Kamis, 31 Maret 2011

Selamatkanlah Putri-Putri Kalian...!

Segala puji bagi Allah di bumi dan langit-Nya. Pengabul doa orang yang berdo’a dengan nama-nama-Nya. Yang hanya Dia yang memiliki kemampuan penakluk. Dan hanya Dia yang memiliki kekuatan tak terkalahkan. Dialah Allah yang tiada sembahan yang haq selain-Nya. Baginya segala puji di dunia dan di akhirat.
Dia telah memberi hamba-hamba-Nya petunjuk, dengan keimanan, kepada jalan kebenaran. Dan memberi mereka tawfiq kepada bekal paling bermanfaat di akhirat. Hanya Dialah yang mengetahui yang ghaib. Sehingga Dia mengetahui yang disimpan ataupun diungkapkan oleh setiap hamba-Nya. Bertasbih kepada-Nya segala sesuatu di langit dan bumi dan begitu juga burung-burung yang mengembangkan sayapnya. Dia Maha Tahu sholat dan tasbih mereka semua.

Semoga sholawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada orang yang telah Ia angkat dengan pilihan-Nya ke tempatnya yang tinggi. Dan yang telah Ia utus kepada seluruh manusia dengan agama yang lurus dan hanif. Dan yang telah ia jadikan sebagai manusia paling mulia di antara orang-orang yang terdahulu dan yang akan datang. Dan telah Ia kirimkan dengan petunjuk dan agama kebenaran untuk Ia jayakan agama itu di atas agama-agama lain, walaupun orang-orang musyrik membencinya.
Amma ba’du.

Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aalaa dengan ketinggian hikmah-Nya dan kesempurnaan nikmat-Nya, telah memuliakan agama Islam dan mensucikannya dari kotoran. Dan telah menjadikan penganutnya sebagai umat terbaik untuk seluruh manusia. Serta telah menjadikan para wali-Nya sebagai sebaik-baik dan sedekat-dekatnya hamba. Mereka memelihara batasan-batasan-Nya dan bersabar. Mereka menyeru manusia kepada-Nya dan memberi peringatan. Dan mereka itu takut kepada Tuhan yang ada di atas mereka serta mengerjakan apa yang diperintahkan. Dengan ayat-ayat Tuhan mereka beriman. Kepada keridhoan-Nya mereka bergegas. Dan terhadap orang-orang yang keluar dari agama-Nya mereka berjihad. Serta kepada para hamba-Nya mereka bersungguh-sungguh untuk bersikap tulus. Dan di atas ketaatan kepada-Nya mereka bersabar. Kepada Tuhan mereka bertawakkal. Dengan akhirat mereka beriman. Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Namun ada sebagian orang yang telah Allah angkat derajat mereka dengan Islam, tapi mereka malah menghendaki kehinaan dengan menyimpang dari jalan yang lurus. Dan sebagian orang yang telah diberikan cahaya dalam menempuh jalan kehidupan ini, malah menghendaki hidup dalam kegelapan.

“Adalah suatu keanehan, dan yang aneh itu berupa-rupa
Yang dibutuh dekat tapi tak terjangkau dia
Bak unta mati kehausan di padang sahara
Padahal air di punuknya ia bawa-bawa”

Kenyataan tragis dan buruk yang kita temukan sekarang membuat kita khawatir akan masa depan.
Mesti kita akui bahwa kita terhanyut dalam arus yang silih berganti. Arus yang satu lebih kuat dari yang lain.
Dan para musuh kebaikan terus saja berusaha mendapatkan cara dan taktik untuk mengeluarkan para wanita Islam dari pagar iffah dan kemuliaan ke lumpur kebejatan dan kotoran.

Musibah yang lebih besar dan kengerian yang lebih dahsyat adalah bahwa banyak orang yang tertipu dengan taktik-taktik, kebatilan-kebatilan dan rencana-rencana jahat mereka. Maka norma-norma dasar pun roboh dan rasa cemburu menjadi lemah. Dan yang membuat hati bertambah duka dan sedih adalah bahwa sebagian orang bahkan menghanyutkan diri mereka dalam arus yang menyimpang ini dengan sengaja dan sadar atas kehancuran yang diakibatkannya. Sedang sebagian yang lain telah dihinggapi kelalaian sehingga tak ada kesadaran ataupun pikiran.

Kalau kau tidak tahu maka itu adalah petaka
Sedang jika kau tahu maka petakanya lebih besar lagi jadinya
Sudah pasti dan tak diragukan lagi, bahwa marabahaya yang sekarang ini kita sedang ada di dalamnya, hanyalah sebuah pendahuluan atas bahaya-bahaya lain yang lebih besar dan lebih dahsyat lagi, selama kita masih saja terus lalai.

Sekarang ini para wanita sudah sangat meremehkan perkara hijab. Dan akibat di belakang itu hanyalah banyaknya keburukan-keburukan yang mereka lakukan, pelanggaran batasan-batasan adab dan moral, dan kefasikan-kefasikan serta kerusakan. Ini adalah hal yang nampak jelas bagi semua orang.
Maka apa yang akan kita bicarakan? Dan dengan apa kita memulai?

“Kalau hanya satu panah tentu bisa kuhindari
Tapi ini satu panah, dua, tiga, bertubi-tubi”

Dan keadaan para wanita yang kita lihat sekarang ini tidak akan menjadi sedemikian rupa kalau di belakang itu tidak ada para laki-laki yang bersikap meremehkan, yang sudah melemah tekad mereka dan mengabaikan tanggungjawab, kemudian mulai mengangguk-anggukkan kepada terhadap apa yang mereka sadari sebagai hal yang tidak pantas, kebobrokan dan kehinaan..!!

Baru kemarin mereka adalah laki-laki di medan perang, para penunggang kuda gagah perkasa di medan laga, namun ketika terbit mentari pagi kenyataan menyakitkan ini, tiba-tiba mereka melepaskan pedang penentangan, menurunkan bendera kehormatan dan puas dengan hal-hal rendahan, lalu mengumumkan kekalahan dengan malu-malu.

Duhai betapa ruginya, umat yang kehilangan para jagoannya pada saat ia sedang sangat membutuhkan mereka.

Sebagian wanita sudah sampai menjadikan pasar-pasar sebagai tempat rekreasinya. Merekapun keluar dari satu pasar untuk masuk ke pasar yang lain.

Bersenda gurau dengan para penjual, berpakaian terbuka dan bermake-up wajah dan kulit.
Apakah laki-laki itu tidak bertanya pada dirinya sendiri, untuk siapa para istrinya itu berbuka-bukaan dan untuk siapa mereka berhias?

Tidakkah hatinya bergeming sedikitpun karena cemburu atas para wanitanya?
Yang lebih ngeri lagi adalah bahwa wanita itu pergi sendirian pada waktu seperti itu, yang amat banyak petakanya dan meluas bahayanya.

Tanyalah pada dirimu sendiri, untuk siapa dia berhias? Untuk siapa dia berbuka-bukaan? Apa yang dia inginkan?

Kalau setiap kita mengklaim istrinya sebagai orang yang dapat dipercaya, kalau begitu, lalu perempuan-perempuan yang memenuhi pasar-pasar dan meramaikan jalan-jalan itu, anak-anak perempuan siapa?
Pembuatan berbagai macam model pakaian sudah dimulai di tangan para musuh kebaikan. Setiap hari, pakaian yang mereka buat semakin minim dan semakin jauh dengannya sikap iffah. Namun sangat disayangkan, mereka masih saja mendapatkan orang-orang yang mengikuti mereka.
Maka muncullah pakaian-pakaian pendek dan celana-celana yang menjijikkan serta baju-baju yang mencoreng iffah..!!

Dan ketika tidak mampu mempengaruhi sebagian orang baik-baik, mereka masuk melalui pakaian-pakaian tabarruj yang dinamai dengan selain namanya. Muncullah “‘abaa`atul katif”, dan “abaya islami” serta cadar (tipis) yang pada hakekatnya tidak lain adalah “tabarruj berkaleng” yang disebut penutup padahal tidak.
Apakah ‘abaa`atul katif itu menutupi tubuh? Dan apakah abaya islami itu -seperti yang mereka klaim- mencegah fitnah?

Yang menjadi petaka adalah bahwa sebagian wanita menjadikannya sebagai cara menimbulkan fitnah. Mulailah mereka bermodel-model membuat bordiran dan kilapan. Kemudian abaya itu dikenakan dengan tutup kepala yang berkilau dengan tulisan nama di atasnya..!
Ah.., di manakah para lelaki yang punya rasa cemburu?

“Jika suatu kaum mendapat petaka pada akhlaknya
Maka kumpulkanlah orang untuk menangisi mereka”

Dan sebagian orang menganggap berkendaraannya seorang perempuan sendirian dengan seorang supir, sambil supir itu bersenang-senang dengan si perempuan ke mana-mana, sebagai perkara remeh.
Kemana perempuan itu pergi?

Dan yang parah lagi, apa yang kita saksikan mulai banyak menyebar di jalan-jalan. Yaitu berkendaraannya seorang perempuan di samping supir, berdampingan. Bukankah supir itu seorang laki-laki?
Bagaimana kalian ini?

Seorang laki-laki dari arab pedalaman keluar dalam suatu perjalanan. Ketika ia sampai di sebuah sungai, ternyata di situ ada seorang perempuan yang menyingkap rambutnya. Kemudian perempuan itu menggoda si laki-laki dan berkata: kemarilah! Laki-laki itu berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam. Maka perempuan itu mengenakan jilbabnya dan pergi dengan rasa takut dan cemas. Si laki-laki mengikutinya sampai perempuan itu tiba di perkemahan keluarganya. Si laki-laki bertanya tentang perempuan itu, maka ia pun diberitahu siapa ayah perempuan itu. Perempuan itu kemudian ia lamar dan ia nikahi. Lalu ia berkata: siapkanlah ia sampai aku kembali dari perjalananku. Ketika laki-laki itu masuk menemui si perempuan, setelah beberapa waktu, ia berkata: apa maksud kamu menggoda saya ketika itu?

Perempuan itu berkata: janganlah kamu heran dengan seorang gadis yang berkata: aku berhasrat padamu! Demi Allah, kalau memang ia sedang berhasrat pada seorang laki-laki hitam, maka laki-laki itulah hasratnya.”
Maka janganlah kalian berkata dengan perkataan orang-orang bodoh, bahwa supir itu bukan orang apa-apa. Karena berapa banyak wanita yang berkedudukan tinggi, jatuh di lumpur para lelaki rendahan yang bejat.
Dan sebagian wanita pergi dengan pakaian terbuka tanpa kendali dan aturan. Keluar kapan saja, masuk kapan saja semaunya. Apakah si laki-laki itu tidak bertanya pada dirinya sendiri, kemanakah istrinya pergi? Apakah mungkin laki-laki itu tidak tahu? Ataukah dia tahu tapi dia sudah sedemikian mengalah.

Sebagaimana sebagian pria juga tidak merasa enak untuk keluar bersama istrinya kecuali kalau istrinya itu berpakaian terbuka dan mutabarrij, dengan menyingkapkan wajah dan keindahan tubuhnya. Bukankah orang seperti ini keadaannya seperti orang yang berkata pada orang banyak: hei, kemarilah dan lihatlah istriku dan kehormatanku. Pemelihara kemuliaan dan kelaki-lakianku!

Duhai betapa mengherankannya!! Apakah seorang laki-laki bisa menjadikan kemuliaan dan kehormatannya sebagai barang pameran yang bisa dilihat dengan murah, bahkan gratisan..!

“Serigala-serigala itu hanya menerkam yang tak ada anjing penjaganya
Dan mereka akan menghindar dari kandang yang ketat penjagaannya”

Dan salah satu musibah yang merisaukan, sumber kebinasaan yang menghancurkan, yang membuat hati ini meleleh karena sedih dan pedih: perbuatan sebagian orang yang memasukkan “satelite” ke dalam rumahnya. Secara sadar atau tidak sadar, ia telah mengajak keluarganya kepada keburukan, penyimpangan, mengenal hal-hal yang menyebabkan kecurigaan, menghidupkan perbuatan-perbuatan rendah, dan membunuh perilaku-perilaku luhur.

Engkau dapatkan di dalam rumah itu seorang gadis yang belum menikah, atau mungkin yang sudah telat menikah, atau seorang gadis belia yang masih belum tahu apa-apa soal dunia, lalu orang tadi menanamkan alat ini di rumahnya, maka “satelite” ini pun menjadikan naluri itu menyala-nyala, membuat perasaan itu berkobar-kobar, dan memudahkan siapapun untuk terjerembab dalam kesalahan. Akibat tayangan-tayangan yang membangkitkan syahwat dan film-film yang menggoda hasrat. Kalau gadis itu tidak menemukan jalan untuk memenuhi hasratnya secara halal, maka ia akan berusaha mencari hal-hal yang haram, yang diajarkan oleh “satelite” ini tentang bagaimana mendapatkannya dengan cara yang mudah.

Dan bisa jadi, perempuan ini adalah seorang istri yang tidak mendapatkan perhatian dari suaminya. Sedang suaminya itu melalaikannya dengan sering berada di tempat-tempat hiburan atau kantor. Atau mungkin sedang bergaul dengan para pelacur dan perempuan rendahan. Maka sang istripun duduk bergelut dengan dua perkara: antara sebuah “satelite” yang menggelorakan perasaannya dengan menayangkan postur indah laki-laki, dan seorang suami hidung belang yang lalai dan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Maka ia pun tidak menemukan jalan lain selain dengan menjatuhkan diri dalam kesalahan.

Di sini kami tidak sedang mempermudah kaum wanita untuk melakukan penyimpangan dan kami tidak sedang membela mereka untuk itu. Akan tetapi kami menceritakan kenyataan yang ada, dengan harapan semoga hal itu dicermati oleh para lelaki yang khawatir kalau kehormatan mereka akan terkotori.

Maka berapa banyak orang yang memasukkan “satelite” ke rumah, lalu itu menyebabkan perilaku putra putri mereka berubah. Mulailah putri-putri mereka sering menenteng handphone, membantah orang tua mereka, bersikap kelaki-lakian terhadap saudara atau suami mereka. Apakah orang yang memasukkan “satelite” ini tidak melihat perubahan itu?

“atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”

Ada sekian orang yang menghadirkan “satelite” ini ke rumah mereka dengan tidak menyadari akibat perbuatan tersebut, maka mereka kemudian menuai kerendahan dan kehinaan, kecelakaan dan kehancuran. Mereka telah membangkitkan naluri dan menggelorakan hati putri-putri mereka, hingga putri-putri mereka itu pun terperosok dalam kesalahan. Coreng morenglah wajah yang tadinya putih, dan tertunduk hinalah kepala yang tadinya lurus tegak, lalu merekapun meratapi nasib pahit itu. Maka terdengarlah teriakan menyedihkan yang menjawab mereka:

“”Sudah cukup celaan itu ayah, engkaulah yang tercela
Cukup sudah, kini tak ada lagi gunanya mencela
Merintihlah keiffahanku dan mengaduhlah kesucianku
Mata ini dengan pedihnya terpejam rasa malu
Ayah, dulu mutiara kesucian adalah celak mataku
Kini dengan air mata terhapus sudah celak itu
Aku adalah seorang perawan, wahai ayahanda!
Yang nampak kotor di mata mereka yang mulia
Panah kehinaan tertancap dalam keiffahanku
Namun, apa yang engkau tahu tentang panah itu?
Yah, siapakah orang yang bisa menerima kenyataanku
Sedang di rahim ini menggeliat hasil perbuatan haram itu
Yah, siapakah yang akan menerimaku sebagai gadisnya
Sedang di mata orang aku sudah sedemikian tercela
Luka badan akan sembuh lama-lama
Namun luka kehormatan tidak ada sembuhnya
Ayah, inilah keiffahanku, maka jangan cela aku
Ia terkotori yang haram karena perbuatanmu
Kau tanam di rumah kita piringan kefasikan
Buahnya, wahai ayah, racun dan kematian
Kekufuran dan penyimpangan mengobarkan api
Yang ikut menyalakan gejolak di mata naluri kami
Kami tonton kisah kasih asmara
Kami pun penasaran, apakah itu cinta?
Bermacam gaya sensual mereka kuasai
Nafsu di hati orang yang menyaksikannya pun menjadi-jadi
Seakan telah engkau sediakan seorang pelacur
Yang menggoda kami ketika orang pergi tidur
Kalau saja batu itu punya hati, ayah
Tentu ia akan terangsang, apalagi manusia, yah
Engkau menghardikku atas terlepasnya kesucianku
Padahal kaulah yang mestinya dihardik, kalau kau tahu
Ayah, telah kau hancurkan aku dan kini kau menangisi
Reruntuhan puing sambil berkata: mengapa ini bisa terjadi?
Ayah, darah kesucianku inilah buah yang kau petik
Maka siapakah di antara kita yang seharusnya dihardik?”

Maka adakah orang yang tersadar sebelum musibah itu terjadi, dan sebelum kecelakaan itu menimpa? Mengapakah kita tidak mengambil pelajaran dari orang lain. Apakah kita menunggu untuk dijadikan pelajaran oleh orang lain? Keluarkanlah piringan-piringan yang disodorkan oleh bangsa Barat busuk itu, yang lalu disimpan oleh rumah-rumah kalian. Apakah kalian menunggu sampai putri kalian keluar dengan teman laki-lakinya meskipun kalian tidak suka? Apakah kalian ingin ia membawa teman laki-lakinya itu ke rumah? Inilah yang diajarkan oleh “satelite” itu, maka sadarlah..!

Sekalipun musibah yang ditimbulkan oleh “satelite” ini begitu besar, namun ia mulai nampak remeh di depan fitnah internet!

Ini membuktikan kebenaran hadis Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam: “Akan datang fitnah-fitnah yang sebagiannya membuat sebagian yang lain menjadi nampak kecil”. Maksudnya, setiapkali datang suatu fitnah, maka fitnah yang sesudahnya membuatnya nampak remeh, dan kelihatan kecil padahal tidak kecil. Tapi karena begitu besarnya fitnah yang datang kemudian itu.

Apakah kalian tahu, apa internet itu?
Ia adalah alat yang menghubungkanmu dengan dunia, dari utara sampai selatan, dari timur ke barat. Maka kamu bisa membaca apa saja yang kau mau. Kamu bisa masuk ke saluran apa saja yang kau suka. Di dalamnya ada pemandangan dan perkataan apa saja tanpa batas. Internet ini sudah sedemikian banyak menghancurkan pemudi-pemudi. Maka berubahlah tingkah laku mereka. Mulailah mereka menjalin pertemanan dengan pemuda-pemuda melalui chat. Dan mulailah terjalin hubungan yang maksud di belakangnya tidak lain adalah perbuatan keji dan merusak kehormatan.

Maka wahai orang-orang yang memiliki kecemburuan, bagaimana kalian bisa mengizinkan putri-putri kalian menceburkan diri dalam lautan internet? Di manakah sikap melindungi kalian? Di manakah kecemburuan kalian? Di manakah kesatriaan kalian? Tidak cukupkah kerusakan yang ada di jalan-jalan sekeliling, sehinga kalian menyodorkan untuk putri kalian kerusakan seluruh dunia (yang ada di internet -pent)?

Dan yang mengherankan juga adalah orang yang mengizinkan perempuan-perempuannya masuk ke kafe-kafe internet dengan alasan membuat kajian sekolah. Bagaimana engkau mengizinkan wanita-wanita-muhrim-mu untuk berikhtilat dengan pemuda-pemuda kafe yang sebagian besarnya datang tidak lain untuk berbuat kerusakan dan berselancar di situs-situs kehinaan??

Dan salah satu hal yang sudah umum dan jamak, yang merobohkan prinsip dan nilai, yang orang tak lagi bisa berkata apa-apa tentangnya dan menciut sudah semua ungkapan di hadapannya: mengizinkan anak-anak perempuan untuk berikhtilat di sekolah ataupun di tempat kerja!

Dan masalah ini, apa yang harus kita katakan tentangnya dan apa yang seharusnya tidak kita katakan? Dan bagaimana kita memulainya dan di mana kita akan selesai? Semua yang berkaitan dengannya membuat sedih. 

Dan semua yang berkenaan dengannya membuat pedih.
Malam penuh duka ataukah pagi yang sarat dengan pilu
Sungguh, betapa banyak yang berlaku buruk padamu, wahai negriku
Kuratapi kaumku atau kudiamkan saja rasa sakitku
Sebuah duri di tenggorokanku dan setumpuk gunung dalam hatiku

Sesungguhnya ikhtilat adalah sebab setiap keburukan, dan pengantar menuju hilangnya kehormatan dan lenyapnya kemuliaan. Berapa banyak pemudi yang ketika masuk (sekolah atau tempat kerja -pent) berpakaian sopan, namun kemudian bertabarruj. Yang tadinya cerdas, namun kemudian dihinggapi kebodohan. Tidakkah walinya menanyakan dirinya sendiri apakah sebab itu semua? Ataukah sebenarnya dia melihat namun kemudian memejamkan mata. Karena terpikir olehnya untuk bisa memetik hasil gaji putrinya, atau terlepas dari kewajiban memberinya nafkah, atau alasan lain yaitu “ad dayatsah”.

Demi Allah, bagaimana dengan seorang perempuan yang berikhtilat dengan seorang laki-laki asing, apakah mungkin kalau ia tidak akan cenderung pada laki-laki itu? Seorang pemudi duduk bersama seorang pemuda dalam satu kamar atau satu ruang pertemuan, apakah engkau tidak mengira bahwa sebenarnya engkau menuntutnya untuk melakukan suatu hal yang mustahil?

Sesungguhnya ikhtilat itu mengakibatkan kecenderungan. Dan kecenderungan itu membuahkan hubungan haram yang setelahnya si pemudi itu akan menuai kerendahan dan kehinaan. Bagaimana seorang yang membiarkan perempuannya di tengah-tengah anak muda bisa menilai dirinya sebagai seorang laki-laki? Sedang anak-anak muda itu mencium aroma wangi perempuannya itu, menikmati merdu suaranya dan memperhatikan setiap gerak-geriknya? Apakah ini bukan “dayaatsah”?

Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Tidak akan masuk sorga seorang laki-laki dayyuuts”. Dan “dayyuuts adalah orang yang tidak punya rasa cemburu sedikitpun terhadap muhrim-muhrimnya.

Mengapakah sebagian orang menjadi sedemikian buta dan tuli?
Awas wahai orang yang lalai! Putrimu duduk bersama para lelaki! Tahukah kamu apa artinya itu? Jangan kalian menuntut sesuatu yang mustahil dari para wanita yang lemah itu. Perempuan itu perasaannya sensitif. Bisa saja ia duduk bersama pemuda yang telah mencuri hatinya, walaupun pemuda itu tidak bermaksud apa-apa. Dan bisa jadi ia adalah seorang perempuan yang tidak mendapatkan perhatian suaminya. Lalu ia menemukan seorang yang bersikap mesra kepadanya dan mempermainkan perasaannya yang sedang kosong, maka iapun tergiring dalam kerendahan.

Maka bertakwalah kepada Allah terhadap qalbunya para perawan
Karena para perawan itu qalbu mereka diliputi kekosongan
Sekali kuda jantan meringkik, ia akan didekati kuda betina. Sekali unta jantan menggeram, ia akan diinginkan oleh unta betina. Dan sekali kambing jantan mengembik, ia akan diminta oleh kambing betina. Dan dulu ada pepatah: “kalau kuda jantan meringkik, kuda betina akan menaruh perhatian padanya”. Lalu bagaimana dengan seorang laki-laki yang duduk bersama seorang perempuan selama satu tahun penuh, di satu meja dan di satu majlis?

Jangan kalian bilang seperti yang dikatakan oleh orang-orang bodoh yang tidak punya sikap kesatriaan: ini adalah berburuk sangka. Sesungguhnya ini adalah kenyataan yang sebenarnya. Maka bilang saja: kami sudah ciut, dan tak lagi mampu menghantam para penganut kebatilan. Dan jangan ia katakan: ini adalah berburuk sangka. Marilah kita mengakui realitas ini.

Salah satu akibat dari ikhtilat ini adalah hubungan pacaran yang sudah sedemikian biasa. Bisa jadi engkau tidak dapat menemukan -kecuali sedikit sekali- laki-laki yang tidak punya pacar. Pacaran sudah begitu menyebar, perselingkuhan sudah sedemikian banyak, perilaku bodoh semakin meningkat khususnya di antara para suami istri. Siapa yang membuka telinganya untuk mendengar keluhan banyak orang, akan mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.

Apakah kalian tahu bahwa sudah biasa untuk sebagian orang, kalau laki-laki itu punya selingkuh? Dan ini tidaklah seberapa dibandingkan musibah orang yang menganggap perempuan yang berselingkuh itu adalah juga hal biasa! Sedangkan Allah menjadikan sifat-sifat wanita beriman itu adalah bahwa mereka

“..wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya..”

Yaitu sebagai selingkuh dan pacar.
Para tuan sekalian,
Sesungguhnya orang-orang munafik hendak melepas penutup dari perempuan-perempuan kalian. Dan para sekularis berusaha siang malam untuk itu. Salah seorang dari mereka menulis: “Hobiku adalah memacari perempuan-perempuan dari keturunan baik-baik”. Dan yang lainnya berkata: “Hendaknya kalian mencari perempuan-perempuan dari keturunan baik-baik, karena mereka tidak mengidap AIDS”.

Dan kalian tahu apa yang mereka maksud dan yang mereka tuju.
Mereka menghendaki kalian wahai orang-orang yang masih tetap berada dalam kebaikan! Mereka ingin merendahkan kepala-kepala kalian yang tegak tinggi itu. Sungguh, betapa bodohnya orang yang menuruti mereka.

Jangan kalian bilang bahwa aku terlalu berlebih-lebihan. Sudah berapa banyak bayi-bayi temuan yang dibuang ke trotoar-trotoar jalan, tong-tong sampah atau pintu-pintu masjid. Sebagiannya bahkan ada yang dibunuh tanpa dosa apa-apa. Apakah ia hasil dari hubungan halal ataukah haram?
Saudara-saudaraku, sesungguhnya kita sedang berada di masa krisis akhlak yang sudah mencapai titik paling nadir!

Maka apakah kita sedang menunggu hari di mana seorang laki-laki berusaha mencari istri yang terjaga iffahnya namun tidak ia temukan? Sebagian wanita sudah kehilangan rasa malu akibat kelemahan mereka dan tidak adanya orang yang mengawasi. Sebagian mereka ketika sampai di tempat studi yang tidak jelas, menanggalkan hijab syar’iy yang mereka kenakan sebagai penutup kemudian bertabarruj seperti wanita-wanita rendahan. Apa yang mendorong mereka melakukan hal itu? Lemahnya pendidikan dan minimnya pengawasan.

Bocah-bocah perempuan di sekolah menenteng-nenteng handphone! Untuk apa? Kenapa? Pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban.

Kita harus mengkoreksi diri dalam mendidik putri-putri kita. Karena sesungguhnya pendidikan itu adalah batu dasar pertama sebuah perilaku yang baik.

“Kalau luka yang sudah dibalut menjadi rusak
Jelas sudah kalau si tabib menyepelekan”

Periksalah buku-buku putri kalian dan perhatikan isi tas sekolah mereka. Bukan untuk mencurigai. Akan tetapi untuk sungguh-sungguh menjaga benteng ini jangan sampai ia dipanjat orang. Dan jangan sampai kehormatan ini direndahkan orang. Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang, dengan tidak mempedulikan orang-orang yang ia tanggung nafkahnya”.

“Kalaulah seorang itu terjaga kehormatannya
Maka pakaian apapun yang ia kenakan, indah rupanya
Dan kalau kau tak pernah menganjurkan dirimu berbuat kebaikan
Maka tidak ada jalan bagimu untuk mendapatkan baiknya pujian”
Baarokallaahu lii wa lakum fil qur`aanil ‘azhiim…

Bertakwalah kepada Allah, dalam sikap cemburu terhadap kehormatan dan kemuliaan kalian. Karena ia adalah sesuatu yang paling mahal, dan milik yang paling berharga. Dengannyalah dibedakan antara orang-orang mulia dan orang-orang rendahan, orang-orang terhormat dan orang-orang hina. Maka janganlah kalian lalai dalam rasa cemburu kalian terhadap para wanita kalian. Jangan kalian serahkan tali kendali urusan kalian kepada para penyeru kesesatan dan penyimpangan. Sebab mereka akan hanyut bersama para wanita kalian ke dalam jurang. Kalau rasa malu seorang pemudi telah hilang, maka apa yang tersisa padanya?

[Akan kujaga kehormatanku dengan hartaku, takkan kukotori
Tidak ada gunanya harta kalau kehormatan tlah ternodai
Harta yang hancur bisa kudapat lagi
Kehormatan yang rusak tak mungkin kembali]

Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah pun cemburu. Dan kecemburuan Allah itu adalah ketika seseorang melakukan apa yang Allah haramkan. Sebagaimana yang terdapat dalam hadis shahih. Maka cemburu itu adalah termasuk sifat terpuji. Siapa yang memiliki kecemburuan, akan semakin tinggi kedudukannya. Dan siapa yang kehilangan rasa cemburu, ia akan menjadi seperti barang tak berharga. Sa’ad bin ‘Ubaadah berkata: “Kalau aku lihat ada seorang laki-laki bersama istriku, maka akan aku pukul laki-laki itu dengan pedangku tanpa ampun”. Perkataan ini pun sampai kepada Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam. Maka beliau berkata: “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’d? Sesungguhnya aku lebih cemburu dari Sa’d. Dan Allah lebih cemburu dariku”.

Ali rodhiyallaahu’anhu pernah mengirimkan surat kepada salah satu kota, untuk berbicara kepada para penduduknya. Ia menulis: “Telah sampai kepadaku kabar bahwa perempuan-perempuan kalian berdesak-desakan di pasar dengan orang-orang kafir non-arab!! Tidakkah kalian cemburu?! Sungguh tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya rasa cemburu”. Bagaimana kalau beliau melihat keadaan kita dan sudah sampai sejauh mana kita sekarang ini.

Dan salah satu kisah sejarah waktu dulu yang pernah diceritakan kepada kami, dan masih tetap terus teringat. Ada seorang wanita yang datang kepada salah seorang hakim. Wanita ini mengajukan klaim pada suaminya bahwa suaminya itu memiliki hutang maskawin sebesar 500 dinar. Sang suami pun mengingkari bahwa dia memiliki hutang. Maka hakim berkata: datangkanlah saksi-saksimu untuk menunjuk wanita itu dalam kesaksian mereka. Maka sang suami menghadirkan para saksi. Hakim berkata kepada salah seorang dari mereka: “Lihatlah kepada wanita itu, untuk kau tunjuk dalam kesaksianmu”. Sang suami pun bangkit berdiri dan berkata: “Apa yang kalian inginkan dengannya (istriku -pent)? Dijawab: “Si saksi haruslah melihat wajah istrimu agar pengenalannya atas istrimu itu sah”. Laki-laki itupun dikuasai ketinggian harga dirinya, dan kecemburuan terhadap istrinya pun bangkit. Dia berteriak di depan orang banyak. “Sungguh aku bersaksi kepada hakim bahwa aku berhutang mas kawin itu kepada istriku. Tapi istriku jangan sampai menampakkan wajahnya”. Sang istri pun berkata: “Dan aku bersaksi bahwa aku merelakan maskawinku, karena kecemburuannya terhadapku dengan tidak diperlihatkannya wajahku!”.

Semoga Allah merahmati mereka.

Betapa jauhnya mereka dari orang-orang di zaman sekarang ini. Orang-orang yang telah lepas dari rasa malu dan kehilangan rasa cemburu. Sehingga perempuan-perempuan mereka pun keluar dengan memperlihatkan wajah, kepala, tangan dan betis. Dan mereka mengaku-ngaku sebagai orang-orang pencemburu!
Para tuan sekalian, awaslah terhadap apa yang hendak diperbuat terhadap kalian. Janganlah teriakan-teriakan keji dari para westernis yang sekuler dan munafik itu sampai memfitnah kalian. Teriakan-teriakan yang tersebar dan beredar di media-media informasi. Apakah kalian tahu apa yang mereka inginkan terhadap kalian? Mereka ingin menjarah kehormatan dan keiffahan yang kalian nikmati dan telah hilang dari mereka.
Salah seorang wanita tak bermoral menyerukan pendirian tempat-tempat disko bagi para pemuda dan pemudi untuk bersenang-senang. Sesungguhnya mereka dengki terhadap kalian dengan hijab dan rasa malu yang tidak lagi mereka miliki. Sehingga mereka ingin agar kalian sama dengan mereka. Utsman berkata: “Seorang wanita pezina itu ingin sekali kalau semua wanita adalah pezina”. Mereka ingin menghancurkan kalian dengan komentar-komentar mereka yang menghina hijab, dan menghina orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini sebagai orang-orang terbelakang, agar kalian merasa rendah diri di hadapan seruan-seruan mereka. Kemudian kalian serahkan kendali kepemimpinan kepada mereka. Lalu kalian pun jatuh bersama mereka ke dalam jurang. Mereka ingin merampas putri-putri kalian dan bersenang-senang dengan mereka. Karena mereka iri terhadap penjagaan dan sikap terhormat kalian.

Aku sampaikankan seruanku ini kepada setiap laki-laki, agar ia bertakwa kepada Allah, dan bersikap cemburu terhadap para mahromnya. Dan dengarkanlah apa yang dikatakan oleh seorang wanita yang menyesal setelah kehilangan keiffahan dan kehormatannya. Ia berkata: “Tidak ada seorang wanitapun yang lalai menjaga kehormatannya, kecuali hal itu adalah akibat dosa seorang laki-laki yang lalai menunaikan kewajibannya”.

Sesungguhnya orang-orang munafik dan sekuler menaruh dengki terhadap kehormatan kalian. Mereka bertanya-tanya dengan penuh penyesalan: mengapa cuma mereka? yaitu, yang bisa sedemikian rupa menjaga kehormatan? Bukankah termasuk kebodohan dan kerendahan, seorang perempuan yang keluarganya adalah teladan kemuliaan dan simbol keberanian, tapi ia sendiri tidur sebagai seorang pelacur di hadapan para anjing itu?

Bersungguh-sungguhlah dalam menjaga kehormatan kalian. Jangan biarkan perempuan-perempuan kalian terkena fitnah, lalu kalian meminta sesuatu yang mustahil kepada mereka. Jangan engkau tempatkan dia di hadapan para lelaki, kemudian engkau berkata: tahanlah dirimu!

Tunjukkan kepadaku seorang laki-laki dari kalian yang bisa menahan nafsunya di depan seorang wanita yang ia suka. Maka aku akan percaya bahwa ada seorang wanita yang bisa menahan nafsunya di depan seorang laki-laki yang selalu berbaur dengannya dan ia cenderung terhadap laki-laki tersebut.
Kalau kalian tidak mampu melakukannya, maka ketahuilah bahwa para wanita lebih tidak mampu lagi.

Di zaman sekarang yang segala sesuatunya telah berubah, dan tidak ada lagi moral yang tersisa di sekian banyak tempat kecuali hanya bekasnya saja, dan di mana kita telah kehilangan banyak pemuda yang memiliki kecemburuan karena telah membatunya perasaan mereka, juga di mana kita telah kehilangan banyak pria-pria kesatria karena telah bengkoknya pemahaman mereka, dan di saat tidakadanya pengawas yang sungguh-sungguh menjaga agar jangan sampai mahrom-mahrom mereka dinodai, atau jangan sampai pagar-pagar mereka dipanjat orang, kami sampaikan panggilan ini kepadamu sebagai himbauan bagimu berkenaan dengan agama, penutup aurat dan rasa malumu.

Di saat para pelaku keburukan telah mulai menjulurkan lidah mereka laksana ular, menyimpan hati serigala di antara tulang-tulang rusuk mereka dan mengenakan pakaian rubah.
Di masa yang penuh dengan fitnah dan bencana, disertai hilangnya para pria yang memiliki kecemburuan, jagalah dirimu baik-baik, berpegang teguhlah dengan hijabmu karena hijabmu adalah keiffahan dan hartamu yang amat mahal, maka jangan menyepelekannya.

Pacul-pacul penghancur begitu banyak! Mengepungmu dari segala penjuru. Maka hati-hati dan awaslah! Jangan sampai para penyeru kebejatan itu membunuh kita melaluimu dan jangan sampai mereka menikam kita dari jalanmu.

Wahai saudari kami, wahai kemuliaan kami, wahai simpanan kehormatan kami, berpegangteguhlah dengan keiffahanmu dan hijab syar’iymu di masa keterasingan ini. Jangan sampai banyaknya wanita yang meniru-niru para perempuan rendahan yang engkau lihat, membuatmu lemah. Karena engkau lebih mahal dan lebih tinggi. Engkau tidak ruwet, engkau tidak terbelakang, engkau tidak murahan.

Berapa banyak pria yang menjaga iffahnya sangat menginginkanmu menjadi istrinya, yang percaya kepadamu ketika ia keluar, yang bisa menitipkanmu sesuatu paling berharga miliknya. Dan berapa banyak para pria berandal yang tidak melihat perempuan rendahan itu kecuali hanya sebagai mainan sementara.
Wahai kekayaan kami yang begitu mahal, wahai simpanan keiffahan, wahai pribadi langka di masa orang banyak kehilangan sesuatu yang berharga! Wahai simbol keiffahan! Jangan resah dengan keterasinganmu! Karena keterasinganmu itu sesuatu yang terpuji dan akan hilang setiapkali engkau bertambah akrab dengan Allah.

Jangan engkau anggap perempuan rendahan itu bahagia!! Darimana kebahagiaan itu akan datang kepadanya, sedang ia sendiri tahu bahwa hasrat paling jauh para lelaki terhadapnya hanyalah agar ia sekedar menjadi seorang pacar.

Waspadalah terhadap para penyeru keburukan yang telah kehilangan milik paling bernilai seorang wanita. Mereka ingin menceburkanmu ke kubangan telah menenggelamkan mereka. Waspadailah setiap penyeru kebejatan dan klaim-klaim sesat mereka dengan nama apapun! Mereka ingin memanfaatkanmu!! Apakah kamu mau dengan hal-hal rendahan itu?

Awas, jangan sampai engkau ikut dalam rombongan mereka, dan jangan sampai engkau terjerat dalam tipu daya mereka. Waspadalah, wahai pribadi yang segenap ayah, putra dan saudara menegakkan kepala penuh bangga terhadapmu. Jangan buat kepala-kepala itu tertunduk malu dengan tidurnya engkau di pelukan pria bejat yang setelah itu ia membuat hina keluarga terhormatmu. Lihatlah kepada laki-laki yang berbangga telah dapat mempermainkanmu, wahai putri kemuliaan dan kehormatan! Sedang laki-laki itu, siapa dia? Duhai betapa rendah dan sedihnya. Tidak pantaskah kita meneteskan air mata atas kehormatan yang telah direndahkan dan kemuliaan yang digelincirkan?

Sesungguhnya ada sekelompok orang yang ingin mempermainkanmu. Dulu mereka tidak berhasil dengan para pendahulumu, walaupun hanya dengan pemikiran. Tapi bagaimana sekarang mereka bisa mempermainkanmu di atas meja-hidangan kejatuhan.

Jangan tertipu dengan suara-suara mereka yang meneriakkan pembebasan, pemberian hak-hak wanita, mereka tidak lain hanya ingin engkau bertabarruj, dan supaya engkau datang kepada mereka dengan sukarela, dan lisan keadaanmu seolah berkata: “Ini aku. Untukmu. Dan perbuatlah apa saja sekehendakmu tanpa batas”.

“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (Q.S.4:27)

Jangan sampai mereka masuk kepadamu dari pintu keburukan. Karena tipudaya mereka amat banyak, dan taktik mereka sangat licik. Mereka telah terlatih dengan kebatilan sampai mereka menguasai selu-beluknya.
Kalau mereka berkata kepadamu: lepaslah hijab syar’iymu, tentu engkau tidak akan mau dan berteriak: hijabku, hijabku! Maka dari itu mereka masuk dengan perlahan-lahan seperti masuknya setan, maka tidakkah engkau bangkit sadar wahai saudariku?

Ketahuilah bahwa hijab itu adalah hiasan seorang wanita. Maka kalau engkau mengenakan hijab, kenakanlah ia karena Allah. Sebab ini adalah modal utama. Boleh jadi engkau akan diuji dengan seorang laki-laki hina yang dayuts!! Maka jangan engkau tanggalkan pakaian kehormatan dan harga diri untuk seorang dayuts yang sebenarnya bukan seorang pria.

Dan kalau engkau mengenakan hijab syar’iy karena Allah, dan untuk menjaga dirimu, maka kenakanlah ia sebagaimana yang Allah kehendaki. Jangan engkau membuat firnah dengan menyingkap hijabmu karena ia adalah modal utamamu. Ketahuilah, ketika engkau mengenakan hijab syar’iy, maka engkau mengenakannya karena taat kepada Tuhanmu. Oleh karena itu sudah sepantasnya, sedang keadaanmu sedemikian, engkau merasa bangga dan nyaman dengannya.

Tidakkah aneh, seorang wanita yang mutabarrijah bangga dengan tabarrujnya, sedangkan engkau tidak bangga dengan hijabmu? Pujilah Allah atas nikmat hijab syar’iymu dan atas kemampuanmu untuk mengenakannya. Berapa banyak wanita yang berharap mendapatkan nikmat ini tapi belum mendapatkan tawfiq untuk itu. Atau ia terhalangi oleh sebab-sebab yang di luar keinginannya.

Hiasilah jiwamu dengan ketakwaan sebagaimana engkau menghiasi zohirmu dengan hijab yang merupakan simbol wanita-wanita yang menjaga iffah mereka. Dan hati-hatilah jangan sampai arus zaman ini menggulungmu sebagaimana ia telah menghanyutkan wanita-wanita lain sehingga timur mereka menjadi barat, dan utara mereka menjadi selatan.

Waspadalah terhadap tabarruj yang dikaleng (dikiaskan dengan produk-produk seperti makanan/minuman yang dikemas dalam kaleng -pent) yang dinamakan penutup aurat, tapi tinggal nama saja. Dan yang disebut hijab, tapi tinggal sebutannya saja.

Peristiwa-peristiwa yang  menyedihkan begitu banyak, hal-hal yang memedihkan perasaan tersebar di mana-mana, dan fitnah-fitnah begitu merajalela. Hati-hatilah jangan sampai engkau celaka. Karena dengan kecelakaanmu itu, celaka jugalah umat ini. Apakah engkau menyadari hal itu?

Ya Allah perbaikilah keadaan wanita-wanita kaum muslimin..
Ya Allah perbaikilah keadaan pemuda-pemuda kaum muslimin..
Ya Allah perbaikilah keadaan lelaki-lelaki kaum muslimin..
Ya Allah nyalakanlah dalam hati mereka bara api kecemburuan..
Ya Allah perbaikilah keadaan lelaki-lelaki kaum muslimin..
Ya Allah nyalakanlah dalam hati mereka bara api kecemburuan..

Wandu (Wanita Durhaka)

Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pribahasa ini sudah sering terlintas di telinga kita. Kandungan pribahasa ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Apalagi dalam kehidupan berumah tangga yang penuh dengan problema. Awalnya, semua terasa indah. Namun ketika badai menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, tangis pilu mengiris hati; membuat semuanya berubah. Semuanya harus diterima sebagai sunnatullah. Kadang kita menangis, dan terkadang kita tertawa. Semua itu berada di bawah kehendak Allah -Subhanahu wa Ta’la- .

Kehidupan berumah tangga akan indah, jika masing-masing anggotanya mendapat ketentraman. Sedang ketentraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai, dan memahami tugas masing-masing. Namun, tatkala hal tersebut tidak ada, maka alamat kehancuran ada di depan mata. Diantara penyebab hancurnya keharmonisan itu adalah durhakanya seorang istri kepada suaminya. Maka, pada edisi kali ini kita akan membahas bahaya istri yang durhaka.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’la- menciptakan istri bagi kita, agar kita merasa tentram dan tenang kepadanya. Sebagaimana firman Allah -Subhanahu wa Ta’la-
“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum :21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini, “Kemudian diantara kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak cucu Adam, Allah menciptakan pasangan mereka dari jenis mereka, dan Allah ciptakan diantara mereka mawaddah (yakni, cinta), dan rahmat (yakni, kasih sayang). Sebab seorang suami akan mempertahankan istrinya karena cinta kepadanya atau sayang kepadanya dengan jalan wanita mendapatkan anak dari suami, atau ia butuh kepada suaminya dalam hal nafkah, atau karena kerukunan antara keduanya, dan sebagainya”. [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/568)]

Jadi, maksud adanya pernikahan adalah untuk menciptakan kecenderungan (ketenangan), kasih sayang, dan cinta. Sebab seorang istri akan menjadi penyejuk mata, dan penenang di kala timbul problema. Namun, jika istri itu durhaka lagi membangkang kepada suaminya, maka alamat kehancuran ada didepan mata. Dia tidak lagi menjadi penyejuk hati, tapi menjadi musibah dan neraka bagi suaminya.

Kedurhakaan seorang istri kepada suaminya amat banyak ragam dan bentuknya, seperti mencaci-maki suami, mengangkat suara depan suami, membuat suami jengkel, berwajah cemberut depan suami, menolak ajakan suami untuk jimak, membenci keluarga suami, tidak mensyukuri (mengingkari) kebaikan, dan pemberian suami, tidak mau mengurusi rumah tangga suami, selingkuh, berpacaran di belakang suami, keluar rumah tanpa izin suami, dan sebagainya.

Allah -Subhanahu wa Ta’la- telah mengancam istri yang durhaka kepada suaminya melalui lisan Rasul-Nya ketika Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ
“Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya” .[HR. An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (9135 & 9136), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2349), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2771), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (289)]

Tipe wanita seperti ini banyak disekitar kita. Suami yang capek banting tulang setiap hari untuk menghidupi anak-anaknya, dan memenuhi kebutuhannya, namun masih saja tetap berkeluh kesah dan tidak puas dengan penghasilan suaminya. Ia selalu membanding-bandingkan suaminya dengan orang lain, sehingga hal itu menjadi beban yang berat bagi suaminya. Maka tidak heran jika neraka dipenuhi dengan wanita-wanita seperti ini, sebagaimana sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ . قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ ؟ , قال: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ , لَوْ أَحْسَنْتَ إَلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ , ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا, قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْراً قَطُّ
“Telah diperlihatkan neraka kepadaku, kulihat mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!” Ada yang bertanya, “apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?” Rasullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, “Tidak, mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, “Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu”. [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (29), dan Muslim dalam Shohih-nya (907)]

Pembaca yang budiman, jika para wandu mengetahui betapa besar kedudukan seorang suami di sisinya, maka mereka tidak akan berani durhaka dan membangkang kepada suaminya. Cobalah tengok hadits Hushain bin Mihshon ketika ia berkata, “Bibiku telah menceritakan kepadaku seraya berkata,

أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَعْضِ الْحَاجَةِ, قَالَ: (أَيْ هَذِهِ أَذَاتُ بَعْلٍ أَنْتِ), قُلْتُ : (نَعَمْ), قَالَ: (فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ), قَالَتْ: (مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ), قال: (فَأَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ, فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ)
“Saya mendatangi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk suatu keperluan. Beliau bertanya:”siapakah ini? Apakah sudah bersuami?.”sudah!”, jawabku. “Bagaimana hubungan engkau dengannya?”, tanya Rasulullah. “Saya selalu mentaatinya sebatas kemampuanku”. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Perhatikanlah selalu bagaimana hubunganmu denganya, sebab suamimu adalah surgamu, dan nerakamu”. [HR. An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (8963), Ahmad dalam Al-Musnad (4/341/no. 19025), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2612), dan Adab Az-Zifaf (hal. 213)]

Dari hadits ini, kita telah mengetahui betapa besar dan agungnya hak-hak suami yang wajib dipenuhi seorang istri sampai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya” . [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (1159), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (1998)]

Jika seorang istri tidak memenuhi hak-hak tersebut atau durhaka kepada suami, maka ia mendapatkan ancaman dari Allah -Ta’ala- lewat lisan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

اِثْنَانِ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمَا رُؤُوْسَهُمَا : عَبْدٌ أَبَقَ مِنْ مَوَالِيْهِ حَتَّى يَرْجِعَ , وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ
“Ada dua orang yang sholatnya tidak melampaui kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai ia kembali, dan wanita yang durhaka kepada suaminya sampai ia mau rujuk (taubat)”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (478), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (7330)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ آذَانَهُمْ : الْعَبْدُ اْلآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ , وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ , وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ
“Ada tiga orang yang sholatnya tidak melampaui telinganya: Hamba yang lari sampai ia mau kembali, wanita yang bermalam, sedang suaminya marah kepadanya, dan seorang pemimpin kaum, sedang mereka benci kepadanya”. [HR. At-Tirmidziy (360). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1122)]

Ini merupakan ancaman yang amat keras bagi para wandu (wanita durhaka), karena kedurhakaannya menjadi sebab tertolaknya amal sholatnya di sisi Allah. Dia sholat hanya sekedar melaksanakan kewajiban di hadapan Allah. Adapun pahalanya, maka ia tak akan mendapatkannya, selain lelah dan capek saja. Wal’iyadzu billahmin dzalik.

Al-Imam As-Suyuthiy-rahimahullah- berkata dalam Quuth Al-Mughtadziy saat menjelaskan kandungan dua hadits di atas, “Maksudnya, sholatnya tak terangkat ke langit sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di sisi Ibnu Majah, “Sholat mereka tak akan terangkat sejengkal di atas kepala mereka”. Ini merupakan perumpamaan tentang tidak diterimanya amal sholatnya sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di sisi Ath-Thobroniy, “Allah tak akan menerima sholat mereka” sampai ia rujuk (kembali)…” [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (2/291)]

Diantara bentuk kedurhakaan seorang istri kepada suaminya, enggannya seorang istri untuk memenuhi hajat biologis suaminya. Keengganan seorang istri dalam melayani suaminya, lalu suami murka dan jengkel merupakan sebab para malaikat melaknat istri yang durhaka seperti ini. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا دَعَا الَّرُجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Jika seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan, dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi”. [HR. Al-Bukhoriy Kitab Bad'il Kholq (3237), dan Muslim dalam Kitab An-Nikah (1436)]

Seorang suami saat ia butuh pelayanan biologis (jimak) dari istrinya, maka seorang istri tak boleh menolak hajat suaminya, bahkan ia harus berusaha sebisa mungkin memenuhi hajatnya, walaupun ia capek atau sibuk dengan suatu urusan. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا, وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ
“Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, seorang istri tak akan memenuhi hak Robb-nya sampai ia mau memenuhi hak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (untuk berjimak), sedang ia berada dalam sekedup, maka ia (istri) tak boleh menghalanginya”. [HR. Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (1853). Hadits ini dikuatkan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 211)]

Perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan bimbingan kepada para wanita yang bersuami agar memperhatikan suaminya saat-saat ia dibutuhkan oleh suaminya. Sebab kebanyakan problema rumah tangga timbul dan berawal dari masalah kurangnya perhatian istri atau suami kepada kebutuhan biologis pasangannya, sehingga “solusinya” (baca: akibatnya) munculllah kemarahan, dan ketidakharmonisan rumah tangga.

Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam Adab Az-Zifaf (hal. 210), “Jika wajib bagi seorang istri untuk mentaati suaminya dalam hal pemenuhan biologis (jimak), maka tentunya lebih wajib lagi baginya untuk mentaati suami dalam perkara yang lebih penting dari itu, seperti mendidik anak, memperbaiki (mengurusi) rumah tangga, dan sejenisnya diantara hak dan kewajibannya”.

Seorang wanita yang durhaka kepada suaminya, akan selalu dibenci oleh suaminya, bahkan ia akan dibenci oleh istri suaminya dari kalangan bidadari di surga. Istri bidadari ini akan marah. Saking marahnya, ia mendoakan kejelekan bagi wanita yang durhaka kepada suaminya..

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ , قَاتَلَكِ اللهُ , فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami”. [HR. At-Tirmidziy Kitab Ar-Rodho' (1174), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (2014). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 212)]

Cukuplah beberapa hadits yang kami bacakan dan nukilkan kepada Anda tentang bahayanya seorang wanita melakukan kedurhakaan kepada suaminya, yakni tak mau taat kepada suami dalam perkara-perkara yang ma’ruf (boleh) menurut syari’at. Semoga wanita-wanita yang durhaka kepada suaminya mau kembali berbakti, dan bertaubat sebelum ajal menjemput. Pada hari itulah penyesalan tak lagi bermanfaat baginya.

Tempuh Jalan Menuju Kebahagiaan ! Waspadai Jalan Menuju Kebinasaan !

Perhatikanlah -wahai saudaraku- bimbingan ini! Takutlah engkau akan ringannya timbangan amalanmu! Takutlah engkau akan diberikannya catatan amalan engkau dari arah kiri, karena sesungguhnya itu semua adalah musibah yang besar, maka bersemangatlah engkau untuk menjalani sebab-sebab (amalan) yang bisa mengantarkan kepada kebahagiaan dan keberhasilan, yang bisa memberatkan timbangan amalanmu, dan diberikannya catatan amalanmu dari arah kanan, sehingga engkau menjadi orang yang sukses dan berhasil.

Kehidupan dunia ini adalah tempat untuk mengkoreksi diri, maka koreksilah diri engkau, lihatlah senantiasa amalan-amalan engkau siang dan malam sampai engkau meninggal, jika seandainya engkau adalah orang yang terus istiqamah, maka panjatkanlah puji kepada Allah dan bersyukurlah kepada-Nya, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, mohonlah taufiq dan tsabat kepada Rabb engkau. Adapun jika engkau telah mengurangi dan menghilangkan sebagian amalan ketaatan engkau, maka koreksilah diri engkau, bertaubatlah kepada Allah dan istiqamahlah di atasnya, kembalilah  kepada amalan-amalan kebajikan yang dulu engkau menyepelekannya, beristiqamahlah untuk menjalankan perintah-perintah Allah, jauhilah larangan-larangan-Nya dengan bersumber dari niatan yang jujur, keikhlasan kepada Allah, dan dengan mengharap keutamaan yang ada di sisi Allah, serta sikap yang jujur.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)

Maka kejujuran itu adalah suatu keharusan.

فَلَوْ صَدَقُوا اللهَ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ.
“Jikalau mereka jujur (imannya) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)

Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman di akhir surat Al-Ma’idah:

هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.
“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur kejujuran mereka, bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Al-Ma’idah: 119)

Inilah keadaan orang-orang yang jujur, orang-orang yang jujur kepada Allah dalam menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh-Nya, jujur dalam kesungguhannya untuk berbuat kebajikan dan bersegeranya dalam mengerjakan kebajikan tersebut, jujur dalam beramar ma’ruf nahi munkar, saling menasehati dalam kebenaran dan menjalankan nasihat Lillah (dengan cara menunaikan hak-hak Allah ‘azza wajalla, pent) dan menjalankan nasihat bagi hamba-hamba Allah (dengan cara menunjukkan kepada mereka jalan-jalan kebaikan, pent).

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh untuk berjihad melawan hawa nafsunya, dia akan mendapatkan kesudahan yang baik, akhir yang terpuji, serta keberuntungan di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang telah menyia-nyiakan dan tidak mempedulikannya, maka dia akan menyesal di kemudian hari.
Maka wajib bagi engkau untuk selalu mengingat dan mengkoreksi diri setiap malam dan siang: Apa saja yang telah engkau perbuat!? Apa saja kekurangan engkau!? Sehingga engkau mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibanmu.

Berhati-hatilah dari teman bergaul yang jelek yang bisa menjauhkan engkau dari kebaikan dan membantu engkau untuk berbuat kejelekan. Wajib bagi engkau untuk bergaul dengan orang-orang baik yang jika engkau ingat, mereka akan membantumu, dan jika engkau lupa mereka akan mengingatkanmu dengan kebaikan dan bersungguh-sungguh di dalamnya bersamamu, mereka akan menabahkan hati engkau, membantu, dan memberi semangat kepada engkau untuk selalu berbuat baik.

Wajib bagi engkau untuk berteman dengan orang-orang yang baik, karena seseorang itu dinilai dari agama teman duduknya dan teman karibnya, maka bersemangatlah untuk berteman dengan orang-orang baik yang akan membantu engkau dalam kebaikan dan mengingatkan engkau jika lupa, serta akan memberikan semangat jika engkau malas.

Wajib bagi engkau untuk berteman dengan orang-orang baik, berhati-hatilah dari bergaul dengan orang-orang jelek yang akan menjauhkan engkau dari kebaikan dan menyeret engkau kepada kejelekan. Berhati-hatilah dari berteman dengan mereka.

Seorang mukmin itu sesuai dengan keadaannya, jika dia memberikan nasehat lillah (untuk menunaikan hak-hak Allah) dan li’ibadihi (menunjukkan jalan-jalan kebaikan kepada hamba-hamba Allah), serta berteman dengan orang-orang yang baik, maka dia akan bahagia dengan kebahagiaan yang sangat, dan jika dia menyepelekannya dan bahkan membuang itu semua, maka dia menyesal dengan penyesalan yang sangat. Dan engkau -wahai hamba Allah-, berakhlaklah dengan akhlak mukminin dan senantiasalah engkau untuk berakhlak demikian.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.
“Dan adalah orang-orang yang beriman baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain, mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan mendapatkan rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى ، قيل : يا رسول الله ! من يأبى !؟ قال : من أطاعني دخل الجنة ، ومن عصاني فقد أبى.
“Seluruh ummatku akan masuk al-jannah kecuali orang-orang yang enggan. Maka dikatakan kepada beliau: Wahai Rasulullah siapa orang-orang yang enggan itu? Beliau bersabda: Barangsiapa yang taat kepadaku, maka dia akan masuk al-jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh dia telah enggan.”

Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan masuk al-jannah dan sukses meraih kebahagiaan. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah enggan (untuk masuk al-jannah) dan menyebabkan kemurkaan Allah dan adzab-Nya.
Maka yang wajib adalah berhati-hati dan bersungguh-sungguh berjihad melawan hawa nafsunya. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ.
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Kami, maka sungguh-sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang berbuat baik.” (Al-’Ankabut: 69).

Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ.
“Dan benar-benar Kami akan menguji kalian sampai Kami tahu siapa yang benar-benar berjihad dan sabar di antara kalian dan akan Kami kabarkan keadaan kalian.” (Muhammad: 31).

Maka sudah seharusnya seseorang itu untuk selalu bersungguh-sungguh dan bersabar. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ.
“Barangsiapa bersungguh-sungguh maka sesungguhya dia telah bersungguh-sungguh untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sesuatupun dari alam semesta ini.” (Al-’Ankabut: 6).

Bersungguh-sungguhlah untuk berjihad melawan hawa nafsu engkau sendiri, semoga engkau mendapatkan keberuntungan. Posisi engkau dalam keadaan terancam bahaya karena dunia ini adalah negeri (tempat) yang membahayakan, negeri penuh dengan tipuan dan fitnah.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ.
“Dan tidaklah dunia itu kecuali hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ.
“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian bagimu.” (At-Taghabun: 15).

Sesungguhnya engkau berada di negeri (tempat) yang menipu, penuh dengan fitnah (ujian), syahwat, negeri yang mengajak manusia untuk mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ‘azza wajalla, maka wajib bagi engkau untuk berhati-hati selama engkau masih hidup di dunia ini, bersungguh-sungguhlah untuk berjihad melawan hawa nafsu engkau, bersabarlah dalam menjalankan ketaatan kepada Rabb engkau, jauhilah segala bentuk maksiat kepada-Nya, tetaplah bersama dengan orang-orang yang baik dan jauhilah teman bergaul yang jelek. Inilah jalan menuju kebahagiaan, jalan menuju keberhasilan, jalan menuju kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرًا يفقهه في الدين.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi seseorang, maka Allah akan memberikan kepahaman dalam agama kepadanya.”

Maka wajib bagi engkau untuk mempelajari ilmu syar’i serta berupaya untuk memahami dan berilmu tentang agama ini.

Rabu, 30 Maret 2011

10 Hal Yang Mendatangkan Cinta Allah

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib.  Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah,  fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian  dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Kalau Mau Pacaran, Yang 'Islami' Saja !!!

Kata sebagian orang : “Sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas”. Istilah pacaran adalah sebuah istilah yang sudah sangat akrab ditelinga serta lengket dalam pandangan mata. Namun saya masih agak kesulitan untuk mendefinisikannya. Mudahan-mudahan tidak salah kalau saya katakan bahwa setiap kali istilah ini disebut maka yang terlintas dibenak kita adalah sepasang anak manusia –terutama kawula muda dan para remaja- yang tengah dilanda cinta dan dimabuk asmara, saling mengungkapkan rasa sayang, cinta dan rindu, yang kemudian akhirnya biduk ini akan menuju pada pantai pernikahan.

Inilah paling tidak anggapan dan harapan sebagian pelakunya. Namun ada satu hal yang banyak luput dari banyak kalangan bahwa segala sesuatu itu ada etika dan aturannya, kalau masuk terminal saja ada aturannya, akankah masalah cinta yang kata sebagian orang “suci” ini tanpa aturan? 

Cinta Tabiat Anak Manusia: Jangan Dibunuh, Jangan pula Diumbar!
Alloh Ta’ala berfirman :

“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang dia ingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia. Dan disisi Alloh lah tempat kembali yang baik.”
(QS. Ali Imron  : 14)

Inilah tabiat dan fithroh kita sebagai anak Adam. Anak cinta orang tua, orang tua cinta anak, kita cinta pada uang, kaum hawa cinta pada perhiasan  de el el. Begitu pula cinta pada lawan jenis, semua diantara kita yang laki-laki mencintai wanita dan yang wanita cinta laki-laki, barang siapa yang tidak memilikinya maka dipertanyakan kejantanan dan kefemininannya. Setuju nggak ???

Bila si Cinta dengan Gaun Merah Jambu itu Hadir!!
Saya tidak tahu persis sejak kapan warna merah jambu dan daun waru dinobatkan sebagai lambang cinta, apapun jawabannya, itu tidak terlalu penting bagi kita. Namun yang sangat penting adalah bahwasannya bila masa kanak-kanak itu telah beranjak pergi meninggalkan kehidupan kita, lalu kitapun menyandang predikat baru sebagai remaja untuk menyongsong kehidupan manusia dewasa yang mandiri. Ada sesuatu yang terasa hadir mengisi indahnya hidup ini. Itulah cinta. Yang jelas cinta ini bukan lagi cinta pada mainan atau jajan bungkusan anak-anak, namun cinta pada sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Saat itu tersenyumlah seraya berucap : “Selamat datang cinta.”

Kasihan si Cinta: Sering Dijadikan kambing Hitam!
Cinta adalah sesuatu yang agung, Dengan cinta seorang yang pengecut menjadi pemberani, orang yang bakhil menjadi dermawan, yang bodoh menjadi pintar, menjadikan orang pandai merangkai kata dan tulisan. Begitulah kira-kira yang diungkapkan para dokter cinta. Oleh karena jangan salahkan cinta, kasihan dia. Bukankah karena cinta seseorang bisa masuk sorga. Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rosululloh tentang kapan terjadi hari kiamat, namun beliau malah balik bertanya : “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?” Dia menjawab : .”Cinta Alloh dan Rosul Nya.” maka beliaupun menjawab : “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Maka Anas bin Malik perowi hadits ini pun berseru gembira : “Demi Alloh, Saya mencintai Rosululloh, Mencintai Abu Bakr dan Umar, maka saya berharap untuk bisa bersama mereka disurga,” (Bukhori Muslim)

Cinta itu akan menjadi sangat agung kalau diletakkan pada tempatnya, namun bisa menjadi bencana kalau disalah gunakan. Oleh karena itu berhati-hatilah.

Cinta kepada Alloh: Rabb Semesta Alam
Cukuplah bagi kita merenungi ayat berikut :

“Sesunguhnya orang-orang yang beriman yaitu adalah orang-orang yang ketika disebut nama Alloh maka bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya maka bertambahlah iman mereka karenanya. Dan kepada Robbnya mereka bertawakkal.”
(Al Anfal : 2)

Bertanyalah pada diri kita masing-masing, hatimu bergetar saat disebut nama-Nya ataukah nama nya ???  “Mintalah fatwa pada dirimu sendiri” begitulah kata Rosululloh.
Bukankah cinta ini yang menjadikan Handlolah meninggalkan malam pertamanya untuk pergi perang lalu meninggal dalam keadaan masih junub ? Bukankah cinta ini yang menjadikan Bilal bin Robah mampu menahan derita yang tak terkira ? begitu pulalah Ammar bin Yasir, Kholid bin Walid dan lainnya.

Cinta Kepada Rasululloh
Lelaki agung itu, yang meskipun beliau sudah meninggal 14 abad yang lalu , namun masih kita rasakan cinta dan kasihnya. Lihatlah gambaran Al Qur’an ini :

“Sungguh telah datang pada kalian, seorang rosul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keselamatan bagi kalian, amat belas kasihan, lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(At Taubah : 128)

oleh karena itu tidak mengherankan kalau beliau bersabda :

“Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sehingga saya lebih dia cintai dari pada cintanya pada orang tuanya, anak-anaknya dan semua manusia.”(Bukhori Muslim)

Cinta pada sunnahnya, itulah bentuk cinta pada beliau. Sangat ironis sekali ummat islam sekarang yang mana setiap kali disebut sunnah beliau, maka mereka dengan langsung memprotes : “Kan Cuma sunnah ???” lalu kalau tidak sunnah beliau mau sunnah siapa?
Firman Alloh :

“Sungguh ada bagi kalian pada diri Rosululloh suri tauladan yang baik.”

Cinta karena Alloh
Akhi, Ukhti, saya mencintaimu karena Alloh.” Begitulah Rosululloh mengajarkan ummatnya untuk cinta ada orang lain karena Alloh, dalam artian kalau orang itu semakin membuat kita dekat pada Nya maka cintailah dia, dan begitu pula sebaliknya kalau ada orang yang semakin menjauhkan kita dari Nya, maka jauhilah dia. Bukankah orang yang melakukannya akan merasakan manisnya iman dan akan mendapatkan mimbar cahaya yang diingingkan oleh para Nabi dan Syuhada’ ???
Mencintai tokoh idola anda, juga lakukan atas dasar cinta pada Alloh dan Rosulnya.

Itulah Agungnya Cinta: Jangan Diperkosa!
“Pemerkosaan arti cinta” -maaf kalau kalimat ini kedengaran kasar- namun itulah kenyataannya. Betapa banyak wanita yang menyerahkan mahkota hidupnya kepada orang yang belum berhak lalu dia berucap ini sebagai tanda cintaku padanya, sebaliknya betapa banyak kaum laki-laki yang harus melakukan kemaksiatan atas nama cinta. Subhanalloh !!! akankah cinta kita pada Alloh Dzat yang Maha Agung dikalahkan oleh cinta pada seseorang yang berasal dari air mani yang kotor, saat hidupnya selalu membawa kotoran, dan saat meninggal pun akan berubah menjadi sesuatu yang sangat menjijikkan ??? Malulah pada Nabiyulloh Yusuf Alaihis Salam, yang mampu mempertahankan kehormatannya dihadapan seorang wanita cantik, kaya raya, bangsawan lagi. Jangan engkau berkata : “Diakan seorang Nabi ?.” karena kisah serupa pun dialami oleh  Abdur Rohman bin Abu Bakr, Muhammad al Miski dan lainnya

TIDAK!!! Islam Tidak Mengharamkan Cinta, Islam Hanya Mengaturnya!
Islam sebagai agama paripurna, tidak membiarkan satupun masalah tanpa aturan. Lha wong cara berpakaian, mandi, buang air dan hal-hal kecil lainnya ada aturanya, maka bagaimana mungkin urusan cinta yang menjadi keharusan hidup manusia normal akan tanpa aturan. Itu mustahil. Benarlah Salman Al Farisi tatkala ditanya :

“Apakah nabimu sudah mengajarkan segala sesuatu sampai masalah adab buang air besar ? maka beliau menjawab : Ya, Rosululloh sudah mengajarkannya, beliau melarang kami untuk menghadap dan membelakangi kiblat dan memerintahkan kami untuk beristinjak dengan tiga batu dan melarang kami untuk beristinjak dengan kotorang dan tulang.”

Alloh Berfirman :

“Pada Hari ini telah kusempurnakan agama kalian, dan telah Ku sempurnakan nikmatku kepadamu dan Aku rela islam sebagai agamamu.”
(Al Maidah : 3)

Oleh karena itu kalau mau bercinta alias pacaran, saya tawarkan sebuah ‘pacaran islami’ biar berpahala. Setuju nggak? selamat mencoba!
Ada beberapa aturan yang harus dipenuhi kalau mau berpacaran yang ‘islami’ yaitu :

1.Menutup aurot
Firman Alloh Ta’ala :
Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min “Hendaknya mereka menjulurkan pakaiannya keseluruh tubuh mereka” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu.”
(QS. Al Ahzab : 59)
Bahkan saking pentingnya masalah ini, Rosululloh juga mengaturnya walaupun antar jenis.
Dari Abu Said Al Khudri berkata  : “Rosululloh bersabda :
“Janganlah seorang laki-laki itu melihat aurat laki-laki dan jangan seorang wania melihat aurat wanita.”
(H.R. Muslim)
2.Menundukkan pandangan
Firman Alloh Ta’ala :
“Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka serta menjaga kemaluan mereka.”
“Dan katakan kepada para wanita mu’minah, agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dan menjaga farji mereka.”
(QS. An Nur : 30,31)
Dari Jarir bin Abdillah berkata : “Saya bertanya pada Rosululloh tentang pandangan yang mendadak tak sengaja, maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandangan itu.” (Muslim)
3.Tidak bersolek ala jahiliyah
Firman Alloh Ta’ala :

“Dan menetaplah kalian dalam rumah-rumah kalian, dan janganlah bersolek seperti bersoleknya orang-orang jahiliyah yang dahulu.”
QS. Al Ahzab : 33)
Dari Abu Huroiroh berkata : “Rosululloh bersabda : “Ada dua golongan manusia ahli neraka yang saya belum pernah melihatnya, yang pertama : orang-orang yang memegang cambuk untuk memukul orang lian, yang kedua : Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak akan pernah masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau surga, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.”
(Muslim)
Alangkah meruginya orang yang semacam ini !!!

4.Ada pembatas antara laki-laki dan wanita
Firman Alloh Ta’ala :

Dan apabila kalian meminta sesuatu pada mereka (para istri Rosululloh ) maka mintalah dari balik hijab. Karena yang demikan itu lebih suci bagi hati kalian serta bagi hati mereka.”
(QS.Al Ahzab : 53)

5.Jangan berdua-duaan, karena yang ketiganya adalah setan
Begitulah kira-kira bunyi hadits Rosululloh riwayat imam Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Huroiroh dengan sanad hasan

6.Jangan lembutkan ucapan
Firman Alloh Ta’ala :

Janganlah kalian (Para wanita) melembutkan ucapan, sehingga akan rakus orang-orang yang punya penyakit hati, namun ucapkanlah yang baik.” (QS. Al Ahzab : 32)

7.Kulitmu masih haram bagiku
Dari Ma’qil bin Yasar berkata : Rosululloh bersabda :
“Seandainya ditusuk pada kepala salah seorang kalian dengan jarum besi panas, maka itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
(HR. Thobroni, Lihat As Shohihah : 226)
  • Saudaraku, kalau anda mampu memenuhi syarat ini, teruskan pacaran anda.
  • Namun kalau tidak, maka pilihlah engkau lebih mencintai dia ataukah Alloh yang telah menciptakanmu, memberimu rizqi, melimpahkan kasih sayangNya padamu  dan memberimu hidayah menjadi orang islam ???
  • Segera tinggalkan transaksi harammu itu, sebelum kemurkaan Alloh benar-benar datang. Atau saya punya usul , bagaimana kalau engkau cepat-cepat menikah, itupun kalau engkau sudah siap. Bagaimana ???
STOP!! Ini Bukan Area Anda! Jangan Berzina!!
Jangan ada yang berfikir bahwasannya yang terlarang dalam islam hanyalah zina dalam pengertian masuknya timba dalam sumur sebagaimana bahasa hadits Rosululloh. Namun yang terlarang adalah semua hal yang mendekati pada perzinaan tersebut. Perhatikanlah firman Alloh :
“Janganlah kalian mendekati zina”
Juga Sabda Rosululloh saw :
“Sesungguhnya Alloh telah menetapkan pada setiap anak adam bagianya dari zina yang pasti akan menemuinya, zinanya mata adalah memandang, zinanya lisan adalah berucap, jiwa dengan berharap dan berkhayal, yang semua itu dibenarkan atau didustakan oleh kemaluan.”
(Bukhori Muslim)
Hamil dulu baru nikah atau nikah dulu baru hamil?
Hamil setelah pernikahan yang sah adalah sebuah kebanggaan dan keagungan, semua orang yang memasuki biduk pernikahan pasti menginginkan kehamilan istrinya. Banyak klinik yang  mengaku bisa mengobati kemandulan adalah salah satu buktinya.
Di sisi lain, wanita yang hamil tanpa tahu harus kemana dia harus memanggil “Suamiku” akan sangat gelisah.
Masyarakat yang terkadang dholim akan bisa dengan segera memaafkan laki-laki yang berbuat kurang ajar itu, namun tidak terhadap wanita. Dia akan menanggung aib itu sepanjang zaman dan akan terkenallah ia sebagai wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya.
Begitulah yang dikatakan oleh Syaikh Ali Ath Thonthowi.
Kalau dia menikah kelak, bukankah suaminya akan dengan mudah mengatakan : “Sudah berapa laki-laki yang tidur denganmu sebelum menikah denganku ?
Anak yang terlahir, dia akan terlahir sebagai anak yang tidak di harapkan kehadirannya, Tidak ada sentuhan kasih dan sayang.

Dari sisi Fiqh, Imam Ahmad bin Hambal dan lainnya mengatakan bahwa wanita hamil dari hasil perzinaan tidak boleh dinikahi selama hamil, dan kalau sudah terlanjur dinikahi maka harus diadakan pernikahan ulang.
Peringatan Penting Bagi yang masih Punya hati…
Anda kepingin mendapatkan seorang pasangan hidup yang baik, setia, sholih dan sholihah ??? perhatikanlah resep Ilahi ini :

“Wanita yang jelek untuk laki-laki yang jelek, lelaki yang jelek untuk wanita yang jelek, begitu pula dengan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.”
(QS. An Nur : 26)

Kata para ulama’ : “Balasan itu sejenis dengan amal perbuatannya.”
  • Akan menjadi sebuah mimpi disiang bolong kalau anda menginginkan istri seperti Fathimah binti Abdul Malik kalau anda tidak bisa menjadi Umar bin Abdul Aziz.
  • Jangan pula mimpi bersuamikan Ali bin Abi Tholib kalau engkau tidak menjadi Fathimah binti Muhammad. Perbaikilah dirimu dahulu sebelum engkau berharap mendapatkan pasangan hidup yang engkau idamkan !!!
Jangan Katakan ini!
Jangan engkau berkata padaku :
“Aku berpacaran kan untuk tahap penjajagan, biar saling memahami karakter masing-masing, sehingga tidak akan terjadi penyesalan setelah memasuki maghligai pernikahan, karena bagaimanapun juga kegagalan dalan berpacaran jauh lebih ringan daripada kegagalan dalam pernikahan.”
Jangan engkau katakan itu padaku, karena itu hanyalah topengmu belaka.
  • Tanyalah pada dirimu sendiri apakah engkau selama pacaran, mencoba untuk memahami masing-masing dan belajar untuk menjadi suami istri yang baik?
  • Ataukah yang engkau lakukan adalah berusaha menjadi baik saat berada dekat sang pacar? Bukankah ini sebuah penipuan kepribadian ??? persis kayak penjual yang takut ditinggal pembeli, yang mana ia harus berusaha untuk tampil lebih baik dari yang sebenarnya.
  • Lalu apa yang engkau sisakan nanti kalau memasuki dunia pernikahan, bukankah semuanya sudah engkau rasakan ? saling memadu rasa kasih sayang, mengungkapkan rasa cinta, berjalan bareng, nonton bareng, rekreasi bareng, bahkan mungkin hubungan suami istripun sudah dilakukan. Lalu apa yang akan engkau sisakan setelah menikah ??? malam pertamamu akan terasa hambar, tidak ada yang beda pada malam itu karena semua sudah dilakukan, bahkan mungkin akan terasa pahit, karena selama ini engkau berhubungan bukan cuma berdua, tapi bertiga, Yah …. Engkau bersama setan yang selalu membumbui semua kemaksiatan menjadi kenikmatan.
Bandingkan dengan yang malam pertamanya adalah benar-benar malam pertama. Dan bulan madunya benar benar semanis madu. Ah !!! saya tidak mau terlalu jauh mengenang masa-masa indah itu ….. kasihan yang belum nikah, he… he …
Jangan Anggap Ini Keras!
Mungkin ada diantara kalian yang berkata : “ustadznya terlalu keras.”
Wahai saudaraku seiman !!! cobalah renungkan kembali ayat-ayat dan hadits diatas dengan pikiran jernih, kepala dingin dan penuh rasionalitas, lalu ambilah kesimpulan, manakah yang keras ??? bukankah itu semua tuntutan syariat agama yang kita anut bersama ?

Atau jangan-jangan engkau sedang kena penyakit mag sehingga nasi yang lembek pun terasa keras, itulah kemungkinan yang paling dekat. Hatimu sedang berpenyakit, sehingga engkau merasa sakit dan keras dengan sesuatu yang sebenarnya lembek. Bukankah Rosululloh bersabda :
“Saya diutus untuk membawa syariat yang lurus dan mudah.”
(Bukhori Muslim)