Selasa, 05 Juli 2011

~::*AKU INGIN MERAIH SURGA BERSAMAMU*::~

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Memakai jilbab, untuk saat ini dan di negara ini, bukanlah berarti sebuah pengilmuan akan agama. Dulu aku pernah beranggapan bahwa seorang yang memakai jilbab adalah orang yang akan berusaha mempertahankan jilbabnya disebabkan proses pemakaian jilbab itu sendiri membutuhkan pergulatan di hati yang membuncah-buncah dan penuh derai air mata. Tapi sayangnya, makin bertambah usiaku, maka berubah pula anggapan itu disebabkan berbagai kenyataan yang kutemui.

Aku baru menyadari ada sebagian wanita yang menggunakan jilbab hanya karena sekedar disuruh atau diwajibkan oleh orang tua, tempat belajar atau tempatnya bekerja. Jika telah keluar dari ‘aturan’ itu, maka lepas pula jilbab yang menutupi kepalanya. Mungkin karena itulah kain-kain itu tidak menutup secara benar kepala dan dada mereka.

Sebagian lagi, memakai jilbab karena pada saat itu, jilbab terasa pas untuk dipakai dan lebih menimbulkan kesan ‘gaya’ dan kereligiusan agama. Apalagi jika diberi pernak-pernik di sana-sini.
Jilbab yang seharusnya menutup keindahan wanita tersebut malah justru menambah keindahan itu sendiri.
Ditambah lagi kesan agamis yang terasa nyaman di hati.

Aku juga pernah berpikir dan bertanya-tanya, bahwa orang-orang memakai cadar dan berjilbab lebar apakah tidak kepanasan dengan seluruh atributnya? Apakah tidak repot jika hendak keluar dimana mereka harus memakai seluruh kain panjang tersebut?
Mulai dari baju, jilbab yang lebar, masih harus ditambah memakai kaus kaki! Ah! Dan di balik jilbab itu, ternyata masih ada jilbab lagi! Dan… apakah mereka bisa melihat dari balik cadar yang menutup matanya?

Untuk yang satu ini, waktu tidak cukup untuk menjawab semua pertanyaan itu. Karena butuh pengetahuan lain yang merasuk ke dalam hati untuk mendapatkan jawabannya. Pengetahuan akan indahnya Islam dengan segala pengaturan yang diberikan oleh Allah.

Pengetahuan akan surga yang begitu indah dan damai dengan segala kenikmatannya. Pengetahuan bahwa surga tidak akan tercium oleh wanita yang mengumbar-umbar aurat di depan khalayak. Pengetahuan bahwa penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita. Ternyata kerepotan itu bukanlah kerepotan, melainkan sebuah usaha. Usaha dari seorang wanita muslimah untuk menggapai surga-Nya. Untuk bersanding dengan suaminya ditemani dengan bidadari cantik lainnya.

Panas dari jilbab itu bukanlah rasa panas yang menyesakkan pikiran dan dada. Akan tetapi hanya sepercik penguji jiwa yang dapat meluruhkan dosa-dosa kecil dari seorang insan wanita. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap kesusahan yang dialami muslim merupakan peluruh bagi dosa-dosanya.

Maka… hatiku kini pedih… Ketika kemarin melihat saudariku yang lain, seiring dengan berjalannya waktu, kini telah membuka jilbabnya. Sempat kutanyakan, “Di mana jilbabnya?”

Ia menjawab, “Tidak sempat kupakai.”

Aih… waktu kutanyakan itu, memang pada saat dimana orang-orang sibuk menyelamatkan dirinya dikarenakan bencana alam. Aku hanya terdiam mendengar jawaban itu. Ah… mungkin karena sangat terkejutnya sehingga tidak sempat berbalik lagi untuk mengambil jilbab.

Tapi hari ini… kutemukan dia sudah menanggalkan jilbabnya. Bahkan tak tersisa sedikitpun jejak bahwa ia pernah memakai jilbab. Kini ia telah bercelana pendek dengan pakaian yang pendek pula. Sesak rasanya dada ini.
Tetapi belum ada daya dari diriku untuk bertanya lagi tentang sebuah kain yang menutupi kepala dan dadanya. Masih tersisa di benakku, jika seseorang yang menggunakan jilbab melepas jilbabnya… maka habislah sudah… karena perenungan dan pergulatan hati itu kini telah dikalahkan oleh hawa nafsu. Perenungan yang pernah mendapatkan kemenangan dengan dikenakannya jilbab itu kini justru bahkan tak mau diingat. Hanya kepada Allah-lah aku mengadu dan memohonkan hidayah itu agar tetap ada bersamaku dan kembali ditunjukkan kepadanya.

Saudariku… kuingin meraih surga bersamamu. Maka, saat ini aku hanya bisa berdoa.
Semoga kita bertemu di surga kelak… Insya Allah.

Ya akhi, cintailah istrimu !



Ada sepasang suami istri mendatangi seorang ustad yang dikenal sangat bijak dalam menuntaskan perkara umat.

Ustad, tolong bantu kami ustad !! Kami sudah menikah selama 20 tahun, lama-kelamaan rasa cinta itu mulai hilang, kini kami sudah tidak saling mencintai, ustad !  Tolong beri kami solusi ?

Ya akhi, cintailah istrimu ! Jawab ustad itu singkat.

Sang suami merasa bingung, justru itulah masalahnya, maka ia mulai mengulangi pertanyaannya :  

ustad, kami sudah menikah selama 20 tahun dan kini kami sudah tidak lagi mencintai ?

Ya akhi, cintailah istrimu !! Jawab ustad itu yang kedua kalinya dengan tegas.

Merasa tidak puas lagi dengan jawabannya, ia bertanya lagi :

tapi ustad, saya sudah tidak lagi mencintai istri saya ?

Ya akhi, cintailah istrimu !!!

Kata cinta bukanlah kata benda dan bukan pula kata sifat yang tiba-tiba ada, Tapi cinta adalah kata kerja !
Kata kerja yang harus dikerjakan, diperjuangkan dan terus-menerus diupayakan !!! Jawabnya tegas.

Seorang yang ingin mendapatkan dan merasakan cinta, ia harus berjuang dan berusaha mencintai.
Bagaimana mungkin cinta itu bisa tumbuh jika tidak pernah ditanam dan bagaimana mungkin bisa berbuah jika tidak pernah dipupuk, dirawat dan dijaga. Seorang yang ingin mendapatkan manisnya cinta harus berjuang hingga cinta itu berbuah.

Sungguh sering dari kita menginginkan cinta tanpa berusaha mencintai terlebih dahulu, ingin di dengar tanpa berusaha untuk mendengar, ingin di hargai tanpa berusaha untuk menghargai.
Siapa yang menanam pastilah dia akan memetiknya.

Hidup ini adalah sebab-akibat, tanpa ada sebab tidak akan ada akibatnya.
Yang harus kita lakukan bukanlah take and give Tapi give and take, berikan maka anda akan mendapatkan.

Karena satu biji yang kita taman, pasti akan Allah beri 700 biji atau lebih, karena Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.

QS. Lukman : 18

Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman “ Sesungguhnya telah ada pada diri rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Asma Allah .”(QS.Al Ahzab :21)

Keteladanan mengandung sebuah konsekuensi apa yang kita sampaikan kepada anak dasarnya tidak cukup dengan kata-kata saja. Kata-kata ini perlu di topang dengan perbuatan atau sikap. Apalagi pola berfikir anak masih sangat sulit untuk diajak mencerna sesuatu yang sangat abstrak. Maka untuk merubah sesuatu yang abstrak di kognisi anak menjadi sesuatu yang nyata diperlukan contoh atau tauladan yang dapat di saksikan anak secara langsung.

Kita tidak adapat membentuk kesadaran anak bahwa shalat lima waktu hukumnya wajib bagi setiap muslim dengan cara memaparkan status hokum, atau akibat logis bila meninggalkan shalat, pengertian surga-neraka, tanpa di barengi bukti nyata bahwa sang ayah juga telah mengerjakan shalat.

Nasehat-nasehat itu akan hilang begitu saja di telan angina . sedangkan tauladan nyata akan tertancap kuat di benak sang anak.

Lalu model tauladan macam apa yang dapat ditampilkan oleh orang tua?
Kita dapat belajar hal ini dari para Nabi dan Rasul Allah. Mereka sengaja di utus oleh Allah sebagai prototype manusia unggul sesuai jamannya masing-masing. Prototipe manusia unggul model para Nabi dan Rasul ini dapat dikupas tuntas dengan mengkaji Al-Qur’an yang mengisahkan bagaimana para Nabi dan Rasul itu membangun tauladan umatnya.

Dengan kata lain, orang tua, pendidik, atau siapapun yang terlibat dalam pendidikan ank, pada dasarnya perlu(wajib) membekali dirinya dengan sikap tauladan dari Nabi dan Rasul Allah. Jika hal ini tidak dilakukan, jangan harap anak akan mengalami pendidikan yang mencerahkan jiwanya. Mereka hanya mendengar kata-akata kosong yang tak berkolerasi dengan akar perbuatan yang kuat.

“Hai orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.”(QS.AL Shaaf : 20)

Sesungguhnya sikap tauladan dari orang tua sangat dibutuhkan anak mengingat lingkungan pertama dan utama yang dijumpai anak adalah pola perilaku ayah-ibunya. Anak memerlukan identifikasi untuk proses perkembangan kepribadiannya. Akan menjdi seperti apa proses identifikasi ini tentu saja dipengaruhi oleh banyak aspek, dan salah satunya ditentukan oleh keteladanan orang tua.

Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya jika Imam Al-Ghazali menasehati para guru agar mengamalkan ilmunya dan tidak mendustakan perkataannya.

Berkaitan dengan masalah ini Al-Ashmu’I mengutip beberapa bait puisi karya Abul Ashwad Al Dauli berikut ini :

“ Hai tokoh yang mendidik orang lain,Mengapa dirimu tak diajari terlebih dahulu?
Kau terangkan penawar bagi pasien dan orang bodoh
Bagaimana mungkin obat menyembuhkannya sadang kamu sendiri sakit?
Kau senantiasa membimbing akal kami, sedang kamu sendiri hidup tak terarah.
Mulailah dengan dirimu dan laranglah dari kesesatan
Jika kamu telah menjauhinya maka kamu menjadi orang bijak.”

Demikan pentingnya tauladan bagi anak-anak kita. Marilah kita geser sedikit saja cara pandang anak-anak. Lalu tataplah diri kita dengan jujur.
Ajukan pertanyaan, apakah selama ini aku telah menjadi tauladan yang baik untuk anak-anakku ?

Semoga Bermanfaat
Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman “ Sesungguhnya telah ada pada diri rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Asma Allah .”(QS.Al Ahzab :21)

Keteladanan mengandung sebuah konsekuensi apa yang kita sampaikan kepada anak dasarnya tidak cukup dengan kata-kata saja. Kata-kata ini perlu di topang dengan perbuatan atau sikap. Apalagi pola berfikir anak masih sangat sulit untuk diajak mencerna sesuatu yang sangat abstrak. Maka untuk merubah sesuatu yang abstrak di kognisi anak menjadi sesuatu yang nyata diperlukan contoh atau tauladan yang dapat di saksikan anak secara langsung.

Kita tidak adapat membentuk kesadaran anak bahwa shalat lima waktu hukumnya wajib bagi setiap muslim dengan cara memaparkan status hokum, atau akibat logis bila meninggalkan shalat, pengertian surga-neraka, tanpa di barengi bukti nyata bahwa sang ayah juga telah mengerjakan shalat.

Nasehat-nasehat itu akan hilang begitu saja di telan angina . sedangkan tauladan nyata akan tertancap kuat di benak sang anak.

Lalu model tauladan macam apa yang dapat ditampilkan oleh orang tua?
Kita dapat belajar hal ini dari para Nabi dan Rasul Allah. Mereka sengaja di utus oleh Allah sebagai prototype manusia unggul sesuai jamannya masing-masing. Prototipe manusia unggul model para Nabi dan Rasul ini dapat dikupas tuntas dengan mengkaji Al-Qur’an yang mengisahkan bagaimana para Nabi dan Rasul itu membangun tauladan umatnya.

Dengan kata lain, orang tua, pendidik, atau siapapun yang terlibat dalam pendidikan ank, pada dasarnya perlu(wajib) membekali dirinya dengan sikap tauladan dari Nabi dan Rasul Allah. Jika hal ini tidak dilakukan, jangan harap anak akan mengalami pendidikan yang mencerahkan jiwanya. Mereka hanya mendengar kata-akata kosong yang tak berkolerasi dengan akar perbuatan yang kuat.

“Hai orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.”(QS.AL Shaaf : 20)

Sesungguhnya sikap tauladan dari orang tua sangat dibutuhkan anak mengingat lingkungan pertama dan utama yang dijumpai anak adalah pola perilaku ayah-ibunya. Anak memerlukan identifikasi untuk proses perkembangan kepribadiannya. Akan menjdi seperti apa proses identifikasi ini tentu saja dipengaruhi oleh banyak aspek, dan salah satunya ditentukan oleh keteladanan orang tua.

Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya jika Imam Al-Ghazali menasehati para guru agar mengamalkan ilmunya dan tidak mendustakan perkataannya.

Berkaitan dengan masalah ini Al-Ashmu’I mengutip beberapa bait puisi karya Abul Ashwad Al Dauli berikut ini :

“ Hai tokoh yang mendidik orang lain,Mengapa dirimu tak diajari terlebih dahulu?
Kau terangkan penawar bagi pasien dan orang bodoh
Bagaimana mungkin obat menyembuhkannya sadang kamu sendiri sakit?
Kau senantiasa membimbing akal kami, sedang kamu sendiri hidup tak terarah.
Mulailah dengan dirimu dan laranglah dari kesesatan
Jika kamu telah menjauhinya maka kamu menjadi orang bijak.”

Demikan pentingnya tauladan bagi anak-anak kita. Marilah kita geser sedikit saja cara pandang anak-anak. Lalu tataplah diri kita dengan jujur.
Ajukan pertanyaan, apakah selama ini aku telah menjadi tauladan yang baik untuk anak-anakku ?

Semoga Bermanfaat

Matinya Hati

“Diantara tanda-tanda matinya hati adalah jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah, dan tidak menyesali perbuatan dosa anda.”

Hati yang mati disebabkan oleh berbagai penyakit kronis yang menimpanya. Manakala hati seseorang tidak sehat, maka hati tentu sedang terserang penyakit-penyakit hati. Penyakit hati itu begitu banyak yang terkumpul dalam organisasi Al-Madzmumat, dengan platform gerakan yang penuh dengan ketercelaan dan kehinaan, seperti takabur, ujub, riya’, hubbuddunya, kufur, syirik, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Ketika sikap-sikap mazmumat ini dihadapan pada kepentingan Allah, maka akan muncul tiga hal:
1. Manusia semakin lari dari Allah, atau
2. dia justru memanfaatkan simbol-simbol Allah untuk kepentingan hawa nafsunya, atau
3. yang terakhir dia dibuka hatinya oleh Allah melalui HidayahNya.

Ibnu Ajibah menyimpulkan dari al-Hikam di atas, bahwa kematian hati (qalbu) karena tiga hal:
1. Mencintai dunia,
2. Alpa dari mengingat Allah,
3. Membiarkan dirinya bergelimang maksiat.

Faktor yang menyebabkan hati hidup, juga ada tiga:
1. Zuhud dari dunia
2. Sibuk dizikrullah
3. Bersahabat dengan Kekasih-kekasih Allah

Tanda-tanda kematian hati juga ada tiga:
1. Jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah.
2. Tidak menyesali dosa-dosanya.
3. Bersahabat dengan manusia-manusia yang lupa pada Allah yang hatinya sudah mati.

Kenapa demikian?

Karena munculnya kepatuhan kepada Allah merupakan tanda kebahagiaan hamba Allah, sedang munculnya hasrat kemaksiatan merupakan tanda kecelakaan hamba.

Apabila hati hidup dengan ma’rifat dan iman maka faktor yang menyiksa hati adalah segala bentuk yang membuat hati menderita berupa kemaksiatan hati kepada Allah.

Yang membuatnya gembira adalah faktor ubudiyah dan kepatuhannya kepada Allah.

Boleh saja anda mengatakan :
Jika seorang hamba Allah bisa taat dan melaksanakan ubudiyah, itulah tanda bahwa hamba mendapat Ridlo Allah. Hati yang hidup senantiasa merasakan Ridlo Allah, lalu bergembira dengan ketaatan padaNya.

Jika seorang hamba Allah bermaksiat kepadaNya, itulah pertanda Allah menurunkan amarahNya.

Hati yang mati tidak merasakan apa-apa, bahkan sentuhan taat dan derita maksiat tidak membuatnya gelisah. Sebagaimana yang dirasakan oleh mayit, tak ada rasa hidup atau rasa mati.

Rasulullah saw, bersabda,
“Orang yang beriman adalah orang yang digembirakan oleh kebajikannya, dan dideritakan oleh kemaksiatannya.”

Soal Respon Terhadap Dosa
Namun, Ibnu Athaillah mengingatkan, agar dosa dan masa lalu, jangan sampai membelenggu hamba Allah, yang menyebabkan sang hamba kehilangan harapan kepada Allah. Karena itu, rasa bersalah yang berlebihan yang terus menerus menghantui hamba harus dibebaskan dari dalam dirinya. Sang hamba harus tetap optimis pada masa depan ruhaninya di depan Allah.

Kebesaran ampunan Allah tidak bisa didilampaui oleh seluruh dosa-dosa hambaNya. Ampunan Allah lebih agung, lebih besar dan lebih kinasih, pada hambaNya yang bertobat. Karena itu Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.”

Oleh sebab itu jangan sampai perbuatan maksiat itu membuat hamba-hamba Allah menjadi Su’udzon kepada Allah.

“Dosa besar apa pun, jangan sampai menghalangi Husnudzon (baik sangka) anda kepada Allah.”

Wacana ini sekaligus mengingatkan kita pada pembuka kitab Al-Hikam,
“Diantara tanda-tanda bergantung atau mengandalkan amal adalah rasa pesimis kepada rahmat Allah ketika sang hamba berbuat dosa.”Jika anda masih mengandalkan amal, bukan mengandalkan Allah, berarti anda akan pesimis jika kesalahan menimpa anda. Padahal kita harus menggantungkan diri pada Allah, mengandalkan Allah, bukan mengandalkan amal. Karena mengandalkan amal, bisa menciptakan rasa arogansi spiritual, dengan merasa paling banyak beramal dan taat, kemudian merasa paling benar, paling dekat dengan Allah.

Dalam soal harapan dan ketakutan, biasanya hamba terbagi menjadi tiga golongan;
1. Golongan pemula, biasanya terliputi oleh rasa khawatir dan takut, dibanding dorongan harapan.
2. Golongan menengah, biasanya seimbang natara harapan dan ketakutannya.
3. Golongan yang sudah sampai kepada Allah, lebih didominasi rasa harapan yang optimis kepada Allah.

Inilah yang tergambar pada saat gurunya Al-Junaid, Sarry as-Saqathy dalam kondisi Maqbudl (terhimpit oleh suasana ruhaninya dalam Genggaman Allah).
“Ada apa gerangan wahai paman?” Tanya Junaid.
“Oh, anakku, ada seorang pemuda datang kepadaku, kemudian bertanya padaku, “Apakah hakikat taubat itu?”.
Aku jawab, “hendaknya engkau tidak melupakan dosa-dosamu…”.
Tapi pemuda itu mengatakan sebaliknya, “Tidak. Tapi justru hendaknya engkau melupakan dosa-dosamu..” Lalu pemuda itu keluar begitu saja.
Kemudian al-Junayd menegaskan, “Ya, menurutku yang benar adalah kata-kata si pemuda tadi. Karena itu jika aku berada di musim panas, lalu mengingat musim dingin, berarti aku berada di musim dingin.”
Pandangan As-Sary, benar, bagi para pemula. Sedangkan pandangan al-Junaid untuk mereka yang sudah sampai kepada Allah.
Bagaimana respon mereka yang mencapai tahap Ma’rifatullah?
“Siapa yang ma’rifat kepada Allah maka semua dosa adalah kecil di sisi KemahamurahanNya.”

Maksudnya, jika kita mengenal sifat dan Asma Allah yang Maha Murah, para hamba akan terus optimis terhadap ampunan Allah, karena tidak ada yang melebihi kebesaran dan keagungan ampunan Allah.

Sampai-sampai Rasul Allah SAW, menegaskan dalam hadits,
“Jika kalian semua berdosa, sampai dosa itu memenuhi langit, kemudian kalian bertobat, Allah pun mengampuni kalian. Jika sudah tidak adalagi hambaNya yang berbuat dosa, lalu datang para hamba Allah yang berbuat dosa, para hamba ini pun memohon ampun kepada Allah, maka Allah juga mengampuni mereka….. Karena sesungguhnya Allah Maha Ampun lagi Mengasihi.”
Namun, seorang hamba tidak boleh terjebak oleh ghurur, dengan alibi, mengabaikan dosa, dan menganggap enteng dosa-dosa itu.

Hal demikian ditegaskan lagi oleh Ibnu Athaillah:
“Tak ada dosa kecil jika anda berhadapan dengan KeadilanNya, dan tak ada dosa besar jika anda berhadapan dengan FadhalNya.”

Hikmah ini harus difahami di dunia ini dengan penafsiran demikian:
Apabila seorang hamba berbuat kepatuhan, ketaatan, ubudiyah, berarti itulah tanda bahwa sang hamba mendapatkan limpahan FadhalNya Allah. Sebaliknya jika sang hamba bermaksiat, menuruti hawa nafsunya, berarti merupakan pertanda bahwa si hamba berhadapan dengan KeadilanNya.

Tak ada yang lebih kita takutkan dibanding kita menghadapi Keadilan Allah, dan tak ada yang lebih dahsyat harapan kita dibanding kita menyongsong Fadhal dan RahmatNya.

Wanita Sebagai Pendidik

 Wanita Pendidik
1. Tidak meremehkan hak Allah (kewajiban beribadah kepada-Nya).
2. Baik bacaan Al-Qurannya dan berusaha menghapalkannya.
3. Hapal dengan baik hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa membantunya dalam urusan agama.
4. Tidak menyia-nyiakan hak suaminya.
5. Tidak menyia-nyiakan hak anaknya.
6. Menghiasi diri dengan akhlak mulia.
7. Menghiasi diri dengan kesabaran.
8. Memiliki kemampuan dalam mengatur waktunya.
9. Mendapatkan izin suaminya untuk keluar mengajar.
10. Tidak ikhtilath (campur baur dengan pria).
11. Patuh dengan busana muslimah.
12. Ikhlas dalam bekerja.
13. .Bertakwa kepada Allah.
14. Berilmu.
15. Bersifat santun dan lembut.
16. Bertanggungjawab.
17. Berpengetahuan dan berwawasan, serta mengetahui masalah-masalah aktual.
18. Berkepribadian tangguh dan berakhlak mulia.

Metode Mengajar dan Mendidik
1. Melakukan pendekatan dengan akhlak yang baik.
2. Senantiasa mengucapkan salam kepada anak didik.
3. Memotivasi mereka untuk selalu shalat tepat waktu.
4. Mengingatkan mereka tentang keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Selalu mengingatkan tentang cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
6. Menceritakan kisah para Nabi a’alihimus salam, shahabat radhiyallahu ‘anhum, dan pahlawan Islam.
7. Mengajarkan rukun islam dan rukun iman.
8. Memberi mereka pelajaran tentang akidah yang benar dan mengingatkan mereka dari akidah yang rusak.
9. Memotivasi untuk menghapal Al-Quran dan mengamalkannya.
10. Memotivasi untuk menghapal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkannya.
11. Mengajarkan perilaku teladan dan akhlak mulia.
12. Menarik perhatian anak didik dan menumbuhkan kerinduannya untuk belajar.
13. Keteladanan.
14. Memotivasi untuk gemar belajar dan mencintai ilmu.
15. Mengajarkan etika berbicara dengan orang lain.
16. Mengajarkan zikir-zikir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
17. Mengingatkan tentang halal dan haram.
18. Melarang bergaul dengan teman yang jelek.
19. Mengajarkan adab islami.
20. Mengajarkan menjaga hak orang lain.
21. Melatih membaca dan menulis secara kontinyu.
22. Memberikan solusi dari permasalahan mereka.
23. Memotivasi untuk tekun belajar, serta menghormati ilmu dan guru.
24. Menganjurkan untuk berpenampilan baik dan bersih.
25. Melarang untuk taklid buta.
26. Menganjurkan untuk berbakti kepada kedua orangtua.
27. Mendidik anak untuk cinta jihad dan keberanian.
28. Mengajarkan anak perempuan hukum khusus yang berkaitan dengan mereka dan hikmah diturunkannya.
29. Menyayangi mereka.
30. Mengajarkan kesabaran.
31. Menganjurkan memberi maaf (jika itu bermanfaat), menahan emosi, dan membalas kejelekan dengan kebaikan.

Metode Mengajar Mata Pelajaran
1. Memulai dengan mengucapkan salam.
2. Memotivasi melalui nasihat ringan.
3. Memulai menjelaskan pelajaran secara berurutan dan sistematis.
4. Pemecahan masalah.
5. Selalu memantau dan mengevaluasi.
6. Menjauhi kata-kata kotor ketika memarahi anak dan tidak memukul wajah.
7. Memperhatikan keadaan murid yang bersalah.
8. Menyampaikan nasihat ringan di akhir pelajaran bila waktu masih tersisa.
9. Berpisah dengan mereka dengan menyampaikan salam.