Sabtu, 09 Juli 2011

Terima kasih Ibu, Terima kasih Ayah..



“Nak, bangun.... Sarapanmu udah ibu siapin di meja..."

Kebiasaan ini tlah berlangsung selama 27 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat dan kini usiaku sudah mau kepala 3 dan aku telah menjadi seorang karyawan disebuah Perusahaan swasta, tapi kebiasaan Ibu tak pernah sama sekali berubah sejak dulu.

" Ibu sayang... jangan repot-repot Bu, aku dan adik-adikku kan udah pada dewasa" Pintaku pada Ibu pada suatu pagi.

Wajah tua yang lembut itu langsung mendadak berubah. Dan ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran, buru-buru aku keluarkan uang dan aku bayar semua yang kami pesan.

Dalam hati ini ingin sekali rasanya walau hanya sedikit walau tak bermakna aku dapat membalas jasa Ibu kepadaku, kepada adik-adik ku dengan hasil keringatku sendiri. Toh aku sekarang sudah bekerja dan sudah waktunya aku berikan penghasilanku kepadanya.

Tetapi raut sedih diwajahnya itu tak bisa disembunyikan. Kenapa ya Ibu mudah sekali sedih ? Pikiranku sudah mulai merasakan entahlah dan aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang waktunya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena pernah aku membaca dari sebuah buku, bahwa orang yang sudah lanjut usia biasanya bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. Tapi entahlah, itukan kata buku, dan yang pasti aku mempunyai niat adalah ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih dan bawaan Ibu jika sedang sedih ia tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Keesokannya aku coba memberanikan diri untuk bertanya, "Bu, maafin aku ya kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang aku lakukan Bu sehingga membuat Ibu begitu bersedih?” Tanyaku…

Aku tatap mata Ibu yang sudah mulai tambah keriput dikarenakan katarak yang dialaminya, ada mengalir tetesan airmata yang jatuh dipipinya. Terisak Ibu berkata, "Ibu sangat khawatir merasa kalian anak-anak ku sudah tak lagi membutuhkan Ibu. Kalian semuanya telah dewasa, sudah bekerja, mempunyai penghasilan dan sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian karena semua sudah bisa kalian lakukan sendiri"

Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan yang dia miliki yang tak pernah kami sadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku berjanji. .. Apa yang telah aku persembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada kami ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab, "Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan Ibu . Kalian mempunyai prestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, "Ampunkan aku ya Allah jika selama ini sedikit sekali ketulusan yang dapat kami berikan kepada Ibu kami. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. "

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk "cuti" dari pekerjaan rumah. Tapi tidak dengan Ibu! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang tak akan bisa dilimpahkan kepada siapapun.

Pukul 3 dinihari Ibu sudah bangun dan pukul 5 shubuh Ibu membangunkan kami. Ia ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi... Ah, maafin kami Ibu .... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku Tuhan ?

" Nak... bangun nak, sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. "Tanpa males-malesan dikasur dan kali ini aku segera beranjak. Aku buka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang sudah keriput, aku tatap matanya lekat dan Aku ucapkan, "TERIMA KASIH IBU, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakanmu Ibu...".

Berbinar dari mata Ibuku itu memancarkan kebahagiaan. ..
Cintaku ini milikmu,
Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu
Maafkan kami yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu


Dear sahabat TERIMA KASIH IBU tidak selamanya kata sayang itu harus diungkapkan dengan kalimat "aku sayang padamu... ", namun begitu, Allah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang tua yang kita cintai karenaNYA.
Jangan malu, jangan ragu, buanglah rasa gengsimu sahabat, ayo.. Kita mulai dari orang-orang terdekat yang sangat mencintai kita.
Seorang Ibu dan seorang Ayah, walau mereka tak pernah meminta atau mungkin telah tiada, percayalah… hanya sepatah kata “TERIMA KASIH IBU” dan “TERIMA KASIH AYAH” akan sangat membuat mereka berarti dan bahagia selalu dan selalu.
Dan sebuah sajak sederhana aku tulis,
Cintanya seperti air, tak akan pernah habis..
Terus berputar.. terus mengalir.. seterusnya dan seterusnya
pada sebuah telaga yang memberi kehidupan.
Terima kasih Ibu, Terima kasih Ayah..
Cinta kalian seperti biru langit..
Kemana aku melangkah, aku dapat berteduh dibawahnya.
Terima kasih Ibu, Terima kasih Ayah..
Bahkan biru laut pun tak akan bisa menampung,
atas jutaannya pujian yang terharuskan untuk kalian.

0 komentar:

Posting Komentar