Rabu, 06 Juli 2011

Azab Bagi Wanita

Seorang kawan ana telah memberi artikel ini kpd ana untuk sampaikan kepada kaum hawa. Apabila ana baca artikel ini,ana takut jika ana berada di tempat salah satu di bawah ini..

Kepada kaum hawa,terlalu byk ujian bagi kaum hawa.Semoga artikel ini bermanfaat buat kamu.

Buat kaum adam,kamu juga pasti tidak mahu orang yang kamu syg menghadapi salah satu siksaan di bawah ini.

Harap artikel ini dapat disampaikan kepada org lain.INSYAALLAH.

khususnya untuk para wanita dan diri sendiri.....
Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah . Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis.

Beliau menjawab, "Pada malam aku di-isra'- kan , aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya."Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantang kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta. Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,"kata Nabi.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

*Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang 'mengotori' tempat tidurnya.

*Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

*Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.


*Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.


*Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalk! annya dan tidak mau mandi junub.

* Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta.. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami.

  "Mendengar itu,Sayidina Ali dan Fat imah Az-Zahra pun turut menangis.

Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.



Hal Sepele Yang Membuat Istri Merasa Disayang

Kebanyakan pria sudah tahu mengenai hal-hal ini, tapi tidak melakukannya karena wanita tidak menyadari betapa penting hal-hal kecil itu bagi wanita. Pria benar-benar yakin bahwa hal-hal kecil itu tidak penting dibandingkan dengan hal-hal besar yang dilakukannya bagi pasangannya.

Pada awal hubungan, pria mungkin melakukan hal-hal kecil itu. Tapi setelah satu-dua kali, ia berhenti. Karena suatu naluri misterius, mereka mulai memusatkan energi untuk melakukan satu hal besar bagi pasangannya. Mereka kemudian lupa melakukan segala hal kecil yang diperlukan agar wanita merasa puas dalam hubungan itu. Untuk memuaskan wanita, pria harus memahami bahwa wanita perlu merasa disayang dan didukung. Lantas, kelakuan pria yang bagaimana agar seorang wanita merasa disayang dan didukung?


Berikut ini John Gray, Ph.D, memaparkannya lewat bukunya Men are from Mars, Women are from Venus.

1. Setibanya di rumah, carilah dia terlebih dahulu sebelum melakukan hal-hal lain, dan peluklah dia.

2. Ajukan pertanyaan-pertanyaan khusus mengenai hari-harinya, yang menunjukkan kesadaran mengenai apa yang ingin dilakukannya (misalnya, “Bagaimana janji konsultasimu dengan dokter itu?”).

3. Berlatihlah mendengarkan dan mengajukan pertanyaan.

4. Tahan godaan untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. Sebaliknya, ikutlah merasakan.

5. Berilah dia perhatian penuh selama 20 menit (jangan membaca Koran atau memperlihatkan hal lain selama waktu tersebut).

6. Bawakan dia bunga-bunga potong sebagai kejutan maupun pada kesempatan-kesempatan istimewa.

7. Rencanakanlah kencan beberapa hari sebelumnya, jangan menunggu sampal malam Sabtu dan bertanya padanya apa yang ingin dilakukannya.

8. Kalau ia biasanya menyiapkan makan malam atau tiba gilirannya, dan tampaknya ia lelah atau sangat sibuk, tawarkanlah untuk menyiapkan makan malam.

9. Pujilah dia atas penampilannya.

10. Hargai perasaan-perasaannya jika ia marah.

11. Tawarkan bantuan padanya bila ia kelelahan.

12. Jadwalkanlah tambahan waktu saat berpergian agar ia tidak perlu tergesa-gesa.

13. Kalau Anda akan pulang terlambat, teleponlah dia dan beritahukan padanya.

14. Jika ia minta dukungan, katakan ya atau tidak tanpa membuatnya merasa bersalah karena meminta dukungan itu.

15. Jika perasaannya terluka, tunjukkan simpati Anda dan katakan padanya “Aku menyesal kau tersinggung.” Kemudian diamlah; biarkan ia merasakan bahwa Anda memahami rasa sakit hatinya. Jangan menawarkan pemecahan atau penjelasan mengapa luka hatinya bukan merupakan kesalahan Anda.

16. Jika Anda merasa harus menarik diri, beritahukanlah padanya bahwa Anda akan kembali. Atau bahwa Anda perlu waktu untuk merenungkan segalanya.

17. Kalau Anda sudah tenang dan muncul kembali, bicarakanlah apa yang merisaukan Anda dengan penuh rasa hormat. Bukan dengan cara menyalahkannya. Agar ia tidak membayangkan yang terburuk.

18. Tawarkanlah untuk membuat api di musim dingin.

19. Bila ia bicara dengan Anda, taruhlah surat kabar atau matikanlah televisi dan berilah dia perhatian Anda sepenuhnya.

20. Kalau ia biasanya mencuci piring, sesekali tawarkanlah bantuan. Terutama bila ia kelelahan hari itu

Selasa, 05 Juli 2011

~::*AKU INGIN MERAIH SURGA BERSAMAMU*::~

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Memakai jilbab, untuk saat ini dan di negara ini, bukanlah berarti sebuah pengilmuan akan agama. Dulu aku pernah beranggapan bahwa seorang yang memakai jilbab adalah orang yang akan berusaha mempertahankan jilbabnya disebabkan proses pemakaian jilbab itu sendiri membutuhkan pergulatan di hati yang membuncah-buncah dan penuh derai air mata. Tapi sayangnya, makin bertambah usiaku, maka berubah pula anggapan itu disebabkan berbagai kenyataan yang kutemui.

Aku baru menyadari ada sebagian wanita yang menggunakan jilbab hanya karena sekedar disuruh atau diwajibkan oleh orang tua, tempat belajar atau tempatnya bekerja. Jika telah keluar dari ‘aturan’ itu, maka lepas pula jilbab yang menutupi kepalanya. Mungkin karena itulah kain-kain itu tidak menutup secara benar kepala dan dada mereka.

Sebagian lagi, memakai jilbab karena pada saat itu, jilbab terasa pas untuk dipakai dan lebih menimbulkan kesan ‘gaya’ dan kereligiusan agama. Apalagi jika diberi pernak-pernik di sana-sini.
Jilbab yang seharusnya menutup keindahan wanita tersebut malah justru menambah keindahan itu sendiri.
Ditambah lagi kesan agamis yang terasa nyaman di hati.

Aku juga pernah berpikir dan bertanya-tanya, bahwa orang-orang memakai cadar dan berjilbab lebar apakah tidak kepanasan dengan seluruh atributnya? Apakah tidak repot jika hendak keluar dimana mereka harus memakai seluruh kain panjang tersebut?
Mulai dari baju, jilbab yang lebar, masih harus ditambah memakai kaus kaki! Ah! Dan di balik jilbab itu, ternyata masih ada jilbab lagi! Dan… apakah mereka bisa melihat dari balik cadar yang menutup matanya?

Untuk yang satu ini, waktu tidak cukup untuk menjawab semua pertanyaan itu. Karena butuh pengetahuan lain yang merasuk ke dalam hati untuk mendapatkan jawabannya. Pengetahuan akan indahnya Islam dengan segala pengaturan yang diberikan oleh Allah.

Pengetahuan akan surga yang begitu indah dan damai dengan segala kenikmatannya. Pengetahuan bahwa surga tidak akan tercium oleh wanita yang mengumbar-umbar aurat di depan khalayak. Pengetahuan bahwa penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita. Ternyata kerepotan itu bukanlah kerepotan, melainkan sebuah usaha. Usaha dari seorang wanita muslimah untuk menggapai surga-Nya. Untuk bersanding dengan suaminya ditemani dengan bidadari cantik lainnya.

Panas dari jilbab itu bukanlah rasa panas yang menyesakkan pikiran dan dada. Akan tetapi hanya sepercik penguji jiwa yang dapat meluruhkan dosa-dosa kecil dari seorang insan wanita. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap kesusahan yang dialami muslim merupakan peluruh bagi dosa-dosanya.

Maka… hatiku kini pedih… Ketika kemarin melihat saudariku yang lain, seiring dengan berjalannya waktu, kini telah membuka jilbabnya. Sempat kutanyakan, “Di mana jilbabnya?”

Ia menjawab, “Tidak sempat kupakai.”

Aih… waktu kutanyakan itu, memang pada saat dimana orang-orang sibuk menyelamatkan dirinya dikarenakan bencana alam. Aku hanya terdiam mendengar jawaban itu. Ah… mungkin karena sangat terkejutnya sehingga tidak sempat berbalik lagi untuk mengambil jilbab.

Tapi hari ini… kutemukan dia sudah menanggalkan jilbabnya. Bahkan tak tersisa sedikitpun jejak bahwa ia pernah memakai jilbab. Kini ia telah bercelana pendek dengan pakaian yang pendek pula. Sesak rasanya dada ini.
Tetapi belum ada daya dari diriku untuk bertanya lagi tentang sebuah kain yang menutupi kepala dan dadanya. Masih tersisa di benakku, jika seseorang yang menggunakan jilbab melepas jilbabnya… maka habislah sudah… karena perenungan dan pergulatan hati itu kini telah dikalahkan oleh hawa nafsu. Perenungan yang pernah mendapatkan kemenangan dengan dikenakannya jilbab itu kini justru bahkan tak mau diingat. Hanya kepada Allah-lah aku mengadu dan memohonkan hidayah itu agar tetap ada bersamaku dan kembali ditunjukkan kepadanya.

Saudariku… kuingin meraih surga bersamamu. Maka, saat ini aku hanya bisa berdoa.
Semoga kita bertemu di surga kelak… Insya Allah.

Ya akhi, cintailah istrimu !



Ada sepasang suami istri mendatangi seorang ustad yang dikenal sangat bijak dalam menuntaskan perkara umat.

Ustad, tolong bantu kami ustad !! Kami sudah menikah selama 20 tahun, lama-kelamaan rasa cinta itu mulai hilang, kini kami sudah tidak saling mencintai, ustad !  Tolong beri kami solusi ?

Ya akhi, cintailah istrimu ! Jawab ustad itu singkat.

Sang suami merasa bingung, justru itulah masalahnya, maka ia mulai mengulangi pertanyaannya :  

ustad, kami sudah menikah selama 20 tahun dan kini kami sudah tidak lagi mencintai ?

Ya akhi, cintailah istrimu !! Jawab ustad itu yang kedua kalinya dengan tegas.

Merasa tidak puas lagi dengan jawabannya, ia bertanya lagi :

tapi ustad, saya sudah tidak lagi mencintai istri saya ?

Ya akhi, cintailah istrimu !!!

Kata cinta bukanlah kata benda dan bukan pula kata sifat yang tiba-tiba ada, Tapi cinta adalah kata kerja !
Kata kerja yang harus dikerjakan, diperjuangkan dan terus-menerus diupayakan !!! Jawabnya tegas.

Seorang yang ingin mendapatkan dan merasakan cinta, ia harus berjuang dan berusaha mencintai.
Bagaimana mungkin cinta itu bisa tumbuh jika tidak pernah ditanam dan bagaimana mungkin bisa berbuah jika tidak pernah dipupuk, dirawat dan dijaga. Seorang yang ingin mendapatkan manisnya cinta harus berjuang hingga cinta itu berbuah.

Sungguh sering dari kita menginginkan cinta tanpa berusaha mencintai terlebih dahulu, ingin di dengar tanpa berusaha untuk mendengar, ingin di hargai tanpa berusaha untuk menghargai.
Siapa yang menanam pastilah dia akan memetiknya.

Hidup ini adalah sebab-akibat, tanpa ada sebab tidak akan ada akibatnya.
Yang harus kita lakukan bukanlah take and give Tapi give and take, berikan maka anda akan mendapatkan.

Karena satu biji yang kita taman, pasti akan Allah beri 700 biji atau lebih, karena Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.

QS. Lukman : 18

Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman “ Sesungguhnya telah ada pada diri rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Asma Allah .”(QS.Al Ahzab :21)

Keteladanan mengandung sebuah konsekuensi apa yang kita sampaikan kepada anak dasarnya tidak cukup dengan kata-kata saja. Kata-kata ini perlu di topang dengan perbuatan atau sikap. Apalagi pola berfikir anak masih sangat sulit untuk diajak mencerna sesuatu yang sangat abstrak. Maka untuk merubah sesuatu yang abstrak di kognisi anak menjadi sesuatu yang nyata diperlukan contoh atau tauladan yang dapat di saksikan anak secara langsung.

Kita tidak adapat membentuk kesadaran anak bahwa shalat lima waktu hukumnya wajib bagi setiap muslim dengan cara memaparkan status hokum, atau akibat logis bila meninggalkan shalat, pengertian surga-neraka, tanpa di barengi bukti nyata bahwa sang ayah juga telah mengerjakan shalat.

Nasehat-nasehat itu akan hilang begitu saja di telan angina . sedangkan tauladan nyata akan tertancap kuat di benak sang anak.

Lalu model tauladan macam apa yang dapat ditampilkan oleh orang tua?
Kita dapat belajar hal ini dari para Nabi dan Rasul Allah. Mereka sengaja di utus oleh Allah sebagai prototype manusia unggul sesuai jamannya masing-masing. Prototipe manusia unggul model para Nabi dan Rasul ini dapat dikupas tuntas dengan mengkaji Al-Qur’an yang mengisahkan bagaimana para Nabi dan Rasul itu membangun tauladan umatnya.

Dengan kata lain, orang tua, pendidik, atau siapapun yang terlibat dalam pendidikan ank, pada dasarnya perlu(wajib) membekali dirinya dengan sikap tauladan dari Nabi dan Rasul Allah. Jika hal ini tidak dilakukan, jangan harap anak akan mengalami pendidikan yang mencerahkan jiwanya. Mereka hanya mendengar kata-akata kosong yang tak berkolerasi dengan akar perbuatan yang kuat.

“Hai orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.”(QS.AL Shaaf : 20)

Sesungguhnya sikap tauladan dari orang tua sangat dibutuhkan anak mengingat lingkungan pertama dan utama yang dijumpai anak adalah pola perilaku ayah-ibunya. Anak memerlukan identifikasi untuk proses perkembangan kepribadiannya. Akan menjdi seperti apa proses identifikasi ini tentu saja dipengaruhi oleh banyak aspek, dan salah satunya ditentukan oleh keteladanan orang tua.

Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya jika Imam Al-Ghazali menasehati para guru agar mengamalkan ilmunya dan tidak mendustakan perkataannya.

Berkaitan dengan masalah ini Al-Ashmu’I mengutip beberapa bait puisi karya Abul Ashwad Al Dauli berikut ini :

“ Hai tokoh yang mendidik orang lain,Mengapa dirimu tak diajari terlebih dahulu?
Kau terangkan penawar bagi pasien dan orang bodoh
Bagaimana mungkin obat menyembuhkannya sadang kamu sendiri sakit?
Kau senantiasa membimbing akal kami, sedang kamu sendiri hidup tak terarah.
Mulailah dengan dirimu dan laranglah dari kesesatan
Jika kamu telah menjauhinya maka kamu menjadi orang bijak.”

Demikan pentingnya tauladan bagi anak-anak kita. Marilah kita geser sedikit saja cara pandang anak-anak. Lalu tataplah diri kita dengan jujur.
Ajukan pertanyaan, apakah selama ini aku telah menjadi tauladan yang baik untuk anak-anakku ?

Semoga Bermanfaat
Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman “ Sesungguhnya telah ada pada diri rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Asma Allah .”(QS.Al Ahzab :21)

Keteladanan mengandung sebuah konsekuensi apa yang kita sampaikan kepada anak dasarnya tidak cukup dengan kata-kata saja. Kata-kata ini perlu di topang dengan perbuatan atau sikap. Apalagi pola berfikir anak masih sangat sulit untuk diajak mencerna sesuatu yang sangat abstrak. Maka untuk merubah sesuatu yang abstrak di kognisi anak menjadi sesuatu yang nyata diperlukan contoh atau tauladan yang dapat di saksikan anak secara langsung.

Kita tidak adapat membentuk kesadaran anak bahwa shalat lima waktu hukumnya wajib bagi setiap muslim dengan cara memaparkan status hokum, atau akibat logis bila meninggalkan shalat, pengertian surga-neraka, tanpa di barengi bukti nyata bahwa sang ayah juga telah mengerjakan shalat.

Nasehat-nasehat itu akan hilang begitu saja di telan angina . sedangkan tauladan nyata akan tertancap kuat di benak sang anak.

Lalu model tauladan macam apa yang dapat ditampilkan oleh orang tua?
Kita dapat belajar hal ini dari para Nabi dan Rasul Allah. Mereka sengaja di utus oleh Allah sebagai prototype manusia unggul sesuai jamannya masing-masing. Prototipe manusia unggul model para Nabi dan Rasul ini dapat dikupas tuntas dengan mengkaji Al-Qur’an yang mengisahkan bagaimana para Nabi dan Rasul itu membangun tauladan umatnya.

Dengan kata lain, orang tua, pendidik, atau siapapun yang terlibat dalam pendidikan ank, pada dasarnya perlu(wajib) membekali dirinya dengan sikap tauladan dari Nabi dan Rasul Allah. Jika hal ini tidak dilakukan, jangan harap anak akan mengalami pendidikan yang mencerahkan jiwanya. Mereka hanya mendengar kata-akata kosong yang tak berkolerasi dengan akar perbuatan yang kuat.

“Hai orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.”(QS.AL Shaaf : 20)

Sesungguhnya sikap tauladan dari orang tua sangat dibutuhkan anak mengingat lingkungan pertama dan utama yang dijumpai anak adalah pola perilaku ayah-ibunya. Anak memerlukan identifikasi untuk proses perkembangan kepribadiannya. Akan menjdi seperti apa proses identifikasi ini tentu saja dipengaruhi oleh banyak aspek, dan salah satunya ditentukan oleh keteladanan orang tua.

Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya jika Imam Al-Ghazali menasehati para guru agar mengamalkan ilmunya dan tidak mendustakan perkataannya.

Berkaitan dengan masalah ini Al-Ashmu’I mengutip beberapa bait puisi karya Abul Ashwad Al Dauli berikut ini :

“ Hai tokoh yang mendidik orang lain,Mengapa dirimu tak diajari terlebih dahulu?
Kau terangkan penawar bagi pasien dan orang bodoh
Bagaimana mungkin obat menyembuhkannya sadang kamu sendiri sakit?
Kau senantiasa membimbing akal kami, sedang kamu sendiri hidup tak terarah.
Mulailah dengan dirimu dan laranglah dari kesesatan
Jika kamu telah menjauhinya maka kamu menjadi orang bijak.”

Demikan pentingnya tauladan bagi anak-anak kita. Marilah kita geser sedikit saja cara pandang anak-anak. Lalu tataplah diri kita dengan jujur.
Ajukan pertanyaan, apakah selama ini aku telah menjadi tauladan yang baik untuk anak-anakku ?

Semoga Bermanfaat