Kamis, 26 Mei 2011

Baca Koran dan Al-Qur'an

quran 
Kalau engkau membaca novel seperti itu kelihatannya asyik sekali" kata paman Mokdul kepada keponakannya

"ya..memang ini hobi saya yang utama Paman"

"mampu berapa halaman setiap hari kamu membaca buku semacam itu?"

"rata-rata seratus halaman"

"kalau koran berapa halaman?"

"enambelas halaman, tapi luas halamannya delapan kali buku novel seperti ini"

"kalau al-Quran atau kitab tafsir engkau membiasakan membaca berapa halaman setiap hari?"

"belum tentu berapa halaman, kadang kadang setiap minggu kalau ditotal sekitar sepuluh halaman"

"bagaimana bisa terjadi seperti itu?"

"maksud paman?"

"kalau novel atau surat kabar setiap hari kaubaca berpuluh puluh halaman, sedangkan Al-Quran hanya kaubaca satu seperempat halaman"

"baca novel dan surat kabar itu kan penting"

"yah itu juga penting, tapi jangan sampai meninggalkan baca Al-Quran"

"baca Al-Quran itu kan tidak wajib , Paman. bahkan baca al-Quran dalam shalat pun hanya sunnah. tidak apa-apa toh kalau saya tidak baca?"

"itu dikarenakan kau telah terperangkap oleh pemikiran wajib dan sunnah. Kau terjebak pemikiran fiqhiyah. Membaca Al-Quran bukan soal wajib atau sunnah. Baca Al-Quran itu sebagai tanda cinta kepada Allah. Siapa yang ingin berbicara dengan Allah, hendaklah membaca Al-Quran. bagaimana engkau kan bisa beramah tamah dengan Allah di akhirat kelak kalau ketika hidup di dunia tak sering berdialog dengannya?

Terimakasih, Kau Ijinkan Ku Menghamba-Mu

sujud 
Ilahi…

Pada tiap warna, ada pesona  indahMu
kepedulian yang menyapa,  terselimuti perhatianMu
perhatian nan meneduhkan, ada sapa hangat Mu
tiap cinta menyentuh, kurasakan lembutnya  kasih sayangMu

kala bantuan tiba, pertolonganMu-lah hakikatnya
segenggam infak,   kekayaanMu-lah semata
di  tiap maaf,  semoga ampunanMu menyerta.
tiap langkahku, menyerah pada kekuasaanMu jua

Ilahi…

Atas setiap huruf dalam kitab cahayaMu..
sudahkah hamba
berterimakasih?

Ijin yang Kau berikan untuk bersujud kepadaMu..
manalah mungkin cukup,
terimakasihku, Ilahi...

Pula nikmat yang Kau  berikan pada setiap takbir..
bagaimana ku kan dapat,
mensyukurinya…

Kesadaran bahwa tiap jengkal di langit dan bumiMu
selalu dalam iring kekuasaanMu..
Ya Rahaamaarahimiin…
sumber kekuatan tiada hingga,
yang hingga hari ini
sanggup menegakkanku
menapaki hidup ini…
Alhamdulillaah..

Tidak akan pernah cukup
Syukur kami padaMu

Tidak akan pernah…
Meski hanya mendekati,
Sebiji zarrah saja
kasih dan cintaMu

Ilahi,

Bagaimana hamba mampu berterimakasih
Kau pilih kami menjadi hamba Mu ?
Kau beri hak untuk bersujud pada Mu
Kau tuntun dalam cahaya, iman pada Mu

Ilahi,

Kuatkan jiwa ini
agar tiap gerak, menuju padaMu
tiap nafas, terhembus di jalanMu
tiap saat, berpakaian ridhoMu

Kumohon,  Kau titipkan padaku..
pertolongan untuk hamba Mu yang lain…
sebagai cara, terimakasihku pada Mu
insya Allah..

Terimakasih Allah,
Kau perbolehkan kami,
menjadi hambaMu

Nazar Si Pelit

Dunia maya adalah tempatku menjemput rizki dan memperkaya hati, insya Allah. Menjemput rizki lewat jualan tiket pesawat terbang online dan rental mobil. Sedang memperkaya hati lewat browsing artikel di google maupun lewat catatan dan status-status.


Suatu  malam, aku berkenalan dengan sahabat baru yang statusnya sungguh menghibur hatiku yang lelah. Hampir  semua statusnya jejaring tetangga itu kuberi jempol! Hingga aku sampai pada status ini :


Allah memberi rizki dgn takaran. Adalah gampang bagi-Nya memberikan gelimangan kekayaan bagi kita, namun sebelum memintanya...periksa, apakah dalam hati kita ada "sifat Qorun" yg terselip di sana. Sehingga, jangan sampai semakin banyak nikmat akan melahirkan banyak maksiat. Rabb...ajari kami bersyukur kepada-MU.


Kutahan jempolku untuk status di atas. Dalam persepsiku, sifat Qorun itu kan identik dengan pelit dan tamak. Rasa-rasanya, insya Allah aku sudah berusaha memerangi sifat Qorunku. Apakah benar diriku yang, rasa-rasanya, sedang dalam masa-masa ‘penuh perjuangan’ ini menyimpan bibit-bibit Qorun? Iyakah?


Jam 21.00. Aku pergi dari komputer untuk pergi ke ATM. Maklum, walaupun sms banking ku sudah aktif, saldo ATM  cuma sekitar  rp. 95.000, padahal aku harus issued tiket Garuda seharga  rp.1.069.000.


Inilah tantangan bisnis modal tekad dan semangat, terpaksa nodong pelanggan supaya transfer awal waktu, walau dengan berat hati. Terlambat transfer ke Garuda, harga bisa naik tak kira-kira. Apalagi proses pengajuanku sebagai sub agen resmi Garuda belum selesai. Alhasil, kalau ada customer order Garuda aku masih harus memprosesnya lewat layanan call-centre biasa. Saat ini, keuntungan nomer dua, mencari pelanggan yang jadi nomer satu!


Batas waktu pemesanan tiket Garuda malam itu pukul 21.30. Pukul 21.15 aku sudah bersiap di ATM dekat rumahku. Kupacu motor meski gerimis, tak kuhiraukan protes tenggorokanku yang sedang meradang. Sampai di sana, dengan harap-harap cemas aku cek saldo berulangkali. Yang tertera masih saja rp. 95.000. Pasrah.


Akhirnya aku pulang. Segera kutelepon lagi call centre Garuda untuk booking ulang atas nama pelangganku. Alhamdulillah, masih ada satu tempat duduk di kelas yang sama. Tapi batas waktu pemesanan kali ini pukul 01.00 dinihari. Tepat pukul 01.00, tempat duduk yang ku-booking otomatis dibatalkan. Sungguh tak mungkin minta pelangganku transfer pada dini hari seperti ini. Jadi kusetel weker jam 00.45. Aku tak boleh terlambat booking ulang pukul 01.01. jam satu pagi lewat satu menit.


Tidur tak tenang, takut keblabasan. Begitu weker berdering, sempoyongan aku menuju telepon seraya mata lekat menatap jam dinding. Tepat satu menit selepas pukul satu, kupencet nomor  Garuda.


Please Allah, semoga kursiku belum diambil orang..” pintaku padaNya sambil menunggu telepon tersambung.


Mas Coki, petugas bersuara ramah yang membantuku entri data saat itu, tentu tak menyadari dag dig dugnya jantungku di ujung telepon.


“Maaf Bu, cuma tersisa satu seat, itupun di kelas Y di harga rp. 1.980.000”


Hilang seketika kantukku. Cuma hatiku, nyeri… sekali. Selisih hampir 950.000 dengan harga awal yang sudah disetujui pelangganku! Ada dua pilihan, satu : mengaku terus terang apa yang terjadi pada pelanggankuku, dengan resiko ia kapok transaksi denganku. Pilihan kedua: mengganti selisih harga itu. Tapi, dengan uang apa? ATM  saja cuma rp.95.000!


Lunglai rasanya tubuhku. Tapi…


“Sebentar, Bu,” kata Coki lagi, “rasanya…”


“Ya Allah,” ujar hatiku spontan, “kalau Engkau mudahkan aku mendapat tiket promo itu kembali, malam ini hamba mau tahajud yang lamaaa, sujud yang lamaaa….”


Aku sendiri kaget mendengar ucapanku. Bisikan yang keluar begitu saja tanpa dapat kuhentikan, tak urung membuatku terhenyak juga, malu.


“Nilai tahajudmu cuma kurang dari sejuta? Astaghfirullah… memangnya yang butuh tahajud panjang kamu apa Allah?”


Kepingin menangis rasanya. Kali ini bukan karena harga tiket yang sudah naik, tapi karena malu hati yang mendera. Dengan segala kasih sayangNya, untuk sujud panjang bersyukur saja harus dipaksa oleh insiden remeh seperti ini.


Sementara Coki browsing harga, peristiwa tiga tahun lalu di Balikpapan sekonyong-konyong terputar kembali di mata hatiku.


Kami sedang di pengajian. Ustadzah itu mempersilakan kami untuk bertanya apa saja


Tanyaku, “Bu, kenapa ya Rasulullah bilang di “Sesungguhnya nadzar hanyalah berfungsi agar orang yang pelit beramal mau untuk beramal.” Kalau pelit, kenapa nazar itu diperbolehkan ya Bu, sama Allah?”


Aku sendiri waktu itu belum pernah bernazar, cuma memang hobiku, bertanya apa-apa yang aku belum paham benar.


Ustadzahku dengan senyum manisnya menjawab, “Ya pelit dong, masa untuk beramal baik saja harus bernazar..”


Jawaban yang benar, tapi entah kenapa belum memuaskan hati dan akal primitifku.


Jawaban  konkretnya kini diberikan Allah di hadapanku, dengan diriku sebagai tokoh pelitnya.


Padahal bukan kebiasaanku, bernazar seperti itu. Tapi justru muncul secara jujur dari hati terdalamku ketika keadaan memaksa, berarti inilah sebenarnya diriku apa adanya.


Teringat status temanku, yang tak kuberi jempol tadi. Padahal, ternyata  aku memang menyimpan bibit Qorun itu..

. . . . .

Terimakasih teman, sudah mengingatkan.  Astaghfirullah Al Adzim. La haula wala quwwata illa billaaah. Semoga Allah tak marah, karena pelajarannya lagi-lagi sungguh indah.


“Bu, “ Coki berkata dari ujung telepon di sana, “Ternyata masih ada satu seat promo kelas R, harganya rp. 1.069.000. Confirm, Bu?”


Allah… rasanya suaraku bergetar ketika menjawabnya.

Pelajaran Dari Sang Kakek Pemulung

Pemulung-cicisilent-posterous 
Suatu sore, aku berjalan santai menuju toserba untuk membeli keperluan mingguan. Apa-apa yang akan kubeli sudah kurencanakan. Hari itu tanggal tua. Bagi anak kost sepertiku, itu berarti harus hemat dan cermat, apalagi isi dompetku tinggal dua puluh ribu rupiah.

Tiba di toserba, ekor mataku sempat melirik seorang kakek tua yang tengah mengais-ngais sampah. Wajahnya berkerut, pakaiannya lusuh, seraya memanggul sebuah karung besar berisi plastik dan botol bekas. Ya, ia seorang pemulung. Tapi perhatianku tak lebih dari itu, akupun melengang masuk ke toserba.

Usai membeli semua kebutuhan, akupun beranjak ke kasir. Saat itulah aku melihat kakek tadi masuk ke toserba, lengannya menggamit seorang anak yang pakaiannya tak kalah lusuh. Penasaran, aku mencuri dengar percakapan si Kakek dengan anak kecil itu.

“Nak, kamu masih sekolah,?tanya kakek itu

“ masih,”
anak itu menjawab singkat.

“kelas berapa
?” tanya si kakek lagi sambil tersenyum

“kelas dua sd,”
jawab anak itu datar

Sang kakek kembali tersenyum, lalu bertanya,  “berapa ukuran sepatumu?” sambil melihat kearah kaki anak itu.  

“37 kek, ada apa?”, si anak mulai penasaran

“Yuk kita kesana”
ajak kakek itu sambil menuntunnya kearah tempat sepatu.

Mendengar percakapan itu, aku membatalkan untuk ke kasir dan beralih untuk mengikuti kakek itu.

“Nak, pilihlah sepatu kesukaanmu”
pinta kakek itu pada sang anak

“tidak usah kek” jawab anak itu.

“Kenapa? Sepatumu masih bagus??” Tanya kakek itu dengan senyum.

“………..” anak itu terdiam.

Kamu suka yang ini?” dengan menunjukan sepatu yang dipilih sang kakek. 

Anak itu hanya mengangguk, bertanda setuju dengan sebuah senyuman tergurat di bibirnya. 

Ya sudah, yang ini saja ya..” ujar kakek sambil membawa sepatu itu.

Tadinya aku pikir hanya sampai disini, ternyata tidak, kakek itu mengajaknya ke tempat makanan. Aku kembali mengikutinya, dengan pura-pura berbelanja.

“Ayo, ambil saja yang kamu suka” ajak kakek itu. 

Sang anak dengan wajah agak ragu, berjalan dan mengambil roti yang berukuran kecil. 

ini saja, Kek” jawab anak itu 

“kok yang kecil, ayo ambil saja yang besar, kakek yang bayar kok, kamu tenang aja”
 
“tidak usah kek” jawab anak itu. 

Tanpa bicara kakek itu mengambil roti yang berukuran besar dan memasukannya kedalam keranjang. 

yang ini, ya?” pinta kakek itu dengan tersenyum. 

“terima kasih, Kek” jawab anak itu dengan tersenyum pula. 

Singkat cerita, sang kakek mengambil makanan kecil lainnya, mie instant serta beras untuk anak itu.

Aku mengikuti kakek itu sampai ke kasir danmengantri di belakangnya. Kulihat ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Kulihat kakek itu mengeluarkan uang limapuluh ribu selembar dan beberapa puluhan ribu.  Usai membayar, ia memberikan seluruh belanjaan tadi kepada si anak. Melihat keadaan sang kakek dan jumlah yang ia belanjakan, aku menduga si anak adalah cucu atau kerabatnya.
 Usai membayar di kasir, aku kembali mengikuti kakek itu.

Di luar aku melihat pemandangan yang lagi-lagi mengharukan. Si anak tadi berterima kasih pada kakek itu dengan airmata mengalir di kedua pipinya seraya mencium tangan keriput si kakek. Anak itupun lalu pergi meninggalkan sang kakek.
Dengan sangat penasaran, kudatangi kakek itu.

“Assalamu’alaikum, Kek..” ucapku memulai pembicaraan.

“Wa’alaikumsalam Nak, ada apa ya..?” jawab kakek itu.

“Nggak ada apa-apa, saya cuma ingin bicara dengan kakek saja, boleh minta waktunya kek?” pintaku.

“oh boleh, silahkan, mau bicara apa Nak.?.” jawab sang kakek sambil menurunkan karung yang dibawanya.

“engga kok Kek, hmm.. tadi saya perhatikan Kakek membawa seorang anak kecil, ya..? dia cucu atau anak Kakek?” Tanya ku.

“bukan, Nak,” jawab kakek itu.

“kita duduk saja ya Kek, tidak enak jika berdiri,” kataku sambil duduk di lantai depan toserba itu, kakek itupun mengikuti.

“hmm.. begitu ya.., jika bukan anak, tadi siapa Kek?” Tanyaku lagi

“Namanya Rian, kakek juga baru kenal tadi. Kakek perhatiin anak itu dari kemarin. Rupanya anak sekecil itu sudah jadi tulang punggung keluarganya,

“Rian cerita, ayahnya sudah meninggal waktu  dia umur 5 tahun, setelah itu dia hidup bersama ibu dan seorang adik perempuannya yang berusia 3 tahun. Namun adiknya kini telah diangkat anak oleh tetangganya. Kakek sering melihatnya mengamen di angkot sendirian.. Ya.. tadi kebetulan saja kakek bertemu dengannya dan dia cerita banyak tentang kondisinya.” Jelas kakek itu

“terus tadi Kakek membelikan semua untuk Rian..??” , tanyaku memastikan

“Iya , Nak.. mungkin hanya itu yang bisa kakek berikan..”

Tertegun aku mendengarnya. Seorang kakek yang sehari-harinya jadi pemulung dengan pendapatan tidak seberapa, mampu memberikan senyuman yang luar biasa bagi anak itu. Membelanjakan uang yang tentu tak sedikit baginya, untuk seorang anak yang baru dikenalnya.

Tanpa terasa airmata mengalir di pipiku,

“kenapa nak? Ada yang salah dari ucapan kakek?” ,tanya kakek itu mengagetkanku..

“tidak kek saya hanya terharu.. jujur, saya malu, Kek..” jawabku sambil cepat-cepat mengusap airmata.

“lelaki itu tidak boleh mengangis, Nak..”kata kakek itu sambil menepuk punggungku..

“oya, kek, kita lupa berkenalan, nama saya Adit, Kek, nama Kakek siapa?” tanyaku

“nama kakek Poniman, tapi orang-orang biasa panggil kake mbah pon..” jawab
kakek itu..

Aku tersenyum kecil, dan entah kenapa orang ini semakin membuatku penasaran..
“Kakek tinggal dimana..?”, aku kembali bertanya

“kakek tinggal dimana-mana, Nak, kadang bermalam di pinggir jalan, kadang di masjid, kadang di emperan toko..”

“Kakek disini sendirian? Memang keluarga Kakek kemana?” tanyaku kembali

“keluarga kakek ada di jawa, namun tahun kemarin istri kakek meninggal, dan anak-anak kakek entah tinggal dimana, mereka semua ikut suaminya. Anak kakek yang lelaki merantau di Sumatra sana, dan sampai sekarang kakek tidak tahu kabarnya..

Ya. Jadi kakek tinggal disini sendirian, makanya waktu ketemu si rian, kakek anggap dia cucu kakek..” jawab kakek itu dengan mata yang berkaca..

Obrolan pun berlanjut. Aku bertanya banyak tentang kakek itu dan menceritakan pula tentang diriku..

****

Subhanallah. Hatiku tak henti menangis mengingat pelajaran luar biasa yang aku dapat dari kakek ini. 

Aku sangat malu…ketika semua orang acuh pada anak itu dan mungkin pada anak anak lain yang senasib dengannya, justru ternyata seorang pemulung seperti kakek mbah pon lah yang lebih peduli, dan mampu memberikan sesuatu yang luar biasa disaat dia sendiri pasti sangat membutuhkannya..

Bila aku di posisi Mbah Pon… Ah, mungkin aku takkan pernah terpikir untuk melakukannya. Mungkin aku terlampau egois untuk memikirkan kebutuhan orang lain.

Ada satu kalimat yang tak bisa aku lupakan dari mbah pon, “HANYA ITU YANG BISA KAKEK BERIKAN..” bukankah itu berarti Mbah Pon memberikan segala yang dia miliki untuk anak itu, tanpa memikirkan dirinya sendiri?

Sungguh sangat berbeda ketika aku berkata “hanya itu yang bisa aku berikan,” mungkin yang aku berikan hanya sebagian kecil dari yang ku punya, memperturutkan logika matematikaku akan ketersediaan uang di dompet.

Alhamdulillah, terima kasih, Mbah Pon, kau memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang arti memberi. Tak kusangka, pelajaran ini datang dari sosokmu yang seorang pemulung… yang setiap harinya berjibaku dengan kemiskinan dan kerja keras…

Rahmati hidup beliau, ya Allah…

Yang Paling Jauh Dan Yang Paling Dekat

Imam Al Ghazali ulama besar yang meninggal pada tahun 1111 Masehi, pada suatu majelisnya bertanya 6 hal dengan pertanyaan sederhana namun mendalam.
Apa yang paling jauh?
Apa yang paling dekat?
Kelihatannya pertanyaan ini seperti tebak-tebakan, tapi sebenarnya bukan.

Pertanyaan pertama, apa yang paling jauh? Tentu bukan tempat, benda langit atau lainnya. Tapi menurut Al Ghazali, yang paling jauh yaitu masa lalu. Kok bisa masa lalu? Ya iyalah. Kan masa lalu, meskipun sedetik yang lalu jika sudah berlalu kita tidak akan pernah bisa menuju ke sana. Jika ukuran jauh karena jarak, pasti kita masih bisa menuju ke sana. Masa lalu tidak akan bisa (entah nanti, bisa seperti di Doraemon dengan mesin waktunya).

Apa pesan yang ingin disampaikan oleh Al Ghazali? Jawabannya adalah waktu. Jangan pernah sia-siakan waktu karena jika sudah berlalu tidak akan pernah bisa diraih lagi. Imam Ali r.a pernah berucap “harta yang luput hari ini masih bisa saya raih besok, tapi waktu yang berlalu hari ini takkan bisa diraih lagi sampai kapanpun”. Rasulullah juga mengingatkan kita “ ada dua hal yang sering diabaikan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang”. Apalagi Allah melalui Al Qur’an yang menyeru “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati dalam kesabaran”.

Pertanyaan kedua, apa yang paling dekat? Tentu bukan tempat duduk atau urat leher. Kata Al Ghazali yang paling dekat adalah kematian. Kok bisa kematian? Salah satu hal yang misterius dalam kehidupan kita yaitu kematian. Tak ada yang tahu kapan ajalnya tiba. Ada yang usianya pendek, banyak juga yang sedang dan panjang. Begitu misteriusnya, tak bisa diukur jaraknya. Dia pasti datang dan tidak ada yang bisa lari darinya. Jadi dia sangat dekat. Aji Massaid yang gagah, atletis, senang berolahraga, ternyata kematian juga dekat dengannya sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan “tenang aja, kematian masih jauh dariku, aku kan masih muda sehat dan gagah pula”.

Apa nasehat dari pertanyaan kedua ini? Mari selalu ingat mati. Semoga dengan mengingat mati kita menjadi semangat menjalani kehidupan. Semangat karena kita yakin dunia ini akan kita tinggalkan. Jika kelak memang kita tinggalkan, kita ingin dikenang sebagai orang yang baik, bukan orang yang buruk. Kemudian dengan mengingat mati, kita jadi semakin rindu dan cinta pada Allah. Rindu ingin bertemu dengan Allah dengan mempersembahkan yang terbaik pada-Nya. Wajar saja jika Rasulullah pernah berucap” orang yang paling cerdas yaitu mereka yang ingat mati”. Cerdas dalam bersikap, berpikir dan berbuat karena semua diperhitungkan jangka panjang dunia dan akhirat. Sehingga menjadi manusia yang berhati-hati jika berjalan di daerah yang terjal dan curam penuh godaan maksiat. Tetapi semangat bergerak cepat saat di jalan tol kebaikan memberi manfaat sebanyak-banyaknya agar dapat menjadi manusia terbaik.