Kamis, 18 Agustus 2011

Karena Aku Perempuan ...

Bertahun-tahun sudah aku menjadi perempuan
Baik dulu, sebagai anak….. perempuan
Lalu menjadi seorang gadis….. masih perempuan
Lalu memutuskan menjadi istri….. juga perempuan

Hingga aku menjadi ibu saat ini….. aku tetap perempuan
Dan akan selamanya menjadi perempuan
Bertahun-tahun sudah aku menjadi perempuan

Selama masa hidup yang panjang itu
Lama baru kusadari betapa sulitnya ternyata menjadi anak perempuan dulu itu

Dan lebih sulit lagi menjadi istri yang telah kujalani sekian tahun kesini
Dan yang tersulit dari itu….. ketika lahir anak-anakku….. dan aku dipanggil IBU!


Menjadi ibu dan dipanggil ibu…..
Sebab ada anak-anak yang lahir dan tumbuh besar semakin besar
Di kedua lingkar tangan dan mata ini
Menjadi ibu dan dipanggil ibu…..
Lantaran itulah terminal akhir dari perjalanan hidup dan kehidupan perempuan
Menjadi ibu semesta alam karena itulah puncak akhir kehidupan
Begitulah aku selalu diajarkan…..

Tapi….. alangkah sulitnya menjadi kaum perempuan
Beban menjadi perempuan ini beraneka ragam
Bukan hanya soal melahirkan, menjaga kesucian, atau harus ikut cari makan
Dan bahkan diserahi tanggung jawab pendidikan
Tapi yang lebih lagi begini…..
Para lelaki yang kami cintai…..
Sampai hari ini masih juga belum mengerti….. si tulang rusuk ambilan ini
Membutuhkan kawan untuk berbagi

Apa yang sudah diperjuangkan Ibu Kartini di negeri ini
sering ditafsirkan seenaknya sendiri
Lebih dari 100 juta kita, kaum perempuan di negeri ini
Tidak benar-benar mengerti ‘Makna Emansipasi’

Dan mengapa kita perempuan yang mesti mengubah peradaban ini ?

Jika laki-laki memutuskan dengan akalnya
Perempuanlah yang menggenapkan dengan hatinya
Jika laki-laki memandang dengan matanya
Perempuanlah yang mengantarkannya pada jiwanya
Bukankah keadilan Allah sesungguhnya telah nyata
Segala yang dicipta saling berpasangan, saling melengkapkan, begitu seharusnya

Tak ada menang dan kalah dalam pengabdian ini
Tak boleh menafsirkan harmonisasi menjadi emansipasi

Karena itulah izinkan aku katakan yang sejujurnya
Bahwa kau, aku dan 100 juta lebih kaum perempuan di negeri ini
Bersama kaum laki-laki
Kita akan mampu memimpin negeri ini kembali berdiri

Jika kita mensyukuri keelokan budayanya
Kaum lelaki adil membagi kekayaan alamnya
Jika kita menjaga keindahan tata kehidupannya
Kaum lelaki mendahulukan akhlak bangsa
Hingga negeri ini bangkit kembali
tanpa gerakan-gerakan kesesatan segala macam sekalipun
Bisa hanya dengan sangat sederhana….. di rumah-rumah kita!
Dari diri kita, para ibu, para istri, perempuan dewasa, gadis remaja
dan bahkan anak-anak perempuan kita

Kita mampu membawa obor perubahan dalam diri kita
Bawa masyarakat ini dari kegelapan menuju cahaya!
Cahaya peradaban baru!
Peradaban yang nyaman meski hidup dalam perbedaan
Mulia dalam perilaku meski dalam tantangan
Dan sejahtera luar dalam bagi penduduk darat dan lautan

Kini kukatakan padamu
Wahai kaumku!..... Di tangan kitalah bola ditawarkan
Bawa bangsa ini keluar dari kegelapan
Tegakkan bahumu, kuatkan kedua kakimu ambil keputusanmu!
Nasib bangsa ini dititipi, berdirilah engkau di rumah-rumahmu
Dan biarkan hati nurani memimpinmu

Lihatlah semua kelalaian akan waktu
Tumpukan pekerjaan yang menghabiskan setiap detik hidupmu
Membuat anak-anak tak lurus menyebut nama Tuhanmu
Tidakkah kita malu?

Dua buku warisan penyelamat hidup kau biarkan menjadi debu
Bagaimana anak-anak kita mencintai Tuhannya
Sedangkan kita sibuk luar biasa

Bagaimana anak-anak kita bisa mencintai Rasul Nya
Sedangkan kita sendiri juga belum mengenalnya

Maka dengarkan suara yang terdalam pada sujud tengah malam
Pandanglah dirimu dari pancaran air yang hina
Kini berubah menjadi pengingkar yang nyata
Ketika nama Allah tak lagi menggetarkan jiwa

Maka marilah….. kau dan aku
Selengggarkan lagi rumah tangga ini
Kau boleh bekerja…..
Tapi jangan kau lupa lelakimu….. ajaklah duduk merendah
Istiqomah kembali pada aturan Allah
Dan buatlah dirimu mengerti…..
Jika terbang terlalu tinggi….. anak-anak hanya akan dididik televisi
Dan janganlah menyangka….. seolah sia-sia pelajaran sekolah
Jika kita tak keluar rumah

Minazhzhulumaati illanuur….. Minazhzhulumaati ilaannuur…..
Minazhzhulumati ilaannuur…..

Inilah yang mengilhami Kartini berangkat hijrah dari kegelapan menuju cahaya
Cahaya peradaban baru….. Peradaban mengikuti aturan Allah yang satu
Tidak dua….. tidak tiga…. Satu! AHAD! AHAD!
Dan suatu hari di masa depan nanti….
Aku rindu mendengar ini dari mulut dan hati para perempuan yang kucintai
Fabiayyi aalaa’i Rabbikumaa tukadzdzibaan
Alangkah banyak nikmat Allah yang tak dapat kaum perempuan dustakan!!!

*Syair dari Bunda Neno Warisman* dengan sedikit gubahan!

TRAGEDI KARTINI

PERJALANAN SPIRITUAL SANG PUTRI MERETAS JALAN MENUJU TERANG 
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juni 1902)Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya. Namun wanita-wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Kian hari Emansipasi kian mirip saja dengan “liberalisasi” dan “feminisasi”. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya. Dan kembali kepada fitrahnya.

Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas dari kungkungan adatnya. Dan jangan salahkan Kartini kalau dia tidak dapat lepas dari pendidikan Baratnya. Kartini bukan “anak keadaan”, terbukti dia sudah berusaha untuk mendobraknya. Yang harus kita persalahkan adalah mereka yang menyalah artikan kemauan Kartini.


Kartini tidak dapat diartikan lain, kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya. Seperti yang ada dalam Door Duisternis tot Licth. Yang terlanjur di artikan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Armin Pane. Prof. Dr. Haryati Soebadio, mantan Menteri Sosial RI, yang notabene cucu tiri R.A. Kartini mengartikan buku itu menjadi Dari Gelap Menuju Cahaya atau bahasa Qur’an nya Minazh-Zhulumaati Ilan-Nuur (QS Nur :31) adalah inti dari Panggilan Islam. Yang maksudnya membawa manusia dari kegelapan (kejahiliyahan atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (kebenaran Al Haq).
“Allah Pemimpin orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. “ (Q.S. Al-Baqarah, 2 : 257)

Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dia belum sampai pada tujuannya.

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Tapi, cahaya itu belum purna menyinari secara terang benderang. Karena cahaya itu masih terhalang oleh atmosfir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini kembali pada Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasanya sebelum ia menyelesaikan usahanya untuk mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkan sebagaimana yang di cita-citakan.

Kartini yang di kungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba meretas jalan menuju terang. Tapi, anehnya tak seorang pun meneruskan perjuangannya.Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah di pintal oleh Kartini. Sungguh pun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya. Gagasan-gagasan Kartini yang di rumuskan dalam kamar yang sepi mereka peringati di atas panggung yang ramai. Kecaman Kartini yang pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan.

Wanita kini telah maju ke belakang! Kita belajar dari sejarah, bahwa manusia itu unik. Keunikan manusia adalah dia belajar sejarah tapi tidak belajar dari sejarah. Tragedi yang menimpa Kartini bukanlah tragedi yang menimpa seorang manusia pada hari kemarin, tapi tragedi yang menimpa kita semua, umat Islam sepanjang abad. Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang kalah menghadapi pertarungan ideologi (al ghazwul fikri). Islam di satu sisi dan Yahudi serta Nasrani di sisi yang lain.

Jangan kecam Kartini. Karena walau bagaimanapun dia sudah berusaha mendobrak adat dan mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan. Manusia itu berusaha, Allah lah yang menentukan. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900). Demikian kata-kata Kartini yang mencerminkan sikap tawakal. Memang, kita (manusia) sebaiknya berorientasi pada usaha, bukan berorientasi pada hasil. Ini perlu agar kita tidak kehilangan cakrawala sehingga tidak akan mengukur keberhasilan suatu perjuangan dengan batasan umur kita. Dan agar kita tidak mudah mengecam kesalahan yang di buat oleh orang-orang sebelum kita. Bukan mustahil jika kita dihadapkan pada kondisi yang sama, kita juga akan berbuat hal yang sama.

Di nukil dari buku “Tragedi Kartini “, Syaamil, 2007

Kasus TKW, Akar Masalah Yang Jarang Terungkap

Beberapa minggu yang lalu, masih segar dalam ingatan kita, bangsa Indonesia dihebohkan oleh kasus TKW yang bekerja di Madinah, Arab Saudi. Pahlawan devisa yang bernasib malang itu bernama Sumiati. Ia disiksa secara sadis oleh majikan perempuannya. Bahkan bibir atasnya, digunting oleh majikannya. Media informasi, baik cetak maupun elektronik, kemudian jor-joran menyajikan kasus TKW ini sebagai berita utama kepada pembaca mereka. Selang beberapa hari setelah itu, Indonesia kembali digemparkan oleh kasus pembunuhan sadis yang dialami oleh Kikim Komalasari. TKW yang bekerja di kota Abha tersebut ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sebuah tong sampah.



Serentetan kasus TKW di atas lalu berujung panjang. Dubes Arab Saudi untuk Republik Indonesia, Abdurrahman al Khayyath, sampai dipanggil beberapa kali ke kantor Kemenlu di Jakarta untuk dimintai keterangan soal kasus yang menimpa dua orang WNI ini di negara mereka, Kerajaan Arab Saudi. Bahkan saking seriusnya, orang nomor satu di negeri ini, Bapak H. Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih akrab disebut Pak SBY, sampai angkat suara terhadap kasus TKW yang menimpa warganya di negeri petrodollar tersebut. Tak sekadar bicara, beliau pun langsung membentuk tim khusus dan memerintahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan untuk berangkat ke Arab Saudi guna mengawasi jalannya penegakan hukum terhadap dua orang TKW bernasib malang tersebut.

Lain di atas, lain pula dengan yang di bawah. Sebagian rakyat Indonesia yang terbakar emosi menyaksikan berita memilukan ini di media-media informasi, langsung mendemo gedung Kedubes Arab Saudi di Jakarta. Selain menenteng spanduk-spanduk yang berisikan kecaman terhadap pemerintah & rakyat Arab Saudi, mereka bahkan juga melempari gedung tersebut dengan -maaf- pembalut wanita sebagai wujud protes terhadap kasus aksi kekerasan yang menimpa dua orang TKW ini di negara mereka. Ditambah lagi ada pihak-pihak yang sepertinya sengaja mengail ikan di air keruh dengan menyebarkan propaganda anti-Arab, yang ujung-ujungnya nanti berimbas kepada isu anti-Islam.

Mencari Akar Permasalahan Kasus TKW Indonesia

Sebenarnya, kalau kita mau memandang lebih jauh dan jernih lagi, dua kasus TKW yang menimpa Sumiati dan Kikim Komalasari di Arab Saudi tak ubahnya seperti gunung es yang timbul di permukaan. Semua itu adalah puncak dari semua kesemrawutan proses pemberangkatan TKI kita, mulai dari Indonesia hingga ketika mereka ditempatkan di Arab Saudi.

Dimulai dari proses perekrutan, tidak semua TKW kita yang bekerja di Arab Saudi masuk  atas keinginan mereka sendiri. Sebagian dari mereka adalah korban human trafficking atau sindikit jual-beli manusia. Mereka rata-rata adalah gadis-gadis desa nan polos yang tidak mengerti apa-apa. Lalu sindikat penjualan manusia ini mendatangi rumah orang tua mereka dan menjanjikan pekerjaan yang sangat menghasilkan di negeri orang. Tak jarang para sindikat ini memberikan bonus uang kepada orang tua si gadis apabila mereka  mau menyerahkan anak perempuan mereka untuk dipekerjakan di negeri orang. Tatkala sampai di Arab, ternyata mereka malah dipekerjakan sebagai pelacur ilegal oleh para sindikat ini.

Selain masuk ke Arab Saudi lewat jalur diatas, sebagian WNI kita ada yang bandel masuk ke Arab Saudi secara ilegal lewat jalur umrah. Para calon TKI gelap ini melakukan perjalanan umrah dan tatkala tiba waktunya untuk kembali ke tanah air, mereka kabur dari rombongan mereka dan bergabung bersama rekan-rekannya yang sebelumnya sudah ada di Arab Saudi. Orang-orang yang masuk ke Arab Saudi dengan dua cara di ataslah yang amat sangat rentan terhadap berbagai kasus kejahatan yang ada.

Masuk lewat jalur resmi pun tidak menjamin keselamatan wanita-wanita Indonesia yang bekerja di Arab Saudi. Banyak PJTKI nakal yang memberangkatkan mereka tanpa terlebih dahulu memberikan pelatihan dan pembekalan terhadap para pahlawan devisa ini. Dengan jurus bil fulus mulus, mereka bisa mendapatkan sertifikat resmi yang menyatakan bahwa para calon TKW yang akan mereka berangkatkan telah menjalani berbagai macam proses pelatihan dan pembekalan, sehingga mereka benar-benar layak untuk diberangkatkan ke negara tujuan. Padahal mereka tidak dilatih dan dibekali sama sekali. Lantaran para TKW ini berangkat dengan modal nekat tanpa ada skill yang memadai, sesampainya mereka di rumah sang majikan, mereka bekerja dengan buruk sekali. Hal ini tak pelak membuat sang majikan yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan mereka menjadi kesal, yang akhirnya dilampiaskan dengan memukuli mereka.

Di sisi lain, keberadaan sindikat-sindikat pelacuran yang notabene adalah orang kita juga semakin memperparah situasi di Arab Saudi. Para mafia 'esek-esek' ini biasanya mengiming-imingi setiap TKW yang mereka temui untuk kabur dari rumah majikannya guna bekerja di tempat lain yang gajinya berkali-kali lipat lebih tinggi. TKW malang yang tergiur dengan tawaran orang Indonesia yang baru saja dikenalnya ini, langsung manut saja ketika mereka disuruh kabur dari majikannya dan pergi bersama mereka. Tak disangka-sangka setelah TKW ini kabur dan tinggal bersama orang yang sebelumnya menawarkan untuknya pekerjaan baru, ia malah diperkosa olehnya terlebih dahulu lalu dipekerjakan sebagai pemuas nafsu kepada orang-orang Saudi dan juga WNI di Arab Saudi. Sungguh mengenaskan sekali. Karena itu, selain dikenal sebagai negara pengekspor pembantu terbesar di mata warga Arab Saudi, Indonesia juga dikenal sebagai negara penghasil pelacur terbesar di negeri petrodollar ini.

Ketidaktahuan para calon TKW kita tentang budaya di Arab Saudi semakin membuat persoalan menjadi runyam. Contoh kecil saja; di Arab Saudi pergaulan antara laki-laki dengan perempuan tidak bebas seperti di Indonesia. Warga Arab Saudi apabila berbicara kepada lawan jenisnya cenderung berbicara seperlunya saja. Dan kaum wanitanya juga turut menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar seperti menggoda. Hal yang sangat bertolak belakang dengan perempuan Indonesia yang berbicara ceplas-ceplos dan kadang dengan nada menggoda kepada lawan jenisnya. Kebiasaan ini memiliki nilai negatif di mata masyarakat Arab Saudi pada umumnya.

Para diplomat Republik Indonesia yang bertugas di Arab Saudi akhirnya hanya bisa pasrah menjadi 'tong sampah' bagi rantai permasalahan TKW yang sesungguhnya bermula dari tanah air sendiri. Dan mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali harus melayani banyaknya pengaduan yang masuk ke meja mereka. Banyaknya pengaduan yang masuk jualah yang membuat para pejabat kedutaan RI yang jumlahnya tidak sebanding menjadi kewalahan menghadapi berbagai macam persoalan yang dialami para TKW kita. Bahkan tak jarang mereka rela harus 'mengemis' kepada amir penguasa setempat demi tuntasnya permasalahan yang dihadapi para TKW ditempat mereka terkena masalah.

Keputusan untuk menghentikan pemberangkatan TKW ke Arab Saudi itu sepenuhnya mutlak berada di tangan pemerintah pusat yang ada di Jakarta. Adapun para pejabat Kedutaan RI yang ada di Arab Saudi, tugas mereka adalah mengurus keperluan WNI yang ada di Arab Saudi, dan tidak memiliki hak sama sekali untuk menstop pemberangkatan TKW. Karena itu Duta Besar RI untuk Kerajaan Saudi Arabia, Bapak Gatot Abdullah Manshur pernah berkata "Saya tidak bisa mendesak pemerintah pusat untuk menghentikan pengiriman TKI, saya bakal ditegur oleh bapak presiden; Kamu saya angkat menjadi Duta Besar disana itu untuk ngurusi warga kita yang ada di sana, bukan untuk menstop..." ujar beliau dalam salah satu kesempatan bersama para mahasiswa Universitas Islam Madinah.

Anggap saja pemerintah pusat mengeluarkan keputusan pemberhentian pemberangkatan TKW ke Arab Saudi. Lantas, apakah masalah yang ada otomatis menjadi selesai? Tidak. Para calon TKW akan berbondong-bondong masuk secara ilegal yakni melalui jalur umrah (seperti yang sudah saya singgung diatas). Tingginya jumlah permintaan warga Arab Saudi akan pembantu rumah tangga dari Indonesia adalah faktor utama yang akan memicu hal ini. Kalau ini yang terjadi, permasalahan yang ada akan lebih gawat lagi dikarenakan akan terdapat lebih banyak TKW yang bekerja sebagai pembantu dan keberadaan mereka akan sukar dideteksi oleh pihak Kedutaan, karena mereka masuk secara ilegal. Akibatnya, tindak kejahatan akan semakin rawan mengintai mereka dan perwakilan pemerintah RI di Arab Saudi  tidak bisa berbuat apa-apa terhadap majikannya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, disebabkan lemahnya kekuatan hukum yang dimiliki oleh TKW ilegal.  Dan bahaya seperti inilah yang telah diperhitungkan oleh para diplomat kita yang bertugas di Arab Saudi apabila keputusan untuk memberhentikan pengiriman TKW diambil oleh pemerintah pusat.

Oleh karena itu, setelah melihat sedikit fakta yang ada diatas (sebenarnya masih buaanyak lagi, tidak mungkin diuraikan satu persatu di artikel pendek ini) kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kasus-kasus yang menimpa TKW kita sebenarnya juga disebabkan oleh ulah orang kita sendiri yang tidak bertanggung jawab. Dimulai sejak para TKW masih berada di tanah air, hingga ketika mereka sudah berada di Arab Saudi. Jadi, kita tidak boleh begitu saja memvonis kalau semua orang Arab Saudi -apalagi semua orang Arab, termasuk yang di Indonesia- itu bejat. Sebagaimana yang dihembuskan oleh sebagian pihak di Indonesia dengan tujuan tertentu. Kita juga harus objektif dalam menilai sesuatu. Apakah di Indonesia sendiri tidak ramai dari kasus kejahatan yang serius sampai kita bisa dengan mudah memvonis sebuah bangsa lain kalau semua orangnya jahat?

Islam dan Hak-Hak Wanita

Ajaran islam sangatlah memperhatikan kehidupan kaum wanita. Tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh orang barat bahwasanya ajaran Islam sangat mengekang kaum wanita. Dalam urusan penghidupan, Islam membebankan kewajiban nafkah kaum wanita tehadap ayahnya. Dan jika ia telah menikah, maka kewajiban ini otomatis bergulir kepada suaminya. Mungkin, dikarenakan kurangnya kesadaran para suami akan hal ini, banyak kita jumpai fenomena suami yang menyuruh istrinya bekerja -bahkan sampai jadi PRT di negeri orang- sementara ia sendiri enak-enakan santai dirumah. Hal ini tentu saja sangat menyalahi ajaran Islam yang memerintahkan kaum laki-laki untuk bekerja keras mencari penghidupan bagi anak dan isterinya. Bukan malah sebaliknya.

Tapi bukan berarti wanita dalam Islam tidak boleh bekerja sama sekali. Asalkan pekerjaannya itu Halal dan tidak membawa dirinya kepada suatu kemudharatan, maka tidak masalah ia bekerja.

Khatimah

Dalam suatu kesempatan, mantan Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi, sempat mengkritik pedas masalah pemberangkatan TKW ke Arab Saudi untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, "Sekarang ini di Saudi juga di negara-negara Islam di timur tengah sudah tidak ada lagi negara yang semiskin apapun mengirim TKW pembantu rumah tangga. Itu sudah tidak ada kecuali Indonesia," kata sekjen International Conference of Islamic  Scholars (ICIS) Hasyim Muzadi. Dan faktanya memang begitu. Tidak ada satupun negara miskin di dunia ini yang rela mengirim para wanitanya untuk bekerja sebagai pembantu di negeri orang kecuali Indonesia. Selain karena faktor keselamatan bagi sang TKW yang sangat rawan dari tindak kejahatan, hal ini juga otomatis akan merendahkan harkat dan martabat bangsa pengirim TKW di negeri orang. Hal ini juga lah yang menjadi pertimbangan negara miskin seperti Bangladesh (Bahkan Indonesia jauuuuuuuh lebih kaya dari negara ini) untuk tidak memberangkatkan kaum wanitanya guna bekerja sebagai PRT di negeri orang.

Nampaknya  angka pengangguran yang tinggi, minimnya lapangan pekerjaan di negeri sendiri dan semakin naiknya kebutuhan hidup ditambah ketidaktahuan para TKW tentang ajaran agamanya sendiri yang mengajarkan umatnya untuk tidak membawa dirinya ke dalam suatu bahaya, menjadi akar utama dari segala permasalahan ini. Dan ini merupakan tanggung jawab bersama yang harus di selesaikan oleh rakyat Indonesia, terutama pemerintah.

Dalam sebuah buku yang berjudul "Mengelola Keuangan Keluarga" yang ditulis oleh Safir Senduk, seorang konsultan keuangan keluarga yang cukup terkenal di Jakarta, beliau membahas pada bab 4 bukunya tersebut masalah perlukah seorang istri bekerja guna membantu perekonomian keluarganya? Sedangkan di sisi lain seorang istri juga memiliki tugas untuk merawat dan membesarkan anaknya dengan baik. Safir Senduk mengakhiri uraiannya dengan: ... (Bila salah satu dari Anda bekerja dan pasangan Anda tidak bekerja, padahal ia ingin juga bekerja tanpa meninggalkan anak, cobalah untuk bekerja di rumah. Jangan khawatir bahwa orang yang bekerja di rumah tidak bisa mendapatkan penghasilan sebesar orang yang bekerja di luar rumah. Jenis usaha apapun bisa memberikan penghasilan yang besar, walaupun usaha itu dijalankan dari rumah). Apa yang beliau sampaikan agaknya bisa menjadi jawaban tepat bagi wanita yang ingin bekerja ke Arab Saudi sebagai PRT dikarenakan alasan klasik; ingin membantu kondisi keuangan suaminya...

Oleh: Rahman Hakim
at Muslimah Berbagi ^^

Belenggu Bernama Jilbab

Bismillahirrahmanirrahim…

“Lho, yang penting kan menutup aurat mbak?”. Aku membela diri dari nasehat mbak Nayla.

“Mbak nggak menyalahkan kamu yang katamu sudah menutup aurat. Memang benar auratmu sudah tertutup, tapi aurat yang mana dulu yang tertutup, dik? Yang kamu tutup Cuma rambutmu saja, sedangkan auratmu yang lain kamu biarkan begitu saja.”

“Aurat yang mana lagi sih mbak, liat kan mbak, aku udah pakai celana, baju, kerudung,” jawabku sedikit emosi.

Aku melihat mbak Nayla tersenyum,”Memang benar kamu sudah pakai celana, baju, kerudung, tapi dengan baju dan celana kekecilan seperti itu apa bedanya kamu pakai baju atau nggak pakai baju. Istilahnya, pakai baju tapi telanjang. Iihh..serem lho, dik!”

“Iiihh…mbak Nayla, kok gitu sama aku. Terus aku harus gimana? Pakai baju kayak mbak yang serba kedodoran itu. Idih nggak mau ah, kayak ibu-ibu mau pengajian aja, kuno! Ribet amat ya jadi manusia.”

“Mendingan ribet sekarang, dik, daripada nanti kalau di akhirat?”

Aku langsung meninggalkan mbak Nayla dengan mengomel, namun aku pun menyadari bahwa apa yang dikatakan mbak Nayla tidak lah salah.

***

Sebagian muslimah memang ada yang tidak mengetahui syarat pakaian syari bagi muslimah yaitu menutup aurat, tidak ketat, tidak menerawang dan tidak menyerupai laki-laki. Mereka biasanya termakan trend yang sedang berlangsung seperti saat ini.

Namun ada juga muslimah yang sudah mengetahuinya, tapi enggan menggunakannya, justru muslimah seperti ini lah yang akhirnya memelintirkan arti dari kebaikan memakai jilbab. Alasan mereka enggan menggunakannya banyak, misal: “lebih baik kan, daripada nggak pake sama sekali?” atau “Sedikit-sedikit lah sambil memperbaiki hati dulu” atau “ah ribet pakai jilbab gede, nggak gaul”atau “nunggu hidayah”

Masyaallah…padahal mereka sudah mengetahui tentang kewajiban berjilbab, tapi sayangnya mereka menunda berjilbab dengan alasan-alasan yang bermacam-macam. Bukankah ketika seseorang beriman pada Rabbnya dan Rasul-Nya seharusnya pun dia beriman dengan perintah-perintah-Nya, bukan dengan menundanya sedemikan rupa karena takut jauh dengan kemilau dunia, bukan takut karena Allah Azza Wa Jalla.

Muslimah yang sudah mengetahui kewajiban berjilbab tapi belum juga tergugah untuk melaksanakannya bukankah sudah jauh dikuasai oleh nafsu syetan?

Mereka bilang menunggu hidayah, padahal mereka tahu hidayah tidak hanya ditunggu tapi harus dijemput.

Apakah kita hanya akan menunggu hidayah itu muncul sedangkan maut semakin mendekat?

Mereka bilang masih banyak yang berjilbab tapi sifatnya nggak karuan, padahal mereka tahu bahwa mereka yang berjilbabpun masih bisa melakukan kesalahan. Bagaimana mungkin jilbab membuat mereka suci dari kesalahan, sedangkan jilbab mampu membawa kita menuju gerbang kesucian?

Mereka bilang menunggu hati dulu yang berjilbab, padahal mereka tahu hati tidak mungkin bisa dihijab. 

Bagaimana mungkin hati yang tak tampak dan yang tak ada dalam perintah-Nya harus ditutup dahulu sedangkan fisik yang tampak dan jelas-jelas kita mengetahui kewajibannya enggan untuk ditutupi?

Mereka bilang jilbab hanya sebagai belenggu kebebasan manusia, padahal mereka tahu bahwa jilbab adalah simbol rasa malu. Bagaimana mungkin jilbab menjadi sebuah belenggu sedangkan jilbab membawa pada kebaikan pemakainya?

Sungguh saudariku, tak inginkah kau menjadi wanita yang teristimewa di dunia dan akhirat kelak?

Wallahu a’lam bish shawwab.

#Bukan Muslimah Biasa#

Kamis, 11 Agustus 2011

Jangan Bersedih ! Yakinlah, Allah Lebih Tahu Tentang Kebutuhan Kita

Kadang kita memaki keadaan karena tidaklah sesuai dengan selera kita.Kadang kita menyalahkan Allah atas sesuatu hal buruk yang menimpa kita.
 
Seperti ketika sepasang suami istri yang sedang berkonflik. Mereka akan dengan  mudah menyalahkan satu- sama lain. Si suami mungkin tidak menyenangi salah satu sifat istri, pun demikian halnya dengan sang istri. Rasanya hati sudah penuh sesak dengan amarah, kesedihan dan kesempitan. Ingin rasanya memaki, atau paling tidak mengeluarkan uneg- uneg yang ada. Namun sering kali kemauan itu masih tertahan dengan masih adanya iman.

Sejenak mari kita renungkan. Di dunia ini ada bermilyar manusia yang mungkin bisa menjadi pasangan kita. Namun, Allah akhirnya mempertemukan kita dengan pasangan kita saat ini, dan bukan dengan yang lain. Pastilah semua itu bukan hanya karena kebetulan belaka. Ada skenario dan pelajaran takdir yang bisa sama- sama kita pelajari. Hal tersebut tidak lain adalah untuk menjadikan diri kita lebih baik dari pada sekarang ini.

Kekurangan yang dimiliki istri ataupun suami, adalah pelengkap bagi kelebihan yang lain. Namun sering kali batin manusia menyeru untuk melirik kelebihan manusia lain selain istri atau suami mereka. Hal itu karena mereka mungkin sejenak ingin meredakan diri dan mendamaikan hati atas sebuah kekesalan. Maka ada istilah, "Rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri".

Pernahkah kita membaca, padahal jika hati kita telah ikhlas menerima ketetapan Allah, "Rumput sendiri" yang mungkin tidaklah lagi hijau, justru  yang telah berjasa "menghijaukan" kita. Betapa tidak, dari kekurangan pasangan kita, kita belajar lebih bijaksana, kita belajar sebuah pemakluman dan belajar sebuah kesabaran. Dan dari kelemahan diri kita sendiri, kitapun belajar sebuah perbaikan, kita belajar meminta maaf dan belajar menghindari kesombongan.

Dan Allah lah yang paling tahu tentang kebutuhan kita, kebutuhan untuk menjadikan kita manusia lebih baik, kebutuhan untuk menjadikan kita sangat lebih baik dari pada hari ini.Dan kebijaksanaan Allah tersebut hanya dapat dipahami oleh para jiwa- jiwa yang ikhlas,hati- hati yang lembut, dan para hamba yang mau belajar dan mempelajari hikmah kehidupan.

Cerita lain yang seringkali menghinggapi batin kita dengan kegelisahan adalah ketika kehidupan disudutkan pada sebuah kekurangan terutama dalam hal materi. Terkadang, karena hal itu pula, aturan halal dan haram pun menjadi sangat susah sekali untuk tetap digenggam erat. Tak jarang, segala cara kita lakukan demi sebuah kelebihan dan keluasan untuk memerdekakan hati yang sedih.

Saudaraku, percayalah kesempitan atau keluasan itu, bukan terletak dari seberapa banyak atau sedikit materi yang kita punya, tapi hanyalah masalah tentang penyikapan hati kita. Banyak dari saudara kita yang sekarang dalam keluasan rejeki, namun mereka pun masih gusar tentang bagaimana cara bahagia untuk sesuatu sangat simple. Berkumpul dengan keluarga misalnya. Mungkin mereka menilai bahwa kita yang biasa- biasa sekarang ini adalah lebih beruntung dan bahagia. Sadarkah kita jika saja saat ini kita diberi kelebihan dan keluasan dalam hal apapun oleh Nya, apakah masih akan ada waktu tersisa untuk sekedar menyapa Allah sang Maha Rahman, apakah masih ada sejenak akses untuk mengingatnya seperti dalamnya kemohonan kita saat kita memanjatkan doa saat sempitnya kehidupan?. Sungguh Allah lah pencipta kita, dan Dia lebih tahu detail pastinya tentang apapun dari kemampuan kita, melebihi diri kita sendiri.

Subhanallah, dalam berbagai hal, yang negatif dalam pandangan kita sekalipun, ternyata disana tersimpan kasih sayang dari Sang Maha Mencintai.

Jangan pernah sesali apa yang telah kita dapatkan atau yang telah lepas dari genggaman. Jika sebelumnya kita telah melakukan usaha yang terbaik, maka hasil akhir yang Allah beri itulah, upah yang terbaik untuk kita.

Tidak semua keinginan di dunia ini terpenuhi atau dipenuhi secara sempurna oleh Allah sang maha rahman. Semua tentu bukan berdasar tidak adanya kasih sayang dari Nya. Namun semua adalah pasti dan tentu saja yang terbaik untuk kita. Allah yang memegang ukuran atas kita. Dan hal itu hanya dapat dipahami oleh batin yang percaya dan tetap percaya pada Allah dalam keadaan apapun.
Saudaraku yang dirahmati Allah, sungguh, Allah lah yang maha penyayang atas hamba- hambaNya.

Dan Allah lah yang paling tahu tentang kebutuhan kita, kebutuhan untuk menjadikan kita manusia lebih baik, kebutuhan untuk menjadikan kita sangat lebih baik dari pada hari ini.Dan kebijaksanaan Allah tersebut hanya dapat dipahami oleh para jiwa- jiwa yang ikhlas,hati- hati yang lembut, dan para hamba yang mau belajar dan mempelajari hikmah kehidupan.



(Syahidah/Voa-islam.com)