Senin, 21 Februari 2011

Tauladan Imam Hanafi

Nama asli beliau sejak kecil ialah Nu'man bin Tsabit. Lahir di kota Kufah, 699 Masehi. Ayahnya berasal dari kota Kabul Afghanistan. Dengan ini jelaslah bahwa beliau bukan keturunan Arab asli. Kenapa beliau terkenal dengan sebutan Hanafi? Kisahnya sebagai berikut:

Imam Hanafi mempunyai sejumlah putera, di antaranya bernama Hanifah. Maka orang sering memanggilnya dengan sebutan Abu Hanifah. Kemudian baliau menjadi ulama besar. Dan, di segenap kota besar, Abu Hanifah itulah nama yang terkenal bagi beliau. Beliau berijtihad berdasarkan penelitian tentang hukum Islam. Hasil ijtihad itulah yang dikenal orang dengan sebutan "Mazhab Imam Hanafi".

Menurut riwayat, Ayah Imam Hanafi (Tsabit) dikala masih kecil pernah diajak orang tuanya berziarah kepada Ali bin Abi Thalib. Waktu itu Imam Ali berkenan menerima tamunya dan sebelum kembali ke rumah, beliau berdoa; mudah-mudahan dari antara keturunan Tsabit ada yang menjadi orang yang tergolong baik-baik dan berderajad luhur.

KEPATUHAN IMAM HANAFI. Dia adalah seorang yang kokoh dan kuat jiwanya, selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan beribadat dan beraklaq karimah. Setiap harinya, disamping sangat rajin menunaikan kewajiban, beliaupun jarang tidur dengan pulas meski malam hari. Tiap-tiap malam yang akhir beliau selalu shalat lail dan membaca al-Qur'an sampai khatam.

Imam Syaqiq al Balkhi berkata: "Imam Abu Hanifah adalah seorang yang terhindar jauh dari perbuatan yang dilarang oleh agama; ia sepandai-pandai orang tentang ilmu agama dan seorang yang banyak ibadahnya kepada Allah; amat berhati-hati tentang hukum-hukum agama."

Imam Ibrahim bin Ikrimah berkata: "Di masa hidupku, belum pernah aku melihat seorang alim yang amat benci kemewahan hidup dan yang lebih banyak ibadahnya kepada Allah dan yang lebih pandai tentang urusan agama, selain Imam Abu Hanifah."

UJIAN BERAT. Imam Abu Hanifah terkenal berani dalam menegakan kebenaran yang telah diyakini. Berani dalam pengertian yang sebenarnya, berani yang berdasarkan bimbingan wahyu Ilahi. Beliau tak bagitu cinta terhadap kemewahan hidup, maka dari itu tak sedikitpun hatinya khawatir menderita sengsara. Karena sunnatulah masih berlaku bagi manusia, ialah; bahwa orang yang cinta kemewahan hidup di dunia biasanya menjadi panakut, tidak berani menegakan kebenaran yang diridlai Allah.

Beliau adalah seorang yang apabila melihat kemungkaran atau maksiat, dengan seketika itu juga berusaha memusnahkannya. Sifat kelunakan segera lenyap dari hatinya, dan merah kedua matanya, kemudian bertindak keras terhadap kejahatan atau kemungkaran yang diketahuinya.

Beliau berani menolak kedudukan yang diberikan oleh kepala negara; berani menolak pangkat yang ditawarkan oleh pihak penguasa waktu itu dan tidak sagggup menerima hadiah dari pemerintah berupa apapun juga. Hingga karenyanya beliau ditangkap dan ditahan dalam penjara, dipukul, didera dan dianiaya di penjara sampai menyebabkan kematiannya. Yang demikian itu karena beliau seorang pemberani dalam menegakan kebenaran yang diyakininya.

Suatu hari Gubernur Iraq Yazid bin Amr menawarkan jabatan Qadli kepada Imam Hanafi, tetapi beliau menolaknya. Tentu saja sang Gubernur tersingggung dan kurang senang. Perasaan kurang senang itu menumbuhkan rasa curiga. Oleh sebab itu, segala gerak-gerik Imam Hanafi diamat-amati. Kemudian pada suatu hari beliau diberi ancaman hukum cambuk atau penjara manakala masih jua menolak tawaran itu. Sewaktu mendengar ancaman tersebut, Imam Hanafi menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan menduduki jabatan yang itu, sekalipun aku sampai dibunuh karenanya."
Sejumlah ulama besar negeri Iraq mengkhawatirkan nasib Imam Abu Hanifah. Mereka datang berduyun-duyuun ke rumahnya untuk menyampaikan harapan supaya beliau suka menerima jabatan yang diberikan itu.

Kata mereka; "Kita memohon kepada engkau dengan nama Allah, hendaknya engkau suka menerima jabatan yang telah diberikan kepada engkau. Gubernur Yazid sudah bersumpah akan menghukum engkau jika masih juga kau tolak tawarannya. Kita masing-masing sebagai kawan yang sangat erat tidak akan suka jika engkau dijatuhi hukuman, dan kita tidak mengharapkan peristiwa itu menimpa diri engkau."

Imam Hanafi tetap teguh, tak bergeming sedikitpun dari kebenaran pendirianya. Akibatnya beliau ditangkap dan dipenjarakan oleh polisi negara selama dua Jum'at. Gubernur memerintahkan agar Imam Abu Hanifah setiap hari dicambuk sebanyak 10 kali.

Sekalipun demikian beliau tetap bersikeras pada pendirian semula. Akhirnya beliau dilepaskan dari penjara setelah menikmati geletaran cambuk algojo sebanyak 110 kali.

Ketika Imam keluar penjara, tampak kelihatan di wajahnya bengkak-bengkak bekas cambukan. Hukuman cambuk itu memang semacam hukuman yang hina. Gubernur sengaja hendak menghinakan diri beliau yang sebenarnya mulia itu.

Hukuman itu oleh Imam Hanafi disambut dengan penuh kesabaran serta dengan suara bersemangat beliau berkata: "Hukuman dunia dengan cemeti masih lebih baik dan lebih ringan bagiku tinimbang cemeti di akherat nanti."

Demikian hal ihwal Sang Imam tatkala menghadapi ujian berat pada pertama kali. Padahal beliau sudah berusia agak lanjut, kurang lebih 50 tahun.

Imam Abu Hanifah di usia itu sempat menyaksikan peralihan kekuasaan negara, dari tangan bani Umayyah ke tangan bani Abbasiyyah sebagai kepala negara pertama adalah Abu Abbas as Saffah. Sesudah itu kepala negara digantikan oleh Abu Ja'far al Manshur, saudara muda dari Khalifah sendiri.

Pada masa pemerintahan Abu Ja'far, Imam Abu Hanifah mendapat panggilan dari Baginda di Bagdad. Sesampai di istana, beliau di tunjuk dan diangkat menjadi hakim (qadhi) kerajaan di Baghdad. Baginda bersumpah keras bahwa beliau harus menerima jabatan itu. Tawaran jabatan setinggi itu beliau tolak dan bersumpah tidak akan sanggup mengerjakannya.
Di tengah pertemuan ada seorang yang pernah menjadi santrinya dan sekarang menjadi pegawai kerajaan, tiba-tiba memberanikan diri berkata kepada beliau: "Apakah guru akan tetap menolak kehendak Baginda, padahal Baginda telah bersumpah akan memberikan kedudukan tinggi kepada guru.

Imam Hanafi dengan tegas menjawab: "Amirul mu'minin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya dari pada saya membayar kifarat sumpah saya."

Oleh karena tetap menolak pengakatan itu, maka sebagai ganjarannya Baginda merintahlan agar Imam Abu HAniafah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Baghdad, sampai pada massa yang ditentukan oleh Baginda sendiri.

Suatu hari, ada perintah menghadap dari istana, kemudian Baginda bertanya kepada beliau: "Adakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?"
Jawabnya tenang, "Semoga Allah memperbaiki Amirul Mu'minin! Wahai Amirul Mu'minin takutlah engkau kepada Allah, dan janganlah engkau bersekutu dalam kepercayaan engkau dengan orang yang tidak takut kepada Allah! Demi Allah, saya bukanlah orang yang boleh dipercaya di waktu tenang. Maka bagaimana mungkin saya menjadi orang yang boleh dipercaya diwaktu marah? Sungguh saya tidak sepatutnya diberi jabatan yang sedemikian itu!"

Baginda berkata: "Kamu berdusta, karena kamu patut memegang jabatan itu!"
"Ya Amirul Mu'minin! Sesungguhnya baginda telah menetapkan sendiri (bahwa saya seorang pendusta). Jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut menjabat itu, dan jika saya berdusta, maka bagaimana Baginda akan mengangkat seorang hakim yang berdusta? Di samping itu, saya ini adalah seorang hamba yang dipandang rendah oleh bangsa Arab, dan mereka tidak akan rela diadili oleh seorang golongan hamba (maula) seperti saya ini."

Amirul mu'minin merasa tak mampu lagi membujuk dan melunakan ketegaran pendirian sang Imam. Maka baginda bermaksud memangggil ibunda Imam Abu Hanifah yang waktu itu hidup pada usia sepuh. Sang Ibu diperintahkan agar berkenan membujuk anaknya agar suka menerima jabatan yang telah diberikan baginda berulang kali. Tetapi segala macam bujukan dan daya upaya sang Ibu senantiasa ditolak dengan halus dan keterangan yang sopan.

Pada suatu hari sang Ibu berkata, "Wahai Nu'man! Anakku yang kucintai! Buang dan lemparkan jauh-jauh pengetahuan yang telah engkau punyai ini, melainkan penjara, pukulan cambuk dan kalung rantai besi!"

Perkataan yang sedemikian itu, hanya dijawab oleh beliau dengan lemah lembut dan senyuman manis: "O... ibu! Jika saya menghendaki akan kemewahan hidup di dunia ini, tentu saya tidak dipukuli dan tidak dipenjarakan. Tetapi saya menghendaki akan keridhlaan Allah swt semata-mata, dan memelihara ilmu pengetahuan yang telah saya dapati. Saya tidak akan memalingkan pengetahuan yang selama ini saya pelihara kepada kebinasaan yang dimurkai Allah.

KHATIMAH. Imam Abu Hanifah adalah seorang alim (ulama) sejati. Selain ahli di bidang ilmu kalam dan ilmu fiqh, juga mempunyai kepandaian tentang ilmu lainnya, seperti ilmu sastra Arab dan ilmu hikmat.

Pernyataan para cerdik pandai di zamannya cukup menjadi bukti bahwa Imam Hanafi memang seorang yang berguna bagi masyarakat kaum muslimin pada masa itu, bahkan pada masa berikutnya.

Imam Jarir berkata bahwa Imam Mughirah pernah berkata kepadanya, "Duduklah kamu bersama Abu Hanifah, tentu kamu menjadi orang yang pandai. Karena sesungguhnya jika Imam Ibrahim an Nakha'i masih hidup, niscaya beliau duduk bersama-sama Abu Hanifah."
Lebih jauh dari itu beliau adalah seorang ilmuwan yang konsisten dengan disiplin ilmunya. Ilmu yang didasarkan dan bersumber dari al-Qur'an. Sikap konsistenya memang harus dibayar mahal, karena mempertaruhkan hidupnya sendiri.

Beliau seorang yang berjiwa teguh, berhati-hati terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya oleh kebanyakan orang. Dengan kenyataan itu, patutlah jika Imam Abu Hanifah itu seorang yang berani menghadapi malapetaka yang bagaimana pun juga, dan tidak ada perasaan takut menempuh bahaya dalam menegakan kebenaran yang lebih diyakini.

Itulah sebabnya kenapa Imam Abu Hanifah bersikeras tak mau menerima tawaran jabatan tinggi yang tentu saja bagi para pelacur ilmu sangat menggiurkan. Beliau bukan orang yang keras kepala yang maunya lari dari tanggung jawab.

Imam Hanafi tahu persis, apa jadinya jika dia masuk dalam jajaran pejabat pemerintahan waktu itu. Yang jelas pemerintahan bani Ummayah dan Bani Abbasiyah berdiri bukan atas dasar sunnah Rasul. Bentuk pemerintahannya monarkhi, yang sebagian besar bertentangan dengan asas Islam. Kebijakan negara lebih banyak bertumpu pada kehendak raja (penguasa). Sekirannya sang raja seluruh kehendaknya didasarnya al-Qur'a, hal itu tak menjadi masalah.

Tapi waktu itu keadaannya lain. Kehendak raja begitu dominan. Imam Hanafi tak sudi menjadi Qadhi karena khawatir kebenaran sejati tak bebas bergerak dan dipasung. Beliau merasa bebas berada di luar birokrasi, bisa leluasa menyampaikan kebenaran tanpa harus sungkan jabatanya. Lebih-lebih sungkan kepada baginda raja. Di samping itu juga karena hal itu sama artinya ikut berpartisipasi dan melestarikan kedzaliman sang penguasa. Sebenarnya, andaikan pemerintah secara total mau mengikuti sunnah Rasul, Imam Hanafi tak keberatan diangkat menjadi Qadhi.

Suatu hari untuk ke sekian kalinya beliau dipanggil, lalu dipaksa meminum segelas racun, dan oleh beliau lalu diminumlah minuman itu. Setelah kembali ke penjara, badannya terasa tidak enak. Tak lama kemudian beliau wafat, dalam keadaan menderita dalam usia 70 tahun.
 
Diangkat dari majalah Suara Hidayatullah, l991.

Melangit Sekaligus Membumi

Mengejar akhirat tanpa melupakan dunia. 

Handzalah adalah salah seorang sahabat yang dekat dengan Nabi, sebab sehari-harinya ia adalah sekretaris beliau. Meskipun seakan tiada jarak dengan Nabi ternyata ia menyimpan kegelisahan yang luar biasa. Sebagaimana yang diceritakan dalam Shahih Muslim, suatu ketika kegelisahannya itu disampaikan kepada Abu Bakar.

Setelah ditanya Abu Bakar tentang kondisinya, ia bercerita, "Hanzalah telah munafiq!" Kontan Abu Bakar terperangah, kemudian berkata, "Subhanallah, apa yang baru saja kau katakan?" Hanzalah menjelaskan, "Saya (Hanzalah) berada di sisi Rasulullah SAW yang sedang mengingatkan kami tentang surga dan neraka, seolah-olah keduanya terlintas di mata. Akan tetapi setelah kami keluar dari sisi beliau dan kembali kepada isteri, anak serta berbagai persoalan, maka kami melupakannya."
Mendengar penuturan Hanzalah ini, Abu Bakar menyahut, "Demi Allah, sesungguhnya keadaan kita sama, kita menghadapi kasus serupa." Kemudian keduanya pergi menjumpai Rasulullah SAW. Abu Bakar mengawali pembicaraan. "hanzalah telah munafiq ya Rasulullah!" Rasulullah bersada, "Apa maksudmu?"

"Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu yang sedang menceritakan tentang surga dan neraka, seolah-olah keduanya terlintas di mata. Akan tetapi setelah berpaling dari sisimu dan kembali kepada anak, isteri dan berbagai persoalan hidup, kami banyak melupakannya"
Rasulullah kemudian bersabda, "Demi Dzat yang menguasai diriku, jika kalian terus-menerus berada dalam kondisi seperti ketika kamu di sisiku dan dalam keadaan dzikir, tentu malaikat akan mengucapkan salam buat kamu sekalian pada tempat tidur dan perjalananmu. Akan tetapi wahai Hanzalah, itu sewaktu-waktu. Wahai Hanzalah, itu sewaktu-waktu. Wahai Hanzalah, itu sewaktu-waktu."

Rasulullah adalah sosok pemimpin yang sangat bijaksana. Pada saat salah seorang sahabatnya dirundung kegelisahan yang amat dalam, beliau sanggup menghiburnya. Bagai terhadap orang yang sedang kehausan, Rasulullah datang menawarkan air dingin. Dalam tempo sekejap rasa haus lenyap.

Adalah wajar jika sahabat Hanzalah gelisah karena sangat khawatir termasuk golongan munafiq, sebab unsur-unsur kemunafikan itu sedikit banyak telah ada dalam perasaannya. Setidak-tidaknya ia mudah melupakan pesan-pesan Rasul ketika jauh darinya. Surga dan neraka terasa sangat dekat, bahkan tampak di pelupuk mata jika sedang berdekatan dengan Rasulullah. Sebaliknya, jika sudah jauh, pemandangan keduanya menyingkir dari pikiran dan perasaannya.

Barangkali apa yang dialami oleh Hanzalah juga kita rasakan. Ketika dalam majlis pengajian, surga dan neraka itu membayang, seakan-akan kita akan mati besok. Kadang-kadang dalam hati kita berjanji untuk meninggalkan kesia-siaan hidup. Kita ingin berdzikirdan mengingat Allah saja. Akan tetapi setelah keluar dari masjid atau majlis pengajian, mungkin belum sampai di rumah, masih dalam perjalanan, pikiran kita sudah dipenuhi dengan berbagai rencana yang tidak simultan dengan apa yang sempat terbayangkan sebelumnya. Bahkan mungkin saja mata kita sudah mulai melirik sana lirik sini.

Perilaku seperti ini sebenarnya sangat wajar dan normal. Hanzalah, seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah saja merasakan hal ini. Termasuk Abu Bakar, seorang sahabat senior yang tercatat sebagai orang pertama beriman dan menjadi pengganti Rasulullah setelah wafatnya. Jika hal yang sama melanda kita, maka ketahuilah bahwa yang demikian itu sangat manusiawi.

Ummat terdahulu banyak yang terjebak pada persoalan ini. Mereka tidak menemukan sosok pemimpin yang bisa memberikan penjelasan yang bijak sebagaimana pada diri Rasulullah. Karenanya mereka menjadi tersesat karena keinginannya yang melampaui batas untuk keluar dari kemanusiaannya, semata-mata ingin berurusan hanya dengan Tuhannya.

Manusia tetaplah manusia. Ia tidak boleh keluar dari kemanusiaannya. Ia tidak boleh, dan tidak mungkin bisa menjadi malaikat, makhluk yang tidak pernah menyelisihi perintah. Manusia, selain terdiri dari unsur ruh (yang ditiupkan Allah), juga dari unsur tanah. Ia memiliki hati, juga nafsu.
karena ada unsur tanahnya, maka manusia mempunyai kecenderungan kepada materi, selain potensi-potensi fitrawi. Karenanya pula, kecenderungan itu wajar bila sekali-kali muncul menjadi suatu tuntutan kebutuhan. Selama masih dalam batas-batas syari'at agama, hal itu tak perlu dihalangi, apalagi sampai diharamkan.

Allah sangat tegas memberikan statemen dalam masalah ini. Allah berfirman,
"Katakanlah: 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik'. Katakanlah: 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.' Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. Al-A'raaf: 32)

Memenuhi tuntutan-tuntutan duniawi sama sekali tidak mengurangi kadar keimanan seseorang. Iman tetap bisa utuh, bahkan menjadi sempurna pada saat sedang memenuhi kecenderungan duniawi. Allah bahkan mendorong orang-orang yang beriman untuk memanfaatkan fasilitas hidup yang disediakan-Nya di muka bumi. Allah juga memerintahkan orang beriman untuk menikmati kehidupan dunia ini.

Allah berfirman, "Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu." (QS.Al-Baqarah: 168)

Jika Allah memerintahkan manusia makan dan minum, tentu saja bermakna perintah untuk bekerja guna menghasilkan uang untuk membayar makanan dan minuman. Bekerja, mengurus dunia adalah perintah dan sunnatullah yang diberlakukan Allah di dunia. Bagaimana mungkin orang bisa menikmati makanan halal lagi baik, jika mereka tidak berkerja.

Kalau halal itu jelas ketentuannya, sebagaimana yang ada dalam syari'ah. tapi 'baik' di sisni bisa berarti macam-macam. Makanan yang diperoleh melalui minta-minta sekalipun halal tapi tidak baik. 'Baik' juga bermakna memenuhi standar kesehatan, baik dilihat dari kandungan gizi maupun kebersihannya. 'Baik' juga berarti enak. Enak dipandang mata dan enak pula di tenggorokan.

Untuk memenuhi standar halal dan baik, tentu tidak mudah. Seseorang dituntut untuk kerja keras, memeras keringat, membanting tulang. Sebenarnya itu motto untuk pekerja kasar, meskipun juga berlaku untuk semua. Seharusnya masih ditambah satu lagi, memeras otak. Pekerja otot memang bisa menghasilkan rezeki yang cukup. Akan tetapi tanpa dibarengi kerja otak, hasilnya tidak akan memuaskan.

Kerja tentu bukan asal bekerja. harus efektif dan efisien. banyak orang yang bekerja, tetapi hasilnya tidak terlalu banyak. Mereka sudah mengeluarkan segala tenaganya, tapi tetap melarat. Yang demikian ini tentu tidak banyak manfaatnya, sebab bisa jadi waktunya hanya habis untuk bekerja saja. Meskipun bekerja juga bernilai ibadah, tetapi akan lebih baik jika masih tersisa waktu cukup untuk melakukan pendekatan khusus kepada Allah melalui ibadah-ibadah mahdhah. Dengan demikian keseimbangan hidup menjadi lebih sempurna.

Orang yang mampu menjaga keseimbangan antara ibadah dan kerja inilah yang disebut-sebut Al-Qur'an sebagai orang yang tidak lalai. Meskipun bekerja, ia tetap ingat, dzikir kepada Allah SWT.
Muslim yang baik bukanlah mereka yang melarika diri dari kehidupan duniawi. Islam menolak segala upaya yang dilakukan manusia untuk keluar dari kemanusiaannya. Sikap lari dari kehidupan, menyengsarakan diri, melaparkan diri melalui pertapaan, tak acuh, serta membunuh keinginan-keinginan syahwat, sama sekali tidak dikehendaki Islam.

Di antara para sahabat, ada yang mengajukan permohonan kepada Nabi agar ia diijinkan untuk bertempat tinggal di tepi sumber air, kemudian ia menyepi untuk beribadah semata. Ada yang ingin membujang selama hidupnya. Ada pula yang ingin menghabiskan malamnya untuk shalat lail dan siangnya untuk puasa. Semua permintaan tadi ditolak oleh Rasulullah. Beliau tidak ingin ummatnya melampaui batas kemanusiaannya.

Sosok muslim ideal adalah mereka yang beribadah kepada Allah, berdzikir, memuji dan menghadap kepada-Nya. Akan tetapi mereka tetap menikah, beranak, dan berusaha meniti jalan kehidupan sesuai dengan kemampuannya.

Islam tidak menghendaki sikap ekstrimitas pada satu sisi. Pekerjaan baik jika dilakukan di luar batas, akan menjadi tidak baik juga. manis itu enak, tapi jika terlalu manis, menjadi kurang sedap. Suatu masakan menjadi nikmat jika unsur-unsur rasa di dalamnya diolah secara seimbang. Jika terlalu pedas menjadi tak nikmat. Teralalu asin, apalagi.

Prestasi malaikat dalam ketaatan tidak bisa disaingi oleh siapapun, sebab manusia memiliki nafsu, sedang malaikat tidak. Prestasi manusia justru terletak pada kemampuannya untuk mengendalikan potensi nafsunya. Jika berhasil, derajat manusia naik setingkat lebih mulia dari malaikat.

Akan tetapi jika manusia tidak berhasil mengendalikan hawa nafsunya, bahkan nafsu telah menjadi komandannya, maka ia telah keluar dari kemanusiaannya. Bukan naik peringkat menjadi malaikat, tapi turun derajat menjadi binatang. Bahkan lebih rendah dari binatang.

Seperti binatang pada umumnya, pikiran dan perasaannya tidak terlalu penting. Yang menjadi pemimpin dan komandan sehari-harinya adalah nafsu dengan segenap dorongan dan keinginannya. Halal haram, baik buruk, boleh tidak, menjadi tidak penting, asal keinginannya terpenuhi. Orang seperti ini benar-benar telah menyembah dunia, yang menjadikan dunia sebagai cita-cita tertingginya.

Allah berfirman, "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: 'Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?'. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. Ali 'Imran: 14-15)

Syari'at Membimbing Anda dalam Menggunakan Jawwal/Handphone

Kepada Siapa Anda Memberikan Nomor Telepon Anda?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya. (Al-Maidah: 2)

Wajib atas seorang muslim untuk memilih teman-teman yang baik, yang bisa menjadi pembantu/penolongnya dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Teman dan saudara yang seperti itulah yang anda bisa memberikan nomor anda kepadanya. Karena tidaklah anda akan mendapati pada mereka kecuali kebaikan dan kesediaannya untuk membantu anda dalam meraih keridhaan Allah ‘azza wa jalla, dan tentunya mereka pun juga memiliki adab-adab syar’i yang senantiasa mereka jaga ketika menelepon dan berbicara dengan anda.

Di samping itu, orang-orang yang bukan orang shalih dan bertaqwa mereka tidak ada upaya untuk menjaga adab-adab seperti ini. Sehingga terkadang dia menelepon anda ketika waktu shalat misalnya, atau menelepon anda di penghujung malam dalam rangka sekedar bercanda, atau bahkan bisa jadi akan mengirim kepada anda gambar-gambar yang tidak senonoh dan yang lainnya dari berbagai bentuk dan warna kejelekan. Maka bersikap waspada dari mereka itu (orang yang tidak shalih dan tidak bertaqwa) akan lebih selamat.

Bimbingan Keduapuluh Dua

Jangan Mengangkat Suara Melebihi Kebutuhan

Di antara wasiat Luqman Al-Hakim adalah sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam surat Luqman, tatkala dia berkata kepada anaknya

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman: 19)

Al-Imam Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir-nya III/44:

“Firman Allah ‘azza wa jalla : ‘dan lunakkanlah suaramu’, maknanya adalah jangan berlebihan dalam berbicara dan jangan mengangkat suaramu dengan perkataan yang tidak ada faidahnya, oleh karena itulah Allah berfirman: ‘Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.’ Al-Imam Mujahid dan yang lainnya mengatakan : ‘Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai, yakni yang paling buruk dari mengangkat suara adalah yang kerasnya menyerupai suara keledai, di samping itu merupakan sesuatu yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Penyerupaan yang seperti ini mengandung pengharaman dan celaan yang sangat keras terhadapnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيسَ لنَا مَثَلُ السَّوءِ العَائِد فيِ هِبَتِهِ كَالكَلبِ:يَقِيءُ،ثم يَعُود ُقَيِئِه

Tidak ada bagi kami permisalan yang jelek. Permisalan seorang yang meminta kembali suatu pemberian yang diberikannya kepada orang lain itu seperti anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya tadi. (HR. Al-Bukhari, Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ath-Thahawi, Al-Baihaqi, dari shahabat Ibnu Abbas, dan dari shahabat Abu Bakr, sebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 5426. Dan lafazh yang seperti ini adalah lafazh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/124)

Maka dari sini jelaslah bahwa seorang muslim itu tidaklah mengangkat suaranya melebihi kebutuhan atau berbicara yang tidak ada faidahnya.

Bimbingan Keduapuluh Tiga

Jangan Sekali-kali menutup HP ketika Lawan Bicara Sedang Berbicara, kecuali jika ada Maslahat yang lebih besar

Seorang muslim itu hendaknya berhias dengan akhlak yang mulia dan sifat yang agung sebagaimana yang telah dianjurkan dalam syari’at agama kita yang lurus. Allah Ta’ala berfirman:

{ وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ }

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar di atas akhlaq yang agung. (Al-Qalam: 4)

Disebutkan pula dalam sebuah hadits:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أَحسن النَّاس خُلُقًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. (HR. Al-Bukhari 5850, Muslim 2150 dari shahabat Anas radhiyallahu ‘anhu)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling bisa bersikap baik terhadap keluarganya. (HR. At-Tirmidzi 1162, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, At-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.” Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1162 : “Ini adalah hadits hasan shahih”. Beliau juga berkata dalam Shahih Al-Jami’ : 1232 : “Ini adalah hadits shahih”. Hadits ini disebutkan juga di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 284)

Menutup HP dengan cara seperti ini (yakni ketika lawan bicara sedang berbicara) akan menghilangkan cerminan adab islami dan sifat yang mulia.

Bimbingan Keduapuluh Empat

Jaga Kesehatan

Di antara perkara yang wajib untuk diperhatikan adalah menjaga kesehatan, karena ini merupakan salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah yang besar dan wajib untuk dipergunakan dalam meraih keridhaan-Nya. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نعمتان مغبون فيها كثير من الناس :الصحة والفراغ

Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melalaikannya: (1) kesehatan, dan (2) waktu luang. (HR. Al Bukhari 7049)

Oleh karena itulah kebiasaan menggunakan HP dan lama dalam berbicara - dan yang lebih parah dari itu adalah gelombang sinyal yang kuat - terkadang bisa memberikan pengaruh yang berbahaya terhadap manusia -wallahu a’lam-. Maka berhati-hatilah darinya demi menjaga keselamatan (kesehatan), dan (nilai) keselamatan itu tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengannya.

Dan sekarang silakan anda perhatikan nukilan sebagian tulisan dalam pembahasan ini berupa bahaya (efek negatif) dari penggunaan HP berikut

Bahaya (efek negatif) HP terhadap Kesehatan

Riset ilmiah yang dilakukan dengan sangat teliti oleh seorang peneliti Saudi yaitu Dr. Sari’ bin Hamd Ad Dausri - seorang ahli di bidang THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), dan dia adalah kepala lembaga Al-Jum’iyyah As-Su’udiyyah urusan THT, kepala, dan leher - telah mengungkap tentang hilangnya indera pendengaran salah seorang pekerja Saudi sebagai akibat dari penggunaan HP dengan frekuensi yang sangat tinggi.

Dr. Ad-Dausri menyimpulkan hasil penelitiannya tersebut ketika memeriksa pasien mobile klinik di RS Universitas King Abdul Aziz, Saudi. Pasien tersebut adalah seorang pekerja berusia empat puluh tahun. Ia mengeluhkan pendengaran pada telinga kanannya berkurang selama tiga bulan, di samping rasa hangat dan rasa sakit di telinga. Dia mengatakan bahwa gejala ini terjadi ketika beberapa menit menggunakan ponsel menit dan baru hilang satu jam setelah menggunakan ponsel.

Dr. Sari’ menambahkan, bahwa pasien tersebut menggunakan ponsel lebih dari 90 menit dalam sehari dan tepat pada telinga kanannya. Hal itu berlangsung selama lebih dari dua tahun.

Kemudian dia rutin berkunjung ke klinik setiap tiga bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan medis secara seksama, terlihat bahwa pendengaran berkurang sekitar 25 desibel pada telinga kanan. Berkurangnya pendengaran tersebut semakin besar dengan bertambahnya waktu penggunaan ponsel. Kemudian si pasien diminta menggunakan ponsel di telinga kirinya. Setelah 6 bulan pendengaran di telinga kanan mulia membaik. Telinga kanan semakin membaik ketika pengunaan ponsel dihentikan. Namun ketika diulang kembali menggunakan ponsel pada telinga kanan tersebut, pendengaran kembali berkurang. Maka pasien disarankan untuk menggunakan telepon biasa dan mengurangi penggunaan ponsel, dan mengurangi penggunaan speakerphone, di mana pasien mengurangi penggunaan ponsel sampai 15 menit sehari. Dengan demikian sembulah penderitaannya, namun si pasien tetap mengalami sedikit penguraan pendengaran selamanya. Dr Ad-Dausari mengungkapkan hal itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia berjudul “efek ponsel terhadap kesehatan dan perlunya penelitian lebih lanjut” bahwa semakin meningkat penggunaan telepon selular berarti semakin menambah efek biologis dan efek kesehatan. Akibat pajanan terhadap elektro-magnetik mobile gelombang perangkat, atau menara transmisi booster. Di mana penelitian yang dipublikasikan menunjukkan adanya efek kerusakan kesehatan, seperti: kelelahan, sakit kepala, pusing, dan gangguan tidur. ….

* * *

Mengambil Manfaat dari HP

1. Menyambung hubungan dengan keluarga dan kerabat anda (silaturahim).

2. Menelepon para ‘ulama dan bertanya kepada mereka tentang beberapa masalah yang terjadi.

3. Membantu memenuhi kebutuhan anda baik dalam perkara agama maupun dunia.

4. Merekam suara bacaan Al-Qur’an, tulisan, dan muhadharah.

5. Mengambil manfaat dari situs-situs internet yang bermanfaat.

6. Turut serta dalam kegiatan yang ilmiah di internet.

7. Membangunkan orang tidur (misalnya dengan mengaktifkan jam alarm).

8. Sebagai pengingat jadwal kegiatan anda baik umum maupun khusus, dan termasuk juga adalah sebagai peringatan telah masuknya waktu shalat.

9. Mengetahui keadaan (kabar) seorang alim.

10. Dakwah di jalan Allah.

11. Mengambil gambar (foto) pemandangan alam yang tidak ada gambar makhluk bernyawa yang dengannya akan membantu anda dalam mengingat Allah sehingga akan bertambahlah keimanan anda kepada Allah ta’ala sebagai Dzat yang Maha menciptakan, Rabb, pemberi rizqi, dan yang mengatur alam semesta ini dan Dia adalah Ilah yang satu (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi) tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sungguh indah apa yang diungkapkan oleh seseorang

وفي كل شيء له آية …تدل على أنه واحد

Dan segala sesuatu di alam ini merupakan ayat (tanda) bagi-Nya

Yang menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang Maha Esa.

12. Memberikan pertolongan pertama pada kecelakan

(Sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=386)

Sabtu, 19 Februari 2011

Rahasia Di Balik Adzan

Renungkanlah WAHAI SAHABAT-SAHABATKU yang dirahmati ALLAH SWT,
Mengapa lidah kelu disaat kematian? Tetapi kematian itu pasti menjelma.

Hanya masa dan waktunya yang tidak kita ketahui. Coba kita amati.
    
Mengapa kebanyakan orang yg nazak (hampir ajal)
tidak dapat berkata apa- apa.. lidahnya kelu, keras dan
hanya mimik mukanya yang menahan kesakitan 'sakaratul maut'.

Diriwayatkan sebuah hadis yg bermaksud:
"Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan,

jika tidak Alloh akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya."

Ini jelas menunjukkan, kita disarankan agar mendiamkan diri, jangan berkata apa-apa pun semasa azan berkumandang.

Sebagai orang beragama Islam kita wajib menghormati azan. Banyak fadhilatnya.

Jika lagu kebangsaan kita diajar agar berdiri tegak dan diamkan diri.

Mengapa ketika azan kita tidak boleh mendiamkan diri?

Lantas sesiapa yang berkata-kata ketika azan,

Alloh akan kelukan lidahnya ketika nazak.

Kita takut dengan kelunya lidah kita semasa ajal hampir tiba maka kita tidak dapat mengucap kalimah
"Lailahaillallah.." yang mana sesiapa yang dapat mengucapkan kalimah ini ketika nyawanya akan dicabut Alloh dgn izinNya menjanjikan syurga untuk mereka.
Dari itu marilah kita sama-sama menghormati azan dan mohon kepada Alloh supaya lidah ini tidak kelu semasa nyawa kita sedang dicabut.

"Ya Alloh! Anugerahkanlah kematian kami dengan kematian yang baik lagi mulia, lancarkan lidah kami mengucap kalimah "Laa ilaha illallah.." semasa sakaratul maut menghampiri kami. Amin.. amin.. amin Yarobbal a'lamin.."


WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAIDINA ALI R.A.;

   
Wahai Ali, bagi orang MUKMIN ada 3 tanda-tandanya:
1) Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia.
2) Tidak terpesona dengan pujuk rayu.
3) Benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia..
    
Wahai Ali, bagi orang 'ALIM itu ada 3 tanda2nya:
1) Jujur dalam berkata-kata.
2) Menjauhi segala yg haram.
3) Merendahkan diri.
  
Wahai Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda2nya:
1) Merahasiakan ibadahnya.
2) Merahasiakan sedekahnya.
3) Merahasiakan ujian yg menimpanya.
  
Wahai Ali, bagi org yg TAKWA itu ada 3 tanda2nya:
1) Takut berlaku dusta dan keji.
2) Menjauhi kejahatan.
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.
    
Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda2nya:
1) Mengawasi dirinya.
2) Menghisab dirinya.
3) Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.
 
Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'surat berantai' melalui e-mail tetapi bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir 2 atau 3 kali.

OLEH ITU JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI SEBAHAGIAN  DARI KELUCUAN TERSEBUT, INSYA'ALLAH.

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Sholat Subuh di Masjid

Seorang pria bangun pagi2 buta utk sholat subuh di Masjid.  
Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
ditengah jalan menuju masjid, pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah,
dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI,
berjalan menuju masjid.
Dlm perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama!
Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah.
Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju,
berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yg memegang lampu.
Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab "Saya melihat anda jatuh 2 kali
di perjalanan menuju masjid,
jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda.'
Pria pertama mengucapkan terima kasih  dan mereka berdua berjalan ke masjid.
Saat sampai di masjid, pria pertama bertanya kepada pria yang
membawa lampu untuk masuk dan sholat subuh bersamanya.
Pria kedua menolak.
Pria pertama mengajak lagi hingga berkali2 dan,
lagi, jawabannya sama.
Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan sholat.
Pria kedua menjawab
 
Aku adalah Setan (devil/ evil)
Pria itu terkejut dgn jawaban pria kedua.
Setan kemudian menjelaskan,
'Saya melihat kamu berjalan ke masjid,
dan sayalah yg membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah,
membersihkan badan dan kembali ke masjid,
Allah memaafkan semua dosa2mu.
Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan
bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja,
kamu tetap memutuskan kembali masjid.
Karena hal itu, Allah memaafkan dosa2 seluruh anggota keluargamu.
Saya KHAWATIR jika saya membuat mu jatuh utk ketiga kalinya,
jangan2 Allah akan memaafkan dosa2 seluruh penduduk desamu,
jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasjid dgn selamat..'
Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya.
Jangan melepaskan sebuah niat baik yg hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tau ganjaran yg akan kamu dapatkan
dari segala kesulitan yg kamu temui dalam usahamu utk melaksanakan niat baik tersebut .
 
 
 
If forwarding this message will bother you, or take
too much time from you, then don't do it, but you will not
get the reward of it, which is great.