Jumat, 04 November 2011

Maa sya'a Allah

Ketika saya sedang belajar di luar negeri,  seorang sahabat dari Pakistan bertanya, "Erwin, kamu sudah punya anaka berapa?". "Empat," jawabku lagi. "Maa sya'a Allah," respon sahabat tersebut dengan muka gembira.

Saya agak terkejut sedikit. Lah sudah punya anak empat, kok direspon dengan Masya Allah. Apa punya anak banyak menjadi musibah di matanya? Ternyata selidik punya selidik, maksud Masya Allah yang saya pahami selama ini ternyata salah.

Kebanyakan orang di negara kita mengaitkan kata Masya Allah apabila mereka melihat atau mendengar suatu kejelekan ataupun maksiat.

Masya Allah, tega benar orang itu memakan badan orang yang dibunuhnya.
Masya Allah, kenapa ustadz itu menyamakan al-Quran dengan kitab porno.
Masya Allah, kasihan anak itu ya, otaknya tidak punya tempurung.
Masya Allah, Buku Petunjuk bagi Pedofilia Dijual Bebas di Amazon.com.
Masya Allah! Rombongan DPR yang Pergi ke Makkah 67 Orang.
Masya-Allah pemahaman ini sungguh berbahaya.
Masya Allah, bebal nian dikau mas.
Masya Allah kulihat di TV tulisan Front Pembela Islam diganti menjadi Front Pembela Iblis.

Dan banyak contoh lainnya.

Saya dulunya dan kebanyakan orang, salah memahami arti dari Maa sya'a Allah. Padahal maksud kata tersebut lebih keterkejutan melihat atau mendengar suatu berita gembira atau ajaib. Ibn Kathir menyatakan bahawa terdapat dikalangan salaf apabila melihat perkara yang ajaib mengenai harta dan anak akan menyebut "Maa-Syaa-aAllah La Quwata illa billlah".

Jadi mengaitkan Maa sya'a Allah dengan perkara-perkara buruk, seolah-olah menyatakan "Apa boleh buat, memang Allah sudah menakdirkan berbuat maksiat" adalah salah kaprah. Kata yang lebih tepat kalau melihat kemaksiatan adalah Astagfirrullahhalazim (Aku mohon ampun kepadamu Ya Allah).

Sedangkan kesalahan kedua adalah dengan menyebut Ma secara pendek sambil menyatuka dengan Sya yang menjadi MaSyaa (مشاء الله). Kalau anda menyebut Masya Allah, ini berati "Penyebar adalah Allah". Kan bahaya tuh. Masakan perkara jelek itu disebarkan oleh Allah. Yang betul adalah dengan menyebut Maa secara panjang dan penulisannya terpisah dari Sya. Jadi tulisan yang betul adalah Maa sya'a Allah (ما شاء الله). Coba bandingkan tulisan Arabnya. Anda akan segera menemukan perbedaanya.

Cara Mudah Istinja'


Bayangkan anda baru saja tiba di Adelaide airport, ketika keinginan buang hajat besar tidak tertahankan lagi. Setelah melewati petugas imigrasi, langsung saja anda berlari menuju toilet terdekat. Untung saja, toiletnya masih kosong karena hari masih pagi sekali. Tanpa berpikir panjang anda langsung melepaskan hajat yang sudah tidak tertahankan lagi. Ketika hendak membersihkan dari hajat tersebut, anda menjadi pucat-pasi.

"Waduh, kemana selang airnya...bagaimana saya harus membersihkan hajat saya?" anda menjadi panik.

Yang tersedia disitu cuma tissue toilet. Anda berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan air.

"Apakah aku harus membuka "flusher" ini untuk mengambil airnya?"

Kalaupun bisa dibuka, bagaimana cara mengambil airnya? Puyeng dah...

Memang puyenglah, kalau cara membersihkan diri dari hajat besar yang diketahui cuma memakai air. Lah, itu yang memang kita pelajari sejak kecil di pelajaran agama. Tidak ada cara lain. Apalagi sudah menjadi kebiasaan di negara sendiri, kalau buang hajat, air harus tersedia dengan melimpah. Jangan heran, toiletpun selalu becek. Berlainan dengan toilet di sini yang selalu dalam keadaan kering dan bersih.

Tidak Wajib Bersuci Dengan Air

Sebenarnya pendapat yang mengatakan wajib membersihkan hadas besar atau kecil (istinjaa') dengan air, tiada sumbernya sama sekali. Yang ada adalah pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan air itu lebih baik dari pada benda-benda lain seperti batu.

Zaman Rasulullah SAW dulu, kebiasaanya adalah menggunakan tiga buah batu yang berbeda untuk membersihkan sisa-sisa yang menempel pada saat buang air. Dalam istilah fiqh ini disebut dengan istijmar, yaitu menggunakan benda-benda selain air untuk beristinja'. Kenapa bukan kertas yang digunakan pada saat itu?

Dr Yusuf al-Qaradhawi berkata, zaman dulu ulama' tidak menyukai istinja' dengan kertas, karena kertas adalah bahan penting untuk menulis. Namun sekarang telah tersedia kertas khusus untuk toilet yang dikenali dengan "toilet roll". Maka beliau berkata, sudah tentu kertas tisu ini lebih baik dari istijmar (istinja') dengan menggunakan batu atau kerikil di zaman salaf. (Fiqh ThaHarah)

Bagaimana Cara Memilih Benda-Benda Tersbut?

Selain batu, benda yang bisa digunakan adalah semua yang memenuhi syarat-syarat di bawah ini:
  1. Bisa untuk membersihkan bekas najis.
  2. Tidak kasar seperti batu bata dan juga tidak licin seperti batu akik, karena tujuannya agar bisa menghilangkan najis.
  3. Bukan sesuatu yang bernilai atau terhormat seperti emas, perak atau permata. Juga termasuk tidak boleh menggunakan sutera atau bahan pakaian tertentu, karena tindakan itu merupakan pemborosan.
  4. Bukan sesuatu yang bisa mengotori seperti arang, abu, debu atau pasir.
  5. Tidak melukai manusia seperti potongan kaca beling, kawat, logam yang tajam, paku.
  6. Tidak boleh juga menggunakan tulang, makanan atau roti, kerena merupakan penghinaan.
  7. Harus suci, sehingga beristijmar dengan menggunakan tahi kotoran binatang tidak diperkenankan.
Jumhur (mayoritas) ulama mensyaratkan mesti memakai benda padat, bukannya yang cair. Namun ulama Al-Hanafiyah membolehkan dengan benda cair lainnya selain air,  seperti air mawar atau cuka.

Jadi teringat dengan cerita seorang kawan, ketika kami dalam perjalanan pulang dari Melbourne dengan mobil. Di tengah perjalanan, tiba-tiba dia berkeinginan untuk buang hadas kecil. Buru-buru aku menghentikan mobil dan dia segera meloncat dari mobil.

"Pakai apa kamu membersihkannya. Kan kita tidak punya air?" aku bertanya dengan heran ketika dia kembali ke mobil.

"Ini nih...pakai minuman Fanta merah," jawabnya dengan polos.

Pecahlah ketawaku. Pada saat itu dia tidak tahu bagaimana cara membersihkan diri tanpa menggunakan air. Tapi ijtihad dia tepat, karena menggunakan Fanta merah, bahan cair yang diizinkan dalam mazhab Hanafi.

Bila mengacu kepada ketentuan para ulama, maka kertas tissue termasuk yang bisa digunakan untuk istijmar. Namun para ulama menambahkan bahwa sebaiknya selain batu atau benda yang memenuhi kriteria, gunakan juga air agar istinja'  itu menjadi sempurna dan bersih.

Saran saya adalah menggunakan gabungan tissue toilet dan air ketika sedang berada diluar rumah. Anda cukup membawa botol mineral water yang berukuran sedang kemana anda pergi. Jadi sebelum menggunakan air dari botol tersebut, gunakan tissue toilet terlebih dahulu. Bersihkan dengan tissue toilet hingga betul-betul hilang warna dan bau. Setelah itu baru dicuci dengan air. Dengan demikian air dari botol tersebut mencukupi, dan pada saat yang bersamaan toilet tidak becek.

Kalau ketinggalan botol air, bagaimana ya?

Kalau begitu cukup gunakan tissue toilet saja. Tapi harus betul-betul bersih supaya tidak ada bau yang tersisa. Cukup sering saya mencium bau dari orang yang tidak bersih membersihkan sisa-sisa kotoran, baik ketika berada dalam bus ataupun di kantor. Sebagai seorang Muslim, yang terkadang harus sholat di surau atau mesjid ketika sedang di luar rumah, anda kan tidak ingin orang lain mencium bau tersebut ketika sedang sholat berjamaah bukan?

Anda bisa menerapkan cara ini untuk anak-anak anda juga. Saya sangat tegas dalam hal ini kepada anak-anak saya. Ketika anak laki-laki saya masih bersekolah di sebuah International School di Malaysia, saya sering bertanya kepadanya apakah ada membersihkan ketika sudah buang air kecil?

Dia menjawab, bahwa dia tidak membersihkannya karena tidak ada air dalam toilet tersebut, dan kawan-kawannya tidak membersihkannya juga.

"Apakah ada tissue toilet?" tanyaku lagi.

"Ada,"  jawab anakku.

"Nah gunakan tissue toilet untuk membersihkan dari hadas kecil. Karena siksa berat akan menanti di kubur, kalau lupa melakukan hal tersebut. Islam itu mudah bukan?" aku menjelaskan dengan panjang lebar.

Selasa, 01 November 2011

Aku Ingin Kembali

”Hey, gak boleh melamun!” aku menyikut Aldisa, adik kelasku di SMA dulu. Kini ia sedang mengurus administrasi di kampus yang sama denganku.

“Eh iya, Mbak.” Ia tersenyum, tapi lalu mengembalikan tatapannya ke posisi semula. Aku sadar betul apa yang diperhatikannya. Seorang wanita berjilbab besar dengan gamis marun sedang khusyuk membaca Al-Qur’an. Ia memang tampak menyejukkan di tengah KRL ekonomi yang pengap dan gersang. “Aku kagum mbak sama mereka itu.” Ujar Aldisa bersemangat. “Kemarin, waktu aku pertama kali nyampe Jakarta, aku ketemu sama mbak-mbak kayak gitu. Nyapa aku ramah banget, mungkin kasian liat wajah ndeso-ku ya mbak.” Tambahnya lugu. 

“Hati-hati, Nduk. Mereka nyapa ada maunya!” jawab Rina sahabatku dengan ketus, menatap sinis ke arah wanita yang mengaji itu.

“Lho, maksudnya mbak?”

“Iya awalnya mereka ngajak kenalan, trus lama-lama ngajakin kamu ngaji di pengajian mereka.”

“Lah, emang kenapa toh mbak aku ndak boleh ikut ngaji sama mereka? Aku kan mau jadi sholehah juga kayak mereka..”

“Sudahlah, nanti kamu akan tahu sendiri.”
“Cukup, Rin.” Aku memutus pembicaraan itu.

Aldisa mengangguk seolah mengerti maksud kami. Aku faham betul, Rina sahabatku dua tahun terakhir ini memang tidak suka wajah-wajah sok alim mereka, tidak suka sapaan ramah yang dibuat-buat katanya, intinya ia tidak suka dengan para aktivis mesjid itu.
***
“Kamu mau pergi kemana toh, Dis? Temenin mbak pergi ke toko buku yuk hari ini!” aku memperhatikan Aldisa yang tengah bersiap di depan cermin, mematut-matutkan wajahnya dengan jilbab merah muda yang katanya baru dibelinya kemarin,

“Cantik ndak mbak kalo aku pake ini?” tanyanya masih sibuk di depan cermin. Aku mengangguk acuh, “Setiap wanita muslimah berjilbab itu akan terlihat lebih cantik, Dis.”
“Iya mbak? Wah kata-kata Mbak Ayu mirip dengan kata-kata mbak Aini, mentor ngajiku.”

“Ngaji?”

“Iya mbak, aku mulai ngaji sejak minggu lalu sama mbak Aini. Mbaknya baik, aku belajar banyak tentang Islam. Mbak Aini juga yang bikin aku mantep pake jilbab ini, insya Allah ini akan seterusnya mbak.”

Aini Althafunissa, aku mengenalnya baik saat satu organisasi di tingkat satu dahulu. Semua orang menyebut kami dua serangkai karena kami selalu terlihat bersama. Kami sama-sama menjalankan amanah dakwah kampus, mengikuti halaqoh rutin tiap pekan, berlomba mengikuti kajian rutin di mesjid kampus. Sampai saat itu,

"Ayu, aku pikir kamu sudah terlalu dekat dengan Aldi.”
“Aku cuma temenan sama dia, gak ada hubungan apa-apa. Kamu tenang aja ya Aini…” saat itu aku menenangkannya yang berwajah cemas. Meskipun wajahnya masih menyimpan kekhawatiran, ia mengangguk juga, “Iya aku percaya sama kamu, Yu. Kita sudah dewasa, sudah paham mana yang baik dan yang buruk.”

Aku mengangguk mengiyakan.

Tapi hubunganku dengan Aldi memang tidak berjalan seperti teman biasa, ia tambah sering mengirimkan sms padaku, menelponku bahkan untuk membahas hal yang tidak penting. Pembicaraan kami berubah dari masalah kader, syuro, amanah, menjadi rayuan gombal pria dan wanita. Sadar bahwa hubungan kami salah, sadar bahwa orang-orang di sekeliling akan memprotes kami, maka aku pun menjauh perlahan dari komunitasku. Aku jarang hadir di kajian, halaqoh pekanan jadi prioritas ke sekian, hingga akhirnya ke anehanku tercium juga. Aku diputihkan dari amanah setelah aku bersikukuh mempertahankan hubungan tanpa statusku dengan dia.
           
“Dia berjanji akan menikahiku setelah lulus.”
“Kami tidak pernah jalan berdua layaknya orang pacaran.”
“Lagipula kami hanya tinggal menunggu waktu sampai menikah nanti.”


Begitu kalimat-kalimat pamungkasku ketika teman-teman bertanya perihal hubungan kami. Aku tersenyum kecut setiap mengingatnya.
“Mbak, aku berangkat ya. Assalammu’alaikum..” suara Aldisa mengembalikan kesadaranku yang sempat melayang ke masa lalu tadi.

“Eh, iya.. wa’alaikumsalam..” aku menghela nafas, mematikan televisi dan memilih merebahkan tubuhku di atas karpet beludru. Ada rasa aneh menyeruak di hatiku.
***

“Ayu, malem minggu nanti kita karokean yuk!” ajak Rina membuyarkan lamunanku sambil mencomot kacang kulit yang kuhidangkan di piring tadi sebagai teman nonton dvd. Aku menggeleng pelan, “Lagi gak mood..”

Alis Rina berkerut, “Kamu aneh belakangan ini. Diajak jalan selalu menghindar, ada apa sih? Padahal kemarin itu aku mau kenalin kamu sama David, kayaknya dia naksir kamu tuh.”

“Gak minat.” Jawabku pendek.
“Hey, kalo gini terus, gimana kamu mau ngelupain Aldi??” ujarnya sewot.
“Jangan pernah sebut nama itu lagi di depanku.” Mataku menyala, ada yang terluka di sini, tepat di ulu hati setiap nama itu terdengar di telingaku. Kenangan buruk itu selalu terasa menyakitkan,

“Ibuku tidak menyetujui hubungan kita, Yu.”
“Bukankah sejak awal begitu? Dan kau berjanji akan tetap memperjuangkanku hingga ibumu luluh?”

“Awalnya seperti itu, tapi sekarang tidak bisa..”
“Maksudmu, kau akan meninggalkanku?”
“Aku tidak mau melawan ibu.”
“Hey, Aldi yang kukenal tidak selemah ini! Kemana Aldi yang mempertahanku meski orang-orang menolak kita? Apa dia sudah tenggelam ke laut?!”

Tepat sebulan setelah pertengkaran itu, undangan berwarna merah marun mampir ke tempat kostku. Nama seseorang yang sangat kukenal tertera disitu, Aldi Pratama dan nama gadis yang disandingkan dengan namanya semakin menyesakkanku. Layla Fatimah, adik tingkatku, sempat satu kepanitian denganku saat aku masih aktif di DKM. Aku hampir gila. Belum lagi membayangkan bisik-bisik teman-teman dan komunitas rohis yang kutinggalkan dahulu. 
Saat kondisiku tengah terpuruk itulah, aku mengenal Rina lalu akrab hingga kini. Sedikit demi sedikit, atribut ‘keakhwatanku’ terkikis. Jilbab tebal dan lebarku sudah tidak terlihat indah di pandanganku, kajian rutin per pekan tak terlihat menarik lagi dibanding kongkow di mall atau nonton di bioskop. Rok panjangku terasa membatasi. Jadilah kini jeans, kaos ketat dan jilbab modis menemani keseharianku.

“Hey, Disa… mau kemana? Malem mingguan ya?” Tanya Rina penasaran, aku memperhatikan Aldisa sudah rapi dengan jilbabnya keluar dari kamar.

“Iya Mbak, malem mingguan sama temen-temen ngaji, aku mau mabit Mbak.” Aldisa tersenyum cerah sekali, dan aku baru menyadari rok hitam panjang yang dikenakannya. Bukankah baru kemarin ia bilang tak punya satu potong rok pun dalam lemarinya.

“Roknya baru?” tanyaku menyelidik. Aldisa tersenyum, “Dikasih Mbak Aini…” jawabnya malu-malu, “Tapi aku janji kalau punya uang nanti, aku mau beli rok yang banyak..” ujarnya semangat.

“Buat apa? Jeansmu memang pada kemana?” Tanya Rina menunjukkan gelagat tidak suka.

“Aku berniat pake rok untuk seterusnya Mbak…soalnya aku gak nyaman pake jeans yang membentuk, gak nyar’i banget!”

Rina mengangkat bahu. Aku seperti disengat aliran listrik. Lagi, ada sesuatu yang memberontak di hatiku.
***
Senin sore, sepulang kuliah, aku dan Rina memilih makan di sebuah warung tenda dekat kampus. Sore ini agak lenggang, suasana ujian membuat para mahasiswa lebih memilih tinggal lebih lama di kamar masing-masing bersama bahan ujian dan catatan kuliahnya. Rina tengah menceritakan pria incarannya yang baru ia kenal minggu lalu, sampai tiba-tiba aku melihat sosoknya, Aini Althafunnisa.

Ia mengucapkan salam dan menyalamiku serta Rina seperti biasa tanpa rasa kikuk. Aku salah tingkah, Rina melirik sinis masih dengan kebenciannya dengan para aktivis.

“Apa kabar Yu?” tanyanya ramah seperti biasa.

“Baik.” Jawabku salah tingkah. Ia mengangguk, agak lama kami hanya saling diam.

“Kamu sekostan sama Aldisa yah, Yu? Salamin ya..”
“Iya.” Jawabku singkat. Aini mengangguk lagi, mungkin ia pikir aku tak mau berbicara dengannya. Padahal aku hanya sedang speechless, jujur aku lebih ingin memeluknya dari pada ngobrol panjang dengannya. Aku lebih ingin menangis di pundaknya ketimbang berjabat tangan dengannya.

Ia pergi setelah menerima bungkusan pesanan makanannya dan mengucapkan salam untuk pamit. Aku memperhatikan punggungnya yang semakin mengecil.

Sepulang dari warung tenda, aku mampir ke kostan Rina untuk meminjam beberapa buku bahan ujian. Kostan Rina tampak lebih mentereng dari kostanku, maklum ia salah satu anak pejabat pemerintahan di kota asalnya. Ia membiarkan aku merebahkan tubuh di tempat tidurnya yang empuk sementara ia keluar sebentar untuk membeli cemilan. Kuperhatikan tiap sudut kamarnya, meskipun ini bukan pertama kali mampir ke tempatnya, aku selalu senang memperhatikan detail kamarnya. Foto-foto yang terpajang, buku-buku yang berserakan di mejanya sampai yang tersusun rapi di rak bukunya, album-album kenangannya, koleksi kaset dan CDnya.

Mataku menyipit, menangkap satu kaset bersampul grup nasyid yang sangat kukenal. Letaknya memang berada di pojok, hampir berdebu karena mungkin jarang dikeluarkan dari tempatnya. Sejak kapan Rina suka nasyid? Perlahan kubuka kaset itu, rupanya ada sebuah foto di dalamnya. Tiga orang gadis berjilbab besar berbaris rapi, salah satunya berwajah sangat familiar.

Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakan syariah dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintaNya
Tunjukilah jalan-jalanNya
Terangilah dengan cahyaMu yang tiada pernah padam
                                              Divisi Keputrian SMAN 1 Probolinggo

Penggalan do’a rabithoh tertera di balik foto yang kupegang. Aku tercekat, bersamaan dengan kedatangan Rina. Ia merebut paksa foto dalam genggamanku.

“Sejak kapan kau suka melihat barangku tanpa izin?!”
“Maaf…” aku tertunduk merasa bersalah.

“Sudahlah… ini masa lalu.” Ia melempar lembaran foto itu ke lantai, ia berusaha menunjukkan tidak ada apa-apa meski aku dapat melihat tatapan nanar di matanya.

Selasa dini hari, kudengar sayup tilawah dari balik dinding kamar Aldisa. Akhir-akhir ini, aku memang lebih sering mendengar adik kelasku itu membaca mushaf. Aku juga jadi sering mendengar gemericik air keran ketika sepertiga malam tiba.  Malam ini aku tergugah untuk ikut terbangun dan mendirikan qiyamul lail yang kini sangat jarang kulakukan.

Aku menangis tanpa bisa berkata apa-apa setelah menghabiskan dua rakaatku. Aku terlampau malu mengutarakan resah dan sedihku, setelah semua yang aku lakukan selama ini. Wajah-wajah teman seperjuanganku di DKM berkelebat, bergantian satu-satu. Aku semakin sendu. Terlebih jika mengingat Rina, saat aku tanpa sengaja melihat fotonya masa SMA dimana akhirnya aku tahu asal muasal kebencian Rina pada aktivis.

Ia salah satu korban kekecewaan, kecewa pada jama’ah manusia dalam kumpulan rohis. Ia terlalu berharap anak rohis itu sempurna, tidak melakukan kesalahan sekecil apapun. Namun ia lupa, kalau anak rohis hanyalah kumpulan manusia, kadang khilaf dan alpa. Akhirnya ia memilih lepas dari komunitas keislaman dimana pun karena kekecewaan itu, sampai saat ini.

Lalu, bayangan saat awal aku memperoleh hidayah terekam jelas.

“Berbahagialah wahai orang asing.. berbahagialah wahai orang asing.." sabda itu terdengar begitu menyejukkan kala itu, saat rok bahan panjang menjadi benda tabu digunakan oleh gadis seusiaku, saat aku beringsutan mencari kaos kaki walau hanya untuk membeli bakso di depan rumah. "Dien ini datang dalam keadaan asing, ditolak bahkan di negeri kelahirnnya." mataku berkaca, lagi.. sabda ini terasa begitu mententramkan dikala perubahan cara dudukku saat dibonceng motor diprotes adikku, saat jilbabku yg memanjang menimbulkan tanda tanya sanak saudaraku. Diselidiki isi pengajianku, siapa teman-temanku, apa buku bacaanku. Lalu saat isu bom mengguncang media tanah air, dimana ibu dan ayah selalu disuguhi berita teroris dengan tampilan islami. Ponselku tiap hari berdering,ditanya ini dan itu. "Berbahagialah wahai orang asing.." sabda itu kembali melembutkan hatiku, sampai kedua orang tuaku akhirnya mengerti dengan pilihanku di jalan ini.

Tangisku pecah sampai pada rekaman jejakku tiba di episode kelalaianku diserang virus merah jambu, memilih lepas dan akhirnya kembali ke masa jahiliyah. Mataku yang masih sembab memastikan jarum jam dindingku, pukul 04.00 dini hari.  Kuraih ponselku, kutekan nomor yang masih sangat lekat diingatanku.

“Assalammu’alaikum..” sapaan suara yang sangat kukenal menjawab di seberang sana. Aku masih tak kuasa berkata. “Assalammu’alaikum, maaf ini siapa?” tanyanya lagi. Ini akibat aku memutuskan untuk berganti nomor saat itu. Pastilah Aini tidak tahu nomorku.

Aku menangis sesungukan, “Ain…” ujarku parau.
Ia terdiam. Entah ikut hanyut dalam tangisku atau penasaran menebak siapa pemilik suara iseng yang menelponnya dini hari.

“A..yu…” tebaknya terbata agak ragu. “Kaukah?” tanyanya lagi.
“Aku ingin kembali…” ujarku tercekat menahan sesak yang memuncak.
 
 
by Desti Adzkia

Selasa, 25 Oktober 2011

Perisai Diri Di Jantung Jerman (3)

Oleh : Ineu Ratna Utami
 


Ya, Guten Morgen?!”... terucap salam dari seraut wajah bermata hijau yang menyembul di balik pintu setelah beberapa saat diketuk. Tatapannya tertuju pada seorang wanita Jerman bernama Frau Larscheid yang tak lain adalah pimpinan lembaga tempat ia berkiprah. Saat itu Frau Larscheid yang ramah dan kharismatik sedang mengantarku ke kelasnya, sebuah ruang kursusu bahasa Jerman bagi pemula.

Frau Larscheid menjawab salam wanita tadi begitu pula aku. Wanita itu kini menguakkan pintu lebih lebar, terlihat keseluruhan postur tubuhnya yang tinggi besar. Ia hanya sepintas memandangku tanpa membalas senyumku. Dalam hitungan detik kembali matanya tertuju pada Frau Larscheid. Dengan seksama ia mendengarkan penjelasan Frau Larscheid bahwa hari itu muridnyanya akan bertambah yaitu aku, walaupun sudah telat seminggu dari batas akhir masa pendaftran. Frau Larscheid pun meminta ia untuk mengizinkanku membawa anakku ke ruang kursus hingga para Kinderbetreuung yang sampai saat itu masih kerepotan mengasuh beberapa anak dari para peserta kursus, siap menerima putraku.
 
Dibanding dengan teman-teman yang bersamaan denganku datang ke Berlin, aku sendiri yang belum ikut kursus bahasa karena semua tempat kursus yang ada, tidak memfasilitasi Kinderbetreuung untuk anak di bawah usia 2 tahun, sedangkan saat itu anakku masih berumur setahun. Jadilah aku belajar otodidak, hingga suatu hari ketika sedang berjalan-jalan bersama putraku tak jauh dari apartemen tempat kami tinggal di Sparr Strasse, kubaca sebuah pamflet yang memberitahukan ada kursus gratis khusus untuk perempuan asing, dan tempat kursus tersebut memperbolehkan membawa anak di bawah umur 2 tahun. Alhamdulillah, aku merasa gembira saat itu, karena berat rasanya hidup di negeri orang tanpa bisa berkomunikasi dengan bahasa yang digunakan negeri tersebut. Sebenarnya saat membaca pamflet itu, pendaftaran sudah ditutup. Namun mendengar informasi dari seorang sahabatku tentang masih ada peluang kursus di situ, akhirnya aku nekat mendatangi tempat itu. Dan, itulah awal aku mengenal sosok guru kursus bahasa Jermanku yang pertama.
 
Setelah Frau Larscheid menyudahi percakapan dengannya dan berlalu diiringi ucapan selamat belajar padaku, wanita bermata hijau dan berambut coklat terang itu menatapku dari ujung kepala hingga kaki. Ia tertegun beberapa saat, sorot matanya seolah tak percaya melihat sosok di hadapannya, wanita Asia dengan gamis dan jilbab lebar menggendong anak kecil akan menjadi peserta kursusnya. Ku balas tatapannya dengan senyum dan sorot mata berusaha meyakinkan bahwa aku serius, ingin belajar. Tak lama kemudian ia mempersilahkanku masuk. 
 
Wanita itu sekilas mengenalkanku pada peserta kursus lainnya dan ia pun mengenalkan dirinya. Kini kuketahui sedikit tentangnya, ia bernama Svetleona, seorang profesor di bidang literatur berkebangsaan Russia. Ia bergabung dalam sebuah komunitas peduli orang asing di Berlin sebagai pengajar tata bahasa Jerman untuk pemula. Selain dirinya, ada juga Aimee-berkebangsaan Perancis mengajar kelas percakapan, Marco berdarah campuran Itali-Jerman mengajarkan kami melukis dan Huebert memandu kelas komputer.
 
Kesan pertamaku pada sang profesor, ia begitu 'angker' saat mengajar. Berkali-kali pandangannya tertuju padaku, memastikan bahwa anakku tak kan membuat keonaran. Alhamdulillah, putraku diberi ketenangan oleh-Nya. Ia duduk dalam pangkuanku sambil mencoret-coret kertas yang kuberikan padanya, terkadang ia asyik dengan mainan yang kubawa. Sesekali aku minta ijin pada Svetleona untuk menyusui putraku di dalam kelas tersebut. Hal ini cukup menyedot perhatiannya juga peserta kursus lainnya. Sementara itu, putraku nyaman di balik jilbabku.
 
Dari hari ke hari, suasana kelas saat Svetleona mengajar semakin terasa menegangkan. Terutama saat kemampuan kami diuji dengan cara bergiliran mengisi setiap soal grammer yang sudah ia siapkan di papan tulis. Suasana kelas terasa hening dan ketegangan semakin terasa saat ia mendamprat atau bergumam dengan muka kesal.
 
Berbeda saat kami mengikuti sesi percakapan yang dipandu Aimee yang lembut dan humoris. Semua peserta antusias dan tak takut bercakap-cakap menggunakan bahasa Jerman. Aimee selalu memotivasi kami untuk berani berbicara dan ia selalu berpesan pada kami, jangan takut salah!
 
Begitu pula saat mengikuti kelas melukis bersama Marco, rasanya waktu cepat berlalu dan tiba-tiba saja di hadapan kami ada selembar karya masing-masing. Serasa tak percaya kami bisa melakukan sesuatu sesuai arahan Marco, dan tanpa disadari, kami telah bercakap menggunakan bahasa Jerman dengan Marco. Hal ini dikarenakan Marco pandai memanfaatkan suasana, selalu mengajak kami bicara tentang apa yang sedang kami tuangkan dalam lukisan yang kami buat. Komentar-komentarnya membuat para peserta kursus tersenyum senang, terasa sekali aroma motivasi yang ditebarnya menyemangati kami.
 
Sungguh kontras sikap teman-temanku saat usai belajar bersama sang profesor dibanding bersama guru-guru lainnya. Setiap jam istirahat tak pernah absen telingaku dari keluhan teman-teman kursus akan sikapnya. Dan berulangkali pula aku berusaha membesarkan hati mereka. Sambil berbagi makanan bekal dari rumah bersama mereka, kuajak teman-temanku berpikir positif tentang Svetleona. Memang tak kusangkal pendapat mereka tentang Svetleona, tiga orang Afrika, empat orang Turki, satu orang Malaysa ditambah seorang muslim Macedonia merasa tak nyaman dengannya termasuk aku sendiri, begitu juga peserta kursus ruang sebelah (satu level di atas kami) yang pernah menjadi muridnya.
 
Tapi aku selalu berusaha untuk menjalankan pesan suamiku agar selalu mengingat-ingat kebaikan seseorang dan aku pun berusaha menepis “keangkeran” Svetleona itu. Aku hanya ingin menempatkan ia di hatiku sebagai guru yang harus kuhormati dan kucintai karena ia tanpa pamrih mengajariku memahami bahasa Jerman. Ia telah meluangkan waktunya untuk kami karena proyek sosial itu tak memberi imbalan apa pun untuknya, sedangkan kami memperoleh banyak ilmu darinya. Rasanya tak adil jika kami hanya menyoroti “keangkerannya” saja.
 
Setelah kupikir dengan segenap kejernihan hati, pemicu suasana tegang di kelas tak lain adalah ulah kami sendiri. Svetleona geram sekali bila kami datang terlambat, ia sangat disiplin dalam masalah waktu. Tak ada alasan terlambat baginya, karena jarak rumah kami ke tempat kursus tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan jarak rumahnya yang sangat jauh, hampir di luar Berlin. Ia juga sering kesal bila kami lupa dengan pelajaran yang pernah diberikan sebelumnya, ia anggap kami tak serius belajar dan yang lebih membuat ia murka manakala kami melanggar sopan-santun. Svetleona merasa tak nyaman bila saat ia mengajar, tiba-tiba di antara kami ada yang (maaf) buang ingus dengan suara nyaring. Musim semi memang sering menyebabkan orang yang sensitif terhadap polen bunga atau debu menjadi bersin, demikian juga saat musim gugur, banyak orang terkena flu, dan bunyi-bunyian yang dikeluarkan dari hidung itu seolah menjadi lazim di sini pada musim-musim tersebut. Namun Svetleona tak ingin murid-muridnya melakukan hal yang kurang etis itu di hadapannya. 
 
Ternyata, ketika aku berusaha menghargai dan menghormati segala kelebihannya serta menerima apa adanya Svetleona, berusaha memahami apa keinginannya dan harapan-harapan terhadap murid-muridnya, hasilnya sebanding dengan apa yang kulakukan terhadapnya. Svetleona sekalipun tetap bermuka dingin namun kurasakan ada selarik hangat dari hatinya. Entah sejak kapan, ia memiliki kebiasaan baru, selalu memelukku dan berbicara atau menyapaku penuh keramahan. Hal ini membuat teman-teman kursusku heran, tak terkecuali aku sendiri. 
 
Bahkan ketika diadakan acara kelulusan naik level sekaligus perpisahan dengannya, Svetleona membuatkan kue khas Moskow untuk kami dan ia menyebutkan semua bahan untuk membuat kue itu aman untuk dimakan muslim. Sementara itu ia tunjukkan sikap tertarik dengan klepon dan nasi goreng yang kubawa demikian pula terhadap makanan ala Turki, Afrika dan Macedonia. Di akhir acara ia berharap kami akan tetap melanjutkan kursus di tempat tersebut.
 
Beberapa bulan berselang, aku kembali ke tempat di mana Svetleona dan kawan-kawannya mengabdikan diri. Tak lain untuk sekedar memenuhi undangannya melalui sepucuk surat yang dilayangkan ke rumahku seminggu sebelumnya. Kupenuhi undangan tersebut, namun sebenarnya kedatanganku saat itu hanya ingin menyampaikan bahwa aku tak bisa menyambut ajakannya untuk melanjutkan belajar di tempat itu lagi. 
 
Suasana lengang terasa sepanjang koridor, hanya sayup-sayup terdengar suara dari beberapa kelas yang tertutup pintunya. Ketika akhirnya wajah dingin itu ada beberap meter di hadapanku, dengan segera ia berlari begitu melihatku dan memelukku penuh suka cita. Ia memintaku menunggu di sebuah ruang karena masih ada hal yang harus dikerjakannya. Kumanfaatkan waktu menunggu itu untuk membuka mushaf dan kubaca perlahan-lahan.
 
Ketika kuakhiri tilawahku dan berniat untuk berbalik arah, aku terkejut karena Svetleona telah berdiri mematung di belakangku, entah berapa lama, aku tak menyadari kehadirannya. Sesaat kemudian, ia menarik sebuah kursi dan meminta aku duduk kembali. Mata hijaunya menatapku lekat lalu ia bertanya, “Apa yang kamu baca itu? Kenapa perasaanku menjadi tentram?”. Svetleona yang sudah lama tak mempercayai adanya tuhan, memintaku memperlihatkan apa yang kubaca. Aku pun menunjukkan mushaf biru yang selalu kubawa serta dalam tasku. “Ini adalah panduan hidup kami agar hidup selamat”, jawabku. 
 
Bisakah kamu membacakannya lagi? Saya ingin mendengarkannya!” Aku mengangguk setuju, lalu kupilihkan surat Al-Ikhlas dan kusampaikan arti dari surat itu. Ia terbelalak, tersirat penasaran di paras mukanya dan terlihat ia hendak menanyakan sesuatu namun hal itu urung karena telpon genggamnya berbunyi dan ia segera bergegas pamit.
 
Sungguh tak kusangka, Svetleona yang di awal kami berjumpa begitu sinis, menatapku dingin tanpa senyum, kini ia merasakan ketentraman saat mendengar tilawah dan memintaku mengulanginya. “Hmmm...apa yang tadi hendak ditanyakannya ya?” rasa penasaran menyergapku, namun sayang setelah usai menjelaskan maksud kedatanganku, aku harus pamit karena satu janji yang harus segera kupenuhi. Dan, lebih disayangkan lagi ternyata aku tak pernah ke tempatnya lagi dikarenakan aku harus mulai bersiap-siap dengan masa melahirkan bayiku yang sudah semakin dekat.
 
Dengan segala keterbatasanku saat itu, aku hanya mampu berharap dan mendoakannya semoga rasa tentram yang menyelimuti hatinya saat mendengar al-Qur'an dibacakan hingga minta diulangi, begitupula dengan pertanyaan yang tak sempat dilontarkannya itu, adalah awal ketertarikan Svetleona pada Islam. Semoga akan ada seseorang yang menjadi pemandu baginya untuk mendapatkan hidayah-Nya.

Sekalipun rasa penasaran masih menggelayuti hati tentangnya, tetapi yang pasti kurasakan perubahan positif dari sikap Svetleona padaku dari waktu ke waktu. Setelah kurenungkan tak lain semua itu merupakan pertolongan Allah semata yang telah menuntunku membangun sikap dalam diriku bagaimana sebaiknya berinteraksi dengannya, antara lain selalu berusaha tepat waktu, bersungguh-sungguh saat belajar, bersikap sopan dan bertutur santun.
 
Sikap-sikap tersebut sebenarnya sudah tercantum dalam ajaran akhlak mulia seorang muslim. Dan ternyata ketika kita terapkan dalam keseharian, maka hal itu akan berbuah respek dari orang yang sebelumnya terlihat antipati. Oleh karenanya, beberapa sikap yang telah kusebutkan tadi itu pun kujadikan sebagai bagian dari perisai hidupku di negeri minoritas muslim.

====================
Keterangan:
Guten Morgen = selamat pagi
Kinderbetreuung = pengasuh/ yang menjaga anak-anak

Perisai Diri Di Jantung Jerman (2)

Oleh : Ineu Ratna Utami

Bismillah walhamdulillah...

Beberapa hari setelah beradaptasi dengan tempat kami tinggal, suamiku mengajak berjalan-jalan mengenal lingkungan sekitar. Selama menyusuri jalan kami menemui beragam orang di samping orang-orang pribumi, yang bila kami lihat dari raut wajahnya, dapat diduga asal mereka seperti dari Turki, Arab, Korea maupun Afrika.

Sehelai Kain Identitas, Pengikat Persaudaraan

Sebagaimana orang yang tidak saling kenal, ketika berpapasan tentunya saling tak acuh. Itu pula yang kami alami. Tiap orang berjalan tanpa peduli sekitarnya, terkadang mereka berjalan begitu cepat dan tergesa. Namun hal tersebut tak selalu demikian adanya. Berkali-kali seulas senyum menghiasi raut muka orang yang tak kami kenal saat berpapasan dengan kami, bahkan terkadang mereka tak segan menyapa dengan mengucap salam yang lazim digunakan orang muslim saat bertemu.
 
Ya, seulas senyum mereka begitu berarti ketika kami terpisah ribuan kilo dari sanak saudara dan handai taulan. Seulas senyum yang biasa mudah kami dapati saat berada di tanah air ketika berjumpa dengan orang-orang yang kami kenal. 
 
Seulas senyum itu kini di sini menjadi sesuatu yang sanggup menjadi pengobat rindu akan kampung halaman. Karena seulas senyum tulus yang diberikan orang-orang yang belum kami kenal saat berada jauh dari tanah air menyadarkan diri kami bahwa kami masih memiliki saudara seiman. 
 
Bagaimana senyum itu tiba-tiba menghias wajah mereka saat berpapasan dengan kami padahal jelas kami tidak saling mengenal? Tentu saja sangat mudah diterka, ya karena aku menggunakan sehelai kain penutup kepala. Hal ini menjadi identitas yang mudah dikenal oleh siapa pun bahwa aku adalah seorang muslimah.
 
Sehelai kain penutup kepala itu mampu merekatkan dua orang yang saling tak mengenal saat berpapasan. Seperti kuceritakan di atas, kami merasakan sendiri ternyata sehelai kain penutup kepala tersebut dapat mengikat persaudaraan. Karena ketika suamiku berjalan-jalan sendiri, semua orang yang berpapasan dengannya tak pernah tahu kalau dia seorang muslim. Bahkan, pernah ia diajak bicara dengan bahasa Korea. Sontak suamiku gelagapan menjawab dan menyampaikan pada orang yang menyapanya bahwa dia bukan bagian dari bangsanya. Lain cerita bila dia berjalan bersamaku, kami akan sangat mudah dikenal sebagai sepasang muslim muslimah.
 
Pernah suatu ketika saat kami menyusuri ruas Mueller Strasse di kawasan Wedding. Di tengah hiruk pikuk orang-orang, kami berpapasan dengan seorang kakek. Tiba-tiba kakek yang sudah bungkuk itu berhenti lalu menatap kami agak lama lalu menyunggingkan seulas senyum. Jabat tangan pun terjadi antara suamiku dan sang kakek yang akhirnya kami ketahui ia berasal dari Palestina.
 
Sang kakek begitu terlihat gembira saat mengetahui asal kami. Ia memeluk suamiku penuh haru sambil berbisik pada suamiku agar suamiku menjagaku dan bayi kami dengan sebaik-baiknya. Ia tahu persis bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya mayoritas muslim dan peduli serta selalu mendukung perjuangan Palestina menghadapi negara penjajah yang kaumnya dilaknat Allah. 
 
Seringkali kami berpapasan dengan kakek tersebut setiap menyusuri ruas jalan itu. Tak kami sangka, kakek yang sudah sangat tua itu tetap mengenali kami di setiap perjumpaan yang terjadi. Ia selalu menyempatkan berbincang sebentar dengan suamiku.
 
Dilain waktu, pernah pula seorang muslimah menyapaku dengan ramah. Setelah berkenalan akhirnya kutahu ia berasal dari Maroko. Hangatnya persaudaraan yang ia perlihatkan dalam sikapnya membuatku terkesan hingga kini. Demikian pula dengan sikap muslimah dari belahan negeri lainnya seperti Turki, Libanon, Arab, Machedonia dan lain-lain, hampir setiap berpapasan dengan mereka akan tersungging sebuah senyuman. 
 
Sehelai kain identitas itu selain membuat senyumku dan mereka terkembang juga menjadi amal ibadah bagi kami. Bagaimana tidak? Karena Rasulullah SAW bersabda bahwa anak keturunan Adam memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap harinya sejak matahari mulai terbit. Seorang sahabat yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan bertanya, “Jika kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lantas apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?” Rasulullah SAW bersabda, “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah.” (HR Tirmizi dan Abu Dzar). Dalam hadis lain disebutkan bahwa senyum itu ibadah, “Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah.” (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi). Salah seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah menuturkan tentang Rasulullah SAW, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW.” (HR Tirmidzi).
 
Meskipun ringan, senyum merupakan amal kebaikan yang tidak boleh diremehkan. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR Muslim). 
 
Sejak itu kusadari bahwa sehelai kain yang menutup kepala dapat menjadi awal perekat hati kami dengan saudara-saudara seiman di negeri minoritas muslim. Sehelai kain identitas diri itu menjadi bagian dari perisai hidupku di sana karena ia menjadikan kami serasa memiliki banyak saudara.