Jumat, 06 Mei 2011

Mengapa Kita Membaca AlQuran Meskipun Tidak Mengerti Satupun Artinya?

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.

Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.

Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”

Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.
 

Yaa Rozzaq, Engkaulah Sebaik-Baik Pemberi Rezeki

Setelah melahirkan saya memutuskan tidak bekerja.  Kondisi di rumah tidak memungkinkan untuk memiliki pengasuh.  Lagipula saya sangat ingin merawat sendiri putri kami bernama Sariyya-yang sekarang sudah berusia 3 tahun.  Saya tidak mau kehilangan momen berharga perkembangan Sariyya yang tidak bisa diulang.  Saya juga ingat pesan almarhumah ibu saya agar saya merawat sendiri anak-anak saya. 

Waktu berjalan, hari-hari melelahkan mengasuh, memberi makan, menemani main putri kami saya nikmati.  Saya merasa, pekerjaan di kantor dulu yang menguras otak tidak ada apa-apanya dibandingkan merawat seorang titipan Allah.  Saya bersyukur meninggalkan pekerjaan.  Secara materi kehidupan saya sedikit berubah.  Saya tidak mampu membeli pakaian atau tas-tas yang bagus seperti dulu.  Tapi rasa kebahagiaan berbaju bagus tidak ada nilainya dengan kegembiraan saya melihat putri saya makan dengan lahap, menyanyi dengan lucu atau loncat-loncat di tempat tidur.   Saya menikmati kehidupan baru sebagai ibu rumah tangga.  

Tiba-tiba saja suami saya terkena PHK.  Tapi saya menghadapi dengan santai.  Saya yakin rezeki untuk kami tidak akan putus. Karena bukan perusahaan suami saya yang memberi kami makan.  Allah-lah yang memberi kami rezeki.  Saya memang sedikit bingung.  Tabungan menipis.  Mertua menyuruh saya kembali bekerja.  Saya menolak.  Suami melarang.  Saya katakan kepada suami, mari kita berdoa, minta rezeki kepada Allah.  

Pada keadaan ekomomi morat marit saya ingat pesan Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara. Menurut beliau, kalau kita sedang bingung menghadapi masalah yang masih tanda tanya besar, banyak-banyaklah membaca Yaa Sin.  Bukan Surat Yaa Sin.  Tapi zikir membaca Qur'an.  Hanya satu ayat saja.  Yaa Siin.  Yaa Sin adalah sebuah ayat yang menyimpan rahasia.  Begitu pula dengan rahasia kehidupan kita.  Itu sebabnya saya laksanakan zikir Yaa Sin, sebanyak-banyaknya. 

Setelah membaca Yaa Sin, saya juga teringat guru saya, DR. Nana Sumarna, yang mengatakan, mintalah semua yang kita inginkan kepada Allah yang memiliki 99 sifat.  Jika butuh rezeki, panggilah Allah dengan sifat-Nya Yang Memberi Rezeki (Yaa Rozzaq).  Jika butuh jodoh, panggilah Allah dengan sifat-Nya yang Maha Pengasih (Yaa Rohman), sandingkan dengan jodohnya (Yaa Rohiim).  Zikir Yaa Rohman Yaa Rohiim adalah yang saya baca ba'da sholat subuh ketika saya masih belum menemukan jodoh.  Saya mengikuti nasihat Prof. Mansyur dan Pak Nana.  Keduanya mengingatkan, bukankah Allah sendiri yang menganjurkan kita untuk berbuat demikian.  "... Serulah Allah atau serulah Ar Rohman, dengan nama-nama yang mana saja kamu seru.  Dia mempunyai al asmaul husna..." (QS:17, ayat 110).

Saya laksanakan zikir Yaa Rozzaq setelah bertahajjud.  Pertama kali melakukannya, entah kenapa, saya membacanya sebanyak 2000 kali.  Yaa Rozzaq! Demikian mulut saya terus menyebut nama-Nya.  Besoknya saya lakukan hal yang sama. Perasaan saya sangat yakin.  Allah akan mendengar panggilan saya.  Beberapa waktu kemudian, seorang teman yang bekerja di sebuah penerbit buku terkenal di Bandung menelpon saya.  Dia meminta saya untuk menulis sebuah buku.  Saya terperanjat.  Oh, inilah rezeki untuk saya.  Katanya, "Tapi kamu kerja di rumah aja ya...!" Alhamdulillah, lagi-lagi saya bersyukur dalam hati.  Saya diberi pekerjaan, tapi tidak harus meninggalkan putri saya yang sedang lucu-lucunya.  Itulah yang saya harapkan, itulah yang saya ucapkan dalam doa-doa saya.  Allah mengabulkan semuanya.          

Seminggu kemudian saya dipanggil ke kantornya untuk menandatangani Surat Perjanjian Kerja.  Saya datang bersama suami dan anak saya. Ketika teman saya menyodorkan surat tersebut, saya terperanjat membaca angka rupiah yang tertera dengan jelas.  Rp2.000.000,-.  Itu honornya.  "Ini kan baru permulaan", kata teman saya.  Ingatan saya tiba-tiba melayang kepada zikir Yaa Rozzaq yang pernah saya lakukan.  Saya membaca 2000 kali nama-Nya. Allah memberi saya 2 juta rupiah.  Apakah ini hanya kebetulan belaka?  Selesai menulis buku tersebut, tampaknya teman saya merasa puas.  Ia langsung menugaskan saya menulis satu buku lagi.  Kembali saya diberi upah 2 juta rupiah-nilai yang kecil mungkin untuk seorang penulis, tapi bagi saya terasa luar biasa nikmat.  Begitulah, saya yakin, honor 2 juta rupiah berturut-turut dari hasil saya menulis buku ada hubungannya dengan zikir Yaa Rozzaq 2000 kali berturut-turut yang saya lakukan.  Itu sebabnya saya semangat untuk berzikir lagi.  Saya ingin membuktikan bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.  Zikir Yaa Rozzaq saya tambah.  Lebih dari 2000 kali.  

Beberapa waktu kemudian.  Saya dihubungi penerbit tersebut dan diberi kenaikan honor, pas seperti jumlah zikir saya. Nilainya... rahasia doong!  Alhamdulillah!  Sekarang saya ditugaskan lagi menulis buku baru. Begitulah, kalau yang kita minta tolong adalah Allah, hasilnya memang sangat menakjubkan.  Dia tidak pernah mengecewakan.  Dia memenuhi janji-Nya.  Terimakasih Yaa Rozzaq.  Engkaulah Sebaik-baik Pemberi Rezeki. 

Berikan Cahaya Untuk Melati

Wahai seluruh manusia, kamulah yang butuh kepada Allah, dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Faathir 35:15)
 
Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim 14:8)
 
Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia. (QS. An Naml 27:40)
 
                      *****

Usai shalat Zhuhur dan mengaji di Mushola, anak-anak panti asuhan "Rindu Bunda" bergegas ke ruang makan, lauk ala kadarnya terhidang di meja makan itu. Ada sayur, tempe dan tahu. Nisa dan Ayu perih membayangkan apa yang mereka makan sehari-hari jauh dibandingkan dari apa yang anak-anak panti makan. 

"Kadang ada yang ngasi ayam satu ekor, dimasak, lalu dimakan ramai-ramai. Kadang ada yang mengundang makan, semua rezeki dari Allah Nak Ayu dan Nisa". Ucap Ibu Panti (Nurhayati) yang mengabdikan hidupnya untuk mengurus anak-anak yang sangat membutuhkan kasih sayang dan bimbingan itu. 

Nisa dan Ayu membantu mengambilkan makanan, "Jangan lupa berdo'a ya anak-anak..". Ayu mengingatkan. 

"Ali makan nggak baca do'a, Bundaa..". Teriak Qitri kecil mengadu. Ali membelalakkan matanya ke arah Qitri. "Nanti Allah-kan jadi sedih, Ali.. kasihankan?..". 

Mendengar ucapan si kecil, Ayu dan Nisa kaget seraya mengernyitkan dahinya. Allah sedih?.. kasihan sama Allah?.. astaghfirullaah.. darimana Qitri belajar semua ini?!. Mereka berdua saling berpandangan.

"Kok Qitri bilang begitu, sich?" Tanya Ayu menghampiri si kecil. "Iya Bunda.., kemarinkan Qitri dapat surat dari Allah". Ayu tambah kaget, "Surat dari Allah?.. Al Qur'an?". 

Terlihat Qitri kehabisan kata-katanya untuk menjelaskan, ia menarik tangan Ayuning untuk mengikutinya. Nisa yang menangkap ketidakberesan mengikuti dari belakang, sementara anak-anak panti lain masih melanjutkan makan siangnya.

Kamar yang sungguh sederhana. Disitulah si kecil Qitri tidur, ia kelihatan sibuk mencari sesuatu, tiba-tiba wajah mungil itu tersenyum riang, ia memberikan sebuah buku indah kepada Ayuning.

Wajah Ayu pucat. Nisa menghampirinya, "Ada apa, Yu?". Ayu memberikan buku itu pada Nisa, Perlahan Nisa membaca rangkaian kata demi kata dalam buku itu.

Untukmu yang selalu Kucintai, 
 
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu. Bercerita, meminta pendapatku, mengucapkan sesuatu untukKu walaupun hanya sepatah kata. ... Sebelum makan siang, Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKu, itulah sebabnya engkau tidak sedikitpun menyapaKu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu dengan lembut sebelum menyantap makanan yang Kuberikan, tetapi engkau tidak melakukannya.. ... Ah.. tak juga kau menyapaKu. Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh, lagi-lagi kau masih mengacuhkan Aku. Tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, tak ada pula harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKu... 

Apakah salahKu padamu..? rezeki yang Kulimpahkan, kesehatan yang Kuberikan, harta yang Kurelakan, makanan yang Kuhidangkan, keselamatan yang Kukaruniakan, kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKu ???. Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon perlindunganKu, bersujud menghadapKu.. Kembali kepadaKu. 

Yang selalu menyertaimu setiap saat, ALLAH    Ayu terlihat goncang, "Qitri dapetin buku ini darimana..??".

"Dikasi Ibunya Salsa.. bukunya cantik ya Bunda?, Qitri senaang sekali. Baca buku ini Qitri jadi selalu ingat Allah. Kasihan sama Allah..". 

Tangis Ayu pecah. Nisa memberi isyarat Ayu supaya tenang, "Istighfar Ayu..". Ucapnya. Ayu membisikkan sesuatu kepada Nisa, kemudian meninggalkan mereka. Qitri kecil kebingungan.
"Kok Bunda Ayu nangis, Bunda Nisa?.. kok Bunda Ayu pergi?.. Qitri salah apa Bunda..??". 

Si kecil menangis seraya memeluk Nisa, ia mengira Ayu meninggalkannya karena ia telah menerima pemberian dari Ibunya Salsa. Tak terasa air mata Nisa ikut mengalir, perlahan ia melepaskan rangkulan Melati kecil, dan menciumi keningnya.

"Bunda Ayu nangis karena sayang sama Qitri, ia pergi mau beliin Qitri Juz Amma. Nanti Qitri bisa membaca surat dari Allah, kalau ini bukan surat dari Allah... Allah itu Maha Kaya, sayang.. Ia tak pernah sedih jika kita melupakan-Nya, Ia tak butuh apa-apa dari kita, tetapi kitalah yang senantiasa membutuhkan-Nya. 

Allah yang memberi kita makan ketika kita lapar, Allah yang memberi kita minum ketika kita haus, Allah yang menyembuhkan kita ketika kita sakit. Kita harus selalu bersyukur kepada Allah". 

"Allah sayang sama Qitri nggak ya.. Bunda?". Nisa tersenyum, "Tentu dong.., Allah sayaaang sekali sama Qitri".

Mata si kecil berbinar. "Iya Bunda?!... kalau Qitri minta pada Allah untuk bertemu Bunda Qitri, Allah kasi nggak ya, Bunda Nisaa..? Qitri rinduuu sekali, pasti Beliau sebaik dan secantik Bunda Ayu yaa..".  

Nisa bingung untuk menjawab. Tiba-tiba Ayu datang, mengucapkan salam pada keduanya. Seketika suasana kamar berubah. Terdengar merdu alunan suara Ayuning membaca Al Qur'an yang diikuti Qitri kecil, sedang Nisa membacakan terjemahannya.

Haripun berganti petang, Ayu dan Nisa pamit pulang, "Titip anak-anak ya Bu.. Assalaamu'alaikum". Anak-anak mengiringi kepergian mereka, si kecil dengan berat hati melepaskan pelukannya pada Ayuning dan Nisa. Lindungi mereka Ya Allah, Berikan Cahaya Untuk Melati. Ucap Nisa dalam hati seraya menggenggam erat tangan Ayuning, keduanya berlalu meninggalkan anak-anak manis itu.                                              

*****

Dari Abu Dzar r.a. dari Nabi Saw, Beliau bersabda bahwa Allah Ta'ala telah berfirman: Hai hamba-Ku!, kamu tidak akan dapat memberikan mudharat kepada-Ku. Seandainya kamu dapat, tentu kamu telah memudharati-Ku. Dan kamu tidak dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Seandainya kamu dapat, tentu kamu telah memanfaati-Ku. 

Hai hambaku!, Seandainya orang-orang yang sebelum dan sesudah kamu, manusia maupun jin, lebih taqwa daripada orang yang paling taqwa diantara kamu, maka hal itu tidak akan menambah sesuatu apa bagi kekuasaan-Ku. 

Hai hamba-Ku!, Seandainya orang-orang yang sebelum dan sesudah kamu, manusia maupun jin, lebih durhaka daripada orang yang paling durhaka di antara kamu sekalian, maka hal itu tidaklah mengurangi sesuatu apa bagi kekuasaan-Ku. 

Hai hamba-Ku!, Seandainya orang yang sebelum dan sesudah kamu, manusia maupun jin, mereka berkumpul pada suatu tempat yang luas, lalu mereka meminta kepada-Ku dan Kupenuhi permintaan mereka itu semuanya, maka hal itu tidak akan mengurangi sesuatu apa dalam perbendaharaan-Ku. Melainkan hanya seperti berkurangnya sebuah jarum bila dimasukkan ke dalam samudra. 

Hai hamba-Ku!, Hanya amal kamu sajalah yang Kuperhitungkan untukmu, lalu Kubayar penuh pahalanya. Maka siapa yang beroleh kebaikan, hendaklah dia memuji Allah Ta'ala, dan siapa yang beroleh lain dari kebaikan, maka janganlah dia mencela siapa-siapa kecuali akan dirinya sendiri (karena dia yang bersalah). (HR. Muslim)

Menyikapi Kesulitan Hidup

Ketika kesulitan hidup itu datang, hati berubah gundah, kesana-kemari seolah mencari sesuatu yang hilang. Tekanan darah naik, darah pun mengalir tak beraturan, menekan keras ke otak hingga membuatnya panas, lalu mengendap di dada menekan paru-paru hingga nafas terasa berat, detak jantung tidak menentu, dada berdebar-debar menekan balik darah. Sementara itu keringat dingin pun membeku, dan sekujur tubuh terasa pegal. Emosi kian memuncak, dengan sorotan mata yang tajam dan pikiran berputar-putar mengitari tumpukan segala kegundahan. 

Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat sulit dalam menjalani kehidupannya. Kadang kesulitan itu memang membuat seseorang frustasi, bingung, stres, panik, putus asa dan sikap negatif lainnya. Namun hal ini hanya terjadi pada kebanyakan orang yang hidupnya jauh dari tuntunan Al-Qur`an. Jauhnya mereka dari tuntunan Al Qur'an menyebabkan mereka gampang gelisah, tegang, dan marah. Mereka menjalani kehidupan ini dengan beban masalah dan tekanan batin yang luar biasa beratnya, sehingga menjauhkan mereka dari kebahagiaan hidup.

Seorang mukmin tentu berbeda dalam menyikapi berbagai kesulitan hidup yang dihadapinya.Mereka memahami bahwa kesulitan atau ujian diberikan oleh Allah dalam rangka menguji hamba-Nya. Dan mereka tahu bahwa kesulitan itu dibuat untuk membedakan antara mereka yang benar-benar beriman dan mereka yang memiliki penyakit di hatinya, yaitu mereka yang tidak tulus dalam meyakini keimanan mereka. Karena itu, ujian atau kesulitan yang hadir dalam kehidupan kita akan menunjukkan siapakah kita sebenarnya.  Allah menjelaskan melalui firman-Nya, bahwa Dia akan menguji manusia untuk melihat siapakah yang benar-benar beriman.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 142)

"Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)...."(al-Baqarah: 179)

Ketika membaca terjemahan ayat tersebut, hendaknya semakin menambah kesadaran kita bahwa kehidupan ini memang dipenuhi dengan aneka masalah dan berbagai kesulitan. Karena dunia ini merupakan Darut Taklif, maksudnya adalah tempat pembebanan. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari masalah selama mereka hidup di dunia. Dan sungguh merugi orang yang larut dalam kesedihan, kesedihan yang panjang justru akan semakin menyulitkan diri dalam menghadapi masalah. Hanya dengan keberanian untuk bangkit dan bersabar, kesulitan itu akan terasa mudah. Berbahagialah orang yang mampu bersabar dalam menghadapi setiap kesulitan hidup, karena Allah beserta orang-orang yang sabar.

Hati-Hati Dengan HATI ....

Seorang pria telungkup di tengah lapangan yang luas di bawah teriknya sinar matahari, dengan tas disampingnya. Lalu segerombolan orang menghampiri dan memeriksa keadaan pria tersebut. Meninggal, kata salah satu orang gerombolan tersebut. Mereka kemudian sepakat membuka tas disamping pria itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Ternyata mereka semua berpikiran sama, andai tas itu terbuka sesaat sebelumnya, maka pria tersebut mungkin tidak meninggal dalam keadaan seperti ini. 

Apakah isi tas itu?? Hayo apa ayoo? Ternyata isi tas itu adalah parasut. Parasut itu gagal terbuka pada saat si pria melakukan terjun payung. Memang sangat menyedihkan dan naas. Parasut jadi penentu keselamatan jiwa para penerjun payung. Dan...begitu jugalah hati kita. Hati hanya akan berfungsi jika dalam keadaan terbuka, open heart-lah istilahnya gitu. Hati akan menjadi penyelamat. Kita akan menyerap petunjuk lebih mudah, menerima hidayah lebih mudah dan berprilaku lebih mulia. Jangan biarkan hati tertutup dengan butir-butiran kotoran hati, yang akan kian menebal jika tidak segera dibersihkan. Karena pada keadaan tertentu, kotoran hati tidak dapat dibersihkan dengan hanya sekali-dua kali kilapan 'wing porselen'!! Kotoran hati tersebut sudah menjadi bagian dari prilaku dan sikap keseharian manusia. 

Oleh karena itu :

"Perhatikanlah  hatimu karena ia akan menjadi fikiranmu 

Perhatikanlah fikiranmu karena ia akan menjadi perkataanmu 

Perhatikanlah perkataanmu karena ia akan menjadi perbuatanmu 

Perhatikanlah perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu 

Perhatikanlah kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu 

Dan Perhatikanlah karaktermu karena ia akan menjadi lintasan hatimu" 

Semuanya kembali kediri kita masing-masing. Tanyakan pada diri sendiri apa yang akan terlintas dalam hati kita pada saat ini, saat itu, dalam keadaan ini, dan jika berada dalam keadaan itu. Karena kalau bukan diri sendiri yang bertanya lalu siapa lagi.......??? Masa harus orang lain..hehe 'just try to do better' 

wallahualam bishshowab