Jumat, 25 Maret 2011

Poligami Melindungi Wanita

Menciptakan manfaat sebesar-besarnya dan menepis bahaya, kendatipun kecil, itulah spirit yang melekat pada setiap aturan Islam. Tidak ada satu pun ketetapan hukum Ilahi yang berimplikasi buruk bagi umat manusia. Semua mengandung kemaslahatan demi kemaslahatan. Termasuk juga bolehnya melakukan poligami bagi kaum laki-laki, sama sekali tidak menimbulkan ekses negatif pada diri wanita. Justru poligami (yang sesuai dengan syari'at Islam) memberikan aspek positif pada mereka.

Oleh karena itu, poligami tidak perlu ditakuti, apalagi sampai antipati. Sebelum Islam datang, poligami sudah ada dan merupakan sesuatu yang wajar, bahkan di lingkungan kerajaan di negeri ini pada masa lalu. Tak sedikit para raja yang memiliki isteri lebih dari satu, bahkan mungkin tak terhitung. Begitu pula yang terjadi pada masa Jahiliyah. Seorang laki-laki bisa memiliki isteri bisa lebih dari sepuluh, bahkan lebih. Yang lebih mengenaskan, seolah wanita diperlakukan layaknya barang, yang bisa dipindah kepemilikannya.

Kemudian Islam datang dengan membawa pencerahan, mengoreksi kebiasaan buruk tersebut. Tidak lain ialah untuk “memanusiakan” wanita, yang keberadaannya tertindas. Tidak memiliki hak sebagai manusia merdeka. Islam datang untuk mengangkat derajat wanita setinggi-tingginya, memuliakannya, menjaga kehormatannya, dan menjauhkan mereka dari tempat yang hina.
Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
Berwasiatlah kalian (kepada orang lain) untuk berbuat baik kepada wanita.
(HR. Bukhari)

Data statistik di banyak negara mengindikasikan jumlah wanita melebihi kaum Adam, Jika sensus ini benar, sementara aturan pernikahan hanya membolehkan seorang laki-laki menikah dengan satu wanita, lantas bagaimana wanita-wanita yang belum bertemu jodohnya mencari perlindungan, keamanan, memenuhi kebutuhannya, dan menjaga kehormatannya?

Tentu, siapa pun tidak ingin menghabiskan hari-harinya sendirian. Ini sebuah permasalahan sosial. Meski para wanita ini dipaksa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, kemungkinan justru menjadi bumerang bagi keamanan dan kehormatannya.

Jika mau jujur, hidup sendiri tanpa pasangan resmi, bak orang yang berjalan dengan pincang, penuh resiko. Gelar berjejer, status sosial tinggi, atau seabreg kesibukan dalam karir, tidak akan dapat mengobati kesendirian seorang wanita yang mendambakan kehadiran seorang lelaki. Dan yang demikian ini adalah fitrah bagi wanita.

Mereka membutuhkan tempat bernaung yang bisa melindungi, membimbing, mencurahkan kata hatinya, dan mendapatkan kasih sayang. Bahkan untuk mengobati kerinduannya dipanggil ibu oleh anak-anaknya.
Dalam konteks ini, kemaslahatan poligami yang didapatkan wanita lebih besar dibandingkan kemaslahatan lelaki yang menjalankan poligami, sebagaimana telah diungkapkan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan saat ditanya mengenai solusi penanganan banyaknya jumlah wanita yang belum menikah. (Lihat al Muntaqa, 3/168).

Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini termasuk asasi. Ironisnya, meski mengetahui kemaslahatan poligami, tak kurang para penentang poligami seolah selalu menutup mata terhadap keindahan yang terkandung dalam syari’at Islam ini. Dengan berbagai alasan, propaganda penolakan didengungkan di mana-mana, media massa, mimbar-mimbar, bahkan dipolitisasi. Seolah-olah poligami adalah buruk, sedangkan perzinaan sesuatu yang baik.

Begitu pula para wanita, tidak sedikit yang merasa berat suaminya melakukan poligami, tetapi tak merasa terganggu jika suaminya melakukan perselingkungan dengan wanita lain. Na’udzubillah.

Padahal jika ditelusur secara mendalam, perzinaan telah menimbulkan keresahan. Dampak sosialnya sangat mahal untuk dibayar. Perzinaan sangat meresahkan masyarakat, merancukan nasab, dan yang telah terjadi, perzinaan telah memberikan saham sejumlah penyakit menular, sejak dikenal dengan sipilis, rajasinga, hingga pada masa kiwari ini munculAIDS. Jadi, perzinaan sangat tidak menguntungkan bagi wanita.

Begitu pula dengan “wanita simpanan”, hakikatnya telah mempecundangi harkat dan martabat wanita. Dia tidak mendapat perlindungan, tetapi justru sekedar dijadikan pemuas nafsu belaka. Di hadapan hukum, bila terjadi kematian pasangan selingkuhnya, tidak ada pasal-pasal yang menguatkan posisinya. Ketidakpastian, lilitan dosa dan penyesalan akan mendera dan menghiasi hari-harinya. Jadi, jika kita mengupas poligami, sangat banyak maslahat dan faidah yang bisa dipetik. Bahwa poligami itu indah, karena ia melindungi wanita.





Kiat-Kiat Mendapatkan Syafa'at


Pada hari Kiamat nanti, tidak ada yang dapat menolong seorang hamba, kecuali Allâh Ta'âla, kemudian amal-amal shalih yang dikerjakan seorang hamba, serta syafa’at Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam.
Berikut ini kiat-kiat yang dapat dilakukan seorang muslim untuk mendapatkan syafa’at, yaitu :

1.
Tauhid dan Mengikhlaskan Ibadah Kepada Allâh Ta'âla Serta Ittiba’ Kepada Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.





Tidak diragukan lagi bahwa tauhid sebagai penyebab yang paling besar untuk mendapatkan syafa’at pada hari Kiamat. Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam pernah ditanya:
“Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat?”
Nabi menjawab :

hadits
“Yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah, orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah
dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya”.
(HR Bukhari, no. 99)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata :

“Syafa’at, sebabnya adalah tauhid kepada Allâh, dan mengikhlaskan agama dan ibadah dengan segala macamnya kepada Allâh. Semakin kuat keikhlasan seseorang, maka dia berhak mendapatkan syafa’at. Sebagaimana dia juga berhak mendapatkan segala macam rahmat. Sesungguhnya, syafa’at adalah salah satu sebab kasih sayang Allâh kepada hambaNya. Dan yang paling berhak dengan rahmatNya adalah ahlut tauhid dan orang-orang yang ikhlas kepadaNya. Setiap yang paling sempurna dalam mewujudkan kalimat ikhlas (laa ilaahaa illallaah) dengan ilmu, keyakinan, amal, dan berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan, loyal kepada kalimat tauhid, memusuhi orang yang menolak kalimat ini, maka dia yang paling berhak dengan rahmat Allâh." (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, XIV/414 dengan ringkas).

2.
Membaca al Qur‘an





Dari Abi Umamah bahwasanya dia mendengar Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :

hadits
"Bacalah al Qur‘an.
Sesungguhnya al Qur‘an akan datang pada hari Kiamat
sebagai pemberi syafa’at bagi sahabatnya…"
(HR Muslim, no.804)

Yang dimaksud dengan 'para sahabat al Qur‘an', adalah orang-orang yang membacanya, mentadabburinya, dan mengamalkan isinya.

3.
As-Shiyâm (Puasa)





Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :

hadits
As-Shiyam (puasa) dan al Qur‘an akan memberi syafa’at
kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak.
Puasa akan berkata :
“Wahai, Rabbku.
Aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Sedangkan al Qur‘an berkata :
“Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari.
Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Maka keduanya pun memberi syafa’at.
(HR Ahmad, II/174; al Hakim, I/554; dari Abdullah bin ‘Amr.
Sanad hadits ini hasan.
Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim
dan disetujui oleh Imam adz Dzahabi.
Kata Imam al Haitsami, diriwayatkan oleh Ahmad
dan Thabrani dalam Mu’jam Kabir.
Rijal hadits ini rijal shahih. Lihat Majma’uz Zawaid III/181. Dishahihkan oleh al Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 394)

4.
Doa Setelah Adzan





Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :

hadits
Barangsiapa yang membaca ketika mendengar adzan :

‘Ya Allâh, Rabb pemilik panggilan yang sempurna ini
dan shalat (wajib) yang didirikan.
Berilah al wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada
Muhammad (shallallâhu 'alaihi wasallam), dan bangkitkan beliau,
sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan’.
Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat”.
(HR Bukhari no.614, dari Jabir bin Abdillah)



5.
Tinggal di Madinah, Sabar Terhadap Cobaannya, dan Mati di Sana.





Abu Sa’id pernah mendengar Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :

hadits
Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah)
kemudian dia mati,
kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya,
atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat, jika dia seorang muslim.
(HR Muslim, no.1374, 477; dari Abu Sa’id al Khudri)
hadits
Tidaklah seseorang dari umatku sabar terhadap cobaan Madinah
dan kesusahannya,
kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya
atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat.
(HR Muslim, no.1378, 484; dari Abu Hurairah)
hadits
Barangsiapa yang ingin mati di Madinah, maka matilah disana.
Sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi orang yang mati disana.
(HR Ahmad, II/74,104; Tirmidzi, no.3917; Ibnu Majah, no.3112;
Ibnu Hibban, no. 3741, dari Ibnu Umar. Tirmidzi berkata:
“Hadits ini hasan shahih”)



6.
Shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam





Dari Ibnu Mas’ud radhiyallâhu'anhu, bahwasannya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :

hadits
Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku
pada hari kiamat adalah, yang paling banyak shalawat kepadaku.
(HR Tirmidzi, no.484, Hadits Hasan)



7.
Shalatnya Sekelompok Muslim Terhadap Mayit Muslim.





Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :

hadits
Tidaklah seorang mayit dishalatkan oleh sekelompok orang Islam
yang jumlah mereka mencapai seratus,
semuanya memintakan syafa’at untuknya,
melainkan syafa’at itu akan diberikan pada dirinya.
(HR Muslim, no.947, 58)
hadits
Tidaklah seorang muslim meninggal dunia,
lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang
yang tidak menyekutukan Allâh dengan sesuatu apapun,
melainkan Allâh akan memberikan syafa’at kepadanya.
(HR Muslim, no.948, 59)



8.
Memperbanyak Sujud





Dari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami, dia berkata:

“Aku pernah bermalam bersama Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam, lalu aku mendatangi beliau sambil membawa air untuk wudhu’ beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku :
’Mintalah!’
Aku berkata :
’Aku minta untuk dapat menemanimu di surga.’
kemudian beliau berkata :
‘Atau selain itu?’
Aku berkata :
’Itu saja.’
Lalu beliau shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :

hadits
"Tolonglah aku atas dirimu dengan banyak bersujud”
(HR Muslim, no.489, 226)

Demikianlah delapan faktor yang bisa menjadi penyebab seseorang mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad pada hari Kiamat, bila kita mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allâh dan ittiba’ (mengikuti contoh) Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam.

Adapun pendapat sebagian orang, bahwa di antara sebab-sebab untuk bisa mendapatkan syafa’at adalah dengan ziarah ke kubur Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam, mereka berdalil dengan hadits-hadits yang palsu, dan sama sekali tidak ada asalnya dari Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam. Seperti hadits, barangsiapa yang ziarah ke kuburku, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku, dan masih banyak lagi yang lain.

Jadi, ziarah kubur Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam tidak termasuk faktor yang bisa menyebabkan seseorang untuk mendapatkan syafa’at, karena tidak adanya dalil-dalil yang shahih tentang masalah tersebut.

Jalinan Ukhuwwah Tanpa Menggadaikan Akidah


Jalinan ukhuwwah (persaudaraan) antara sesama Muslim sangat berperan dalam membangun persatuan Islam. Sejak dini, Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam telah memberikan perhatian terhadap masalah ini setibanya di kota Madinah. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam memaparkan sekian banyak hak yang harus ditunaikan seorang Muslim kepada saudaranya seiman. Saling menghormati, membantu yang papa, mengingatkan yang salah dengan bijaksana, memenuhi hak-hak persaudaraan, dan masih banyak konsekuensi ukhuwwah lain yang tidak bisa disebutkan satu-persatu secara rinci di sini. Dari sinilah kokohnya pertautan dan eratnya hubungan antara mereka terwujud.

Akan sangat indah bila di tengah kaum Muslimin terbentuk semangat îtsâr (lebih mengutamakan kepentingan orang lain) tanpa pamrih duniawi apapun saat meringankan beban orang yang kesulitan. Akan sangat indah jika setiap insan Muslim sangat akrab dengan sesama Muslim, kendatipun mereka tidak terkait sama sekali dengan hubungan darah, pekerjaan maupun perniagaan. Akan sangat indah sebuah masyarakat Muslim bila kesombongan, hasad dan kebencian sirna dari hati mereka dan tergantikan oleh saling mencintai dan menyayangi sesama serta menyukai apa yang disukai oleh orang lain.

Saat ini menjalin tali persaudaraan dengan sesama Muslim kerap didengungkan oleh banyak pihak, baik dari kalangan kepartaian, pergerakan atau organisasi sosial lain serta pihak-pihak yang sangat berkepentingan dengan merapatnya kaum Muslimin sebanyak-banyaknya di pihak mereka. Isu ukhuwwah Islamiyah pun digulirkan untuk berbagai kepentingan duniawi. Ujung-ujungnya (dalam konteks kepartaian misalnya) adalah agar jumlah simpatisan bertambah banyak dan perolehan suara pun kian menggelembung. Otomatis kursi di dewan perwakilan akan bertambah.

Manakala sasarannya duniawi, aturan-aturan syar’i pun kurang diperhatikan. Siapapun boleh bergabung dan berlabuh, demi peningkatan jumlah suara. Termasuk orang yang berakidah menyimpang dengan mengatakan Allâh Ta'âla dimana-mana, atau orang yang suka meminta-minta kepada orang yang telah mati, orang fasik dengan kemaksiatannya, selebritis, pelaku bid’ah yang secara implisit telah menganggap Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam belum menyampaikan tugas dengan sempurna. Kepada mereka semua dibukakan pintu lebar-lebar, bahkan juga kepada orang kafir yang jelas-jelas ingkar kepada Allâh Ta'âla dan syariat-Nya. Wallâhul Musta’ân.

Itulah gambaran pembentukan ukhuwwah Islamiyyah yang carut marut atas dasar hawa nafsu. Dapat diyakini, mereka tidak akan mengharapkan persaudaraan dari orang yang telah menuduh ibunya dengan perbuatan-perbuatan yang tak senonoh. Sementara orang yang tidak menghormati Allâh Ta'âla dan Rasul-Nya malah diterima.

Bergaul dengan siapa saja boleh, akan tetapi bagi yang masih lemah iman dan dangkal keyakinan tidak boleh akrab dengan orang-orang yang justru akan membahayakan keyakinannya. Menjalin ukhuwwah dengan siapa saja silahkan, namun tidak dengan menggadaikan aturan Islam. Apalagi bila motivasinya sekedar mencari kawan semata, bukan dalam rangka mendakwahinya atau menegakkan amar ma’rûf nahi munkar.

Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam telah menceritakan betapa ukhuwwah yang berlandaskan cinta dan benci karena Allâh Ta'âla, tanpa pamrih duniawi apapun akan menghasilkan kecintaan Allâh Ta'âla bagi seorang Muslim. Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:

hadits
hadits
hadits
hadits
hadits
Ada seorang lelaki mengunjungi kawannya di kampung lain.
Kemudian Allâh Ta'âla mengutus malaikat untuk mengintai perjalanannya.
Malaikat itu mendatanginya lalu berkata: “Kemana engkau akan pergi”?
Ia menjawab: “Saya ingin mengunjungi saudaraku di kampung ini.”
Sang malaikat bertanya:
“Apakah ada tanggungan yang mesti engkau bayarkan kepadanya?”
Ia menjawab:
“Tidak. Saya mengunjungi tiada lain karena aku mencintainya karena Allah Ta'âla”.
Sang malaikat kemudian mengatakan:
“Sesungguhnya aku ini utusan Allâh Ta'âla,
ingin mengabarkan bahwa Allâh Ta'âla telah mencintaimu
sebagaimana engkau mencintai orang itu karena-Nya.”
(HR. Muslim no. 4656)

Semoga Allâh Ta'âla memudahkan jalan bagi kaum Muslimin menuju persatuan dan persaudaraan di dalam cinta-Nya.

Jangan Salahkan Anak, Apabila Tidak Salih...

Wahai orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka. (QS.At Thamrin:6)

Anak adalah investasi orang tua dunia akhirat. Kenali kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang berakibat fatal terhadap perkembangan anak.

Pertama, Menumbuhkan Rasa Takut dan Minder.

Agar anak berhenti menangis atau tidak rewel, kita sering menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara-suara yang menakutkan dan lain-lain. Dampaknya anak akan tumbuh menjadi anak yang penakut, tidak percaya diri dan tidak mandiri.
Akhirnya kemana-mana maunya bersama orang tua. Ke kamar mandi, ke sekolah, mau tidur, dan lain-lain minta ditemenin orang tua, aktivtas yang semestinya bisa mereka kerjakan sendiri.

Kedua, Membiasakan Anak Bergaya Hidup Mewah.

Kebiasaan ini membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang hedonis dan asosial. Di sekeliling kita sekarang banyak anak-anak yang kemana-mana dengan BlackBerry-nya. Anak dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak punya daya juang, mereka hanya berharap terhadap fasilitas yang diberikan orang tuanya. Mereka tidak diajari bagaimana mencapai sesuatu yang diinginkannya dengan sebuah perjuangan.

Ketiga, Selalu Berkata 'Ya' Untuk Permintaan Anak.

Dengan alasan untuk mengatasi kerewelan anak, merasa kasihan atau karena merasa selalu sanggup memenuhi permintaannya. Sikap ini salah satu kesalahan fatal orang tua dalam pola pengasuhan anak.
Anak yang selalu ditenangkan dengan pemenuhan kemauannya akhirnya akan menjadikan tangisan dan amukan sebagai senjata ampuh untuk menaklukan orang tua. Dan kalau orang tua terus memenuhinya, bersiap-siaplah anak anda akan menjadi anak yang lemah, cengeng, dan tidak punya jati diri.

Keempat, Lebih Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya.

Banyak orang tua mengira, mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dengan memenuhi hajat hidup dunianya. Mereka lupa bahwa anak-anak juga perlu nutrisi untuk bathinnya.
Mereka baru sadar ketka si anak punya orang tua tandingan, yakni : televisi, babysitter, anak-anak jalanan, dan lain-lain. Mereka baru sadar ketika si anak lebih nurut dan patuh kepada babysitternya daripada kepada orang tuanya sendiri. Disela-sela kesibukan, luangkanlah waktu untuk mereka. Inputkan data-data positif buat mereka.

Kelima, Sekolah.

Berdalih fasilitas dan kualitas pengajaran yang bagus. Meskipun mahal, banyak orang tua muslim yang menyerahkan anak-anaknya kepada sekolah-sekolah asing bahkan sekolah-sekolah misionaris. Tidak dapat dipungkiri mereka akan tumbuh  dan berkembang atas dasar kesesatan. Apa yang diharapkan lagi kalau sudah demikian ?

Pilihan ada di tangan abi dan ummi, ayo berikan yang terbaik buat anak-anak kita. Karena suatu saat kelak, kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah atas apa yang telah diamanatkan Allah kepada kta sebagai orang tua.
Wallahu'alam bissawab.

Tetap Bugar di Segala Usia

Tubuh bugar bukan hadiah undian. Kebugaran harus dilatih agar dapat menikmati usia matang dengan bahagia. Usia 20 tahunan adalah usia ideal untuk memulai hidup sehat dan bugar.

Sayangnya, karena metabolisme tubuh sedang dalam masa puncak, orang sering abai. Dan ketika usia memasuki kepala tiga, pada saat itu waktu dan konsentrasi tercurah untuk karier dan keluarga. Muncul lagi alasan untuk tidak menjaga kebugaran tubuh. Baru ketika meniup lilin ke-40, metabolisme tubuh yang lebih lambat dan kondisi tubuh yang mulai tidak fit, orang sadar bahwa tubuh perlu dirawat dengan benar.

Olahraga menjadi aktivitas baru yang ternyata menyenangkan. Sayangnya kadang-kadang kondisi tubuh tidak sejalan dengan niat baik itu. Selesai berolahraga tubuh rasanya lemas, napas pun ngos-ngosan, bukannya bugar tubuh malah menagih waktu istirahat lebih lama. Jangan-jangan konsumsi makanannya keliru.

Kerri-Ann, pakar diet, mengatakan bahwa makanan dikonsumsi mempunyai manfaat ekstra selain mengisi simpanan energi dan cairan yang hilang selama berolahraga. Beberapa jenis makanan juga bisa membantu mendongkrak tenaga, menambah daya tahan, dan memulihkan diri dengan baik. Diantaranya apel, susu rendah lemak, yogurt, dan madu.

Apel sumber antioksidan yang disebut quercetin yang meningkatkan ketersediaan oksigen di dalam paru-paru. Bila dikonsumsi dalam bentuk suplemen, quercetin membantu orang untuk bersepeda lebih lama. Susu mengandung karbohidrat dan protein, untuk mengembalikan energi yang terkuras. Yogurt dapat menjadi pilihan mereka yang tidak suka susu karena bakteri hidup yang ada dalam yogurt meningkatkan bakteri baik di dalam pencernaan. Pilihan asupan sehat lainnya adalah madu yang kaya fruktosa, glukosa, antioksidan, dan vitamin.

Untuk menjaga stamina dari jam ke jam, diperlukan energi ekstra. Segenggam kecil kacang-kacangan rebus (ingat, bukan yang digoreng) sangat baik untuk dikonsumsi tiap jam untuk menjaga stamina. Ketika keringat bercucuran saat berolahraga, pastikan tubuh mendapat pengganti segera. Teguk air putih untuk menjaga tubuh dari dehidrasi yang membuat lemas.

Meski energi terkuras, sebaiknya menahan diri untuk 'balas dendam' menghabiskan sepiring nasi padang. Dianjurkan untuk makan siang dengan roti gandum, sayuran, dan jus. Lidah tidak terbiasa? Sesekali boleh kok memberi hadiah untuk disiplin dan hidup sehat itu dengan es krim ukuran kecil.