Senin, 06 Juni 2011

Persahabatan

Bismillahirrahmannirahiim

TERUNTUK
Sahabat, Teman,
Kawan, Bisa juga
[Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Om,Tante, Kakak, Adik,
Guru, Dosen, Ustadz, Teman seperjalanan,
Teman duduk, Teman Ta’lim,Teman Belajar,
Teman Facebook, De el el]

Hmmm……
Bagaimana aku memulainya ya>>>>?
Hmm siapkah teman sejati engkau……?
Apakah ia selalu ada di sisi engkau…….?
Apa yang ia berikan kepada engkau…..?

Tak perlu dijawab saat ini, aku akan memberikan
Sedikit [BENER_BENER SEDIKIT] dari apa yang terlintas
Dari apa yang di berikan ustadz-ustadz [BERHARAP…]

“Sungguh Engkau (Muhammad), seorang yang berbudi pekerti luhur.” (Qs. Al Qolam: 4)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

“Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara” (Ali Imron : 103)
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Al Hujrat : 10 )

Memilih Teman Yang Baik

Teman memiliki pengaruh yang besar sekali. Rasulullah bersabda,
“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Makna hadits di atas adalah seseorang akan berbicara dan ber-perilaku seperti kebiasaan kawannya. Karena itu beliau Shalallaahu alaihi wasalam mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita harus kenali kualitas beragama dan akhlak kawan kita. Bila ia seorang yang shalih, ia boleh kita temani. Sebaliknya, bila ia seorang yang buruk akhlaknya dan suka melanggar ajaran agama, kita harus menjauhinya.

Cinta Karena Allah

Persahabatan yang paling agung adalah persahabatan yang dijalin di jalan Allah dan karena Allah, bukan untuk mendapatkan manfaat dunia, materi, jabatan atau sejenisnya. Persahabatan yang dijalin untuk saling mendapatkan keuntungan duniawi sifatnya sangat sementara. Bila keuntungan tersebut telah sirna, maka persahabatan pun putus.
Berbeda dengan persahabatan yang dijalin karena Allah, tidak ada tujuan apa pun dalam persahabatan mereka, selain untuk mendapatkan ridha Allah. Orang yang semacam inilah yang kelak pada Hari Kiamat akan mendapat janji Allah. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
“Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku.” (HR. Muslim)
Dari Mu’adz bin Jabalzia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad).
Mencintainya seperti mencintai dirinya sendiri

Dari Anas ra, dari Nabi `Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda; tidak beriman seorang di antara kalian hingga mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya (HR al-Bukhari)

Lemah Lembut dan Bermuka Manis

Paling tidak, saat bertemu dengan teman hendaknya kita selalu dalam keadaan wajah berseri-seri dan menyungging senyum. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
“Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun, meski hanya dengan menjum-pai saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Dalam sebuah hadis riwayat Aisyah Radhiallaahu anha disebutkan, bahwasanya “Allah mencintai kelemah-lembutan dalam segala sesuatu.” (HR. al-Bukhari). Dalam hadis lain riwayat Muslim disebutkan “Bahwa Allah itu Maha Lemah-Lembut, senang kepada kelembut-an. Ia memberikan kepada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada kekerasan, juga tidak diberikan kepada selainnya.”

Saling Memberi Nasihat
Dalam Islam, prinsip menolong teman adalah bukan berdasar permintaan dan keinginan hawa nafsu teman. Tetapi prinsip menolong teman adalah keinginan untuk menunjukkan dan memberi kebaikan, menjelaskan kebenaran dan tidak menipu serta berbasa-basi dengan mereka dalam urusan agama Allah. Termasuk di dalamnya adalah amar ma’ruf nahi mungkar, meskipun bertentangan dengan keinginan teman.

Adapun mengikuti kemauan teman yang keliru dengan alasan solidaritas, atau berbasa-basi dengan mereka atas nama persahabatan, supaya mereka tidak lari dan meninggalkan kita, maka yang demikian ini bukanlah tuntunan Islam.

Seorang muslim adalah cermin saudara muslim lainnya. Jika salah seorang muslim melihat saudaranya berbuat baik, ia memberi semangat agar terus meningkatkan amal kebaikannya. Akan tetapi jika ia melihat saudaranya mengerjakan sesuatu yang kurang sempurna, ia akan menasihatinya dengan cara yang baik - secara diam-diam - dan menganjurkan agar ia bertaubat kepada Allah untuk kembali ke petunjuk Dinul Haq.

Rasulullah `Shallallahu ‘alaihi wa salam membaiat para sahabat dengan nasihat yang ikhlas semata-mata karena Allah agar mereka menjadi da’i yang ikhlas, penunjuk jalan yang baik, dan menjadi mujahid dakwah, di manapun mereka berada dan kemana pun mereka berjalan.

Sekuat-kuat ikatan iman adalah bersahabat karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas Ra)
Terhadap orang yang jelas-jelas membangkang syariat Allah atau orang-orang muslim yang murtad maka bagi mereka putus semua hubungan.

Hal ini merupakan pelaksanaan pengarahan Al-Quran, meskipun yang murtad itu ayah, saudara, atau anak sendiri.

“Kamu tidak akan mendapat satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka….” Qs. Al-Mujadilah:22
“Hai orang-orang beriman, janganlah engkau jadikan bapak-bapak, dan saudara-saudaramu menjadi walimu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali maka mereka itulah orang-orang yang zalim” Qs. At-Taubah:23

Islam menempatkan ikatan ukhuwah islamiyah di atas semua ikatan, dan menempatkan persaudaraan aqidah Rabbaniyah berada di atas segala persaudaraan. Oleh karena itu, prinsip Islam yang tetap dan tidak berubah-ubah adlah “Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah bersaudara”

Berlapang Dada dan Berbaik Sangka

Salah satu sifat utama penebar kedamaian dan perekat ikatan persaudaraan adalah lapang dada. Orang yang berlapang dada adalah orang yang pandai memahami berbagai keadaan dan sikap orang lain, baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Ia tidak membalas kejahatan dan kezhaliman dengan kejahatan dan kezhaliman yang sejenis, juga tidak iri dan dengki kepada orang lain. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,

“Seorang mukmin itu tidak punya siasat untuk kejahatan dan selalu (berakhlak) mulia, sedang orang yang fajir (tukang maksiat) adalah orang yang bersiasat untuk kejahatan dan buruk akhlaknya.” (HR. HR. Tirmidzi, Al-Albani berkata “hasan”)

Karena itu Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mengajarkan agar kita berdo’a dengan:

“Dan lucutilah kedengkian dalam hati- ku.” (HR. Abu Daud, Al-Albani berkata ’shahih’)

Termasuk bumbu pergaulan dan persaudaraan adalah berbaik sangka kepada sesama teman, yaitu selalu berfikir positif dan memaknai setiap sikap dan ucapan orang lain dengan persepsi dan gambaran yang baik, tidak ditafsirkan negatif. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, ,,,
“Jauhilah oleh kalian berburuk sangka, karena buruk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta” (HR.Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan berburuk sangka di sini adalah dugaan yang tanpa dasar.

Menjaga Rahasia
Setiap orang punya rahasia. Biasa-nya, rahasia itu disampaikan kepada teman terdekat atau yang dipercayainya. Anas Radhiallaahu anhu pernah diberi tahu tentang suatu rahasia oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Anas Radhiallaahu anhu berkata, ”

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam merahasiakan kepadaku suatu rahasia. Saya tidak menceritakan tentang rahasia itu kepada seorang pun setelah beliau (wafat). Ummu Sulaim pernah menanyakannya, tetapi aku tidak memberitahukannya.” (HR. Al-Bukhari).

Teman dan saudara sejati adalah teman yang bisa menjaga rahasia temannya. Orang yang membeberkan rahasia temannya adalah seorang pengkhianat terhadap amanat. Berkhia-nat terhadap amanat adalah termasuk salah satu sifat orang munafik.

Mendo’akannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal.


Dari Ummu ad-Darda’, ia berkata, tuanku pernah menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Rasulullah `Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, barangsiapa berdo’a kepada saudaranya dengan tanpa diketahuinya, maka malaikat yang ditugasi untuk mengabulkan do’a akan berkata, Amin (semoga dikabulkan) dan bagimu yang sepertinya juga (HR Muslim)

Jumat, 27 Mei 2011

Karena Ada Allah di Hatiku

Celoteh anakku terus berlanjut.  Dan aku pun masih tertarik untuk terus mencatatnya.

Dia masih tertarik dengan tema Kiamat, Surga, Neraka dan Padang Mahsyar. Berkali-kali aku bersyukur mendapat kesempatan emas saat dia begitu penasaran dengan hal-hal tersebut. Maklumlah sebagai working mom, kesempatan seperti ini nggak setiap saat bisa didapat kan? So jadilah aku selalu menunggu-nunggu momen indah ini.

Momen di mana balita kami siap berubah menjadi spon (menyerap segala yang kami tumpahkan padanya). Kadang kala momen ini datang dengan sedikit stimulus dariku,  namun tak jarang pula tanpa stimulus sedikit pun kesempatan ini tiba-tiba hadir di depan mata.

Seperti hari Sabtu lalu. Saat itu aku sedang memandikan Mirza sekaligus adiknya, Jasmine. Tiba-tiba Mirza memulai pembicaraan SERSAN (serius tapi santai) kami.

Mirza : "Bunda, kalau anak yang pemaaf itu nanti kan masuk surga ya bun.."

Bunda : "Insya Allah mas.."

Mirza : "Bunda, aku ingat nih, Nabi Muhammad  itu kan orangnya pemaaf ya bun.."

Bunda : "Betul mas, inget nggak ceritanya gimana? "

Mirza : "Iya, Nabi Muhammad itu kan dulu sering diejek sama orang, bahkan malah diludahi kan bun, tapi waktu orang itu sakit Nabi Muhammad maafin dia, dan dia didoakan biar cepet sembuh trus orang itu jadi malu sama Nabi Muhammad kan bun..?"

Aku takjub dengan daya ingat anakku ini. Cerita tentang Nabi Muhammad ini kusampaikan padanya sudah lamaa sekali, mungkin lebih dari 6 bulan. Dan nggak pernah diulang karena aku lebih sering mengulang cerita tentang Nabi Daud dan Nabi Yunus yang menurut Mirza ceritanya seru banget.

Subhanalloh, betapa Allah telah memberi kelebihan kepada seorang balita dengan daya ingatnya yang melebihi kemampuan orang tua. Ohh, sungguh sayang bila aku tak memanfaatkannya untuk menanamkan nilai-nilai islam dalam dirinya.

Dialog berlanjut.

Bunda : "Subhanalloh, mas Mirza kok inget sih cerita itu? itu kan sudah lama banget bunda ceritanya? "

Mirza : "Bunda, mau tau nggak kenapa aku masih inget cerita Nabi Muhammad?"

Bunda : "Iya, kenapa mas? "

Mirza : "Itu karena di hatiku ada Allah.. , di hati bunda juga ada Allah, di hati Ayah juga ada Allah, di hati semua orang harusnya ada Allah , iya kan bun ?"

Subhanalloh, ya Allah.. Ya Rabbi...jawabannya begitu menggetarkan hati !
Ya Allah, berilah cahaya terang di hatinya, tetapkan namaMu agar terus melekat di hatinya hingga kelak anakku dewasa. Amin Ya Rabb.....

(EduMuslim.org)

Tantrum

Definisi literalnya kemarahan, kemurkaan. Secara istilah mungkin begini: bagaimana seseorang mengeluarkan amarah yang hebat (untuk mencapai maksudnya). Saya persempit lagi di sini dalam lingkup tantrum balita (dan juga tantrum orang tuanya dalam menghadapi tantrum balitanya). Secara saya sedang punya kesulitan yang cukup menguji kesabaran saya dalam mendampingi si sulung 4,5 tahun.

Entah kapan mulainya sulung kami ini mulai bertantrum ria. Terasa oleh saya sih mulai adeknya lahir. Dan semenjak sulung mulai masuk TK. Tangisannya yang lumayan menjengkelkan tanpa jeda, ck bener-bener awet. Istiqamah banget sulung menangis sampai tercapai keinginannya. Hmmh, ego yang luar biasa. Saya masih menganggap itu wajar karena masa perkembangan balita memang demikian adanya. Terutama mulai umur 2 tahun. Sampai umur berapa, itu masih bervariasi. Kemungkinan besar tergantung pada bagaimana orang-tua atau pendampingnya (care taker/custody) memberikan treatmen terhadap tantrum balita ini.

Terus terang, kalau saya lagi capek fisik atau pun lagi futur ruhiyah, tantrum balita ini bener-bener membuat ‘monster’ dalam diri saya bangun. Jadi, saat si monster ini kemudian mengambil alih kendali hati terhadap semua indera saya, dia mulai mengancam sulung. Bahwa kalau sulung ga berhenti dari rengekannya, dia akan mencubitnya, atau memukulnya (tentu saja dia ga bakalan membunuhnya, kurasa). Apakah itu menghasilkan keberhasilan? Apakah ancaman-ancaman itu membuat sulung menghentikan terornya? Saya yakin Anda sudah tahu jawabannya. Tentu saja tidak. Sebaliknya, sulung makin memperkeras volume jeritannya. Oh My God! Mercy me! Allah tolong kasihani saya. Batin saya.

Memang luar biasa proses yang terjadi dalam diri saya saat itu. Di saat si monster menggerung marah dan melontarkan kata-kata yang tak cukup bijak, kata-kata yang tak diedit, sisi lain hati saya berteriak memberi peringatan. Sabar Bunda! Dia cuma seorang anak kecil. Masih 4,5 tahun. Dia bahkan ga tau mana yang benar dan mana yang salah. Jangan harapkan dia bersikap kayak kita yang udah dewasa. Maha Suci Allah yang menciptakan nafsu lawwamah pada diri manusia untuk bisa mengingatkan diri sendiri saat berbuat kesalahan.

Saya benar-benar menyadari, bahkan saat si monster lebih memegang kendali, bahwa balita memang butuh selalu diingatkan, diarahkan tentang mana yang benar, mana yang salah. Jangankan yang balita, yang dewasa saja masih harus sering diingatkan.

Tapi terkadang saya bener-bener ga bisa menahan diri lagi. Benarlah sabda Rasulullah saw. setelah perang Badar pada para sahabat, bahwa jihad yang terbesar adalah jihad melawan diri sendiri. Acap kali saya kalah melawan diri saya sendiri. Terutama dalam menundukkan kemarahan, si monster dalam diri saya. Ha ha. Saya jadi ingat suatu masa lalu, sahabat dekat saya mengatakan bahwa muka saya kalau lagi marah bener-bener kayak hantu. Mungkin lebih tepatnya kayak setan ya. Ya, saya pernah sangat marah padanya sampai gemetar badan dan suara saya saat kemarahan itu mencapai ambang batasnya. Tak heran, seseorang bisa sampai bener-bener kerasukan/kesurupan. Kondisi dimana dia tidak punya kendali apapun terhadap dirinya sendiri. Tak ingat lagi siapa dirinya. Na’udzu billahi min dzaalik. Semoga kita terlindung dari yang demikian.

Energi kemarahan kadang membuat saya takjub. Besar sekali. Sering saya coba mengalihkan energi itu pada hal lain, misal mencuci piring dan alat dapur kotor yang menggunung. Subhanallah. Bisa selesai dalam waktu yang sangat singkat. Atau untuk membuka tutup galon air minum. Dalam kondisi normal saya akan memerlukan alat bantu, misalnya pisau, untuk mengoyak tutup plastik yang cukup tebal itu. Subhanallah, jika sedang marah saya sanggup menyentakkan tutup itu tanpa pisau. Dan hanya sekali sentak, langsung lepas. Bukan berarti saya menyukai kondisi hati saya saat marah sih.

Sekedar untuk mengilustrasikan besarnya energi marah itu saja. Jadi, jangan heran jika seseorang bahkan bisa melukai bahkan membunuh jiwa lain saat dia marah. Bila sudah gelap mata, tak bisa lagi akal sehatnya mengukur kekuatannya. Seseorang bahkan bisa membanting barang berat hingga hancur lebur. Atau dia bisa meninju pintu sampai pintu itu jebol. Apakah kondisi itu sangat familier? Jangan-jangan saya sedang membicarakan kemarahan Anda ya? Ha ha. Tak perlu malu lah. Ini sangat manusiawi. Tapi tentu saja, sebagai manusia kita diberikan panduan/tuntunan bagaimana untuk mengendalikan monster dalam diri kita ini. Beruntung kita punya Pencipta Yang Maha Pemurah, juga Penyayang. Dia mengutuskan seseorang untuk bisa memandu manusia mencapai kondisi terbaik dalam dirinya. Self control.

Tentang tantrum balita, saya tahu sekali bahwa sebenarnya saya jauh lebih beruntung dari mereka yang tantrum balitanya lebih dashyat. Pernah saya melihat balita nangis dan menggelosorkan badannya di Mall. Berteriak-teriak dan menendang-nendang ngga karuan membuat muka ibunya merah padam.

Sulung saya pun lebih over tantrumnya saat ada orang lain. Apakah itu ayahnya, atau kakek-neneknya atau orang lain di luar lingkar keluarga besar. Hanya saja, tantrumnya, alhamdulillah, tidak sampai secara fisik banget seperti balita di Mall tadi. Hanya tangis dan rengekannya jauh lebih keras dan lebih awet.

Lalu, bagaimana solusinya? Membentak dan mencubit atau memukul tentu bukan pilihan jika kita memilih ikut panduan/tuntunan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Saya yakin, haqqul yakin, Rasulullah saw tak sekalipun membentak balita. Kita pasti pernah merasakan diri kita mencapai versi terlembut saat hati kita tersentuh oleh suatu hal. Tapi lebih sulit mempertahankan si lembut itu saat si monster muncul, rasanya.

Solusi yang ditawarkan dalam panduan/tuntunan kita antara lain: berlindung pada Yang Maha Kuat dari kemarahan yang ditiupkan setan pada kita, berlindung dari provokasi setan yang merindu-dendam agar bisa membawa kita ke kerak jahannam.

Apa lagi? Saya membayangkan setan pun bisa terluka, bisa berdarah, tapi tentu dengan cara-cara yang syathoni lah. Dan bacaan Al-Qur’an bisa benar-benar melukai dan membuat setan berdarah-darah, dan meninggalkan kita, lari terbirit-birit dari sumber bacaan Al-Qur’an. Ayat kursiy, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas memang terkenal sebagai ajian pelindung dari setan, tentu saja dengan cara membacanya dengan penghayatan, bukan dengan tulisan atau fotokopian yang disimpang di dompet, atau ikat pinggang, atau dipajang di atas pintu rumah. Kalau dipajang gitu, apakah maksudnya setan disuruh untuk baca sendiri? Geli saya jadinya. Sudah pasti setan ga mau berhenti sebentar untuk baca Al-Qur’an kan.

Nah, apa lagi tuntunan untuk meredakan atau melibas sama sekali si monster dalam diri kita? Tahukah Anda, bahwa kemarahan adalah juga sebuah dosa? Bukan dosa besar memang. Tapi kalau dosa kecil ini bertumpuk-tumpuk? Bukankah akan jadi dosa yang lumayan berat? Jadi, baik sekali seandainya kita berusaha beristighfar, memohon ampun pada Yang Maha Pengampun, agar dosa-dosa kecil ini dihapus dari kita, sekaligus mengingatkan diri sendiri agar bisa menekan atau membunuh sama sekali si monster ini, seandainya mungkin.

Tuntunan lainnya lagi antara lain: Mengubah posisi badan. Jika tadinya berdiri, berusahalah untuk duduk. Jika masih terasa marah, berusaha rebah. Jika masih marah lagi, sebaiknya berwudhu’ dan shalat.

Yang sering terjadi, saat si monster muncul, kita sering terlanjur marah dan lupa untuk sekedar berlindung dari setan yang meniup-niupi dada kita. Lawan! Berusaha untuk ingat pada Allah, minta perlindungannya dari setan, dari diri kita sendiri.

Itu kira-kira solusi untuk tantrum orang tua yang menghadapi tantrum balitanya. Lalu, bagaimana mengarahkan tantrum balitanya sendiri? Hmmm, karena saya sendiri juga sedang learning by doing it, saya hanya bisa memberika alternatif yang memungkinkan, bagi saya terutama

Pernah nonton Nanny 911 di Metro TV? Sabtu, jam setengah lima sore kalau tak salah. Sering dicontohkan bagaimana sang Nanny menjinakkan tantrum balita-balita dalam keluarga-keluarga yang kesulitan dalam menangani balita mereka. Saya pun kadang habis akal memikirkan caranya sampai saya melihat cara-cara sang Nanny.

Pada dasarnya, dia akan membiarkan si balita meluapkan tantrumnya dulu. Berusaha mengajaknya bicara, kalau memungkinkan. Jika terlalu berontak dan balita mengganggu atau menyakiti orang tua atau saudaranya yang lain, maka Nanny akan menghukumnya. Menyuruhnya duduk di kursi hukuman. Hanya duduk saja di sana sampai dia diam dan bisa diajak bicara. Sering kali balita (atau anak seusia SD) berontak melarikan diri, tapi hanya untuk didudukkan lagi di kursi itu. Dan hal ini bisa butuh waktu banyak. Bisa belasan kali sampai si balita/anak menyerah, duduk diam di kursi itu. Wah, hanya menceritakannya saja, saya harus menarik napas dalam-dalam Baru setelah itu si balita/anak diajak bicara baik-baik, tanpa menyalahkan. Kita juga harus mendengarkan apa yang membuat dia kesal/marah/sedih. Kadang anak belum tahu emosi apa yang dia rasakan itu. Makanya kita perlu mengenalkan pada anak jenis-jenis emosi.

Memang bukan latihan yang gampang untuk bisa membantu anak melewati masa-masa penuh tantrum ini. Tapi bukankah memang itu tujuan Allah memberikan amanah ini pada kita? Selamat menikmati proses segala macam tantrum, dari balita, anak, remaja, hingga dewasa. Good luck

Hilangnya Hafalan Al Qur’an Karena Musik

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kitaMuhammad, keluarga dan  sahabatnya.

Kisah ini adalah kisah berharga yang kami tujukan bagi para penghafal Al Qur’an. Terserah ia adalah penghafal qur’an yang kaamil (sempurna), atau hanya 10 juz, 5 juz atau bahkan beberapa surat saja.

Ia adalah seorang yang Allah telah beri nikmat untuk menghafalkan Al Qur’an sejak kecil. Ia sudah menghafalkannya dengan tertancap mantap di dalam hati. Sampai katanya, ia tidak pernah melupakan satu ayat pun dalam bacaannya dan hafalannya. Dan ini sudah dikenal oleh guru dan orang-orang sekitarnya.

Suatu waktu, ia berpindah ke negeri lain untuk bekerja. Di sana ia tinggal bersama beberapa orang ikhwan dan sahabatnya. Beberapa hari berlalu, beberapa temannya menyetel kaset yang berisi lagu-lagu sehingga ia pun mendengarnya. Pada awalnya, ia enggan memperhatikan musik tersebut. Bahkan ia sendiri menasehati teman-temannya akan terlarangnya musik. Namun apa yang terjadi beberapa waktu kemudian? Perlahan-lahan, ia terbuai dengan musik. Bahkan ia pun mendengar bagaimana senandung indah dari musik tersebut. Ia dan teman-temannya sampai-sampai mendengarkan musik tersebut sepanjang malam hingga datang fajar.

Hal di atas berlangsung selama tiga bulan lamanya. Setelah itu, ia kembali ke negerinya. Suatu saat ia shalat. Setelah membaca Al Fatihah, ia membaca surat lainnya. Apa yang terjadi? Ketika itu ia tidak mampu melanjutkan bacaan selanjutnya dari surat tersebut. Ia pun mengulanginya lagi setelah itu, ia pun tidak bisa melanjutkannya. Hingga ia menyempurnakan shalatnya. Setelah itu ia membuka mushaf Al Qur’an Al Karim dan mengulangi ayat yang tadi ia membaca. Ia pun mengulangi bacaan ayat tadi dalam beberapa shalat. Yang ia dapati seperti itulah. Setiap kali ia mengulangi hafalannya, ternyata sudah banyak ayat yang terlupa.

Setelah itu ia pun merenung. Ia memikirkan bagaimanakah dulu ia adalah orang yang telah hafal qura’an dengan begitu mantap. Namun sekarang banyak yang terlupa. Ia pun akhirnya menangis tersedu-sedu. Ia kemudian menunduk pada Allah sambil menangis. Ia menyesali dosa, segala kekurangan dan kelalaian yang ia lakukan. Ia betul-betul menyesali bagaimana bisa lalai dari amanat Al Qur’an yang telah ia emban. Ia pun akhirnya menjauh dari sahabat-sahabatnya tadi. Ia kembali mengulang hafalan Qur’annya siang dan malam dalam waktu yang lama. Ia pun meninggalkan musik. Ia akhirnya benar-benar bertaubat pada Allah. Namun usaha dia untuk mengulangi hafalan saat itu lebih keras dari sebelumnya

Benarlah kata penyair Arab:
Jika engkau diberi nikmat, perhatikanlah
Ingatlah bahwasanya maksiat benar-benar menghilangkan nikmat.
Perhatikanlah untuk selalu taat pada Rabb Al Baroyaa
Karena Rabb Al Baroyaa itu amat pedih siksa-Nya.

Benarlah kata Imam Asy Syafi’i:
Aku pernah mengadukan pada Waki’ tentang buruknya hafalaku
Maka ia pun menunjukiku untuk meninggalkan maksiat
Ia mengabarkan padaku bahwa ilmu adalah cahaya
Cahaya Allah tidak mungkin ditujukan pada orang yhang bermaksiat.

Benar pula kata Ibnul Qayyim:
“Sungguh nyanyian dapat memalingkan hati seseorang dari memahami, merenungkan dan mengamalkan isi Al Qur’an. Ingatlah, Al Qur’an dan nyanyian selamanya tidaklah mungkin bersatu dalam satu hati karena keduanya itu saling bertolak belakang. Al Quran melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu, Al Qur’an memerintahkan kita untuk menjaga kehormatan diri dan menjauhi berbagai bentuk syahwat yang menggoda jiwa. Al Qur’an memerintahkan untuk menjauhi sebab-sebab seseorang melenceng dari kebenaran dan melarang mengikuti langkah-langkah setan. Sedangkan nyanyian memerintahkan pada hal-hal yang kontra (berlawanan) dengan hal-hal tadi.”

Semoga jadi renungan berharga bagi kita semua, pecinta Al Qur’an dan yang ingin menghafalkannya secara sempurna atau sebagiannya. 
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Aku Milik Allah

Tenggelamkanlah aku ke dalam cintaMu,
Kerana aku tidak sanggup menduakannya,
telah berkali-kali Engkau menegurku,
berkali-kali juga aku mengabaikannya

Tenggelamkanlah aku ke dalam cintaMu,
kerana aku tahu betapa pahitnya cinta dunia,
Dunia yang penuh dusta tiada cahaya,
terus kan memesongi daku kearah kegelapan

Tenggelamkanlah aku dalam cintaMu,
kerana itulah sebenar-benar cinta,
Ingin sekali aku menggapai nur kasihMu,
Yang tidak pernah padam dalam mengingati aku.

Tenggelamkanlah aku dalam cintaMu,
kerana tidak sekali ku akan lemas tertewas,
dengan cinta dunia yang ternyata,
mencuri setiap hela nafasku terhadapMu.      
Ya Allah, janganlah KAU uji aku dengan sesuatu yang tak mampu aku tempuhi, dan andainya KAU berikan aku ujian, maka kelompokkan bersama ujian itu kekuatan untuk ku tempuhinya"" Ya Allah, jadikanlah daku manusia yang bermanfaat kepada manusia yang lain" .