereka sama-sama tahu dan lebih mantap dalam mengambil keputusan langkah berikutnya.

Tepat saat azan Zuhur berkumandang, ta’aruf hari itu pun selesai. Tinggal memutuskan langkah selanjutnya, apakah proses ta’aruf tersebut akan diteruskan hingga ke pelaminan, ataukah cukup hanya sampai di situ. Keduanya bergantung pada keputusan serta kemantapan hati Syifa dan Fikri.

Suami Ummi Zakky yang menjadi pembawa acara hari itu, menunda sejenak acara untuk memenuhi panggilan azan yang telah berkumandang. Ia mengajak Eggi, Fikri beserta murabbinya untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah Ummi Zakky. Sedangkan Ummi Zakky dan Syifa shalat berjama’ah di rumah.

Ahad siang itu, kembali …. harapan-harapan Syifa beterbangan ke langit bersama untaian doa-doa yang dipanjatkan dalam setiap sujud-sujudnya. Harapan dan doa-doa yang terus beterbangan tinggi menembus lapisan demi lapisan langit hingga ke ‘arsy, di mana Rabb-nya berada. Seraya terus berharap Sang Rabb akan mengabulkan pintanya, mengabulkan segenap doa-doanya.
Usai menunaikan shalat Zuhur, Syifa melaksanakan shalat istikharah 2 raka’at untuk meminta petunjuk dan kemantapan hati apa yang harus diputuskannya nanti. Begitu pula dengan Fikri. Di masjid ia juga melaksanakan shalat istikharah dan berdoa memohon petunjuk Allah. Mereka berdua sadar betul kalau jodoh merupakan rahasia Illahi Rabbi. Dan hanya Allah yang memutuskan segala sesuatu di bumi ini. Hanya Allah yang Maha Berencana. Hanya Allah pula yang Maha Tahu mana yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Suami Ummi Zakky kembali membuka acara setelah tadi sempat ditunda selama hampir setengah jam karena masuk waktu Zuhur. Setelah mereka semua menunaikan shalat Zuhur dan berkumpul lagi, barulah acara dimulai kembali. Suami Ummi Zakky memberikan sedikit tausiyahnya pada Syifa dan Fikri terlebih dahulu sebelum mendengar keputusan Syifa dan Fikri akan kelanjutan proses yang mereka jalani hari itu.

Selesai suami Ummi Zakky bertausiyah, barulah Syifa dan Fikri diminta menyatakan keputusan mereka masing-masing. Syifa diminta mengutarakan keputusannya terlebih dahulu. Wajahnya terlihat lebih fresh seusai shalat. Sikapnya pun tampak lebih tenang dan rileks kali ini meski debar-debar di hatinya belum kunjung menghilang juga.

Syifa tertunduk sesaat dan terdiam. Ia sadar segenap perhatian kini tertuju padanya. Namun ia berusaha tetap tenang seraya menyusun baris-baris kalimat yang akan disampaikannya nanti.

Beberapa menit kemudian, baru terdengar baris suara lembut Syifa dari bibirnya.

“Bismillahirrahmanirrahim… Rabbi shrahli shadri wayassirli amri wahlul uqdatan millisani yafqahu qauli. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan berta’aruf dengan akhi Fikri hari ini dalam rangka berproses secara syar’i demi untuk menunaikan sunnah Rasulullah dan menggenapkan separuh agama ini. Setelah istikharah ba’da shalat Zuhur tadi, insya Allah ana yakin dan mantap untuk melanjutkan proses ta’aruf ini ke proses selanjutnya dan membina sebuah keluarga yang samara dengan akhi Fikri,” ucap Syifa penuh kemantapan.

“Namun kelanjutan proses ini, bukan hanya pada keputusan ana semata. Keputusan selanjutnya ana serahkan pada akhi Fikri. Apa pun keputusannya, insya Allah ana siap menerimanya dengan kelapangan hati,” lanjut Syifa tawakal.

Selesai Syifa menyampaikan keputusannya, giliran Fikri yang berganti menyatakan keputusannya pada seluruh hadirin.

“Bismillahirrahmanirrahim…,” Fikri mulai berbicara.

Ia diam sejenak dan menarik nafas. Membuat Syifa yang menanti kata-kata yang hendak keluar dari mulut Fikri, semakin tegang dan berdebar-debar karenanya.

“Ana pun sudah istikharah ba’da shalat Zuhur tadi untuk meminta petunjuk Allah agar tidak salah melangkah dan mengambil keputusan,” ujar Fikri kemudian. “Apa pun hasilnya nanti, semoga itu yang terbaik dan semoga dapat diterima dengan penuh keikhlasan,” sambung Fikri tidak langsung mengutarakan keputusannya.
Fikri kembali menarik nafas.

“Insya Allah, ana yakin dan mantap sekali untuk melanjutkan proses dengan ukhti Syifa hingga ke pelaminan. Bahkan melanjutkannya hingga ke surga Allah yang abadi,” ucap Fikri yang disambut dengan ucapan hamdalah dan senyuman oleh Syifa dan seluruh hadirin yang mendengarkannya.

“Insya Allah, 2 minggu lagi ana akan datang pada orang tua ukhti Syifa untuk meminang agar walimah bisa segera dilaksanakan. Semoga ukhti bersedia.”

Syifa tersenyum. Kali ini ia benar-benar bisa tenang dan santai dari sebelumnya. Hatinya pun terasa lega meski masih tetap berdebar-debar. Namun kali ini debar-debar yang dirasakannya berbeda dari sebelumnya. Kali ini ia berdebar-debar memberikan jawaban pada Fikri karena begitu bahagianya.

“Insya Allah bersedia,” jawab Syifa tanpa ragu.

“Alhamdulillah,” sahut Fikri dan yang lainnya.

Hari ahad siang itu, sungguh sebuah hari yang sangat indah bagi Syifa. Ia tiada henti-hentinya bersyukur pada Sang Illahi yang telah membuka sebuah jalan yang sungguh sangat di luar dugannya. Setelah sekian lama menanti, setelah beberapa kali berta’aruf, seorang sahabat yang belum pernah bertatap muka dengannya, membawakan seorang ikhwan jauh dari kota hujan, yang akhirnya memberikan kesejukan pada hatinya yang telah gelisah menanti.

“Alhamdulillah… segala puji hanya pada-Mu ya Rabb, ya Rahman, ya Rahim. Sungguh hanya Engkau yang Maha Berencana. Ya Rabb, mudahkanlah segala urusan kami, mekarkanlah bunga-bunga cinta di hati kami, sampaikanlah kami dalam indahnya sebuah pernikahan, izinkanlah kami bersama-sama mengarungi samudra kehidupan ini, tak terpisahkan hingga ke surga-Mu kelak. Ya Rabb, hanya pada-Mu kami panjatkan segala doa kami, hanya pada-Mu kami gantungkan segenap asa kami. Ya Rabb, yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Engkaulah sebaik-baik penolong. Kabulkanlah permohonan-permohonan kami. Amin allahumma amin…,” doa Syifa dalam hatinya diiringi gerimis yang turun dari kelopak matanya.


*****
TAMAT

#### DI LANGIT ASA (Part IV) ####

Nasyid-nasyid pernikahan terus mengalun dari sound system yang sengaja diputar untuk mengiringi acara pernikahan Nita. Tamu-tamu semakin banyak yang berdatangan untuk memberikan doa restunya pada kedua mempelai. Tentu saja Syifa semakin sibuk mengurusi hidangan yang disediakan untuk para tamu di meja prasmanan. Ia pun harus bolak-balik ke dapur dan meja prasmanan untuk mengambil makanan lalu menghidangkannya di meja prasmanan.
Saat sedang melayani para tamu, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi nyaring. Syifa cepat-cepat meminta bantuan salah seorang temannya untuk menggantikannya. Setelah ada yang menggantikannya, barulah ia mengambil ponsel di tas kecil selempangnya sambil mencari tempat yang lebih nyaman untuk menjawab telepon.

“Assalamu’alaikum,” salamnya menerima telepon yang masuk untuknya.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Gimana kabarnya, mbak? Sehat?,” jawab suara di sebrang telepon yang terdengar seorang ikhwan.

“Alhamdulillah khair. Ada apa, dek? Tumben telepon,” tanya Syifa kemudian pada ikhwan yang bernama Eggi itu. Kalau mendengar panggilan akrab mereka, pastilah banyak yang mengira kalau mereka masih memiliki hubungan saudara atau pun sahabat yang sudah lama kenal. Padahal keduanya sama sekali tidak memiliki hubungan saudara dari darah yang mengalir di tubuh mereka. Bahkan keduanya sama sekali belum pernah bertemu meski sudah hampir setahun saling mengenal melalui dunia maya. Mereka hanya berkomunikasi melalui dunia maya dan ponsel. Melalui ponsel pun baru satu bulan belakangan ini. Kegemaran yang sama membuat keduanya menjadi akrab meski belum pernah bertemu secara langsung di dunia nyata.

“Gak apa-apa, mbak. Ana cuma mau kasih tahu kalau buku kiriman mbak sudah ana terima kemarin. Jazakillah ya mbak, atas hadiahnya,” jawab Eggi menjelaskan maksudnya menghubungi Syifa.

“Oh gitu. Alhamdulillah sampe juga. Sama-sama, dek. Semoga bermanfaat dan menambah ilmu ya,” kata Syifa menanggapi.

“Amin…,” sahut Eggi. “Oh ya, mbak. Kok kaya’nya rame amat, lagi ada dimana nih?.”

“Iya, afwan ya kalo rame begini. Mbak lagi ada di acara walimah nih.”

“Walimah? Walimah mbak, ya? Kok gak undang-undang ana, mbak?,” tanya Eggi lagi.

Syifa tersenyum kecil mendengar celotehan Eggi.

“Ya, bukanlah. Ini walimahan teman mbak. Kalo walimah mbak, masa’ iya antum gak diundang,” jawab Syifa menjelaskan.

“Oh… Terus mbak sendiri kapan walimahnya? Pasti udah ada rencana kan?.”
Lagi-lagi Syifa tersenyum kecil.

“Rencana insya Allah sudah pasti ada. Hanya saja, mempelai prianya belum ketemu juga. Masih sembunyi entah di mana.”

“Oh.., jadi mbak belum proses nih,” simpul Eggi.

Syifa hanya tersenyum menanggapi.

“Ehm…gitu toh,” Eggi bergumam.

“Makanya bantu mbak nyari mempelai prianya,” ujar Syifa kemudian setengah bercanda.

Eggi tertawa mendengarnya.

“Boleh, mbak. Insya Allah nanti ana coba bantu. Ana punya teman yang seusia mbak dan belum walimah. Ya, siapa tahu jodoh, mbak,” ungkapnya kemudian.
“Boleh-boleh. Siapa tahu jodoh,” respon Syifa menanggapi seraya tersenyum sendiri.

“Oke deh! Nanti ana kabari lagi. Buat sekarang cukup dulu ya, mbak. Afwan kalo ana sudah ganggu.”

“Iya gak apa-apa, dek.”

“Jazakillah ya, mbak. Assalamu’alaikum,” salam Eggi mengakhiri pembicaraannya.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” Syifa menjawab salam dari Eggi. Ia segera menyimpan ponselnya kembali di tas. Lantas ia kembali melanjutkan aktivitasnya membantu acara walimah Nita yang belum usai siang itu.


*****


”Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).”

Itulah janji Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 26. Perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji, sedangkan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula. Syifa yakin itu! Yakin pada janji Allah yang Maha Suci.

Maka, ketika seseorang menginginkan jodoh yang baik, maka ia harus menjadikan dirinya baik terlebih dahulu. Begitu pula jika mengharapkan jodoh yang shalih, maka ia harus menjadikan dirinya shalihah terlebih dahulu. Jangan pernah bermimpi mendapatkan jodoh yang shalih, namun diri sendiri menjadi seseorang yang keji, jahat dan penuh dengan kemaksiatan. Jangan pernah berharap memiliki istri sekualitas Fatimah, jika diri sendiri belum sekapasitas Ali.
Syifa sangat menyadari itu. Karenanya, dari pada hanya meratapi dirinya yang tak kunjung menikah juga, Syifa lebih memilih untuk terus membenahi dirinya dan terus berusaha menjadikan dirinya pantas menjadi pendamping hidup seorang laki-laki shalih yang selama ini ia dambakan kehadirannya. Seraya terus berdoa tiada henti pada Rabb yang Maha Berencana.

Tiba-tiba dari ponsel Syifa mengalun syahdu sebuah nasyid milik Gradasi yang berjudul Ku Pinang Engkau Dengan Al-Qur’an. Syifa segera menutup mushafnya dan menyimpannya di atas meja. Lalu cepat-cepat diambilnya ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya.

“Assalamu’alaikum. Ada apa dek?,” Syifa menjawab panggilan telepon yang masuk di ponselnya itu.

“Wa’alaikumsalam. Afwan, mbak. Mengenai pembicaraan kita tempo hari, ana mau mengabarkan sama mbak kalau teman ana itu bersedia untuk ta’aruf sama mbak. Insya Allah nanti CV beliau akan segera dikirimkan ke e-mail mbak,” jawab si penelepon yang ternyata adalah Eggi.

“Jadi tempo hari antum serius mau bantu mbak, dek?,” Syifa masih kurang yakin.
Mendengar pertanyaan Syifa, Eggi langsung tertawa kecil.

“Jelas ana serius, mbak. Masa’ ana bercanda sih sama masalah beginian. Kalau ana bercanda, sama aja ana mempermainkan mbak. Gak mungkin ana berbuat begitu mbak.”

“Oh begitu. Ya kadang kan ada aja yang cuma bercanda atau basa-basi aja.”

“Kalau ana jelas nggak-lah, mbak. Ana bukan orang yang seperti itu.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Jadi keputusannya?.”

“Keputusan apa?.”

“Ya keputusan mbak, bersedia apa nggak ta’aruf sama teman ana itu,” Eggi sedikit geregetan dengan pertanyaan Syifa.

Syifa tertawa kecil.

“Hehe… Ya, insya Allah mbak bersedia ta’aruf dengan beliau. Jika memang berjodoh Alhamdulillah, kalau tidak berjodoh, seperti kata Bilal, cuma Allah yang Maha Besar!!.”

“Kalau begitu nanti mbak kirim CV mbak ke alamat e-mail ana ya.”
“Insya Allah nanti segera mbak kirimkan, dek. Jazakallah ya sudah bersedia membantu mbak.”

“Sama-sama, mbak. Semoga aja kali ini berjodoh ya, mbak.”

“Amin…,” Syifa mengaminkan seraya melayangkan jutaan harapnya pada Rabb-Nya.

Usai menyampaikan semuanya, Eggi segera mengakhiri pembicaraannya dengan Syifa.

“Alhamdulillah…,” syukur Syifa setelah meletakkan ponselnya kembali di tempat tidur. “Semoga dia orangnya, mujahid yang selama ini ku nanti dan ku rindukan kehadirannya,” harapnya kemudian.

~~ DI LANGIT ASA ~~ (PART 3)

Hening… teramat hening. Begitu heningnya hingga Syifa merasakan betapa nikmatnya bermunajat pada Rabb-nya di sepertiga malam yang terakhir. Ada kesejukan bersama air wudhu yang menyentuh kulitnya. Ada kedamaian manakala ayat-ayat Allah terlantun dari bibirnya. Ada kebahagiaan manakala ia bersua dengan Tuhan yang telah menciptakannya. Semua kenikmatan itu, tak dapat dibayarkan dengan apa pun juga. Kenikmatan yang hanya dapat dirasakan hamba-hamba-Nya yang ikhlas bersujud pada-Nya. Karena sesungguhnya puncak kenikmatan bagi orang-orang baik dan saleh adalah bisa berkomunikasi dan mencurahkan isi hatinya dengan bercerita kepada sang Khalik di tengah malam. Di sanalah rahmat Allah akan datang bagi orang-orang yang melakukan shalat di malam hari. Allah menghiasi perhiasan kecintaan kepada orang-orang yang ruku, sujud, dan bersimpuh di haribaan-Nya dengan bangun dan shalat di sepertiga malam yang agung.

Syifa melipat mukenahnya. Masih ada waktu sekitar 15 menit sebelum azan subuh memanggil. Ia beranjak ke meja komputernya. Ia menyalakan komputer miliknya. Dibukanya sebuah file berjudul CV. Dibacanya sejenak file yang berisi semua data pribadinya itu. Setelah merasa cukup, Syifa mengeprint file itu diiiringi basmalah yang meluncur dari bibirnya.

“Bismillah…..”

Dalam waktu beberapa menit, data pribadinya telah tercetak rapih dalam dua lembar kertas berukuran A4. Syifa mengambil hasil print out data pribadinya itu dan membacanya sekali lagi dengan seksama. Senandung doa pun terlantun lirih dari bibirnya seraya menggantungkan segenap asa di dalam hatinya pada Rabb yang Maha Pengasih.

“Bismillah…
Terucap dari lubuk hati yang terdalam
Kidung doa pun terurai
Di heningnya pagi
Kala subuh belum lagi menyapa
Ya Rabbana…..
Izinkanlah lembaran kertas ini sampai di tangannya
Perkenankanlah goresan tinta ini dibacanya
Oleh seseorang yang telah Kau pilihkan untukku
Seseorang yang hatinya Kau tambatkan padaku
Seseorang yang kan menemani perjuanganku
Seseorang yang ikhlaskan dirinya untuk hidup denganku
Seseorang yang bersedia menuntunku dalam titian syariat-Mu
Seseorang yang akan membuatkan aku rumah di dunia dan di surga-Mu
Ya Rabbana…..
Jangan biarkan aku sendiri di dunia ini
Sungguh ku rindukan ketrentaman itu
Sungguh ku ingin sempurnakan separuh dien-Mu
Maka,
Pertemukanlah aku dengannya
Ikatkanlah aku dengannya
Amin...”

Setelah memanjatkan doa, Syifa pun melipat lembaran data pribadinya dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop berukuran sedang. Entah ini yang ke berapa kalinya Syifa membuat biodata, memasukkannya ke dalam amplop untuk kemudian diproses untuk ta’aruf. Namun belum ada yang membuahkan hasil. Ia hanya trus berusaha dan berusaha tanpa ingin berputus asa. Ia percaya Allah telah mempersiapkan seseorang untuknya melayari kehidupannya. Ia percaya pada janji Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 26 :

”Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik(pula).”

Ya! Syifa percaya itu. Sangat percaya! Karenanya Syifa tidak ingin berputus asa. Syifa justru semakin terpacu untuk memperbaiki dan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin seraya terus berdoa agar Allah mempertemukannya dengan jodoh yang telah dituliskan di Lauhul Mahfudz. Di langit asanya,Syifa menggantungkan segenap harapnya pada sang Rabb, Pencipta seluruh alam.


*****


Lembayung senja merah merona menghiasi langit yang terlihat cerah di antara awan putih yang berarak. Sementara, matahari yang hendak pulang ke peraduannya, terlihat bulat memancarkan cahaya kemerahan di ufuk barat. Sebuah lukisan alam yang tersaji dengan teramat indahnya. Lukisan maha karya yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta, yang tidak ada satu makhluk pun yang dapat menyamai hasil karya ciptaan-Nya.

Dari atas sepeda motornya, Syifa tersenyum menatap lukisan alam di hadapannya. Wajahnya terlihat begitu cerah. Secerah hatinya senja itu. Secerah langit di hadapannya sore itu. Syifa pun berpuisi riang.

“Hari mengantarkan senja
Langit cerah merona kemerahan
Begitu terang bercahaya
Ku lajukan sahabat perjuanganku perlahan
Tuk menikmati indahnya senja yang terlukis di depan mata
Ada untaian asa di balik langit senja yang memerah di sana
Saat senja berganti malam
Dan mentari kembali ke peraduannya
Sesungguhnya,
Ada cahaya baru yang benderang
Ada cahaya baru yang kan menjelang
Setelah malam itu berlalu
Setelah kelam itu pergi
Karena itu,
Tak perlu berduka saat senja berganti malam
Tak perlu bersedih saat cahaya mentari menghilang di balik awan
Karena esok kan kau temui sebuah hari baru yang bercahaya
Cahaya indah yang memancarkan seberkas asa
Cahaya penerang bagi hidupmu
Yang kan menyinari setiap jalan yang kau lalui”

Begitu asyiknya menikmati lukisan senja di hadapannya, Syifa baru tersadar kalau ia telah sampai di tempat yang ditujunya. Hampir saja Syifa melewatinya. Ia pun segera menepikan motornya.

“Sendirian aja, Fa,” sapa Retno yang baru saja keluar dari dalam tepat ketika Syifa memarkir motornya.

Syifa tersenyum menyambut sapaan Retno.

“Iya, mbak,” ujarnya seraya menghampiri Retno. “Assalamu’alaikum,” salamnya sambil merangkul Retno.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Retno cepat.

“Sehat, mbak?.”

“Alhamdulillah,” Retno balas tersenyum. “Langsung ke dalam aja, yuk,” ajaknya kemudian sambil membuka pintu.

Syifa hanya mengangguk dan mengikuti Retno di belakang. Diam-diam ia menyimpan rasa penasaran dan berjuta pertanyaan mengapa Retno memintanya untuk datang sore itu. Saat di telefon tadi siang, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting hingga Syifa harus datang sore itu juga. Sebenarnya hari itu jadwal Syifa sangat padat. Tapi untunglah ada sebuah agenda yang tiba-tiba dicancel sehingga Syifa bisa datang sore itu juga.

“Ada apa, mbak? Sampai-sampai mbak meminta aku datang. Sepertinya gak bisa disampaikan lewat sms atau telepon saja,” tanya Syifa yang penasaran sehingga tidak ingin berbasa-basi lagi.

Retno tersenyum. Ia paham mengapa Syifa langsung to the point begitu saja.

“Sebenarnya bisa saja dibicarakan di telepon. Hanya saja, rasanya lebih nyaman kalau menyampaikan langsung sama kamu, Fa,” jawab Retno.

“Oh..”

“Begini, Fa. Waktu kemarin mbak minta data kamu, sebenarnya memang ada ikhwan yang berniat untuk menikah. Dia binaan teman mbak,” Retno memulai penjelasannya.

Mendengar ungkapan Retno tersebut, bunga-bunga harapan di hati Syifa mulai bermekaran.

“Lantas?.”

“Mbak dan teman mbak itu sudah memproses data kamu dan ikhwan tersebut.”

“Lantas?.”

“Ikhwan tersebut sudah melihat data kamu dan bersedia ta’aruf.”

“Sungguh, mbak?,” Syifa pun mulai menaruh harap.

Retno menganggguk cepat.

“Tapi…”

“Tapi apa,mbak?.”

“Tapi kemarin teman mbak memberi tahu kalau ikhwan tersebut membatalkan niatnya untuk berproses dengan kamu, Fa,” jawab Retno dengan nada yang suara yang menurun.

“Membatalkan? Begitu saja? Apa alasannya, mbak?.”

“Ikhwan itu beralasan kalau usianya jauh lebih muda dari usia kamu. Ia tidak ingin memiliki istri yang usianya lebih tua darinya karena ia pasti akan merasa sungkan dan tidak enak memimpin seorang wanita yang usianya berada di atasnya. Selain itu, ia merasa ilmu yang dimilikinya masih sangat sedikit dibandingkan dengan kamu, Fa. Apalagi mengingat usia tarbiyah kamu yang jauh lebih lama dari dirinya. Begitu katanya,” papar Retno menjelaskan.

“Jadi begitu ya, Mbak?,” sahut Syifa menanggapi dengan suara yang tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya.

“Afwan ya. Mbak belum bisa membantu kamu,” ujar Retno kemudian.

“Gak apa-apa, mbak. Aku ngerti kok. Kebanyakan ikhwan memang mencari akhwat yang seusia atau tidak lebih tua darinya,” Syifa berusaha melapangkan hatinya yang sedikit kecewa. “Kalau boleh tahu memang berapa usianya?.”

“24 tahun,” jawab Retno cepat.

“Hm… hampir 6 tahun di bawahku. Jelas saja, Mbak.”

“Tapi Fa, bukankah Rasulullah sendiri 15 tahun lebih muda ketika menikahi bunda Khadijah?! Dan saat itu bunda Khadijah adalah saudagar kaya raya, sedangkan Rasulullah hanya seorang pemuda yang membantunya berdagang?! Perbedaan itu toh tidak membuat beliau tidak bahagia dalam pernikahannya. Tidak lantas membuat beliau diremehkan sebagai seorang suami.”

“Itu kan Rasulullah, Mbak. Ikhwan itu hanya manusia biasa. Dan itu semua fitrah, mbak.”

“Tapi kalau saja dia mau meneladani Rasulullah, mungkin dia akan mendapatkan banyak keutamaan dari pernikahannya,” sahut Retno.

“Astaghfirullahal’adzim…. Mbak, kenapa jadi berandai-andai begitu?! Sudahlah. Apa pun alasannya, ini semua sudah kehendak Allah, Mbak. Sudah menjadi bagian dari rencana-Nya,” Syifa mengingatkan Retno. “Kita harus tetap berhusnuzhan. Mungkin saja memang bukan dia jodoh yang Allah takdirkan buat aku. Mungkin Allah sudah mempersiapkan seseorang yang lebih baik darinya,” sambung Syifa.

“Astaghfirullahal’adzim. Kamu bener, Fa. Afwan ya, mbak agak kesal habisnya. Bukankah Rasulullah mengatakan kalau wanita dinikahi karena 4 hal, yaitu kecantikannya, kekayaannya, keturunannya dan agamanya. Pilihlah agamanya maka engkau akan beruntung. Tapi ikhwan itu malah mundur, bukannya maju terus,” Retno sedikit menggerutu.

Syifa tersenyum mendengarnya.

“Mungkin ikhwan itu punya pertimbangan lain,” sahut Syifa yang berusaha tetap berhusnuzhan meski sebenarnya hatinya sangat kecewa. “Sudahlah,Mbak. Jangan diperpanjang lagi. Kita sudah berusaha, selanjutnya tugas kita adalah bertawakal pada Allah,” lanjut Syifa.

“Iya, Fa. Afwan ya mbak belum bisa bantu kamu.”

“Memang belum waktunya mungkin, Mbak,” Syifa lagi-lagi tersenyum.

“Jangan putus asa ya. Teruslah berikhtiar. Mbak juga akan mendoakan kamu terus,” ujar Retno lagi.

“Insya Allah,Mbak. Terima kasih mbak sudah begitu perhatian sama aku sampai berusaha membantu aku. Terima kasih banyak, mbak,” Syifa menatap mata Retno dalam-dalam. Ada cinta yang begitu besar di sana untuknya. Cinta yang begitu hangat dan tulus dari seorang kakak untuk seorang adik.

“Ya tapi belum membuahkan hasil.”

Syifa menggenggam erat tangan Retno.

“Itu juga sudah cukup, mbak,” Syifa tersenyum hangat. Ia pun lantas berpamitan pada Retno untuk pulang. Apalagi waktu hampir menjelang Maghrib.

Di perjalanan pulang ke rumahnya, Syifa melajukan perlahan motor bebeknya. Ditariknya nafas dalam-dalam. Ada kecewa yang menghimpit sesak dadanya. Entah sudah ke berapa kalinya lagi-lagi ia batal berproses. Padahal hatinya telah sangat merindu akan nikmatnya sebuah pernikahan.

“Ya Rabb, kesalahan apa yang telah ku perbuat hingga aku begitu sulit menemukan jodohku? Berilah aku petunjuk-Mu agar aku bisa memperbaikinya,” bisiknya lirih seraya berusaha bermuhasabah.

Meski ada kecewa yang menghimpit, Syifa berusaha untuk tetap berhusnuzhan dan yakin pada segala ketentuan Allah. Karenanya ia tetap berdoa dan berharap pada Rabb yang Maha Berencana.

“Innama’al usri yusro. Sesungguhnya bersama kesulitanada kemudahan,” ujar Syifa meyakinkan hatinya sambil terus melajukan motornya.

~~ DI LANGIT ASA (Part II) ~~

Senja telah menyapa. Matahari memancarkan sinar dengan terangnya di ufuk Barat. Seharian ini langit memang terlihat cerah. Sedikitpun tak ada awan mendung yang memayungi meski tiga hari lagi Oktober berakhir dan musim penghujan kan segera datang. Mungkin ini yang disebut pemanasan global dimana terjadi perubahan iklim dan cuaca menjadi tidak menentu. Sehingga, tahun ini pun seolah tidak ada musim kemarau. Karena musim kemarau yang seharusnya panas berkepanjangan, musim kemarau tahun ini hujan terus saja mengguyur hampir setiap hari.

Syifa menepikan motornya dan berhenti tepat di depan sebuah tempat yang melayani cetak spanduk, poster maupun undangan.

“Di sini tempatnya?,” tanya Nita, teman seprofesi Syifa di tempatnya mengajar setelah turun dari motor.

Syifa hanya mengangguk seraya tersenyum.

“Yuk, masuk,” ajak Syifa kemudian.

Keduanya pun masuk ke dalam.

“Assalamu’alaikum…,” salam Syifa menyapa orang-orang yang berada di dalam tempat percetakan itu.

“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka semua hangat. Apalagi begitu tahu yang datang adalah Syifa. Syifa memang sudah kenal baik dengan pemilik dan pekerja di tempat percetakan itu.

Seorang ibu muda tampak menghampiri Syifa dengan penuh senyuman.

“Sehat, Fa?,” tanyanya begitu tangannya erat menyalami Syifa.

“Alhamdulillah sehat, Mbak,” jawab Syifa tidak kalah hangatnya.

Ibu muda yang dipanggil mbak itu adalah teman baik Syifa. Usianya sekitar 3 tahun di atas Syifa dan telah memiliki 2 orang putri. Suaminya adalah pemilik percetakan tersebut. Namanya Retno. Sesuai namanya, tentu saja Retno berasal dari suku Jawa. Tepatnya lagi Solo, Jawa Tengah.

“Baru pulang ngajar, Fa?,” tanya Retno lagi.

“Iya, Mbak.”

“Sekedar main atau memang ada perlu?.”

Syifa tersenyum dan melirik Nita yang datang bersamanya.

“Kenalkan ini temanku, Mbak. Namanya Nita,” ujar Syifa memperkenalkan Nita pada Retno.

Retno dan Nita pun bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing.

“Nita ini insya Allah gak lama lagi akan walimah, Mbak. Nah, maksud kami ke sini, ya sudah tentu untuk mencetak undangan walimah Nita,” urai Syifa pada Retno.

“Oh, begitu. Alhamdulillah,” sahut Retno mendengar ikut senang mendengar kabar gembira itu.

Retno pun mempersilahkan Syifa dan Nita duduk. Lalu ia melangkah menuju sebuah lemari kayu bercat hitam dan mengambil 2 buah album. Tak lama kemudian ia pun kembali menemui Syifa dan Nita.

“Ini ada beberapa contoh undangan beserta harga per lembarnya. Silahkan dilihat dan dipilih-pilih sampai menemukan mana yang cocok,” ujar Retno seraya memberikan 2 buah album yang dibawanya pada Nita.

Nita mengambil album itu dan mulai mencari-cari undangan yang hendak dipesannya untuk acara walimahnya nanti. Syifa yang duduk di samping Nita ikut melihat-lihat contoh-contoh undangan yang ada di dalam album. Sesekali ia memberikan pendapatnya tentang undangan-undangan yang sedang dilihatnya bersama Nita. Sedangkan Retno duduk di samping Nita sambil memberikan beberapa keterangan terkait dengan contoh-contoh undangan miliknya itu.

Sambil melihat-lihat undangan, diam-diam Syifa memperhatikan raut wajah Nita yang garis wajahnya terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Ada rona kebahagiaan terpancar di sana. Kebahagiaan yang kini sedang menyelimuti ruang-ruang hati Nita. Begitu indah, begitu mempesona. Membuat Syifa iri melihatnya. Ya! Iri! Sangat iri dengan semua yang dirasakan Nita, dengan semua yang terjadi dalam hidup Nita saat ini. Syifa sangat iri dengan sahabatnya itu. Iri karena di usianya yang hampir menginjak 30 tahun, ia belum bisa menggapai semua yang Nita gapai itu. Padahal usia Nita berada 5 tahun di bawahnya.

“Huf!,” Syifa menarik napas.

Retno menoleh ke arah Syifa dan tersenyum melihatnya.

“Fa, bisa kita bicara sebentar?,” tanya Retno mengalihkan perhatian Syifa dan Nita sejenak.

Syifa sedikit terkejut mendengarnya.

“Oh.. iya, Mbak. Bisa,” jawabnya singkat.

“Afwan, ditinggal sebentar ya, Nit,” ujar Retno berpamitan pada Nita sebentar.

Nita hanya mengangguk dan tersenyum mengiyakan.

Retno dan Syifa pun beranjak dari hadapan Nita. Retno membawa ke sebuah ruangan yang kecil dan tidak ada orang di sana.

“Ada apa, Mbak?,” tanya Syifa tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

“Ehmmm…. Nggak ada apa-apa. Mbak cuma mau tanya, apa saat ini kamu sedang proses?,” Retno mengajukan pertanyaan yang sangat tidak biasa bagi Syifa. Syifa pun dibuatnya sedikit curiga.

“Nggak, Mbak. Aku lagi gak sedang proses dengan siapa pun kok,” jawab Syifa sambil menerka-nerka arah pembicaraan Retno selanjutnya.

“Jadi saat ini kamu masih dalam masa penantian?,” Retno sepertinya hendak menegaskan jawaban Syifa.

“Iya, Mbak. Memangnya ada apa? Mbak punya rekomendasi ikhwan yang sudah siap menikah?,” Syifa berbalik bertanya.

Retno tersenyum tipis.

“Gak ada sih. Cuma Mbak beberapa waktu yang lalu bertemu sama teman lama dan ternyata binaannya bisa dibilang sudah cukup matang untuk menikah. Kalau kamu mau, berikan data dan foto kamu. Insya Allah nanti Mbak sampaikan pada teman Mbak itu untuk diproses dengan salah satu binaannya,” jawab Retno menjelaskan.
“Bagaimana?.”

“Ehmm… boleh, Mbak. Ya, siapa tahu aja jodoh. Namanya juga ikhtiar,” jawab SYifa cepat.

“Ya, semoga saja.”

“Amiin…,” sahut Syifa mengaminkan. “Kalau begitu, besok atau lusa insya Allah nanti aku kasih data dan foto aku ke Mbak,” sambung Syifa.
Retno tersenyum mendengarnya.

“Alhamdulillah…,” bisik Syifa di dalam hatinya. “Semoga memang ini jalannya. Jalan yang Kau berikan untukku menggapai surga duniaku, jalan yang Kau tunjukkan untukku berjumpa dengan mujahidku, ya Rabb,” doa Syifa kemudian. Doa dari lubuk hati yang sudah sangat merindu. Doa dari jiwa yang sudah sangat mendamba.

Dia….
Entah siapa namanya
Entah seperti apa rupanya
Tak terlintas sedikitpun
Tak terbayang segorespun
Tak ada yang tahu
Tak ada yang dapat menduga
Hanya Rabb-ku yang mengetahuinya
Rabb-ku pula yang masih merahasiakannya
Menyimpannya di balik tabir kehidupan
Karenanya…
Hanya pada-Nya aku memohon
Hanya pada-Nya aku bermunajat
Hanya pada-Nya ku gantungkan segenap asaku
Siapa pun namanya
Seperti apapun rupanya
Berikanlah yang terbaik bagi diri yang rapuh ini
Dia yang mencintai-Mu di atas segalanya
Dia yang selalu berjuang di jalan-Mu
Dia yang rupawan karena kesolehannya
Dia yang mempesona karena akhlaknya
Dia…
Siapa pun dia
Pertemukanlah aku dengannya
Dalam mahligai indah penuh barakah
Amin allahumma amin…

~~~DI LANGIT ASA (Part I)~~~

Syifa masih terpaku di atas sajadahnya meski telah mengakhiri sholatnya satu jam yang lalu dan tilawah pun telah usai dilakukannya. Wajahnya sembap oleh air mata yang tiada habis-habisnya mengairi. Ucapan Ummi Zakky saat liqo tadi sore masih terngiang terus di telinganya.

“Maafkan ana,” ujar Ummi Zakky di sesi qodoya. “Bukan ana diam saja. Bukan ana tidak melakukan apa pun. Tapi untuk saat ini, ana memang belum dapat menemukan ikhwan yang tepat bagi anti,” suara Ummi Zakky terdengar bergetar, tidak tegas dan mantap seperti biasanya. “Ana terus berusaha sebisa mungkin, terus berikhtiar mencarikan jodoh bagi anti. Bahkan ana selalu mengatakan bahwa usia anti sudah hampir memasuki 30 tahun. Jika masih harus menunggu lagi, usia anti pun akan terus bertambah, sedangkan anti adalah seorang wanita,” lanjut Ummi Zakky.

Syifa tak berpaling sedikit pun. Dalam setiap kata yang diucapkan Ummi Zakky, ia tahu persis seperti apa raut wajah Ummi Zakky. Juga pada nada suaranya yang sungguh tidak biasa terdengar. Di sudut mata Ummi Zakky, tampak butiran air yang menggenang hingga membuat mata Ummi Zakky terlihat berkaca-kaca. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa Ummi Zakky sampai seperti itu.

“Mungkin memang belum waktunya, Ummi,” sahut Syifa, berusaha sedikit membesarkan hati sang murobbiyah. “Jika Allah sudah menghendaki, jika memang sudah saatnya, pasti Allah akan memberi kemudahan. Ummi, ana percaya Ummi benar-benar berikhtiar untuk ana, dan ana sangat berterima kasih karenanya. Ana harap, ana tidak menjadi beban buat Ummi.”

“Insya Allah tidak. Hanya saja, ana sangat ingin melihat anti segera menikah seperti yang lainnya, bisa menyempurnakan separuh agama ini dan menyamai amalan ibadah mereka, juga bisa merasakan surga dunia ini,” kata Ummi Zakky.

Memang, di antara teman-teman satu halaqohnya, hanya Syifa yang belum menikah. Keenam teman-teman Syifa sudah menikah semua. Bahkan sudah ada yang memiliki 2 orang anak.

“Ana mengerti, Ummi.”

“Semoga anti tidak berputus asa. Kita sama-sama berikhtiar, semoga Allah segera mempertemukan anti dengan jodoh terbaik pilihan-Nya,” ujar Ummi Zakky, masih dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.

“Amin..,” suara Syifa terdengar lirih, ikut terhanyut dalam suasana yang mengharu biru.

Menikah. Siapa yang tidak ingin menikah. Siapa yang tidak ingin merasakan manisnya surga dunia itu. Menikah adalah kebutuhan fitrah setiap manusia. Bahkan Islam pun begitu mengagungkan sebuah pernikahan hingga di dalam Al-Qur’an disebut dengan Mitsaqan Ghalizha. Di dunia ini, impian terindah manusia adalah menikah dan membangun sebuah keluarga yang harmonis.

Air mata Syifa masih terus membasahi wajahnya. Mata Ummi Zakky yang berkaca-kaca tadi sore, masih terus terbayang. Kurang dari lima bulan lagi, usianya memang genap 30 tahun. Itu pasti sangat membebani Ummi Zakky.

“Ya, Allah…. Aku tak bermaksud membebaninya seperti ini. Aku tak bermaksud membuatnya sampai sesedih itu. Maafkanlah aku… ampunilah aku,” ujar Syifa merasa bersalah. Tiga tahun ini, sudah empat kali Syifa melakukan ta’aruf. Tiga kali melalui Ummi Zakky, dan satu kali melalui sahabatnya. Namun, keempatnya, tidak ada yang berlanjut sampai ke pernikahan. Semuanya hanya berhenti sampai di situ. Pada proses ta’aruf.

Syifa pun tak mengerti mengapa begitu. Mengapa tak ada yang melanjutkannya hingga proses pernikahan. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia berharap semuanya akan berlanjut dan mengubah segenap kehidupannya. Entah apa yang membuat ikhwan-ikhwan itu begitu. Entah karena gelar sarjana yang telah disandangnya, atau karena usianya, atau karena hal lainnya. Syifa sungguh tak mengerti. Padahal Syifa merasa bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang guru sebuah SDIT. Keluarganya pun bukanlah keluarga yang terpandang.

Air mata Syifa kembali meleleh. Dari bibirnya kembali terurai seuntai doa.

“Ya Allah Yang Maha Tahu, dalam kebeningan matanya yang berkaca-kaca, ku mengerti getaran hatinya juga seuntai asa yang sama-sama aku dan ia miliki, ku mohon mudahkanlah jalan ini, ringankanlah langkah kaki ini. Dan air matanya dan air mataku yang mengalir ini, semoga merupakan jalan untuk menjemput kebahagiaan yang telah lama dinanti itu. Amin...”

Setelah puas menumpahkan seluruh isi hatinya, Syifa beranjak juga dari tempat sholatnya. Ia melirik jam dinding di kamarnya. Sudah hampir jam sembilan malam. Syifa tak menyangka telah menghabiskan waktu selama itu. Padahal rasanya hanya sebentar.

Syifa keluar dari kamarnya dengan mata yang sedikit bengkak. Ia terus ke kamar mandi dan membasuh mukanya sebentar. Mendengar di ruang tamu agak ramai, Syifa melangkah menuju ruang tamu. Di sana terlihat ibunya sedang mengajak bermain dengan anak sepupunya yang rumahnya tidak jauh dari rumah Syifa. Syifa urung menghampiri. Ia hanya memandangi ibunya dari balik tembok yang memisahkan ruang tengah dengan ruang tamu. Ibunya terlihat bahagia bermain dengan anak sepupunya yang baru berusia 9 bulan itu. Namun itu membuat hati Syifa perih seperti tertusuk-tusuk ribuan pisau. Ibunya pasti sudah sangat mendambakan kehadiran seorang cucu dari dirinya mengingat Syifa adalah anak pertama. Ibunya pasti berharap bocah kecil di gendongannya adalah cucu kandungnya.

Syifa menarik napas. Ibunya memang telah lama mengharapkan Syifa segera menikah. Tapi hingga usia Syifa hampir memasuki 30 tahun, Syifa masih belum juga menikah. Ibunya pasti sangat mencemaskannya.

“Sampai kapan kamu mau begini terus toh, Nduk?,” tanya ibunya di suatu sore saat sedang duduk bersama-sama. “Teman-temanmu, saudara-saudaramu, semua yang sepantaranmu sudah menikah. Apa kamu gak mau menyusul mereka?.”

Saat itu, tentu saja Syifa sedih mendengar perkataan ibunya itu. Tapi ia berusaha menyembunyikannya. Pada sang ibu tercinta, Syifa tetap tersenyum dengan tenangnya.

“Bu, umur, jodoh dan rezeki itu sudah ada yang menentukan,” jawab Syifa meski terdengar klise. “Allah yang menentukan semua itu. Termasuk jodoh Syifa. Ibu tak perlu khawatir. Jika saatnya nanti, Allah pasti mempertemukan Syifa dengannya. Dengan jodoh Syifa, Bu. Sekarang yang terpenting, kita sama-sama berdoa, Bu. Kita sama-sama berdoa, semoga Allah memberikan Syifa jodoh yang terbaik dan memudahkan jalan untuk menuju pernikahan,” lanjut Syifa. “Doakanlah Syifa, Bu. Doakan Syifa.”

Air mata Syifa yang tadi telah berhenti, kembali membasahi wajahnya. Ia terus memandangi ibunya diam-diam dari balik tembok.

Bunda…

Bukan ku tak melihat gurat kecemasan di wajahmu

Bukan ku tak mengerti seberkas asa yang terpancar di matamu

Bukan ku tak pahami keinginan yang terpendam di dalam hatimu

Aku melihatnya,

Aku mengerti,

Dan aku sangat memahaminya,

Bunda…

Andai kau tahu,

Aku pun sangat ingin

Sangat ingin menghilangkan gurat kecemasan di wajahmu itu

Sangat ingin memenuhi keinginanmu yang terpendam itu

Sangat ingin mengubah segala asa yang kau miliki itu menjadi nyata

Agar dirimu merasa tentram

Agar wajahmu tersenyum riang

Agar bahagia menyelimuti hatimu

Tapi bunda….

Maafkanlah aku,

Yang belum dapat menghilangkan kecemasan di wajahmu

Yang belum dapat memenuhi segala keinginanmu

Yang belum dapat mengubah segenap asa itu

Maafkanlah aku bunda…

Mungkin Allah punya rencana lain untukku

Mungkin Allah masih ingin aku tetap bersamamu

Mungkin Allah ingin aku lebih banyak belajar lagi

Mungkin aku masih harus banyak berbenah lagi

Dan mungkin….

Allah masih belum ingin mempertemukan aku dengannya

Bunda….

Tak ada yang dapat kita lakukan

Selain berikhtiar dan terus berdoa kepada-Nya

Menyerahkan segala urusan ini pada-Nya

Karena itu bunda…

Doakanlah aku selalu

Doakan aku dalam setiap sujudmu

Semoga asa itu menjadi nyata

Semoga segala keinginan itu terwujud segera

Amin…..ya Robbal ‘alamin….

*** DI BAWAH NAUNGAN CINTA-NYA ***

Fani duduk di lantai kamarnya. Tubuhnya di sandarkannya pada lemari pakaiannya. Di tangannya tampak sebuah testpack, alat yang biasa dipergunakan untuk mengecek ada atau tidaknya tanda-tanda kehidupan yang baru di dalam tubuh seorang wanita.

Fani tertegun sendiri memandangi testpack yang dipegangnya. Bagaimana Fani tidak tertegun setelah melihat hasil tes urinnya yang tertera pada testpack-nya itu. Testpack yang dipegangnya itu menunjukkan hasil positif. Dan itu artinya, Fani positif hamil. Ya, positif hamil!!

Sesaat kemudian air matanya meleleh perlahan. Testpack yang dipegangnya terlepas dari genggaman tangannya dan terjatuh ke atas lantai. Fani menekuk kakinya lalu membenamkan wajahnya di atas lututnya. Ia pun terisak sendiri di dalam kamarnya.

Sebagai seorang wanita, harusnya Fani bahagia ketika mengetahui dirinya telah mengandung. Tapi kenyataannya, Fani malah tenggelam dalam air mata kesedihan yang tak dapat terbendung lagi. Tak ada sedikit pun rona bahagia tergurat di wajahnya. Ia kian larut dalam kesedihannya. Yang ada hanyalah segores penyesalan yang tersembul di dalam hatinya. Meski ia tahu, tak ada gunanya lagi ia menyesal, karena penyesalannya itu tak kan mengubah kenyataan kalau kini ia telah mengandung janin dari seorang laki-laki yang belum berstatus sebagai suaminya.

Tapi…, bukankah itu baru hasil testpack? Fani pernah mendengar kalau hasil tes urin dengan menggunakan testpack belum tentu tepat dan tidak bisa dipercaya 100%. Jadi, bisa saja hasil tes-nya salah. Lagi pula, Fani belum memeriksakan dirinya ke dokter kandungan, jadi belum tentu ia hamil.

Fani mengangkat wajahnya dan menghapus air mata yang masih menggenang di pipinya. Fani berhenti menangis. Fani merasa belum saatnya ia bersedih sekarang. Ia masih memiliki sedikit harapan karena toh, ia belum belum ada hasil tes dari dokter kandungan yang menyatakan dirinya mengandung. Jadi, tak seharusnya ia bersedih sekarang!

Fani mengumpulkan kembali segenap energinya. Ia harus tetap semangat dan tetap bersikap biasa. Masih ada sedikit harapan baginya. Esok hari, ia niatkan untuk mendatangi dokter kandungan dan memeriksa keadaannya. Ya! Jika hasil tes-nya positif, barulah ia benar-benar boleh percaya kalau ia memang mengandung!


*****


Fani duduk sendiri di sudut sebuah kafe. Ia duduk dengan hati berdebar hingga tanpa disadarinya, jus alpukat yang sejak tadi disruputnya telah habis diminumnya. Hatinya memang terlalu gelisah, sehingga Fani berulang kali minum untuk menghilangkan kegelisahannya itu.

Fani melirik handphone-nya, sudah hampir setengah jam ia duduk menunggu dalam kegelisahannya. Tapi orang yang ditunggunya belum juga terlihat di hadapannya. Fani pun kian cemas dibuatnya. Namun bukan hanya karena orang yang ditunggunya itu belum datang, tapi juga karena sehelai amplop putih yang berada di atas meja kafe siang itu. Fani melirik amplop putih itu sesaat. Lalu ditariknya nafas dalam-dalam.

“Hai, Babe. Maaf ya aku datang telat,” sapa seorang pemuda seusia Fani yang tiba-tiba mendekati Fani dan duduk di hadapannya. Dari panggilan akrab itu, orang yang belum mengenal mereka berdua pun dapat mengetahui kalau pemuda yang datang itu tidak lain adalah kekasih Fani.

“Tadi mendadak diminta dosen pembimbing untuk menghadap, “ lanjut pemuda yang 2 tahun ini menjadi kekasih Fani.
“Gak apa-apa, Steve,” jawab Fani meski sedikit kecewa dengan keterlambatan Steven.

Fani tidak langsung mengajak Steven berbicara. Ia membiarkan Steven memesan minuman sejenak sambil menunggunya terlihat lebih rileks. Steven terlihat sedikit terengah-engah. Dia pasti terburu-buru karena merasa sudah telat datang ke kafe.

Steven memesan segelas jus jeruk dan langsung meminumnya begitu pelayan kafe meletakkan minuman pesanannya itu di mejanya.
“Ada apa ngajak ketemuan di sini? Di telefon tadi, kaya’nya ada hal yang penting banget yang harus dibicarakan. Memangnya ada apa sih?,” tanya Steven membuka percakapan.

Fani menghela nafas. Tangannya mengaduk-aduk gelas yang tidak lagi berisi jus.

“Beberapa hari yang lalu aku ke rumah sakit,” jawab Fani dengan raut wajah yang serius.

“Ke rumah sakit? Kenapa? Kamu baik-baik aja kan? Gak sakit apa-apa kan?,” tanya Steven lagi, berusaha memperlihatkan perhatiannya pada Fani.

Fani menggeleng pelan.

“Lantas?.”

“Aku baik-baik aja. Aku ke rumah sakit untuk periksa urin,” jawab Fani. Raut wajahnya tidak berubah sedikit pun.

“Tes urin? Buat apa? Kamu gak pernah pake obat-obatan terlarang kan?,” Steve tampak penasaran.

Fani kembali menggelengkan kepala. Namun kali ini ia tak menjawab apa-apa. Hanya diberikannya amplop putih di atas meja pada Steven.
Steven semakin heran dibuatnya. Di atas amplop itu tertulis nama salah satu rumah sakit di kota mereka tinggal. Steven membuka amplop putih itu dengan penuh penasaran. Ia mengeluarkan selembar kertas yang ada di dalam amplop dan membacanya dengan seksama.

Fani hanya terdiam. Ia menunggu reaksi Steven sambil memandangi mimik muka Steven.

“Apa maksudnya ini?,” tanya Steven usai membaca selembar kertas yang tadi ada di dalam amplop putih dari rumah sakit itu. Entah dia memang tidak mengerti, atau ia bertanya dan pura-pura tidak mengerti. Entahlah! Fani tidak ingin menerkanya.
Fani menarik nafas.

“Itu hasil tes urin aku yang menyatakan kalau sekarang aku sedang mengandung,” jawab Fani kemudian. “Mengandung anakmu!,” Fani menegaskan.

“Lantas?,” tanya Steven lagi. Tak ada mimik terkejut di wajahnya. Suaranya pun terdengar ringan bertanya, seolah tanpa beban dan tak ada apa-apa.

Fani sedikit kesal dengan respon Steven itu.

“Kenapa malah bertanya kaya’ gitu? Kita harus mencari jalan keluar dari permasalahan ini sebelum perutku semakin membesar dan semua orang tahu kalau aku ini sedang mengandung,” jawab Fani jengkel.
Steven tersenyum kecil.

“Jalan keluar? Baiklah. Kita cari jalan keluarnya. Kamu mau jalan keluar yang bagaimana?,” tanya Steven kemudian.

Kejengkelan Fani agak reda mendengar ucapan Steven itu yang tidak bereaksi negative apalagi sampai mengingkari perbuatan terkutuk yang pernah mereka lakukan, juga tidak mengingkari kalau janin yang ada di dalam rahim Fani adalah hasil hubungan intim mereka berdua.
“Menurut kamu bagaimana, Steve?,” kali ini Fani balik bertanya.
Steven terdiam sejenak. Fani menunggunya dengan berjutaan pertanyaan dan jutaan ide yang coba digalinya untuk mencari jalan keluar permasalahannya. Selang beberapa menit barulah Steven kembali angkat bicara.

“Kita gugurkan saja bayi dalam kandungan kamu itu,” ujar Steven mengungkapkan ide yang didapatkannya barusan.

Tentu saja Fani terkejut mendengarnya.

“Apa? Menggugurkannya?!,” seru Fani dengan suara yang ditekan agar tidak terdengar oleh orang-orang yang ada di sekeliling mereka. “Steve, kamu sadar gak sih, bayi yang ada dalam kandunganku ini bayi kita, masa’ kita tega sih menggugurkannya?,” tanya Fani yang kembali jengkel pada Steven.

“Tapi kalau gak digugurkan, apa kamu siap menanggung malu? Hamil di luar nikah!!,” sahut Steven.

“Karena itu, kita harus menikah,” ucap Fani seraya berusaha menahan tangis.

“Menikah?!.”

“Ya, menikah! Masuklah agamaku lalu kita menikah,” tegas Fani pada kekasihnya yang beragama protestan itu.

“Ya, ampun, Fan. Kamu kira menikah itu gampang apa!! Apalagi kalau aku sampai harus berpindah agama,” jawab Steven menanggapi usulan Fani.

“Lalu harus bagaimana? Apa kamu gak kasihan sama aku dan bayi kita?.”

Steven tidak menyahut. Keduanya pun tenggelam dalam kebisuan hingga beberapa saat lamanya.

“Bagaimana kalau kita menikah, tapi dengan tetap berada di dalam agama kita masing-masing,” usul Steven tiba-tiba.

Tentu saja Fani terkejut bukan main mendengarnya.

“Apa? Menikah dalam keadaan agama berbeda?!,” seru Fani terbelalak.
Steven mengangguk cepat.

“Iya! Bukankah kita tetap sama-sama mempertahankan keyakinan kita. Aku gak mau ikut agama kamu & kamu pun begitu. Jadi, kenapa harus diributkan? Kita bisa tetap menikah dengan tetap memegang teguh agama kita masing-masing. Gimana?.”

“Steve itu gila!.”

“Gila? Menurutku nggak! Banyak orang-orang yang beda agama menikah & kehidupan rumah tangganya justru tentram dan damai dibandingkan mereka yang menikah dalam satu agama. Bahkan ada yang rumah tangganya tetap bertahan hingga memiliki banyak anak cucu,” ujar Steven berusaha meyakinkan hati Fani.

“Kamu tahu kenapa mereka bisa tetap bertahan seperti itu meski memiliki keyakinan yang berbeda? Itu karena cinta. Itu karena mereka saling mencintai, sehingga perbedaan apa pun yang ada di antara mereka, mereka tetap bisa mempertahankan rumah tangga mereka,” lanjut Steven.

Fani hanya terdiam mendengarkan dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk.

“Fan, kita pun bisa seperti mereka, membangun sebuah rumah tangga yang indah. Rumah tangga yang kita impikan. Karena di hati kita, ada cinta. Ada cinta yang akan selalu bersemi dan menghiasi hidup kita.”
“Tapi, Steve…,” Fani tidak yakin dengan semua yang dikatakan Steven. Namun ia pun kian bertambah bingung.

“Fan, anak dalam kandunganmu membutuhkan seorang ayah, bukan? Aku pun gak ingin ia lahir tanpa memiliki seorang ayah. Jadi, menikahlah denganku. Lalu kita akan membesarkan anak kita bersama-sama hingga mereka dewasa dan memberikan kebanggaan bagi kita,” bujuk Steven lagi.

Fani menghela nafas.

“Entahlah, Steve,” kata Fani penuh kebimbangan.
Steve meraih tangan Fani lalu menggenggamnya erat.
“Pikirkanlah ucapanku tadi, demi kita, demi anak kita,” sahut Steve berusaha untuk terus meyakinkan hati Fani yang bingung dan bimbang.
Fani hanya terdiam seribu bahasa. Begitu banyak hal yang merasuk dalam pikirannya. Ia begitu bimbang, begitu bingung dengan keputusan yang akan diambilnya, untuk mencari jalan keluar segala permasalahannya itu. Ia sungguh tak tahu harus bagaimana. Ia sungguh tak tahu harus melakukan apa.


*****
Di sudut malam yang sunyi, Fani terdiam sendiri di dalam kamarnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang bercat kuning muda. Namun, meski Fani sedang menatap langit-langit kamarnya, ia sedang tidak memandangi langit-langit kamarnya itu. Sesungguhnya alam pikirannya sedang melayang jauh ke berbagai tempat yang ia sendiri tak tahu akan berhenti dimana. Pikirannya benar-benar tak tentu arah. Haruskah ia menggugurkan kandungannya ataukah mengikuti ide gila Steven untuk menikah dalam kondisi beda agama. Fani bingung bagaimana mencari jalan keluar bagi permasalahannya itu.
Saat ini, mungkin memang belum terlihat kalau Fani sedang mengandung. Tapi seiring berjalannya waktu, janin di dalam perutnya itu akan semakin membesar & semua orang akan mengetahui kalau sebenarnya ia berbadan dua. Lalu bagaimana Fani akan menghadapi semua itu? Menghadapi gunjingan orang-orang yang mengenalnya, dan terutama menghadapi kedua orang tuanya.

“Huf!!,” gumam Fani seraya menghela nafas.

Fani menyadari kalau perbuatannya kali ini sangat membuat malu orang tuanya. Bahkan ia benar-benar telah sangat bersalah pada kedua orang tuanya yang telah membesarkannya, mendidiknya dan memberikan kepercayaan padanya karena telah menyia-nyiakan semua pemberian orang tuanya itu juga mengkhianati kepercayaan mereka yang selama ini percaya kalau Fani tidak berpacaran dengan seorang laki-laki pun. Tapi apa yang telah dilakukannya? Fani justru berpacaran. Bukan hanya itu, Fani bahkan berpacaran dengan laki-laki non muslim dan telah melakukan hubungan intim dengan pacarnya itu! Jika kedua orang tuanya mengetahui, mereka pasti tak akan memaafkannya. Tidak akan!!

Air mata Fani meleleh perlahan.

Tidak!! Fani merasa kalau ia memang tak pantas untuk dimaafkan. Betapa banyak kebohongan yang telah diperbuatnya. Betapa banyak kesalahan yang telah dilakukannya. Ia merasa sungguh tak layak mendapatkan maaf. Dosa yang dilakukannya amat besar. Yah, teramat besar!! Fani tiba-tiba teringat perkataan guru agamanya saat di SMU dulu yang pernah mengatakan kalau dosa besar setelah syirik adalah berzina! Na’udzubillah!! Dan hukuman yang diberikan pada orang berzina yang belum menikah adalah dicambuk 100 kali, sedangkan hukman bagi orang yang berzina yang telah menikah adalah dirajam!
Tangis Fani kian tak tertahankan. Ia kian terisak dalam tangisnya.

“Ya, Allah. Betapa besar dosa yang telah ku lakukan. Sanggupkah aku menebus semua dosa itu? Sanggupkah aku menahan panasnya siksa nereka-Mu ya, Allah,” bisik Fani perih.

Dalam derai tangisnya, hatinya menyesali semua perbuatannya meski ia sadar semua penyesalannya itu tak kan mengubah kenyataan hidupnya saat ini.

“Apa yang harus ku lakukan kini ya, Allah? Aku bingung. Sungguh-sungguh bingung. Haruskah ku ikuti kemauan Steve, menikah beda agama demi anak dalam kandunganku ini karena aku tak mau masuk agamanya dan menyekutukan-Mu?! Atau haruskah ku tanggung deritaku ini sendiri karena aku tak tega membunuh darah dagingku ini?! Tapi dengan menambah beban kedua orang tuaku, juga membuatnya malu tiada terkira,” bisik Fani lagi pada Rabb-nya yang Maha Mendengar segala bisikkan hati manusia.

Kebimbangan di hati Fani, membuat alam pikirannya kembali pada masa SMA-nya dahulu di mana ia pernah diajarkan praktik shalat istikharah oleh guru agamanya. Saat itu guru agamanya berujar kalau shalat istikharah dilakukan ketika seseorang bimbang menghadapi pilihan dalam hidupnya. Karena hanya Allah yang Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-Nya, sebelum memutuskan sebuah perkara yang membingungkan, manusia diharuskan untuk shalat istikharah meminta petunjuk-Nya pilihan mana yang terbaik baginya.

Lintasan masa SMA-nya itu, menggerakkan hati Fani untuk bangun dari tempat tidurnya dan segera mengambil air wudhu. Beberapa menit kemudian, Fani pun telah tenggelam dalam shalatnya.

Fani larut dalam kekhusyu’an shalatnya. Air matanya tak berhenti mengalir sepanjang shalatnya. Usai shalat, Fani memanjatkan untaian do’a pada Rabb-Nya seraya memohon ampunan-Nya atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya meski ia merasa sangat tak pantas mendapatkan ampunan dari Rabb yang telah begitu banyak memberikan berbagai kenikmatan padanya, yang jika ia mencoba menghitung segala kenikmatan itu, tak kan pernah sanggup ia hitung jumlahnya.

Cukup lama Fani menengadahkan tangannya, berdoa kepada Sang pemilik hidup. Rupanya Fani benar-benar menyesali segala perbuatannya dan tak ingin mengulangi semua kesalahannya dahulu.
Setelah lama berdoa, Fani merasa hatinya sudah lebih tenang dari sebelumnya meski jalan keluar dari masalahnya belum ditemukannya dan ia belum tahu harus memutuskan apa. Fani kembali teringat perkataan guru agamanya kalau Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia di muka bumi ini. Mungkin saja dengan Al-Qur’an, ia bisa mendapatkan petunjuk dan jalan keluar bagi segala permasalahannya itu.

Fani pun mengambil sebuah mushaf Al-Qur’an di atas rak bukunya. Sebuah mushaf bersampul coklat tua, yang selama ini hanya sekedar menjadi pemanis koleksi bukunya di rak buku. Entah kapan terakhir kali Fani membaca mushaf itu. Fani tidak ingat sedikit pun. Sejak ia lulus SMA, ia hampir tidak pernah membaca Al-Qur’an. Kalau saja dahulu ia mau membaca dan memahami Al-Qur’an, mungkin hidupnya tak kan tersesat seperti sekarang ini. Seperti sebuah hadits Rasulullah yang pernah didengarnya yang mengatakan kalau manusia tak kan tersesat jika berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits.

Fani kembali duduk di atas sajadahnya dengan menghadap kiblat. Sesungguhnya ia tak tahu harus bagaimana dengan mushaf yang ada di tangannya itu. Membaca Al-Qur’an, ia masih terbata-bata. Memahami maknanya? Apa mungkin ia bisa melakukannya? Fani asal membuka mushafnya karena tidak tahu harus mencari petunjuk itu dalam berbagai kejadian yang terjadi dalam hidupnya.

Fani membolak-bolak lembaran-lembaran mushafnya karena tak tahu harus membaca surat apa dan ayat berapa. Hingga akhirnya, tangannya pun lelah membolak-bolik lembaran mushafnya dan berhenti tepat di surat Al-Baqarah. Fani pun membaca perlahan terjemah ayat-ayat surat Al-Baqarah yang ada di hadapannya, dari ayat 220 sampai ayat 230 yang membahas masalah pernikahan dan rumah tangga. Namun di antara kesebalas ayat tersebut, perhatian Fani hanya terfokus pada ayat 221 dari surat Al-Baqarah. Dalam surat Al-Baqarah ayat 221 itu Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik dari pada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya dengan manusia agar mereka mengambil pelajaran.”

Fani merenung sendiri memikirkan ayat tersebut. Dalam ayat tersebut sangat jelas kalau Allah melarang orang-orang beriman menikah dengan seorang musyrik. Dan artinya, pernikahan beda agama itu haram. Itu juga berarti, orang-orang beda agama yang katanya telah menikah, sebenarnya mereka tidaklah menikah karena pernikahan mereka tidaklah sah dihadapan Allah. Dengan kata lain, sama saja mereka telah melakukan zina. Na’udzubillah.

“Ya Allah, aku sudah melakukan dosa sedemikian besar, betapa tak punya malunya aku jika aku sampai melakukan dosa besar itu lagi,” Fani teringat lagi tawaran Steven tadi siang.

“Tapi, apa yang harus ku lakukan? Menggugurkan janin ini? Itu pun dosa besar dan aku tak kan sanggup melakukannya,” lirih Fani.
Fani kembali terisak. Ia sudah menemukan jawaban dari tawaran Steven tadi siang. Ia pun telah menyadari semua kesalahannya selama ini. Meski ia belum menemukan jalan keluar dari semua permasalahannya, Fani bersyukur karena masih menyadari kesalahan-kesalahannya & menyesalinya sehingga tidak semakin terjerembab dalam jurang dosa.

Fani terus terisak seraya terus memanjatkan untaian doa-doa pada Rabb-Nya.
“Hati hitam mengenangkan
dosa-dosa yang ku lakukan

Telah aku merasakan
derita jiwa dan perasaan,
telah hilang dari jalan
menuju Ridho-Mu ya Tuhan

ku akui kelemahan ini
ku insafi kekurangan ini
ku kesali kesalahan ini

dihamparan ini ku meminta
semoga taubatku diterima.”

*****

Fani mempercepat langkahnya. Di taman kota itu, di tempat yang pernah dilaluinya bersama dengan Steven untuk memadu kasih, ia kembali dating ke sana. Namun kali ini wajahnya tak secerah biasanya ketika ia datang ke tempat itu. Wajah Fani terlihat sembap, matanya tampak sedikit bengkak. Sangat jelas terbaca kalau ia sedang menyimpan kesedihan yang teramat sangat. Kesedihan yang hanya disimpannya seorang diri, tanpa hendak ingin dibaginya dengan siapa pun.

Seperti yang telah diduganya, Steven telah menunggunya di sebuah bangku di salah satu sudut taman. Senyumnya mengembang manakala matanya menangkap kedatangan Fani.

“Hai, Babe,” sapanya dengan kepanggilan kesayangannya untuk Fani.
Fani tidak menanggapi sapaannya itu. Ia hanya terdiam tanpa kata di hadapan Steven sambil merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sepucuk surat dan memberikannya pada Steven.

“Maaf, aku gak bersedia menikah denganmu dalam keadaan beda keyakinan seperti ini,” ujar Fani kemudian penuh ketegasan.

“Lalu bagaimana denganmu? Dengan bayi kita?,” tanya Steven terkejut mendengar perkataan Fani.

“Semua jawabannya ada di dalam surat itu,” jawab Fani seraya beranjak pergi dari hadapan Steven.

Steven terheran-heran melihat sikap Fani yang tidak biasa. Namun ia tidak berusaha mengejar Fani. Dibiarkannya Fani berlalu pergi darinya. Ia pun membuka sepucuk surat yang diberikan Fani untuknya. Sepucuk surat yang menjelaskan semua keputusan yang diambil Fani akan semua permasalahannya juga akan hidupnya selanjutnya.

*****

Adzan Subuh baru saja berkumandang. Memecah kesunyian pagi di bawah langit yang masih gelap gulita. Suara tangis bayi tiba-tiba turut memecah kesunyian pagi itu, seolah ikut menyambut fajar baru yang segera hadir.

Ustadzah Faizah menghampiri Fani di ranjang. Dalam gendongannya tampak bayi mungil yang sudah bersih dan rapih. Ustadzah Faizah memberikan bayi itu pada Fani agar Fani melihatnya.

Fani tersenyum melihat bayinya. Lalu dikecupnya sang bayi dengan penuh kasih sayang.

“Bayi mungil yang tanpa dosa. Sungguh dirimu bukanlah anak haram, Nak. Tapi ibumu inilah yang telah melakukan perbuatan haram,” ujar Fani tersedu melihat anaknya yang baru saja dilahirkannya.

Ustadzah Faizah mengusap punggung Fani perlahan.

“Sudahlah. Itu masa lalu. Yang terpenting sekarang, perbaiki dirimu dan besarkan anakmu dengan penuh kasih sayang dan didik ia dengan baik,” ucapnya lembut.

Fani mengangguk dan tersenyum.

“Insya Allah, ustadzah, “ sahutnya. Lalu ia menatap bayinya kembali.
“Nak, ku beri kau nama Nurul Hidayah dengan harapan dirimu akan selalu mendapat cahaya petunjuk Allah dalam hidupmu agar hidupmu tak tersesat seperti ibumu ini,” lanjut Fani lirih.

“Amin ya Allah,” sahut Ustadzah Faizah mengamini.

Sejak terkahir kali bertemu dengan Steven, Fani pergi dari kehidupannya juga dari keluarganya. Ia lebih memilih menanggung kesalahannya seorang diri dari pada harus membuat malu kedua orang tuanya atau pun menikah dengan orang yang berbeda keyakinan dengannya. Ia tak ingin menambah dosa lagi dan bertekad untuk mengubah hidupnya selama ini. karena itulah Fani lebih memilih pergi ke sebuah pesantren dan menjalani sebuah hari yang baru demi anaknya tercinta. Hari baru di bawah naungan cinta sang Illahi Rabbi.