Sabtu, 02 Juli 2011

SAHABAT YANG MEMBERIKU SAYAP

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

“Sampai aku mati, tetaplah disampingku ….” rasanya itu adalah pernyataan paling ekstrim seumur hidupku. Kalimat yang sekitar 6 tahun lalu kuucapkan ditengah semangat yang mendekati keputusasaan.

Menyusuri kembali peristiwa 6 tahun lalu yang lalu. Sebuah permata yang akan selalu aku simpan baik-baik dalam relung hatiku. Jika ada sahabat yang melebihi kerabat. Hanya satu orang yang bisa kupercaya dalam segalanya. Ia yang menjelma layaknya malaikat pembawa cahaya. Ukhty As…

***
Namanya Astutik, tetapi semua teman memanggilnya Mama As, hal itu bukannya tanpa alasan. Sosoknya yang pendiam, keibuan plus telaten membuat semua sepakat memanggilnya demikian. Sampai sekarang pun aku tidak mengenal lebih dalam sosok satu ini. Karena pertemuan kami hanyalah sekejap saja. Setidaknya itulah yang kurasakan. Padahal kami 2 tahun tinggal bersama dalam satu atap, dormitory Blok P2-2-1 Yellow Face Batamindo. Kesibukan dalam pekerjaan, shift yang tidak berbarengan, waktu yang tersita oleh lemburan menjadikan komunikasi sulit terjalin. Sampai saat ini malu selalu menyeruak dalam hatiku ketika memoar ini berjalan kembali ke masa itu. Saat tersulit dalam ujian hidupku.

***
“Anda lumpuh …” hanya kalimat itulah yang bisa kutangkap. Setelahnya aku tidak bisa mencerna kalimat yang diucapkan dokter yang sore itu memeriksaku. Tidak ada air mata yang keluar ketika perawat membawaku ke sebuah kamar yang serba putih. Setelah dibaringkan, kucoba memejamkan mata. Berharap semua ini hanya mimpi, yang jika aku bangun nanti semua akan normal seperti biasanya. Tetapi saat tengah malam kuterjaga, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan seumur hidupku kini menyertaiku. Sial! Kenapa kedua kakiku tidak bisa aku rasakan. Kucoba memukul-mukulinya dengan baki yang ada di atas meja sebelah kanan tempat tidurku, pasti kalau dipukul keras akan terasa sakitnya. Tetapi dicoba beberapa kalipun tetap tidak terasa.


Kucoba bangkit. Ahhh, dibagian tengah punggungku terasa sakit sekali. Sambil tidur tetap kucoba memukuli kakiku, berharap ada rasa sakit yang kurasakan. Hingga dua orang perawat datang tergesa lalu memegang kedua tanganku, mencegahku melakukan perbuatan yang mereka anggap gila!

***

Sayup-sayup kudengar suara orang membaca surat Ar-Rahman, membangunkanku dari tidur yang dipaksa (yang kuingat, aku merasa gelap setelah perawat itu mensutikkan sesuatu di tanganku). Ketika kubuka mata, seulas senyum menyapa. Mama As … Kuisyaratkan agar ia menghatamkan bacaan Ar-Rahman itu. Agak lama ia menyelesaikan bacaannya. Memang jauh dari lantunan merdu, sesekali ia mengulangi untuk membetulkan tajwidnya. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa tahu aku dirawat disini, mungkin saja kakakku yang menghubunginya.
Apa dia tidak bekerja, atau mungkin masuk shift malam hingga siang begini menjengukku. Aku hanya memandanginya dalam diam, lebih tepatnya ingin mengacuhkannya. Aku tidak ingin dikasihani dan tidak ingin membuat repot orang lain dengan keadaanku, jika aku mendiamkannya pasti dia tidak betah dan akan pergi. Begitulah yang ada dalam pikiranku saat itu.

Tiga hari berlalu, dia tetap setia menjengukku. Lebih tepatnya merawatku. Jika di pagi hari mbak Lala, kakakku yang merawat. Maka sore sampai subuh Mama As yang menjaga. Tengah malam saat aku terjaga (sejak dirawat di rumah sakit, tengah malam aku selalu terjaga sampai pagi), dia tiba-tiba menangis dan memelukku erat.

“Mungkin aku bukan teman yang bisa kau andalkan disaat seperti ini, tetapi setidaknya, jika tidak bisa tersenyum seperti biasanya, tolong bicaralah, atau setidaknya menangislah Deb… Jangan diam seperti ini …” Kata-kata yang tidak pernah terucap dari kakakku sendiri, keluar dari mulutya. Dipeluk seperti itu membuatku meleleh, pertahananku ambruk. Entah kenapa air mata tidak bisa berhenti keluar. Segala yang ada dihatiku kutumpahkan.

“Apakah Alloh tidak sayang padaku … apa salah aku mbak, hingga Alloh mencabut nikmat berjalanku. Tiba-tiba saja, tidak bisa berjalan begini. Dosa besar apa yang aku perbuat, hingga ujian seperti ini menghampiri. Apa DIA mau menguji keimananku?? Bagaimana bisa, jika sujud saja aku tidak mampu! Padahal seharusnya DIA tahu, bahwa saat sujudlah kenikmatan terbesarku! Lalu, bagaimana pula aku harus menemui ibukku. Jika sebulan lagi, saat pulang ke Jawa mendapati anaknya cacat. Lumpuh!!”

“Aku … aku ingin bisa berjalan lagi. Tidak, aku harus bisa berjalan lagi! Aku tidak ingin lumpuh … Aku tidak mau seumur hidup cacat!! Aku harus gimana … harus gimana mbak …” aku menangis sejadi-jadinya. Tidak bisa kuingat wajah Mama As saat itu, yang kurasakan ia menggenggam erat tanganku.

***
Seminggu tepat aku dirawat, hari itu aku baru saja berkenalan dengan satu-satunya teman sekamarku. Dari obrolan kami, dia menderita leukimia. Nasib kami tidak jauh berbeda. Sama-sama anak perantauan, jauh dari keluarga. Hanya seorang kakak yang menjadi sandaran. Bedanya tidak pernah kulihat seorang pun teman menungguinya, layaknya yang dilakukan Mama As. Sampai sekarang Mama As masih setia merawatku. Keberuntungan, rahmat besar yang tidak pernah kusadari seminggu ini.

“Mama As nggak capek?” malam itu aku bertanya padanya. Seperti biasanya ia hanya tersenyum. Khas Mama As, tidak banyak bicara. “Kenapa mau repot-repot ngerawat aku?, padahal mbakku aja nggak berani jaga malam begini di rumah sakit. Persendiannya langsung lemas jika ada di rumah sakit malam hari, bisa-bisa jadi pasien juga bila dipaksa…” kucoba mengorek jawaban darinya. Mata kami saling berpandangan, lama.

“Hmm, kenapa yaa…” Dia menggantung kalimatnya. Lalu pelan-pelan berjalan menuju ke arah jendela yang ada di sebalah kiri ranjangku. Sambil menatap keluar yang gelap dia bertutur. “Karena Debbi sahabatku yang berharga. Mungkin kamu gak pernah mengingatnya, dulu masa-masa awal tinggal sedormitory hanya kamu yang tersenyum dan mau bicara padaku. Jika semua teman-teman jenuh dengan sifatku yang pendiam, kamu tidak! Selama ini aku sulit mendapat teman karena sifat diamku ini, tetapi sepertinya kamu mau menerima kekuranganku. Dan yang paling membuatku bahagia, karena kamu … mengenalkanku pada Alloh, hal yang selama ini kurasakan paling jauh dariku. Metamorfosis tertutupinya aurat ini, adalah hal yang tidak pernah terpikirkan dalam hidup sebelum aku mengenalmu…” Entah mengapa dadaku malah sesak mendengarkan tuturnya yang seharusnya membuatku senang. Sebaik itukah diriku dimatanya, padahal …

“Jika mau jujur … Mama As bodoh sekali!” punggungnya yang membelakangiku langsung berbalik saat mendengar kalimatku tadi. “Aku nggak sebaik itu … aku menyapamu, ngobrol, itu hanyalah semata-mata tugasku sebagai leader room. Jika ada hidayah yang Alloh berikan padamu, bukankah itu karena usahamu sendiri. Aku hanya meminjamimu buku-bukuku, selebihnya pencarian itu kau lakukan sendiri. Aku juga sama seperti teman serumah, mengolok-olok sifatmu itu di belakangmu. Menertawakan tingkah canggungmu. Apa kamu senaif itu, selalu memandang sikap orang dari kacamata pergaulanmu yang tidak luas? Lalu jika perlakuanmu saat ini adalah rasa balas budi atas apa yang kulakukan, itu tidak sebanding bukan…” Dia menatapku lama, sebuah senyuman yang terpaksa berusaha disunggingkan. Tapi aku menangkap ada bening yang menggenang di pelupuk matanya.

“Aku sholat lail dulu …” pamitnya bergegas. Rasanya kata-kataku keterlaluan, tetapi itu kenyataan. Aku tidak ingin memanfaatkan keluguannya itu. Mungkin dia akan marah, dan tidak akan mau lagi menemaniku di ruang yang penuh bau obat ini. Tetapi itu lebih baik, daripada aku membohonginya.

Tidak lebih dari 15 menit aku sendiri, tiba-tiba di ruang sebelahku terjadi keramaian. Dari kaca kecil di pintu kamar, dapat kulihat dokter dan perawat berlalu-lalang. Banyak orang berkerumun, dan tidak berselang lama kemudian terdengar jerit pilu wanita memecah keheningan malam. Matikah pasien diruang sebelah, sepertinya iya. Satu hal yang luput dari kekhawatiranku, kematian. Seketika pikiranku kalut, tidak terbayang jika hal itu terjadi padaku. Aku, belum siap mati!

Esoknya, kejadian yang lebih mengguncang mentalku terjadi. Giliran teman sekamarku yang meninggal. Tidak bisa kupercaya, padahal malam hari kemarin dia begitu sehat. Seharusnya dia pulang hari ini, karena dokter sudah mengijinkannya kemarin. Baru kali ini kulihat, berat dan sakitnya sakaratul maut. Kulihat perutnya yang tiba-tiba membuncit, tenggorokannya yang tercekat, merasakan sakit yang luar biasa. Setelah itu, aku tidak bisa melihatnya. Karena perawat buru-buru memindahkanku ke ruang lain, naasnya ruang baruku adalah ruang yang ditempati pasien yang dini hari tadi meninggal. Yang membuatku yakin bahwa teman sekamarku telah tiada, adalah suara lengking teriakan kakaknya yang menusuk pori-pori tubuhku. Saat itu kakakku sendiri juga ketakutan, terlihat jelas kakinya gemetaran dan keringat keluar dari wajahnya. Pucat! Ketegarankulah yang biasanya menenangkannya, tetapi saat itu jiwaku lebih terguncang dari dirinya. Kami hanya bisa diam dalam kemelut pikiran masing-masing.

***
Malamnya, ternyata Mama As datang. Hal yang membuatku terkejut sekaligus tenang, mengingat perkataanku yang pedas kemarin. Ia mungkin sudah tau kenapa aku pindah ruang, karena ia tidak bertanya apapun padaku malam itu. Sikapnya biasa saja, sama seperti sebelumnya. Merawatku dalam diam, sesekali bertanya apa aku butuh sesuatu.

“Sampai aku mati, tetaplah disampingku ….” kupegang erat lengannya, ketika kudapati diri terjaga dari mimpi buruk saat itu. Ia kaget sekali. Aku tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Rasanya seluruh film hidupku diputar kembali, sialnya hanya keburukan-keburukan yang mampu kuingat. Tidak ada sedikitpun aku merasa pernah berbuat kebaikan. Lalu jika aku mati … Alloh ….

“Aku mungkin tidak bisa menjadi temanmu lagi ….” aku sudah memperkirakan itu, tapi sungguh hatiku terkejut sekali mendengar kalimat itu keluar dari mulut Mama As. Aku berusaha tersenyum, tapi malah isakku semakin menjadi. “Iya … gak pa-pa, aku mengerti …” Aku harus membesarkan hatiku sendiri.
“Maaf, aku tidak ingin jadi temanmu lagi. Karena sekarang, aku ingin jadi saudarimu ukhty …” ia berkata lembut sambil berlinang air mata.  Tak tertahankan lagi, kami berpelukan. Lama sekali.  

“Ya Alloh …. Fabiayyiaalaairobbikumaatukaddibaan”, berkali-kali ayat itu menggema dalam hatiku. Alloh …. aku tidak akan pernah lagi menghujat takdir dan nasibku, keadilan yang sempat kuragukan. Karena dibalik satu ujian-MU, ada beribu-ribu rahmat yang KAU berikan padaku.

***
Hasil pemeriksaan keluar, sebuah titik terang disampaikan oleh dokter pagi itu. 4 hari sebelum aku dirawat genap 2 minggu. Ada kemungkinan 25% aku bisa berjalan normal kembali, tergantung semangat dan usaha (dan kutambahkan sendiri, doa) dariku sendiri serta dukungan orang-orang terdekatku. Tapi mengingat kondisi biaya yang tidak sedikit, akhirnya aku memutuskan ingin keluar rumah sakit. Awalnya kakakku keberatan, tetapi setelah aku jelaskan dan kubujuk selama 2 hari ia menyetujuinya. Dokter pun tidak bisa mencegah. Dengan catatan harus tetap rawat jalan, jika ingin sembuh.

Kepulanganku kembali ke dormitory disambut meriah oleh orang serumah, hal yang sangat menghangatkan hatiku. Sambil menghitung mundur waktu kontrak kerja habis, semua bahu membahu menemaniku dan memberi semangat untuk sembuh. Silih berganti teman sepabrik menjenguk di dormitory. Bahkan orang yang tidak kukenalpun juga datang. Sungguh, obat yang paling mujarab. Yaitu dorongan semangat yang ditransfer kepadaku untuk berjuang dan bangkit dari keputusasaan. Rasanya masih ingin tertawa, jika mengingat tumpukan oleh-oleh yang memenuhi kamar. Karena saat perpisahan, akhirnya dibagi-bagikan lagi agar tidak mubadzir, sampai-sampai bingung mau diberikan pada siapa lagi karena begitu banyaknya.

Tentu saja yang paling repot adalah Mama As. Dia benar-benar menjadi pengganti ibukku. Semua keperluanku diurusinya bersama kakakku. 3 minggu ia mengambil cuti yang tidak pernah diambilnya selama 2 tahun, hanya untuk merawatku. Padahal di sisi lain, teman-teman berlomba-lomba mengejar lemburan untuk tambahan uang saku pulang kampung. Pengorbanan yang terlalu besar untuk diriku ini.

Mungkin tanpa transfer semangat dari para sahabat, aku tidak akan pernah merasakan mukjizat. Perkembanganku dalam sebulan begitu pesat. Dokter saja sampai takjub. Walau saat hari terakhirku di pulau Batam, aku masih belum bisa berjalan. Hanya mampu berdiri tegak menopang tubuh, berjalan satu-dua langkah. Tapi itu adalah  hal yang sangat aku syukuri. Dengan selamat mereka bersusah payah mengantarkanku sampai kepelukan keluargaku.

Yang aku sesali sampai sekarang adalah aku tidak mempunyai satupun alamat para sahabatku di perantauan, karena buku alamatku hilang entah dimana. Ingin rasanya, sedapat mungkin aku mengunjungi mereka satu per satu. Mengabarkan keadaanku sekarang ini yang telah pulih, normal seperti sediakala. Membagi kebahagiaanku kepada mereka, para malaikat pembawa cahaya saat jalan hidupku terasa gelap gulita.

Tapi kuyakin, bahwa Alloh menyampaikan asaku dalam doa-doa kudusku. Selalu ada cinta juga doa untuk mereka. Karena merekalah yang telah memberiku sebelah sayap, semangat tulus dalam doa dan harap. Saat itu, saat tersulit dalam ujian hidupku. Hingga aku bisa lagi tegar berdiri, diatas kedua kakiku.

Senin, 27 Juni 2011

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. “Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai,bodoh,Vlug (pantat).

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mungkin karena kesibukan, diantara kita sering menyingkat ucapan “salam” yang arti awalnya doa keselamatan justru menjadi “cacian” dan kata “jorok”. Lho bagaimana bisa?

Ucapan ”Assalamu’alaikum”, merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]

Saya seringkali menerima sms atau e-mail dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti "Asw" atau "Aslm". Ada yang sedikit lebih panjang seperti ; “Ass Wr Wb” atau “Aslmwrwb” . Namun yang sering saya dapatkan, adalah singkatan "Ass". Singkatan terakhir ini paling umum dan paling sering digunakan. Bagi saya, ini adalah singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau mengerti artinya.

Marilah kita simak singkatan ini. Dalam kamus linguistik yang saya punya, arti dari kata Ass yang berasal dari bahasa Inggris itu adalah sebagai berikut;

“Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai. Kedua, orang yang bodoh. Don't be a silly (Janganlah sebodoh itu). Dan ketiga, Vlug (pantat).

Padahal seperti kita ketahui ucapan "Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh" adalah sebuah ucapan salam sekaligus doa yang kita tujukan kepada orang lain. Ucapan salam dalam Islam sesungguhnya merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Maka, apabila kita mengucap salam dengan hanya menuliskan "Ass", secara tidak sadar mungkin kita malah mendoakan hal yang buruk terhadap saudara kita.

Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. Karena itu, penulis menyarankan, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap karena sedang menyetir di jalan, misalnya, solusinya cukup mudah adalah menulis pesan to the point saja. Tulislah “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya. Ini masih lebih baik dibandingkan kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari doa keselamatan Assalamu'alaikum menjadi "Ass" (pantat).

Jangan sampai awalnya kita ingin menyampaikan doa keselamatan yang terjadi justeru sebaliknya, mendoakan keburukan. Kalau boleh saya mengistilahkah, niat baik ingin berdoa, jadinya malah ucapan kotor.

Ucapan salam adalah ucapan penghormatan dan doa. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka seharusnya kita membalas dengan sebuah penghormatan pula yang lebih baik, atau minimal, balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.

Hasa saja, kalau kita mengganti ucapan kalimat salam arti awalnya sangat mulia, maka, yang terjadi adalah sebaliknya, salah dan bisa-bisa menjadi umpatan kotor.

Karena itu, jika tidak berhati-hati, mengganggati ucapan Assalamu’alaikum (Semoga sejahtera atasmu) dengan menyingkatnya menjadi “Ass” (pantat), ini mirip dengan mengganti doa yang baik dengan mengganti dengan bahasa jalanan orang Jakarta, yang artinya kira-kira, berubah arti menjadi (maaf) “Pantat Lu!”

Singkatan ala Rasulullah

Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Itulah agama kita.

Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah. Artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.

Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan, bahwa salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti "Semoga Allah menjadi Pelindungmu".

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasul bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu maujika aku tunjukkanpada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!” (HR. Muslim)

Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)

Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86. Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.

Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).

Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau.

Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa baraokatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].

Nah dari tiga singkatan itu silahkanAnda pilih yang mana yang Anda inginkan tanpa harus menyingkatnya sendiri yang justru bisa menghilangkan nilai pahalanya. Tentu saja, jangan Anda lupakan, tiga singkatan itu sudah rumus dari Nabi yang dipilihkan untuk kita.

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah ketika kita menuliskan kata Assalamu'alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf L nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu'alaikum.

Karena apa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan "Assaamu 'alaika ya Muhammad" (Semoga kematian dilimpahkan kepadamu).

Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari "Assalaamu 'alaikum". Maka nabi berkata, "Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu 'alaikum, maka jawablah dengan wa 'alaikum (Dan semoga atas kalian pula)." [HR. Bukhari]

Tulisan ini, mungkin nampak sederhana. Meski sederhana, dampaknya cukup besar. Boleh jadi, kita belum pernah membayangkannya selama ini. Nah, setelah ini, sebaiknya alangkah lebih baik jika memulai kembali menyempurnakan salam kepada saudara kita. Tapi andaikata memang kondisi tak memungkinkan, sebaiknya, pilihlah singkatan yang sudah dipilihkan Nabi kita Muhammad SAW tadi. Mungkin Anda agak capek sedikit tidak apa-apa, sementara sedikit capek, 30 pahala kebaikan telah kita kantongi.

Doa Untuk Kekasih

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Ya Allah…
Seandainya telah Engkau catatkan…
Dia milikku tercipta buatku…
Satukanlah hatinya dengan hatiku…
Titipkanlah kebahagiaan antara kami…
Agar kemesraan itu abadi…

Ya Allah…
Ya Tuhanku yang Maha Mengasihani…
Seringkanlah kami melayari hidup ini…
Ketepian yang sejahtera dan abadi…
Maka jodohkanlah kami…

Tetapi Ya Allah…
Seandainya telah Engkau takdirkan
Dia bukan milikku…
Bawalah dia jauh daripada pandanganku…
Luputkanlah dia dari ingatanku…
Dan periharalah aku dari kekecewaan…

Ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah aku kekuatan…
Menolak bayangannya jauh ke dada langit…
Hilang bersama senja yang merah…
Agarku sentiasa tenang…
Walaupun tanpa bersama dengannya…

Ya Allah yang tercinta…
Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu…

Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik untukku…
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui…
Segala yang terbaik buat hamba-Mu ini…

Ya Allah…
Cukuplah Engkau sahaja yang menjadi pemeliharaku…
Di dunia dan akhirat…
Dengarkanlah rintihan daripada hamba-Mu yang daif ini…
Jangan Engkau biarkan aku sendirian…
Di dunia ini mahupun di akhirat…
Menjuruskan aku ke arah kamaksiatan dan kemungkaran…
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman…
Agar aku dan dia sama-sama dapat membina kesejahteraan hidup…
Ke jalan yang Engkau redhai…
Dan kurniakanlah kepadaku keturunan yang soleh dan solehah…

Ya Allah…
Berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan akhirat…
Dan periharalah kami dari azab api Neraka…

Aamiin…aamiin…Ya rabbal ‘aalamin

♥TERUNTUK MU YANG BERGELAR ISTERI ♥

"Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu."

Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.

Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu. Sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.

Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu.

Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami ) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dalam keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.

Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, boleh berkongsi masalah dengannya, faham apa yang disenangi, tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan-layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayani oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki berhajatkan layanan dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.

Isteri yang solehah akan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari masing-masing hendak mencari keridhaan Allah, bukannya dorongan nafsu semata- mata. Masing-masing suami isteri meletakkan Allah dan akhirat yang lebih besar dan utama.

Isteri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami, malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira kerana yakin dengan janji Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

"Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta Allah mengangkat seribu darjat baginya."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya, Allah akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis kerana takutkan Allah."

Siapa yang tidak mau kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang untuk menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Maruah dirinya sebagai seorang isteri senantiasa dipelihara dan dijaga kerana itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan Allah dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi Allah rumahtangga itu mendapat perhatianNya.

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : " Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab."

Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang toleh (jahat). Bolehkan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumahtangga bilamana suami kufur dengan Allah dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini boleh tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar dengan kerenah suami hingga tidak terfikir cara lain untuk menyelamatkan jalan hidup yang dipilihnya melainkan berpisah saja dari suami.

Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada Allah. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari Allah s.w.t. Ada dua maksud Allah mendatangkan ujian yaitu pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan keduanya untuk peningkatan darajat disisi Allah.

Jadi jika kita boleh bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari Allah. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami lebih dari Allah. Jadi untuk melihat sama ada kita membesarkan suami atau membesarkan Allah maka Allah timpakan ujian itu. Kalau benar hati sayang dan takut pada Allah tentu isteri tidak teragak-agak untuk bertindak membesarkan dan menyayangi Allah daripada suaminya sendiri.

Ingatlah, sejahat-jahat suami kita, tidaklah dia lebih jahat daripada Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah disenaraikan oleh Allah termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.

Oleh itu kalau suami kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk memujuk dan mentarbiah, berlaku baik dan paling penting mohon dan bermunajatlah kepada Allah agar Allah mengubah hatinya untuk tunduk pada perintahNya.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda : "Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan- ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya)."

Kala Cinta Menghancurkan Aqidah

Kesepian memang kadang menyakitkan, menoreh setiap senyum dan tawa, serta menciptakan riak anak sungai di sudut mata. Pedih dan sedih silih berganti kunjung mengunjungi. Pupus segala harap, melukai semua impian yang kadang memabukkan. Hingga, jiwa yang rapuh menciptakan serpihan kegelisahan yang memilukan.

Saat temaram rembulan menyuguhkan hidangan, terlintas sekelebat bayang. Disibaknya kegelapan, namun entah dimana ia berada. Kecewa, hingga guratan keresahan menyibukkan kelamnya malam. Kebisuan yang menusuk-nusuk, membuat kedukaan semakin berat, hingga menghujam akal dan aqidah. Air mata semakin deras tumpah, lelah, tubuh pun mencoba rebah. Namun jiwa ini lemah, mata air di telaga yang coba dibendungnya kembali menerobos kelopak mata, ke pipi, hingga membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya.

Cinta…

Entah berapa banyak pahlawan yang tercipta karenanya, namun cinta juga kadang melahirkan para pecundang. Ia laksana kobaran api yang berasal dari setitik bara, menyuluh, namun dapat pula membakar. Impian cinta membuat hati dan raga terselimuti bahagia, memompa harapan yang keluar masuk melalui butiran darah. Mengharapkan kakanda tercinta yang siap mendampingi saat tawa dan air mata, hingga terbentang siluet istimewanya seorang wanita yang telah menikah, mengandung, dan melahirkan si kecil dengan selimut kasih sayang.

Namun, impian berbeda dengan kenyataan. Sepi semakin menggerogoti hari, sendiri… dan masih sendiri.
Duhai belahan hati, entah dimana kakanda bersembunyi.

Ukhti Sholehah yang dicintai Allah Ta’ala…

Cinta dan impian membentuk sebuah keluarga memang begitu indah. Namun takkala ia belum menyapa, janganlah membuat gundah dan resah, bahkan merubah pandangan terhadap Sang Pemilik Cinta. Kegelisahan jangan pula membuatmu menggadaikan aqidah, karena sungguh harta itu tak ternilai harganya. Tak ada yang dapat membelinya, apalagi dengan basa-basi cinta yang menyelubungi halleluyah.

Cinta yang membara tak akan dapat menghapus ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman…” [Al Baqarah: 221]. 

Namun, ajaran junjungan Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam akan pupus, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, dan tidak dalam benci tapi dalam cinta [Henry Martyn, missionaris, 1812 M].

Cinta akan membentuk sebuah keluarga samara (sakinah, mawaddah wa rahmah) karena kesamaan iman dan aqidah, dalam naungan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan biarkan sedikitpun celah hatimu terbuka dengan cinta berselaput halleluyah, karena cinta seperti itu akan meranggas aqidah. Pernikahan dengan keyakinan yang berbeda, tak akan melahirkan ketenteraman jiwa, karena ia adalah zina.

Dapatkah engkau menjawab saat anakmu bertanya, mengapa ayah selalu pergi setiap hari Minggu, sedangkan dirimu ruku’ dan sujud? Bisakah engkau menjelaskan saat anak laki-lakimu bertanya, mengapa ayah tidak pergi sholat Jum’at padahal dirimu berbicara panjang lebar tentang kewajiban menunaikannya? Atau, mengapa ayah tidak mengucapkan bismillah tapi atas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus? Juga, mengapa Tuhannya ayah ada 3 sedangkan dirimu selalu mengucapkan ahad… ahad… ahad?

Mampukah engkau menjelaskan semua itu dan banyak lagi kepada buah hatimu?

Duhai Ukhti, sanggupkah engkau menahan murkanya Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Saat jiwamu lelah bertanya dimanakah gerangan kekanda berada, kembalilah kepada Sang Pemilik Rahasia, lantunkan munajat dan do’a, mohon tetapkan iman untuk selalu terhatur kepada-Nya. Jadikan hati ini selalu ikhlas serta rela atas setiap keputusan-Nya.

As’alukallahummar ridha ba’dal qadha, wa burdal ‘iisyi ba’dal maut, wa ladzdzatan nazhori ila wajhika, wa syauqon ila liqaa’ika.

Ya Allah, aku mohon kerelaan atas setiap keputusan-Mu, kesejukan setelah kematian, dan kelezatan memandang wajah-Mu serta kerinduan berjumpa dengan-Mu.

Mohonkan juga kepada-Nya, agar Ia menguatkan niat dan azzam kepada lelaki yang belum menikah untuk segera menyempurnakan setengah agama, sehingga dirimu serta pasangan jiwa tercinta dapat bersama membangun sebuah istana kecil nan indah dalam naungan ridho-Nya.

Duhai Ukhti Sholehah…

Sabar… dan bertahanlah. Kalaulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan dirimu sebagai lajang di dunia ini, yakinlah di surga ada yang setia menanti. Kuatkan hati, tegar… dan selalu tegar, karena dirimu memiliki harta yang tak ternilai harganya, yaitu aqidah.

Wallahua’lam bi showab.