Rabu, 23 Maret 2011

Keutamaan Menyebarkan As-Salamu ‘Alaikum

Sebagai ajaran Rabbani Islam memang lengkap dan sempurna. Islam mengatur segenap urusan kehidupan manusia dari perkara yang paling kecil hingga perkara yang paling besar. Dari urusan yang bersifat individual hingga urusan sosial.

Salah satu tuntunan Islam ialah perkara bertegur sapa antara seorang beriman dengan Muslim lainnya. Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mencontohkan bahwa bila seorang Muslim berjumpa dengan Muslim lainnya, maka hendaklah ia mengucapkan sapaan khas Islam yaitu As-Salamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh, artinya Salam damai untukmu dan semoga Rahmat dan Keberkahan Allah menyertaimu. Subhanallah...! Begitu indahnya tegur-sapa yang diajarkan agama Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman.  

Bahkan dalam suatu kesempatan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan tindakan mengucapkan salam sebagai bentuk ajaran Islam yang lebih baik. Menebar salam disetarakan dengan memberi makanan kepada orang yang dalam kesusahan.

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ
 تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Manakah ajaran Islam yang lebih baik?” Rasul shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Hendaklah engkau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak.” (HR Bukhary)

Dalam hadits yang lain Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan korelasi antara mengucapkan salam dengan saling mencinta antara satu Muslim dengan Muslim lainnya. Kemudian korelasi antara saling mencinta dengan keimanan. Kemudian akhirnya korelasi antara beriman dengan izin dari Allah untuk masuk surga, negeri keabadian yang penuh dengan kesenangan abadi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا
 أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Berkata Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian tidak beriman secara sempurna sehingga kalian saling mencinta. Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara bila kalian lakukan akan saling mencinta? Biasakanlah mengucapkan salam di antara kalian (apabila berjumpa).” (HR Muslim)

Dengan kata lain Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin menjelaskan bahwa kumpulan Muslim yang tidak suka saling menebar salam maka tidak akan saling mencinta. Bila atmosfir saling mencinta tidak ada, maka keimanannya diragukan keberadaannya. Dan jika keimanannya diragukan, maka kemungkinan masuk surga-pun menjadi kecil.  

Saudaraku, marilah kita berlomba untuk masuk surga dengan jalan senantiasa menebar salam satu sama lain di antara sesama kaum muslimin. Sungguh sederhana, namun sebagian kita enggan melakukannya. Padahal akibat yang ditimbulkannya menjadi idaman setiap Muslim: Masuk surga...! Bukankah ini bentuk kompetisi satu-satunya yang dibenarkan Allah untuk diperebutkan di antara sesama Muslim?

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا
 السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS Ali Imran ayat 133)

Ya Allah, aku mohon kepadaMu akan RidhaMu dan SurgaMu dan aku berlindung kepadaMu dari MurkaMu dan NerakaMu.

Sedekah Menaungi Pemiliknya Di Hari Kiamat

Seorang muslim senantiasa khawatir akan nasibnya kelak di hari Kiamat atau hari Berbangkit. Sebab ia faham bahwa pada hari itu umat manusia bakal dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar sedangkan matahari berada sangat dekat dari kepala setiap orang. Maka ketika itu setiap orang sangat ingin agar dirinya bisa bernaung di bawah suatu tempat bernaung agar dapat terhindar dari panasnya sengatan matahari.

Alhamdulillah, Nabi Muhammad memberitahu kepada kita ummatnya, ilmu mengenai apa saja perbuatan yang bila dikerjakan selagi hidup di dunia yang fana ini, dapat menyebabkan hadirnya naungan di hari Kiamat. Oleh sebab itu seorang muslim-mukmin yang cerdas pasti bersemangat mencari tahu perbuatan apakah gerangan itu. Seorang muslim cerdas sangat peduli dengan apa-apa yang memastikan dirinya selamat dan sukses dalam kehidupan di alam abadi akhirat, sesudah ia meninggalkan dunia fana. Bahkan lebih jauh daripada itu, seorang mukmin pasti berusaha sekuat tenaga mengamalkan ilmu tersebut agar janji yang ada bersamanya menjadi kenyataan kelak di hari tidak ada naungan kecuali naungan yang datang dengan izin dan ridho Allah. Itulah sebabnya seorang muslim tidak akan pernah puas mendalami sekedar ilmu yang sebatas demi kepentingannya hidup di dunia fana ini. Ia pasti akan getol memperluas wawasan ilmunya hingga mencakup perkara sesudah kematiannya. Demikianlah permohonannya kepada Allah:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
”Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia pusat perhatianku dan batas pengetahuanku.” (HR Tirmidzi)

Seorang beriman sangat faham bahwa bila ia hanya memiliki pengetahuan yang bermanfaat sebatas untuk kepentingan dan kemaslahatan hidupnya di dunia belaka, maka itu tidaklah terlalu startegis. Maka iapun mencari tahu apa saja pengetahuan yang menyebabkan dirinya mengerti hal-hal yang bakal dialaminya setelah kehidupannya di dunia. Dan semua ilmu tersebut hanya mungkin ia dapatkan berdasarkan informasi dari Allah dan RasulNya semata. Sebab semua ilmu yang melewati batas dunia termasuk ilmu mengenai hal-hal yang ghaib. Dan itu tidak bisa diketahui kecuali bila datang dari Allah Yang Maha Tahu perkara ghaib maupun nyata. Bahkan Nabi Muhammad tidak akan bisa menjelaskannya kecuali karena beliau sendiri telah diberitahu Allah.

Di antara keterangan Rasulullah ialah hadits yang menyatakan bahwa naungan orang beriman di hari Kiamat sangat terkait dengan kebiasaannya mengeluarkan sedekah sewaktu hidupnya di dunia. Ketika di padang Mahsyar setiap orang menunggu giliran dirinya diadili serta timbangan kebaikan dan keburukannya diperhitungkan, maka semua orang bakal merasakan panasnya matahari di atas kepala masing-masing. Namun orang-orang yang bersedekah bakal memperoleh naungan dari matahari karena sedekahnya itu hingga hukuman alias vonis ditetapkan di antara manusia.

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :
كُلُّ امْرِئٍ فِي ظلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَاسِ ، أو قال :
حَتَّى يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ قال يزيد :
فَكَانَ أَبُو الخَيْرِ لَا يُخْطِئُهُ يَومٌ إلَّا تَصَدَّقَ مِنْهُ بِشَيْءٍ ،
أَوْ كَعْكَةً أَوْ بَصَلَةً أوْ كَذا
“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari Kiamat) hingga diputuskan di antara manusia atau ia berkata: “Ditetapkan hukuman di antara manusia.” Yazid berkata: ”Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah padanya dengan sesuatu, walaupun hanya sepotong kueh atau bawang merah atau seperti ini.” (HR Al-Baihaqi – Al-Hakim – Ibnu Khuzaimah)

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad Nabi Muhammad dengan jelas dan tegas menyatakan sebagai berikut:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ
Bersabda Rasulullah saw: “Naungan orang beriman di hari Kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad)

Saudaraku, marilah kita rajin bersedekah agar memperoleh naungan di hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Sungguh beruntung orang beriman yang melazimkan dirinya setiap hari mengeluarkan sedekah sebagai bentuk investasi cerdas untuk melindungi dirinya di hari yang sungguh sangat menyulitkan dan menakutkan kebanyakan manusia. Seperti yang dikatakan oleh periwayat hadits di atas yakni Yazid: ”Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah padanya dengan sesuatu, walaupun hanya sepotong kueh atau bawang merah atau seperti ini.”

Dan ketahuilah saudaraku, jangan pernah memandang remeh pemberian yang engkau keluarkan. Sebab bukan banyaknya sedekah yang menyebabkan naungan di hari Kiamat. Melainkan keikhlasan kitalah yang menyebabkannya. Sehingga dalam hadits lainnya Nabi bahkan bersabda sebagai berikut:

قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحْقِرَنَّ
مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Janganlah kamu meremehkan sedikitpun perbuatan ma’ruf, sekalipun kamu sekedar menemui saudaramu dengan wajah berseri.” (HR Muslim)

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمِسْكِينَ لَيَقُومُ عَلَى بَابِي فَمَا أَجِدُ لَهُ شَيْئًا
أُعْطِيهِ إِيَّاهُ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ لَمْ تَجِدِي شَيْئًا
تُعْطِينَهُ إِيَّاهُ إِلَّا ظِلْفًا مُحْرَقًا فَادْفَعِيهِ إِلَيْهِ فِي يَدِهِ
“Ya Rasulullah, semoga Allah memberikan rahmat kepadamu. Sesungguhnya seorang miskin berdiri di depan pintu rumahku, maka aku tidak menemukan sesuatu yang bisa aku berikan kepadanya.” Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya: ”Jika kamu tidak menemukan sesuatu yang bisa kamu berikan kepadanya selain kuku binatang yang dibakar, maka serahkanlah kepadanya di tangannya.” (HR Tirmidzi)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan serta sikap pengecut dan kebakhilan.” (HR Muslim)

Istiqomah

Matahari selalu bersinar setiap saat tanpa pernah berhenti bahkan meskipun cuaca mendung tebal pun, matahari tetap bersinar. Bintang-bintangpun tetap memantulkan sinar matahari ke seluruh penjuru bumi. Angin berhembus setiap detik sehingga suasana terasa segar. Air mengalir dari sumbernya tanpa henti. Jantung ini selalu memompa darah setiap detiknya, nafas ini keluar masuk ke paru-paru setiap saat tanpa henti. Darah yang selalu mengalir ke seluruh tubuh, air yang selalu membasahi mata tanpa henti. Lalu Adzan yang dikumandangkan 5 kali sehari, sholat 5 waktu yang dijalankan setiap harinya, puasa yang dijalankan mulai fajar sampai petang, itu semua adalah dalil-dalil yang menjelaskan tentang ISTIQOMAH. Dasar yang sangat JELAS, dasar yang NYATA yang setiap harinya sudah kita alami, juga kita lihat sendiri.

Istiqomah adalah keteraturan, kesinambungan tanpa henti, bergerak terus menerus. Orang jawa temen…sopo sing temen bakal tinemu…

Kepasrahan

Pasrah adalah satu syarat mutlak dari seorang hamba kepada Tuhannya. Pasrah itu sendiri akan melahirkan beberapa kata yang sulit untuk dimengerti maupun dikerjakan oleh orang lain kecuali antara dia sendiri dengan Tuhannya, kekasihnya, sahabat sejati dan juga teman dekatnya (ya shohibika).

“Shohibka” sendiri telah dibuktikan oleh shohibika kulafaurrosyidin pada rosululloh saw atau telah diikutkan oleh Rabb pada setiap pengabdi setia yang berniat membersihkan hati, menyucikan jiwa agar setiap hamba mencari jalan keindahan kepada Rabbnya, sehingga tertujulah cintanya kepada Sang Rabb untuk menggapai ridho-Nya yang membelah dada hamba. Kemudian dada yang telah terbelah ini diisi dengan rakhmat dan hikmah oleh Allah. Dengan demikian tercapailah kepuncak dari apa yang telah dialami oleh para pengabdi Rabbi yang setia tanpa tergiur sedikitpun dengan apa yang disodorkan oleh selain ALLAH azza wajalla (QS Ar_Ra’dhu 10,11,12 dan QS Infithor 11).

Sifat pasrah itu sendiri akan melahirkan suatu pemikiran yang jernih, kebijaksanaan yang akurat sebagai wujud dari “ta’rifuna” (kebijaksanaanku) itu sendiri dari kebijaksanaan Rabbinya. “Taf’rifuna” (kebijaksanaan Kami) yang dari Tuhannya melebihi dari ta’rifuna seorang hamba yang menerjemahkannya. Seorang hamba kurang faham terhadap hal apapun, padahal kebesaran kebijksanaan sudah ada didepan mata. Ini karena pemahaman akal yang terbatas telah mengikis naluri asli dari hati sehingga akan memunculkan nafsu pengharapan yang terlalu besar. Cinta hamba yang seperti ini tidak akan sampai kepada Sang Rabb jika jalan yang dilalui adalah seperti ini.

Seorang hamba akan mati namun “cinta” ini tidak akan pernah mati. Ruh hidup disisi-Nya dengan cinta. Badan hamba berjalan kurang cepat dibandingkan Ruh Cinta itu sendiri. Ruh cinta berjalan tanpa halangan pergi menuju ke Rabbnya tanpa rintangan. Jalan terjal inilah adalah wujud dari pasrah itu sendiri yang selalu terlewati oleh para pengabdi suci (QS Al Hijr 99).

Jalan keyakinan adalah jalan kematian. Kata yakin berarti maut. Yakin pada Ruh adalah yakin pada maut. Yakin pasti akan diberikan pada setiap pengabdi untuk mencapai dari ridho dan pasrahnya hamba menurut kadar hatinya. Perilaku kebaikan yang dominan akan menggapai pada ujung ridho keyakinan (maut) sebagai suatu pengharapan (roja’) yang paling tinggi sebagai manusia hidup (QS. Al Ankabut 69).

Ujian, Cobaan Ataukah Rakhmat ?

Ujian ataupun cobaan berasal dari akar kata yang sama, tinggal di balik saja. Ketika menerima sesuatu dengan ikhlas lalu intropeksi diri lalu berbenah diri, maka itu adalah ujian, tetapi ketika ingkar, maka itu adalah cobaan juga disebut pula musibah.

Dalam satu ayat disebutkan bahwa musibah itu adalah sebagai akibat dari salah manusia sendiri, misalkan sakit dan kalau ditelurusi lebih jauh, maka sakit ini adalah buah dari perilaku yang kurang baik. Namun dalam ayat yang lain juga disebutkan bahwa sakit juga rakhmat dari Allah dan bisa mengurangi dosa. Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa semua ini bisa terjadi karena ijin Allah. Satu ayat akan ditegaskan atau juga dijabarkan dengan ayat yang lain.

Menyikapi setiap kejadian yang tidak seenak apapun, maka kesadaran tertinggi harus ditempatkan yaitu Allah lah yang menghendakinya. Kehendak Allah ini turun karena memang manusia yang menghendakinya. Semisal, dihina orang lain itu ndak enak, maka janganlah menghina. Terlalu banyak makan akan menimbulkan penyakit, ya makan secukupnya sesuai ajaran Rosululloh yaitu rumus 1/3.

Kalau semua itu kehendak Allah (takdir), berarti aku harus diam saja, toh Allah sudah menggariskan. Ada bahasa kodrat, ada pula irodat. Ada hal yang bisa dirubah dan ada yang tidak bisa dirubah. Untuk memahami bahasa kodrat dan irodat, maka juga harus dipahami bahasa “kehendak” itu sendiri. Kehendak berhubungan dengan kesadaran absolut yang menempatkan Allah dalam hirarki tertinggi. Adakah maksud lain dari kehendak ini? Ini adalah titik awal untuk mengetahui sebenarnya ada apa dibalik ini, karena sesungguhnya setiap hal memiliki latar belakang dan masa depan. Pertanyaan lanjutan adalah why me?? Kenapa saya yg harus mengalami hal ini? Ada ego juga kesombongan di dalam statement tsb. Pertanyaan lanjutan, ketika hal yg tidak enak dijawab kenapa saya, lalu kenapa saat menerima hadiah atau uang, tidak juga mengatakan “kenapa saya”, yg menerima, kenapa bukan dia atau tetangga lainnya? Ini adalah bahasa otak alias bahasa dagang, untung mau, rugi, nanti dulu. Lain lagi kalau bahasa hati, maka yang ada adalah iya saya terima, terima kasih sudah diberi demikian banyak hal kepada saya dan ini adalah bagian dari proses perjalanan hidup saya. Biarlah saya yang menerima, jangan orang lain. Cukuplah aku yang mengalami, jangan orang lain. Ada tawaduk disini, kerendahan hati seorang hamba terhadap pemberian Gusti nya. Inilah yang disebut dengan rakhmat, pintu ampunan dibuka maka mengalirlah pahala laksana air hujan membasahi bumi.

Sakit, semisal adalah contoh satu pintu sudah ditutup, namun Allah sebenarnya membuka pintu yang lainnya. Dalam “kun fayakun” dari kehendak ini, hikmah lain diturunkan jika “memahami” nya. Dengan salah satu jenis penyakit ini maka Allah sudah menurunkan sedemikan banyaknya rezeki kepada orang lain, mulai dari dokter, bidan, perawat, sales obat, pabrik obat, perbankan, jasa transportasi dsb. Ketika menurut satu kasus sakit saja, maka akan ada keterkaitan yang melibatkan aspek di seluruh dunia. Apakah ini disebut musibah??? Pembahasan ini baru dalam tahap kulit alias syareat saja belum lagi ketika bahasa ini dilanjutkan ke hakekat, toreqoh dan makrifat.

Ketika sakit datang mendera, pelajaran yang sangat indah dari Allah adalah “kasih sayang” ada rahman dan ada rahimnya. Sakit kok malah kasih sayang, apa tidak terbalik? Andaikata kita bisa mendengar sapaan Allah ketika kita sakit, maka yang terdengar adalah “aku sayang kamu, aku ingin engkau kembali kepada-KU. Aku ingin engkau seperti dahulu yang penuh rasa hormat dan tawaduk kepada-KU. Bukankah dahulu kita sudah pernah berjanji kepada-NYA, alastu birobbikum qoluu bala syahidna antaquluu.. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172). 

Kita sudah bersaksi, pengakuan, mengakui DIA lah Tuhan, tetapi dalam perjalanan ini terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga dari penyimpangan itu ada konsekuensi logis yang harus diterima. Bukan hukuman, baru taraf jeweran seperti halnya kita menjewer anak kita ketika mereka berbuat salah..ada kasih disini yaitu salah satu bentuk perwujudan rahman dan rahim itu sendiri. Dari yang dulunya emosian, suka marah, maka ketika jatuh sakit, jadilah orang yang lemah, tidak kuasa duduk, tidak kuasa berkata-kata. Itulah pelajaran bagi yang sakit sendiri juga cermin bagi yang sehat. Ketika sudah sampai disini, masih beranikah kita menyebutnya Allah menghukumku?? Kalau memang Allah benci kepada kita, sudah dicabut nyawa ini setiap kali kita berbuat salah, tetapi kenyataannya TIDAK. Inipun bentuk rakhmat, ampunan dan ridhonya Allah.
Ketika melihat pohon-pohon bergoyang diterpa angin yang kencang, lalu ada yang roboh. Ketika pohon berguncang, bergerak dengan keras, maka itu sebenarnya menggerakkan akar-akar pohon itu sendiri, maka tanah disekitarnya menjadi semakin gembur, dan akar-akarnya akan semakin gampang merobos tanah sehingga batang akan semakin kuat dan pohon akan semakin besar. Bagi yang roboh, sebenarnya dia memberi peluang pohon yang lain untuk menjadi lebih besar tanpa terganggu pohon yang lainnya. Ini adalah sebuah siklus kehidupan yang akan berjalan terus menerus seperti halnya gempa bumi dimana-mana. Gempa bumi itu tidak lain juga wujud dari pergerakan bumi untuk menyetabilkan diri. Analogi gempa bumi dalam diri manusia tidak lain adalah permasalahan hidup yang mendera, entah sakit, entah kebangkrutan dsb. Tujuannya adalah agar membuat manusia itu semakin tegar, kokoh dan dewasa. Ini adalah sebuah keseimbangan alam agar tetap harmoni. Maka sudah jelaskah Allah menciptakan makluknya ini berpasang-pasangan. Disatu tempat ada bencana, ditempat itu pula Allah menurunkan rakhmat. Kalau sudah sampai disini, masihkah kita berkata-kata lagi tentang musibah.. ujian.. cobaan. Saya malah jadi takut sendiri. Yang ada adalah Allah sudah menghendaki seperti ini dan saya harus bersyukur menerima ini..na’am.. inggih.. alhamdulillah wa syukurilah… Allah Maha Tahu.. Semua ini harus terjadi. Bukan hukuman..bukan hujatan melainkan rakhmat Allah bagi semesta alam.