Kamis, 21 April 2011

Muslim STMJ VS Muslim Kaaffah

“Saya sudah dua tahun taat menjalankan ibadah, tapi masih belum bisa lepas dari maksiat... Gimana Pak?”

Aslama-Yuslimu-Islaaman berarti tunduk, patuh, menyerah atau rela diatur. Orang yang tunduk, patuh, menyerah dan rela diatur oleh ketentuan Allah disebut muslim. Berarti, seorang muslim hanya patuh pada aturan Allah saja.

Berarti pula, seorang muslim tidak patut menundukkan totalitas kepatuhan hidupnya selain kepada Allah, kecuali sepanjang aturan itu bersesuaian dengan kehendak Allah atau dalam rangka ketaatan kepada-Nya. 
Selain itu, never! Laa thoo’ata limakhluuqin fii ma’shiyati al-khaaliq.

“Saya adalah muslim” adalah pernyataan gampang dan paling umum diakui. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan itu, cukuplah menunjukkan kartu indentitas yang mencatat kata Islam. Selesai.
Tetapi, “benarkah bahwa saya telah muslim sesuai catatan lauhul mahfuzh dan rekam jejak malaikat Rakib?” Ini menjadi lebih sulit dan secarik KTP itu tidak akan pernah bisa menjawabnya tuntas di dunia apalagi di akhirat.

Di mahkamah Allah nanti, KTP tidak bisa “berbicara”, meskipun camat yang menandatanganinya adalah pak haji bergelar profesor doktor lulusan luar negeri.Catatan dan rekaman Rakib dan ‘Atidlah yang akan menentukan apakah seseorang itu muslim atau bukan.

Di dunia, tidak sedikit orang yang lebih mengandalkan KTP dibanding akurasi catatan Rakib dan ‘Atid soal sebutan muslimnya. Tetapi di saat yang bersamaan, banyak KTP justeru mempermalukan identitas kemuslimannya saat ia meringkuk di penjara karena kasus kejahatan yang membelitnya.

Lalu, pada saat ia merasa merana di balik jeruji besi akibat ulahnya itu, barulah ia ingat Rakib dan ‘Atid, akrab dengan sajadah dan seketika itu pula ia melupakan KTP. Bersyukur ia masih bisa menata kepatuhannya pada Sang Pemberi Identias muslim kembali pada jalan yang lurus. Sungguh kufur apabila penjara bahkan bertambah menjadikannya lebih binal dari sebelumnya.

Perintah, anjuran dan larangan Allah adalah instrumen untuk mengukur seorang itu muslim atau bukan secara kasat mata. Selama perintah dan anjuran dikerjakan dan larangan itu dihindari dengan kesadaran atas iman kepada-Nya, maka pantaslah ia dinilai sebagai muslim.

Seorang muslim mu’min yang patuh menjadikan instrumen itu sebagai satu paket hidup; ibadah yes, maksiat no. Tidak patut ia mengambil ketaatan hanya pada sisi patuh pada perintah dan anjuran tetapi patuh pula pada hawa nafsu melanggar larangan-Nya alias ibadah yes, maksiat yes.

Apalagi abai pada perintah dan anjuran, patuh pada hawa nafsu melanggar larangan alias ibadah no, maksiat yes. Ada pula yang berkubang dalam zone of zero, memilih untuk menekan nafsu dari mengerjakan segala larangan tetapi abai pada segala perintah dan anjuran-Nya alias, maksiat no, ibadah no. Ibadah, yes, maksiat yes. Saat di masjid ia khusyu dengan takbir, ruku dan sujud lalu melangkah ke kedai khomer, mabuk dan meracau kehilangan akal.

Saat di ta’lim ia berceramah dengan sorban harum anggun di bahunya, lalu beringsut ke rumah bordil merayu, merajuk dan bergumul dalam selimut zina yang melenakan. Bisa jadi di waktu khusus ia bertalbiyyah, thawaf, sa’i dan wukuf dui ‘Arafah tetapi di bawah meja perkara pengadilan ia berselingkuh dengan praktek risywah dan jual beli perkara.

Barangkali pula ia rajin puasa, Senin-Kamisnya dawam tetapi gemar membungakan uang dan melipatgandakan harta benda dengan cara-cara menghisap. Atau ia gemar hadir di majlis-majlis dzikir dan ilmu, tetapi ringan tangan pada anak dan isteri, pelit, berlidah pahit dan suka mengadu domba. Di manakah efektifitas shalat, haji, tadarrus, puasa dan dzikirnya?

Ada apa sebenarnya? Allahu a’lam. Manusia tidak sanggup menyelami sisi batiniah sesamanya secara purna selain yang kasat mata zahirnya belaka.

Hal yang tetap harus ditumbuhkan, bahwa seorang muslim menjadi kuat karena keta’atannya pada Allah dan kekhusyu’annya dalam ibadah. Tetapi godaan agar seorang muslim tetap menjadi kuat dalam ketaatan dan ibadahnya datang bertubi-tubi dari depan, belakang dan dari arah samping kanan-kirinya.

Semakin kuat seorang muslim dalam ketaatan dan ibadahnya, semakin kuat godaan menimpanya. Tetapi semakin ikhlas dan istiqomah dalam ibadahnya itu, semakin dia kebal godaan seberapa besarpun godaan itu menghampirinya. Setan sang penggoda pun mengakui hal ini:

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka" (terjemah QS. Al Hijr [15] : 39-40)

Sekarang, maksiat banyak dipoles halus dan menjadi samar. Kemasannya mirip-mirip agama. Tampilannya bukan lagi hitam seperti hitamnya khomer, judi, zina, fitnah, membunuh, mencuri, korupsi atau berbagai wajah kezaliman manusia atas manusia.

Begitu samar dan halusnya, salah-salah, banyak di antara kita yang terjabak bahkan tanpa sadar terkagum-kagum lalu mengikuti tanpa reserve. Tahukah kita kemaksiatan model itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah kemaksiatan ilmu.

Kemaksiatan ilmu adalah penyelahgunaan kecerdasan untuk melawan Tuhan. Kitab suci kalam Tuhan sudah sampai kepada kita, misalnya bahwa diharamkan wanita muslimah dinikahkan dengan pria non-muslim.

Tetapi orang cerdas itu berani membalikkan hukum itu bahwa untuk konteks zaman sekarang pernikahan antar iman itu adalah halal demi kerukunan dan toleransi. Demi menyesuaikan konteks supaya Islam tidak ketinggalan zaman, begitu katanya. Atau keberanian salah seorang di antara mereka yang menumpahkan pemikiran bahwa lesbi, homoseksual dan pernikahan sesama jenis adalah halal, sebab di mata Tuhan orang dipandang mulia karena takwanya, bukan karena orientasi seksualnya.

Ada lagi mereka yang mengagumi pemikiran Barat sekuler dan menerimanya bulat-bulat tanpa kritik, tetapi getol mengktirik para ulama bahkan menghina para sahabat. Kemaksiatan dalam bentuk ini lebih buruk pengaruhnya dari sekedar mencuri seekor ayam, yang paling-paling bonyok digebukin orang sekampung lalu masuk penjara.

Bagaimana jika seseorang sudah terlanjur menjadi muslim STMJ, alias sholat terus, maksiat jalan? Yang pasti, memilih berhenti jadi muslim adalah keliru (na’udzubillaah). Tetapi terus menjalani lakon sebagai muslim STMJ juga tidak benar.

Yang benar, tanggalkan predikat itu, ganti dengan predikat muslim kaaffah. Meskipun untuk menuju ke arah sana, perlu waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.

Beberapa hal yang mungkin dapat membantu jiwa keluar dari belitan maksiat dan supaya tetap pada ketaatan misalnya dengan bertobat. Taobat merupakan sarana dan fasiltas kemurahan Allah untuk manusia yang tidak mungkin sepi dari kesalahan. Dan Allah tidak pernah menutup pintu maaf untuk ummat yang rindu pada ampunan-Nya meskipun dosanya sundul ke langit. Percayalah, Allah bersama persangkaan hamba kepada-Nya, dan Allah bersamanya ketika dia mengingat-Nya.

Demi Allah, Allah sangat gembira menerima taubat seseorang, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang di suatu tempat yang luas. Barangsiapa mendekat kepada-Nya sejengkal, maka Allah akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Nya sehasta, maka Allah akan mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Nya dengan berjalan, maka Allah akan datang kepadanya dengan berlari. Demikian seperti bunyi riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya.

Kita hanya manusia biasa yang mencoba mengikuti manusia-manusia pilihan Tuhan. Lagi pula, manusia paling istimewa juga pernah menyatakan, bahwa sebaik-baik manusia bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan mereka yang bertaubat dan memperbaiki kesalahan dan dosa-dosanya. Karena itu, tidak ada manusia yang paling sombong selain orang yang selalu merasa benar dan tidak mau bertobat.

Pertobatan harus diiringi dengan penyesalan dan tekad kuat untuk tidak lagi mencicipi kesalahan yang sama dan berulang. Setelah itu, menghiasai diri dengan berbagai kebajikan yang dapat menghapus dan menutupi kesalahan yang lalu-lalu. Tentu, semua kebajikan itu benar-benar dilandasi dengan keikhlasan dan dilakukan dengan benar.

Jangan kira, tarikan magnet maksiat akan berhenti, bahkan bisa jadi semakin menggila. Maka langkah selanjutnya memasang ”alarm” ihsan untuk tetap mengingatkan kita bahwa ada Rakib dan ’Atid yang mengapit di kanan dan kiri. Meskipun mereka tidak nampak, in lam takun taraahu fainnahuu yarook. Mereka mengawasi, mengaudit setiap amal bahkan sekedar lintasan maksud di dalam benak.

Siapapun tidak bisa sendirian melawan kemauan nafsu yang berupaya menjauhkan dirinya dari Allah. Ia butuh teman, maka sebaiknya berkumpul dan bertemanlah dengan orang-orang soleh.

Orang-orang yang bisa menstimulasi berbuatan ma’ruf kepada sahabatnya. Dan mereka yang sabar tanpa pamrih mengingatkan kawulanya jika sudah mulai lagi bermain-main di bibir jurang kemaksiatan.

”Teman” yang paling konsisten memberikan kekuatan untuk tetap menjadi muslim kaaffah adalah Allah (ma’iyah). Dialah satu-satunya zat yang tidak bosan, tidak tidur, tidak lelah, tidak lalai dan tidak marah menuntun setiap manusia yang tengah terasing.

Dengan Do’a dan meminta ma’unah-Nya, adalah wasilah untuk tetap akrab pada-Nya dan setia dalam taat pada-Nya. Allahu a’lam.

Kiamat : Antara Tangisan Dan Seruling

Pernahkah sahabat menemukan hal istimewa dari anak-anak kita? Aku yakin pernah, meskipun varian, intensitas, volume, segmen dan emosi yang berbeda-beda. Dan menyaksikan keistimewaan dalam kepolosan jiwa mereka, inilah yang aku katakan istimewa.

Pernahkah menyaksikan anak-anak kita menangis? Pasti sering. Tapi, apa yang membuat mereka menangis? Pasti pula banyak macam ragamnya.

Di suatu sore, diantara bau keringat sisa lelah mengajar. Debu masih menempel berbaur dengan minyak alami kulit wajahku. Kepenatan masih mencubit-cubit pinggang, punggung dan kedua belah tangan dari mengendalikan bebek besi yang setia mengantar pulang dan pergi mengais rizki. Baru saja kubenamkan bokong di atas kursi plastik, anakku; Rayyan bercerita.

”Ayah, tadi aku nangis”, hi hi hi, lucu. Melihat mimik wajahnya aku tersipu. Ya Tuhaan, aku seperti melihat bayangan wajahku sendiri. Seolah-oleh aku tengah diajak berdialog dengan jiwaku. Rayyan tak ubahnya aku diusianya sekarang. Mirip. Isteriku pernah mengadu padaku, banyak guru SDnya menyebut Rayyan dengan “Abdul Kecil”.

“Nangis? Memang kenapa mas?”. Aku biasa memanggilnya dengan menambah kata mas; mas Rayyan, mengikuti budaya bundanya yang orang Jawa. Memang terdengar agak ganjil. Lazimnya, sebutan mas diakhiri nama dengan vokal o. Mas Parto, mas Joko, mas Tarmo, mas Trisno dan sebagainya. Lha ini, mas Rayyan. Ah biarlah, sing penting pantes.

”Itu, kakak Mikal cerita tentang kiamat. Kakak ceritanya sambil nangis. Aku ikut nangis. Rafi juga nangis”, lhaa..., tiga bocah kecil nangisin soal kiamat. It’s amazing.

”Coba-coba, ceritain lagi, ayah penasaran apanya yang bikin mas Rayyan nangisin kiamat”. Ahaaa ..., tubuhku segar kembali seolah telah mandi. Rasa penatku bagaikan debu menempel di atas batu licin dihempas angin. Buzzzzzzzzzz ...., hilang semua.

Ini adalah golden opportunity meminjam istilahnya bu Neno Warisman. Tokoh yang dulu pernah sempat aku menjadi wali kelas anaknya; Ghiffari Zaka Waly, siswa cerdas yang jarang disadari kecerdasannya oleh gurunya sendiri waktu itu. Golden opportunity adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilepas tanpa memberikan apa-apa kepada mereka. Saatnya mencelup jiwa Rayyan dengan warna celupan Allah melalui pintu kiamat. Aku tak ingin melewatkan tangisan kiamat anakku Rayyan menguap tanpa bekas. Harus. Hanya saja, kadang aku dan kita tidak terlalu peka menangkap golden opportunity yang diciptakan anak-anak kita. Kita sering abai walau tidak terlalu salah karena mungkin energi kita sudah habis diterkam lelah sepanjang waktu.

Eh alaaa, Rayyan berkaca-kaca. Dia benar nangis lagi.

”Habis, aku takut. Ceritanya serem. Kata kakak, nanti langit pecah Yan, bumi bergoyang-goyang. Matahari engga ada sinarnya lagi. Hancur semuanya. Ayah sama bunda berpisah. Aku tidak kenal kakak lagi. Terus kakak nangis, ya aku nangis. Rafi juga nangis”, Aku tersentuh. Hatiku seperti melayang ke alam bawah sadar mengembara diantar oleh tiga anak kecil kelas 1, 2 dan 3 SD.

“Mas Rayyan percaya, Allah sayang pada kita?”, kataku mulai mengarahkan nalarnya. Rayyan mengangguk dan mulutnya mengatakan ya. ”Jika Allah sudah sayang sama mas Rayyan, sayang sama mba Mikal dan Rafi. Sayang pada kita semua, kiamat itu tidak akan menyakiti kita. Kita akan diselamatkan oleh Allah yang menyayangi kita. Oke?”

”Aku ingin di sayang Allah terus”, anakku Rayyan bergumam. Nah ... umpanku dicaploknya. Aku berbinar. Hatiku girang tidak alang kepalang. Ini yang aku tunggu-tunggu.

”Mas, kita semua bisa disayang Allah selamanya. Tetapi agar kita disayang Allah ada syaratnya”, aku pancing lagi ingin tahunya.

”Apa yah syaratnya?”, gooooooool. Aku mendapatkannya.

”Mas Rayyan sudah punya kok syaratnya, cuma masih harus ditambah. Kemarin, mas Rayyan sudah puasa Ramadhan sebulan kurang sehari karena sakit. Mas Rayyan sudah mau ngaji lagi. Allah pasti sayang. Tapi jika mas Rayyan solatnya juga rajin, hmmmm, Allah pasti sayang terus sama mas Rayyan. Tapi jika kita semua tidak mau puasa, tidak mau ngaji, tidak mau solat, Allah juga tidak mau sayang sama kita”. Ya Rabb, semoga ini membekas dalam kalbunya.

Aku senang bisa melukis tauhid di atas kanvas jiwa Rayyan. Harapanku, semoga lukisan iman itu lebih mempertegas syahadat di hadapan Rabbnya saat ia di alam rahim. Dan semoga, lukisan itu akan dibawanya sampai mati, sampai dibangkitkan dan menjadi bekalnya saat kiamat nanti. Aku kira, semua orang tua akan senang melakukannya.

Aku bersyukur masih ada anak yang menangis karena kiamat di zaman ini. Dunia sekarang adalah dunia lawakan, dunia sinteron dan dunia musik serta hiburan. Dunia seperti itu jarang mengajarkan tetesan air mata dan rasa takut pada Tuhan. Bahkan berita tentang kiamatpun diiringi gitar, gendang, perkusi, seruling dan goyangan. Pada akhirnya, berita tentang kiamat yang dihantarkan oleh musik tidak menggerakkan manusia mengingat kuburan, tetapi larut dalam kesyahduan suara seruling dan perkusi serta kesenangan.

Aku sempat melihat di televisi sang raja musik khusyu membawakan lagu kiamat. Tetapi tak ada satupun yang menangis. Bahkan walau dengan malu-malu, masih ada juga yang bergoyang. Tapi mungkin masih nyerempet-nyerempet relevan, sebab nanti di hari kiamat manusia bergoyang seperti mabuk, padahal mereka tidak mabuk. Hiii, serem lagi.

”(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras”.(terjemah QS. Al Hajj [22]: 2)

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.(terjemah QS. Abasa [80]:33-37).

Bagaimana kita tidak tersentak memahami berita dahsyat di atas? Bagaimana mungkin dahsyatnya kiamat dihiburkan dengan seruling, gendang dan perkusi? Sedangkan generasi terbaik ummat ini tidak kering-kering air matanya membayangkan kerasnya yaumul qiyaamah. Astaghfirullah.

Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tak bisa kalian lihat, mendengar apa yang tak kalian dengar, yaitu langit telah retak dan sudah semestinya langit berderak. Di sana tiada suatu tempat untuk empat jemari kecuali telah ada malaikat yang menyungkurkan dahinya bersujud kepada Allah. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian pasti sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian juga tidak akan bersenang-senang dengan istri di tempat tidur, kalian tentu akan keluar ke jalan-jalan untuk memohon perlindungan kepada Allah” lalu mata Abu Dzar pun berlinangan tangis dan berkata: “demi Allah, seandainya bisa, lebih baik aku menjadi pohon saja yang diambil daunnya”(HR Tirmidzi: 2312).

Mikal, Rayyan, Rafi, semoga tangis kalian tidak sia-sia.

La Tahzan, Bunda..

Tadi Ibu diremehkan oleh Tante A… mungkin karena Ibu tidak memiliki banyak harta seperti Tante”. 

Terdengar lirih suara ibu, ada guratan sedih di wajahnya. Bisa kubayangkan betapa sedih hati ibu diperlakukan seperti itu. Sebagai anaknya, aku tak rela ibu tersayang tersakiti hatinya. 

Duhai Bunda, maafkan anakmu ini yang belum bisa membahagiakanmu dengan harta… Kupeluk erat ibu, kuyakinkan dengan sebuah ayat Allah bahwa Janganlah merasa lemah dan jangan pula bersedih hati sesungguhnya derajatmu tinggi, jika kamu orang yang beriman.” Ibu pun tersenyum.

Di sajadahku,ketika bermunajat kepada-Mu kembali kumohon kepada-Mu,”Ya Allah… sayangilah Ayah Bunda, Sayangilah keduanya sebagaimana mereka sangat meyayangiku di waktu aku kecil. Berikan untuk Ayah Bunda kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat nanti… amiin.

Tante A memang hidup bergelimang harta. Ia tinggal di sebuah rumah megah di kawasan elit Jakarta, lengkap dengan barisan mobil mewah di garasinya. Tante A menjabat posisi penting di sebuah perusahaan besar, belum lagi bisnis sampingan lainnya. Terakhir kudengar ia menjalin bisnis dengan seorang pengusaha ternama dengan proyek bernilai miliaran rupiah. 

Di antara seluruh keluarga kami, kulihat Tante mendapat perlakuansangat istimewa, Ia menjadi orang VVIP dalam setiap acara keluarga. Kedatangannya begitu dinanti-nantikan, hidangan istimewa kegemaran Tante selalu tersaji untuknya.

Aku sendiri ikut bahagia dengan kesuksesan Tante. Aku menghormatinya, tapi tidak berlebihan. Harta benda yang kita miliki di dunia ini toh hanya titipan Allah semata, setiap saat Allah bisa memintanya kembali, dan Allah akan meminta pertanggungjawaban kita , dari mana kita memperoleh harta tersebut, dan bagaimana kita menafkahkannya.

Milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang MahaKaya, Maha Terpuji (Q.S Luqman :26.). Semua milik Allah… Segala harta benda yang kita miliki, kecantikan, ketampanan, ilmu pengetahuan , dan diri kitapun milik Allah, akan kembali kepada Nya… Lalu apa yang bisa kita banggakan? masihkah kita membanggakan dan menyombongkan diri?

Kenyataannya memang masih banyak orang yang silau harta. Mereka menganggap orang ‘besar’ adalah orang yang berharta banyak. Orang berharta begitu sangat dihormati dan dipuja-puji, tanpa dilihat lagi ahlak yang dimiliki… 

Tak ingatkah mereka kisah Qarun dan Fir’aun? Jika harta menjadi penentu derajat seseorang, apakah lantas Qarun dan Fir’aun juga merupakan ‘orang besar’? Mereka justru orang berharta yang celaka dibinasakan oleh Allah. Qarun beserta hartanya dibenamkan Allah ke dalam bumi, dan Fir’aun ditenggelamkan di Laut Merah.

Penentu derajat seseorang bukan harta, bukan pula jabatan… berharta dan berkuasa tapi tak beriman pastilah binasa seperti Qarun dan Fir’aun. Banyak contoh lain, dari negeri kita sendiri. Orang yang dulunya kita anggap ‘besar’ ,namun ternyata pada akhirnya harus menghabiskan masa hidupnya di penjara, karena mereka ternyata tidak amanah, memakan uang rakyat yang sama sekali bukan haknya. 

Kehidupan mereka berakhir tragis di penjara, ditambah lagi hujatan masyarakat. Bagaimana dengan kehidupan alam kubur dan kehidupan akhirat mereka? Mungkin lebih mengerikan…

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya pasti Kami berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah disana apa yang telah mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa yang mereka kerjakan ( Q.S Hud 15-16).

Wallohu a’laam bishshowaab.

Kemulianmu di Rumahmu

“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur (untuk berhubungan suami-istri), kemudian ia tidak memenuhi panggilannya, melainkan Dia yang ada di atas langit (Allah), akan murka kepadanya, hingga suaminya itu rida kepadanya “ (HR.Muslim)

Hadits itu disebutkan dosen fiqh beberapa minggu lalu ketika membahas tentang hak-hak suami istri. Beliau menjelaskan (dalam bahasa Arab yang artinya kurang lebih):

“Jadi, seorang istri wajib untuk memenuhi panggilan suaminya selama ia tidak memiliki udzur (seperti sakit, haid dan perkara lainnya yang dibolehkan syariat). Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa sekalipun ia (si istri) sudah di atas hewan tunggangannya, maka ia wajib memenuhi panggilan suaminya. Makanya kalau si istri sudah sampai airpot mau naik pesawat yang berangkat ke Amerika, misalnya, lalu suaminya menelepon, ‘Saya ingin ‘sesuatu’ sama kamu, ‘ maka itu wajib dipenuhi. “

Kami tertawa, merasa geli dengan contoh yang beliau berikan. Beliau memang sering menyebutkan contoh yang menggelitik (menurut kami) ketika mengajar.

“Karena itu, seorang istri harus memperhatikan hak-hak suaminya. Memperhatikan rumah dan anak-anaknya, karena itu merupakan tanggung jawabnya. Jangan sampai ia sibuk di luar rumah sehingga terbengkalailah hak suami, “ ujar beliau. “Dan jangan pula si suami sibuk bekerja di luar, ia juga sibuk di luar, lantas siapa yang akan membimbing anak-anak? Apakah mau diserahkan kepada pembantu? Sedangkan pembantu zaman sekarang kebanyakan mereka fasik, tidak mengerti agama. “

Beliau lalu berkata, “Makanya saya nasehatkan bagi tolibat (para mahasiswi) setelah lulus dari sini tetap mengutamakan dan memperhatikan rumah (keluarga) dibandingkan mengajar. “

Mendengar itu saya jadi penasaran. “Ustadz, kalau begitu, apakah tolibat memilliki tanggung jawab dakwah di luar (rumah)? " tanya saya.

Beliau menjawab, “Tidak, Urusan terkait dakwah (di luar) itu, ada di pundak kaum pria, bukan wanita. 

Makanya di kalangan salafussaleh dulu tak ada wanita yang keliling berdakwah, mengajar kesana-kesini meninggalkan rumahnya. Coba perhatikan Aisyah istri nabi. Beliau berdakwah, tapi itu di rumahnya, bukan di luar. Justru murid-muridnya lah ketika itu yang berdatangan ke rumahnya untuk menimba ilmu. “

Kemudian beliau berkata, “Kalau mengajar sekali atau dua kali seminggu sih, ya masih wajar. Tapi kalau setiap hari keluar, ke sana-sini, menghabiskan banyak waktu di luar, ketika sampai di rumah lalu suaminya ingin ‘bersenang-senang’ dengannya, apa yang akan ia katakan? ‘Ah, capek. ‘ Ini jelas keliru. Menunaikan hak suami itu merupakan kewajibannya. (sedangkan dakwah bukan kewajibannya).“

Saya bertanya lagi untuk lebih jelas, “Jadi, sebenarnya tanggung jawab dakwah kepada para wanita dan ummahat itu asalnya ada di tangan kaum pria? “

Beliau menjawab, “Ya, kewajiban mendidik para istri dan ummahat, itu asalnya ada pada para suami. Tapi kalau mereka (para suami) tidak bisa dan tidak memiliki ilmu untuk mengajarkannya, barulah itu diserahkan pada orang lain yang mumpuni. Dan kalau keadaannya sudah seperti itu (suami tak bisa mengajarnya), maka tak mengapa ia keluar untuk mempelajari perkara-perkara din yang vital baginya. “

Beliau juga berkata, “Diperbolehkan bagi seorang wanita untuk mengais rezeki di luar rumahnya, kalau ia memang memiliki hajat untuk itu, seperti membantu perekonomian keluarga yang tidak bisa dipenuhi suaminya, “

Kemudian menerangkan, “Akan tetapi, asalnya ia harus selalu memperhatikan urusan rumahnya dan tidak disibukkan dengan perkara di luar. Makanya dalam syariat, hanya pria yang diperintahkan untuk melakukan amalan yang banyak melibatkan fisik di luar seperti jihad, shalat berjamaah, dan lain-lain, sedangkan wanita tidak. “

Beliau menjelaskan lebih lanjut, “Dengan tidak diperintahkannya wanita melakukan amalan di luar, bukan berarti wanita tidak mendapatkan keutamaan apa-apa, mereka bisa pula menandingi amalan kaum pria. 

Disebutkan dalam suatu hadits, ‘Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. ‘ perhatikanlah keutamaan yang besar ini bagi wanita. “

Terima kasih ustadz, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas ilmu yang kau ajarkan. Ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami.

Aduhai, seandainya saja para muslimah mendengar nasehatmu, ya ustadz, tentu itu akan bermanfaat untuk mereka, insya Allah.

Seandainya saja para muslimah menyadari keagungan hak-hak suami mereka tentu mereka tak akan melalaikannya karena alasan apapun, termasuk juga karena dakwah.

“Seandainya saja aku diperbolehkan memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya. “ (HR. Tirmidzi)

“Lihatlah kedudukanmu di sisi suamimu, karena ia adalah surga dan nerakamu. “ (HR. Nasai)

Seandainya saja mereka menginsafi kalau anak-anak itu harta berharga yang membutuhkan perhatian dan bimbingan intensif, tentulah mereka tak akan membiarkan anak-anak mereka kebingungan memilih dan menjalani orientasi kehidupan mereka sehari-hari.

“Bila meninggal anak Adam, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya. “ (HR.Muslim)

Seandainya saja mereka mengetahui bahwa melalui tangan-tangan telaten merekalah, Allah akan memunculkan para pejuang umat yang akan membebaskan Al-Quds dari kaum yang dimurkai Allah, mengusir penjajah kafir dari Irak dan Afganistan, melepaskan penderitaan orang-orang yang terzalimi di Chechnya dan di berbagai belahan bumi Allah lainnya, niscaya mereka tak akan menyianyiakan dan menelantarkan aset berharga itu.

Ah, seandainya saja mereka mengetahui bahwa kemuliaan dan kehormatan mereka itu ada di dalam rumah, niscaya mereka tak akan meninggalkannya karena alasan apapun dan karena siapapun, kecuali sekedarnya saja.

Surat Untukmu Nak, “Engkau Adalah Harapan”

Untuk calon anakku yang belum tahu dari rahim wanita mana engkau akan lahir dan melihat dunia, nak kutulis surat ini kepadamu agar engkau tahu bahwa aku juga seperti calon ibumu yang mungkin juga merindukan kehadiranmu, insya Allah.

Nak, besar harapan ayahmu ini kepadamu, agar kelak bila engkau hadir di dunia mampu mengetarkan istana kesyirikan dan tiran yang telah menindas Umat Islam, di manapun mereka berada. Melawan mereka dengan teman atau sendirian, walau engkau harus menebus itu semua dengan kematian.

Nak, walau nantinya ayahmu ini tidak mampu memberikan kasih-sayang seperti ibumu berikan, tapi yakinlah semua yang ayah lakukan adalah agar engkau mendapatkan yang terbaik, agar engkau menjadi manusia seutuhnya.

Nak bila engkau telah hadir di dunia, ayah ingin mengatakan kepadamu seperti Luqman Hakim menasehati anaknya yang di abadikan oleh Allah SWT dalam kalamNya yang suci. Ku tulis lagi nak kata-kata Luqman kepada anaknya agar engkau bisa mengambil pelajaran darinya, agar engkau meneladani mereka yang namanya telah melambung tinggi ke langit dan mengharumkan diri dengan keteladanan.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah). Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar’.”

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui’.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Nak, mungkin kata-kata di atas yang dapat ayahmu berikan kepadamu, karena ayahmu ini tidak punya dunia dan tahta untuk diwariskan kepadamu kelak, namun ayah yakin bila engkau meneladani perkataan Luqman Hakim kepada anaknya, semua bangsa-bangsa akan tunduk di bawah kakimu dan dunia dalam gengaman tanganmu, tapi ayah berharap bukan itu tujuan hidupmu, ada tujuan yang lebih mulia daripada kenikmatan dunia yaitu kampung surga yang kekal abadi dan bertetangga bersama Rasulmu kelak di sana.

Itu saja nak harapan ayah kepadamu, mungkin terlalu berlebihan dan berat bagimu, tapi ayah yakin setiap manusia pasti berproses dalam menuju kesempurnaan walau harus mengorbankan semua yang dimiliki dan dicintai, dan ayah yakin engkau bisa melaluinya bila ikhlas hanya mengharap wajahNya yang mulia.

Mungkin untuk hal-hal yang lain ibumu lebih tahu daripada ayahmu ini, karena bagaimanapun jua, ayah tidak bisa setiap waktu ada di sampingmu dan menemani dalam melewati hari-harimu di dunia, ada yang membuat ayah akan selalu di luar rumah hingga intensitas pertemuan kita mungkin tak sebesar engkau bersama ibumu.

Satu lagi nak, bila suatu saat ada sesuatu terjadi pada ayah, engkau harus tabah, jaga ibumu dengan baik, taati dia dan jangan buat dia bersedih. Dan bila ayah tidak kembali ke rumah untuk selamanya itu bukan karena ayah tidak hirau dengan ibumu dan engkau tapi ini adalah panggilan yang ayah sudah berjanji bila masa itu telah tiba tidak akan menunda walau sedetikpun dalam menyambutnya.

Semoga pertemuan kita dipercepat oleh Allah SWT, agar Rasulullah SAW membanggakan ayah kelak karena punya banyak keturunan yang patuh dengan sunnahnya tanpa ada pertanyaan dan bantahan.

Dan surat yang amat sangat sederhana ini ayah tulis untukmu agar kelak bila engkau membacanya agar tahu betapa ayah sangat mencintaimu dan banyak berharap kepadamu.

Dari ayahmu yang sangat ingin melihat engkau kelak menjadi pejuang yang tegar di jalan tauhid dan jihad.