Sabtu, 14 Mei 2011

Orangtua Harus Sabar Agar Anak Pintar

Rasa tidak sabar dan kesal kerap melanda orangtua ketika mengajari anaknya belajar. Namun, implikasi rasa kesal dan tidak sabar tersebut ternyata mampu memicu anak menjadi stres. Akibatnya, anak semakin tidak mampu menyerap informasi yang diberikan.

“Ketika tubuh sedang stres, ada hormon yang dikeluarkan dan dilepaskan dalam aliran darah. Itu yang disebut hormon kortisol atau hormon stres. Hormon ini memiliki efek negatif terhadap kesehatan, seperti mengurangi kemampuan kognitif dan menekan fungsi normal dari tiroid. Karena itu, jangan heran ketika kita (orangtua) makin tidak sabar mengajari, anak justru makin bengong dan tidak bisa menjawab," kata psikolog Sani B Hermawan, Sabtu (31/7/2010) di sela-sela acara Smart Parents Conference Jakarta.
Menurut Sani, jika anak berada dalam situasi tertekan, anak tidak bisa menyerap karena ketakutan. “Hormon itu kan bergiliran kerjanya. Kalau anak stres, maka ada hormon yang menghambat karena ada hormon lain yang muncul sehingga membuat anak tidak dapat menyerap informasi karena kepekaannya menghilang,” kata Sani.

Ketika anak diajar dengan bentakan dan hukuman (kalau salah, anak disuruh berdiri atau tidak boleh makan), proses penyerapan informasi anak justru menjadi tidak berhasil.

“Prosesnya sederhana seperti ketika anak dikejar anjing, maka yang saat itu jalan adalah emosi (rasa takut), bukan logika. Dengan demikian, logika menjadi tidak muncul. Sementara, emosi dan logika berperan penting dalam pembentukkan sikap. Kalau rasa takut muncul, maka akan menghambat logika rasa ingin tahu,” kata Sani.

Oleh karena itu, Sani menyarankan para orangtua agar menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan begitu, anak-anak akan tertarik, ingin tahu, dan ingin mencoba-coba.

“Daya serap anak meningkat ketika ia merasa senang dan aman. Kalau anak itu senang, gate (pintu gerbang) di otaknya akan terbuka sehingga informasi juga mudah masuk,” kata Sani.

Malu vs Iseng Telanjang Dimuka Umum

"Suhu dunia" semakin panas dengan maksiat wanita wanita yang dengan murah dan mudah alias enteng, pamer aurat didepan umum. Parahnya semua itu terjadi dengan alasan klise.. iseng. Mereka menyikapi dengan santai dan ogah berpikir berat ketika gambar mereka menjadi konsumsi publik. Pose pose topless, atau setengah telanjang yang telah mampir di dunia maya, dan di saksikan berjuta pasang mata, seakan bukanlah beban yang musti harus masuk dikepala.

Ada juga sebagian lain berlindung atas nama seni dan memilih untuk tetap keukeuh dengan pendapat mereka bahwa hal itu benar. Dengan kata lain hal yang mereka lakukan sama sekali tidak menyalahi aturan (mereka sendiri). Sayangnya batasan aturan tersebut juga tidaklah jelas alias kabur. Namun yang pasti untuk mereka, keindahan pahatan tubuh wanita adalah bernilai seni tinggi. Dan tentu saja hal itu akan menjadi agenda primer dari proses eksplorasi yang mereka lakukan. Astagfirullah...

Malu..satu rasa yang sudah banyak terlupakan oleh para wanita "penjual" dan pengeksploitasi aurat itu. Padahal rasa malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku wanita yang dapat menyinarkan cahaya dan keanggunan. Malu, juga merupakan sebuah akhlak terpuji dan fitrah yang mengkarakter pada diri setiap wanita. Akhlak yang mulia ini tidak akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang tidak punya landasan iman yang kuat kepada Allah swt. Sebab, rasa malu adalah pancaran iman.

Wanita sebagai manusia tidaklah luput dari kesalahan dan cela. Karena alasan itulah, sebagian dari mereka mengatakan, bukan manusia yang berhak menghakimi mereka. Namun bagaimana apabila misi buka bukaan aurat disebut sebagai bagian dari totalitas pekerjaan dan atau malah dilakukan dengan iseng ditempat umum?. Masih adakah kata "pantas" untuk hal itu? apa iya makna kata "seksi" yang sering diidentikkan dengan terbukanya aurat telah sebegitu dahsyatnya membius, sampai- sampai melupakan berharganya sebuah harga diri yang justru menjadi mahkota wanita?. Hal itu tidak akan mendatangkan kerendahan kecuali pada pribadi yang bersangkutan.

Setuju atau tidak, wanita yang tampil anggun cantik dan elegan sesuai dengan aturan Allah SWT, akan lebih kelihatan bersinar dan lebih tampil. Diterima atau diingkari, hati nurani manusia bahkan wanita-wanita yang melakukan semua itu tetaplah tahu, mengakui dan tak bisa mengingkari bahwa tidak ada kebahagiaan dan keindahan dengan maksiat.
So ladies, akan sangat baik bagi kita menghindarkan diri dari iseng yang membawa pada murka Allah SWT. Tak perlu ngoyo untuk tampil apalagi sampai membuka aurat didepan umum. Jika anda ingin cantik, cukup hiasi diri dengan dengan rasa malu. Karena dengan sifat ini, hanya kebaikanlah yang bakal kita raup, sebagaimana dinasehatkan dalam lembaran sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa “Malu itu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan.”

Musibah, Istri Dicerai Gara-gara Menolak Bepergian Tanpa Mahram!

RIYADH (voa-islam.com):  Seorang warga Tabuk mengakhiri hubungan dengan istrinya setelah menceraikannya karena istrinya menolak untuk melakukan perjalanan udara kecuali bersama suaminya.

Kerabat si suami mengatakan bahwa suami yang bekerja di Tabuk setelah si istri ditunjuk sebagai guru di Taif tahun lalu biasanya di setiap cuti sekolah dia pergi ke Taif untuk mengambil istrinya ke rumahnya di Tabuk di mana istrinya tidak mau melakukan perjalanan udara kecuali bersama suaminya mengingat pentingnya mahram dalam bepergian.

Mereka menunjukkan karena keterbatasan materi, si suami selama periode terakhir menemaninya bolak-balik dengan angkutan darat, lama-lama suami bosan dengan syarat ini dimana dia sedang berusaha dengan istrinya pada suatu waktu untuk melepaskan diri dari syarat ini, tapi istrinya menolak.

Menurut koran "Al-Riyadh" bahwa sejumlah ulama telah berfatwa haramnya seorang wanita bepergian sendiri tanpa mahram sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: (tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian kecuali bersama mahramnya).

Belajar Ilmu Lidah

Lidah, benda sederhana yang merupakan bagian tubuh kita sebagai karunia Allah ini, ternyata menyimpan banyak kegunaan dan resiko. Dia bisa membawa kebaikan dan atau malah sebaliknya menjerumuskan seseorang, bahkan sejauh jauhnya. Susunan alfabet yang sederhana dari sebuah kata yang dihasilkan lidah kita, memiliki daya pengaruh yang bisa berdampak negatif jika tidak dirangkai secara bijaksana.

Seni mendidik lidah, benar benar memberikan efek luar biasa, salah satunya dalam kehidupan berumah tangga. Keharmonisan dan kesejukan suasana didalamnya ada kaitannya erat dengan hal yang bernama lidah. Kemampuan pasangan menghadirkan kata kata yang menyejukkan dan meneduhkan akan tentu saja membawa kedamaian didalam rumah. Dan sebaliknya, kealpaan kita menjaga dan menahan lisan dari mengeluarkan kata kata yang menyakitkan akan membawa dampak yang sangat tidak ringan. Mungkin diawalnya tidaklah terlalu terasa, namun seiring dengan waktu, jika kebiasaan buruk ini tetap di "jaga" maka bom waktu itu akan setiap saat meledak dan menghancurkan rumah tangga.

Siapa suami yang tidak ingin disuguhi kata kata yang halus dan penuh pengertian dari para istri istri mereka. Walaupun tidak ada makanan yang terhidang, walaupun kehidupan tidak selalulah berjalan sesuai dengan impian dan keinginan, namun kemampuan istri mendidik lidah mereka dengan baik, akan membawa semangat bagi para suami untuk lebih memberikan yang terbaik yang mereka mampu demi keluarga.

Pun demikian dengan para istri. siapapun dan dimanapun istri, tidak akan pernah berharap seorang suami yang kasar yang selalu menyakiti dan meremehkan mereka melalui kata katanya.

Kata kata yang baik yang terucap dari mulut kita dan kita ucapkan berulang-ulang, akan menyatu dengan diri kita. Apabila kata sudah menyatu dengan pikiran dan hati, maka hal itu akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tapi semua ini hanya berlaku bagi yang mengucapkan dengan sepenuh hati demi membahagiakan dan mendamaikan pasangan kita.

Poros dari semua kejadian ini tentu fatwa dari hati manusia tersebut, Karena ibarat teko, dia hanya akan menguarkan isi asli didalamnya. Oleh karena itu, menjaga hati, tidaklah kalah penting dari semua itu. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan memelihara diri. Jika hati kita akan terbiasa untuk memelihara diri dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat, maka sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan memiliki makna yang akan masuk ke dalam pikiran kita. Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. Ketika kita mengucapkan kalimat yang baik dan penuh kasih,maka lambat laun kita pun akan tertuntun untuk menjadi pribadi yang mengasihi. Dan jika hal itu selalu kita jaga untuk terus menerus kita lakukan, niscaya kebahagiaan dan kedamaian akan selalu menghiasi rumah tangga kita.

Mandiri Setelah Menikah

Tak bisa ‘lepas’ dari orangtua, hanyalah satu dari sekian masalah rumahtangga yang terjadi. Salah satu pihak menganggap pasangannya belum mandiri karena masih sering bergantung banyak hal pada orangtua.

Bergantung dalam hal petunjuk dan bimbingan menjalani hidup tentu masih wajar. Namun bergantung dari segi finansial dan emosional tentulah tidak wajar, apalagi untuk jangka waktu panjang.

Serba-serbi Ketidakmandirian
Wujud kemandirian bukan hanya finansial, melainkan segala aspek kehidupan pasangan suami-istri. Banyak pasangan yang tetap bergantung pada orangtuanya dalam hal mengasuh, mendidik anak.

Suami memilih untuk bekerja, dan tanggung jawab mengasuh anak diserahkan kepada orangtua atau mertua. Biasanya sebagian besar pasangan memilih tinggal dengan orangtua atau dekat dengan orangtua karena alasan tersebut.

Ketergantungan atau ketidakmandirian lain yang acapkali terjadi adalah saat mengambil keputusan. Wanita sebagai ibu dari anak-anak tidak mampu mandiri dalam mengambil keputusan. Bukan sekadar meminta pendapat, tapi tidak bisa mengambil keputusan bila tidak ada orangtuanya.

Bahkan yang lebih parah, si wanita tidak pernah mengambil keputusan bagi keluarganya sendiri. Orangtuanyalah yang selalu mengambil keputusan.

Di sisi lain, terkadang orangtua tidak siap melepas anaknya yang sudah menikah. Mereka tetap dianggap sebagai anak kecil yang harus di bawah kendalinya. Orangtua tetap merasa harus dan berhak mengatur kehidupan anak bahkan menantunya.

Namun, ada pula istri yang mengeluh karena tak pernah merasa menjadi seorang ibu rumah tangga, karena segala sesuatu diatur mertuanya. Artinya pihak suami-lah yang belum mampu mandiri.

Pisah dari orangtua bukan jaminan
Di Indonesia, tinggal dekat atau serumah dengan orangtua hingga dewasa dan berumahtangga termasuk hal biasa. Umumnya alasan utama yakni suami-istri sama-sama bekerja di luar rumah dengan perjalanan yang amat menyita waktu.

Tinggal serumah dengan kakek-nenek membuat orangtua Indonesia merasa lebih aman meninggalkan anak-anaknya bersama pengasuh, sebab ada yang mengawasi.

Alasan kedua, tinggal bersama orangtua selama beberapa tahun membantu pasangan yang baru menikah untuk bisa menabung dan membeli rumah sendiri ketimbang dipakai untuk menyewa.

Sebaliknya, ada pasangan yang walaupun sudah mampu tinggal di rumah sendiri namun salah satu pihak masih belum bisa menjalankan peran sepenuhnya sebagai suami-istri atau ayah-ibu yang baik bagi anak-anaknya. Jadi, domisili atau perihal tempat tinggal bukanlah jaminan agar salah satu pihak (suami/istri) tak bergantung lagi dengan orangtua.

Apakah Ketergantungan Bisa Diatasi?
Hal ini bisa terwujud dengan niat dan tekad yang kuat untuk belajar mandiri. Jangan sampai masalahnya semakin besar karena pasangan terbiasa bergantung pada orangtua dan malah tidak tergerak untuk berusaha.

Kemandirian bukan berarti harus memikirkan diri sendiri tanpa memerhatikan orang lain, utamanya pasangan hidup. Kemandirian dalam berpikir dan bertindak berarti mengedepankan rasa percaya diri dalam menghadapi setiap peristiwa yang terjadi. Dengan demikian, tak perlu menunggu pasangan bertindak ketika harus menentukan sikap terhadap suatu momen penting.