Kamis, 15 Maret 2012

Suami Posesive

si A : "Suamimu posesive banget sih?"
si B : "Memangnya kenapa? Bukankah memang seharusnya seperti itu."
si A : "Ga gaul banget sih, kolot,egois."

Posesive.....salah satu sifat yang sering dibenci oleh banyak orang. Apalagi jika seorang suami posesive pada istrinya. Banyak istri yang tidak merima hal itu, malah cenderung merasa dikekang, dipenjara dengan aturan-aturan si suami.

Bukankah suami memang punya hak untuk membuat aturan bagi istrinya. Selama peraturan itu tidak menyimpang dari agama dan untuk kebaikan si istri, bukankah kewajiban istri menaatinya.

Semoga menjadi manfaat, bahwa suami posesive itu sangat baik, apalagi jika posesive itu untuk kebaikan bersama.

Rabu, 01 Februari 2012

Wanita Pilar Rumah Tangga

Seorang wanita, meski fisiknya yang lemah dan perasaannya halus, tetapi merupakan sebuah kekuatan sebuah kekuatan dahsyat dalam rumah tangga. Maka tak heran jika wanita dianggap pilar rumah tangga. Jika ia lupa atau lalai, maka runtuhlah bangunan rumah tangga itu, karena pilarnya tidak mampu menjaganya.

Untuk itu, janganlah bertindak egois. Percayalah, melayani bukan berarti menjadikan pelayan. Tapi bermakna memuliakan sebagai wanita yang sholihah dan berakhlak mulia.
Meski berhak menangis, hendaknya tidak berlebihan. Sebab jika bersedih, tak hanya diri sendiri yang merasakan, tapi juga akan dirasakan suami dan anak-anak. Ungkapkan masalahnya hanya kepada Allah Subhanahu Wata'alaa.

Selain itu, janganlah terlalu banyak menuntut meski itu sudah haknya kalau memang suami terlihat sudah berjuang demi keluarga. Bantulah meringankan beban suami walau hanya sebagian kecil. Jangan malah menambah beban suami dengan keegoisan sesaat.

Coba bayangkan jika sang suami harus menjawab pertanggungjawabannya kepada Allah Subhanahu Wata'alaa, atas sebuah ketidakberdayaannya dalam mendidik keluarga. Maka segeralah hentikan sikap lalai mulai sekarang.

Jangan terlalu banyak mengeluh, ungkapkan saja kekurangan atau protes kepada suami dengan lembut seperti yang diinginkan darinya. Sebab sebuah rumah tangga hanyalah tentang berkomunikasi dan saling bekerja sama menutupi kelemahan masing-masing. Bukan hanya selalu tuntut-menuntut atau mengutarakan kekurangannya.

Simpan baik-baik permasalahan keluarga, tanpa harus mengumbar ke orang lain. Sebab tidak ada orang yang bisa dipercaya seratus persen. InsyaAllah tidak ada yang lebih mengasihimu kecuali Allah Subhanahu Wata'alaa. Lebih baik menyampaikan keluh kesah hanya kepada Allah Subhanahu Wata'alaa. Karena hanya Allah Subhanahu Wata'alaa yang bisa memberikan jalan keluarnya.

Oleh sebab itu, wanita harus menguatkan batinnya sekuat yang ia mampu. Karena keluarga sangat membutuhkan wanita untuk menguatkan anggota keluarga yang lain. Jika sudah tidak mampu menahan ujian, hendaknya jangan berpaling ke orang lain untuk mendukungnya. Percayalah, saat wanita melayani keluarganya karena Allah, maka Allah pun tak akan menyia-nyiakannya, dan wanita akan lebih terlayani oleh kebaikan-Nya. InsyaAllah...

(muslimah)

Selasa, 31 Januari 2012

Hari Terakhirku Berkarir

Bermacam-macam perasaan campur aduk jadi satu.

Sedih karena harus meninggalkan semua teman-teman, meninggalkan karir yang aq inginkan, meninggalkan ilmu yang mungkin menungguku di tempat ini, meninggalkan kenangan-kenangan ini.

Tapi aq juga bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang wanita, istri, dan seorang bunda sesungguhnya. Menjadi ibu rumah tangga yang insyaAllah sholehah untuk keluargaku. Impian dan cita-cita alamiku sebagai seorang wanita dan seorang muslimah.

Kembali pada kodrat seorang wanita dan seorang muslimah. Mengabdi pada Allah, suami dan keluarga kecilku.

Walau ada rasa sedih karena kehilangan semua yang aq inginkan (karena keegoan duniawi), terbesit rasa sangat bahagia dapat kembali pada kodrat semula. Subhanallah....^.^

Semoga karir bari ini dapat membawa ke dalam kebaikan dan kasih sayang-Nya..
Aamiin..Aamiin..Aamiin..Allahumma Aamiin...

Senin, 30 Januari 2012

Teguran Halus Seorang SUami Kepada Istri

Istriku tercinta, aku menulis catatan ini sebagai bukti cintaku kepadamu dan keridhahanku menerimamu sebagai istri, aku telah menyerahkan hidupku kepadamu. Dalam hatiku berkata, inilah wanita yang bisa menjadi ibu anak-anakku dan cocok untuk menjadi istriku. Inilah mawaddah dan sakinah, inilah raihanah rumahku. Aku bimbing tanganmu bersama-sama mengarungi samudera dengan bahtera rumah tangga, menuju pantai penuh kedamaian di sisi Ar-Rabb Ar-Rahman.

  Akan tetapi tiba-tiba datang topan badai menghalangi jalan kita, angin bertiup kencang. Kalau kita berdua tidak segera sadar niscaya kita akan kehilangan kendali bahtera dan kita akan tersesat arah. Aku berkata dalam hati: Tidak! Aku tidak akan membuat bahtera ini karam. Maka aku pegang erat penaku dan aku buka lembaran kertasku. Lalu aku tulis teguran halus ini dari seorang kekasih kepada kekasihnya.

  • Istriku tercinta, tidakkah engkau ingat pada awal pernikahan kita dahulu..engkau adalah lambang kecantikan, kemudian aku tidak mengerti mengapa penampilanmu sampai taraf demikian parah. Awut-awutan dan tak enak dilihat. Apakah engkau lupa bahwa termasuk salah satu sifat wanita adalah apabila suaminya memandang niscaya akan membuatnya senang.
  • Sayangku, tidakkah engkau ingat, berulang kali engkau mengungkit-ungkit jasamu kepadaku, menyebut-nyebut kewajiban rumah tangga yang telah engkau lakukan untukku, pelayanan yang telah engkau berikan kepada tamu-tamuku dan dalam melayani kebutuhanku, apakah Engkau lupa firman Allah subhaanahu wa ta'aala :
ياَيُّهَا الذِينَ امَنُوا لاَ تُبْتِلُوْا صَدَقَاتِكُمْ بِالمَنِّ وَالاَذَى
Artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)." (Q.S.Al-Baqarah:264)  
  • Tidakkah engkau ingat duhai kekasihku, berapa kali kita telah saling berjanji pada saat-saat pernikahan bahwa kita akan saling bahu membahu dalam ketaatan, mengemban dakwah kepada agama Allah, berikrar bahwa kita akan fokus kepada masalah umat islam dan mendidik anak-anak kita dengan pendidikan islami, tetapi realitanya kita sibuk mengikuti perkembangan mode, hanyut mengikuti cerita-cerita, kisah-kisah, pernak-pernik dan mengejar harta dari manapun sumbernya.
  • Sayangku, tidakkah engkau ingat seringnya engkau menggerutu, tidak qana'ah (puas) menerima rezeki yang telah Allah berikan kepada kita. Haruskah aku menjalani usaha yang haram demi mewujudkan keinginanmu? Apakah engkau sudah lupa kisah wanita yang berkata kepada suaminya :"Bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan kami, sungguh kami bisa sabar menahan lapar namun kammi tidak sabar menanggung panasnya api naar"
  • Ingatkah dirimu, betapa sering aku bangun dari tidurku di bagian akhir malam, ternyata aku dapati engkau sedang asyik menonton film dan musik. Bukankah lebih baik engkau dzikir mengingat Allah dan mengerjakan shalat dua raka'at sementara manusia sedang tertidur di kegelapan kubur. Atau minimal engkau berangkat tidur agar tidak terluput dari shalat fajar.
  • Sayangku, ingatkah dirimu ketika engkau keluar rumah tanpa seizinku untuk mengunjungi keluargamu dan ketika engkau memasukkan temanmu fulanah ke dalam rumahku padahal aku telah melarangmu untuk memasukkannya ke dalam rumah! Lupakah dirimu bahwa itu merupakan hakku!
  • Kekasihku, ingatkah dirimu ketika keluargaku datang mengunjungiku, demikian pula teman-temanku, namun aku lihat engkau menunjukkan wajah muram, berat langkah kakimu dan bermuka masam!..Memang, engkau telah menghidangkan kepada mereka makanan lezat dan mengundang selera, akan tetapi semua itu tiada artinya karena muka masammu itu!
Sayangku, aku telah mengatakan sepenuh hatiku bahwa aku mencintaimu.
Aku berharap kita bersama-sama dapat meraih ridha Ar-Rahman.
Barangkali aku juga banyak melakukan kesalahn dan mengabaikan hakmu. dan barangkali aku tidak menyadari kekuranganku dalam melaksanakan kewajiban terhadapmu dan dalam menjaga perasaanmu.
 
Aku memohon kepadamu agar membalas risalah ini, silahkan mengungkapkan apa yang terbertik dalam benakmu. Bukankah tujuan kita berdua adalah satu. Kita telah menampung bahtera yang satu dan tujuan kita juga satu. Tujuan kita adalah bersama-sama duni dan akhirat di jannah 'Adn. Jangan engaku biarkan angin badai menghantam kita sehingga membuat kita tersesat jalan.

Dikutip dari buku : "Agar Suami Cemburu Padamu", Dr. Najla As-Sayyid Nayil
gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2sVjGqWA_OItkZZrAikuFS2ltIBTU0dAg82Dq6YDFGYlkWZnfrfF-zIQ_i7QDJqmBOqUDkPGO49VPY5qtL-iyspDYRKRwNpF0SbVtuUgmx2SQ8aMX_B2Ubz1yjk2fiBFCMCoAZvw9yak/s200/surat-surat.gif

Hiasi Diri Dengan Qana'ah

Agar engkau bisa menikmati kehidupan rumah tangga bersama suamimu hendaklah engkau menghiasi diri dengan sifat qana'ah (merasa cukup) dan ridha.

Dengan qana'ah jiwa akan merasa tenang dan ridha menerima pembagian yang Allah Rabbul 'aalamin berikan, dan tehindar dari sifat tamak yang selalu mengimpikan tambahan sehingga sebagai konsekwensinya kerap kali menyeretnya kepada cara-cara yang syubhat dan haram. Qana'ah yang menahan jiwa kita dari keinginan memiliki apa yang ada di tangan orang lain.


Ingatlah selalu sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.

"Barang siapa di antara kamu bangun di pagi hari dengan perasaan aman, sehat tubuhnya dan cukup persediaan makanan pokoknya untuk hari itu, seakan-akan ia telah diberi semua kenikmatan dunia." (H.R. Tirmidzi)

Adakah sesuatu yang lebih diinginkan seseorang dalam kehidupan dunia selain dari tiga perkara tersebut?
Sebagaimana sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam :

"Beruntunglah orang yang diberi hidayah kepada islam dan rezekinya cukup lalu ia qana'ah"  (H.R Tirmidzi)

Hendaklah seorang istri menghiasi dirinya dengan sifat qana'ah. janganlah ia melihat-lihat apa yang ada di tangan orang lain. Hendaklah ia menggunakan harta titipan Allah itu untuk kepentingan fisabilillah. Agar menjadi tabungan pahala di akhirat.

Sebahagian istri ada yang mengeluhkan kehidupannya dan tidak bisa menerima penghasilan suaminya. Ia ingin hidup seperti fulanah atau seperti salah seorang karib keluarganya.

Engkau lupa bahwa Allah subhaanahu wata'aala tidaklah menciptakan manusia sama rata. Allah menciptakan orang kulit putih dan orang kulit hitam, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang yang lemah.

Agar kita merasa tenang, camkan hadits berikut ini :

"Lihatlah orang yang dibawahmu (kekayaannya) dan jangan lihat orang yang diatasmu (kekayaannya), hal itu lebih baik sehingga engkau tidak menyepelekan nikmat Allah". (H.R. Muslim)

Ingatlah selalu bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak pada harta semata. Berapa banyak wanita yang memiliki suami kaya hartanya namun bakhil perasaan ddan cintanya. Sementara yang lain memiliki suami yang fakir hartanya namun kaya perasaan dan cintanya kepada istri dan rumahnya.

Hendaklah seorang istri selalu ridha menerima suaminya yang mencintai dirinya. Kebahagiaan itu bukan hanya terletak pada makanan dan minuman, bukan berhias dengan pakaian mahal, perabotan mewah, emas perak dan kendaraan yang banyak. Namun kekayaan itu letaknya dalam dada dan hati yang tenang, penuh dengan cinta dan keimanan.

Wanita Menjalankan Puasa Sunnah Harus Dengan Ijin Suami

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
 
Dalam melaksanakan puasa Sunnah, ada suatu aturan yang mesti diperhatikan oleh wanita muslimah. Aturan yang dimaksud adalah ia harus meminta izin pada suaminya ketika ingin menjalankan puasa sunnah. Keterangan selengkapnya silakan disimak dengan seksama dalam risalah berikut.


Dalil Pendukung

Para fuqoha telah sepakat bahwa seorang wanita tidak diperkenankan untuk melaksanakan puasa sunnah melainkan dengan izin suaminya.

Dalam hadits yang muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Tidaklah halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya.

Dalam lafazh lainnya disebutkan,

لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ

Tidak boleh seorang wanita berpuasa selain Ramadhan sedangkan suaminya sedang ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya

Ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan izin bisa jadi dengan ridho suami. Ridho suami sudah sama dengan izinnya.

An Nawawi rahimahullah menerangkan, “Larangan pada hadits di atas dimaksudkan untuk puasa tathowwu’ dan puasa sunnah yang tidak ditentukan waktunya. Menurut ulama Syafi’iyah, larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram.”

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud larangan puasa tanpa izin suami di sini adalah untuk puasa selain puasa di bulan Ramadhan. Adapun jika puasanya adalah wajib, dilakukan di luar Ramadhan dan waktunya masih lapang untuk menunaikannya, maka tetap harus dengan izin suami. ... Hadits ini menunjukkan diharamkannya puasa yang dimaksudkan tanpa izin suami. Demikianlah pendapat mayoritas ulama.”

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah disebutkan, “Jika seorang wanita menjalankan puasa (selain puasa Ramadhan) tanpa izin suaminya, puasanya tetap sah, namun ia telah melakukan keharaman. Demikian pendapat mayoritas fuqoha. Ulama Hanafiyah menganggapnya makruh tahrim. Ulama Syafi’iyah menyatakan seperti itu haram jika puasanya berulang kali. Akan tetapi jika puasanya tidak berulang kali (artinya, memiliki batasan waktu tertentu) seperti puasa ‘Arofah, puasa ‘Asyura, puasa enam hari di bulan Syawal, maka boleh dilakukan tanpa izin suami, kecuali jika memang suami melarangnya.”

Jadi, puasa yang mesti dilakukan dengan izin suami ada dua macam: (1) puasa sunnah yang tidak memiliki batasan waktu tertentu (seperti puasa senin kamis, (2) puasa wajib yang masih ada waktu longgar untuk melakukannya. Contoh dari yang kedua adalah qodho’ puasa yang waktunya masih longgar sampai Ramadhan berikutnya.
 
Jika Suami Tidak di Tempat
 
Berdasarkan pemahaman dalil yang telah disebutkan, jika suami tidak di tempat, maka istri tidak perlu meminta izin pada suami ketika ingin melakukan puasa sunnah. Keadaan yang dimaksudkan seperti ketika suami sedang bersafar, sedang sakit, sedang berihrom atau suami sendiri sedang puasa. Kondisi sakit membuat suami tidak mungkin melakukan jima’ (hubungan badan). Keadaan ihrom terlarang untuk jima’, begitu pula ketika suami sedang puasa. Inilah yang dimaksud kondisi suami tidak di tempat.

Hikmah Mengapa Harus dengan Izin Suami
 
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan, “Dalam hadits yang menerangkan masalah ini terdapat pelajaran bahwa menunaikan hak suami itu lebih utama daripada menjalankan kebaikan yang hukumnya sunnah. Karena menunaikan hak suami adalah suatu kewajiban. Menjalankan yang wajib tentu mesti didahulukan dari menjalankan ibadah yang sifatnya sunnah.”

An Nawawi rahimahullah menerangkan, “Sebab terlarangnya berpuasa tanpa izin suami di atas adalah karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang (dengan bersetubuh, pen) bersama pasangannya setiap harinya. Hak suami ini tidak bisa ditunda karena sebab ia melakukan puasa sunnah atau melakukan puasa wajib yang masih bisa ditunda.”

Semoga sajian singkat ini bermanfaat bagi wanita muslimah dan pembaca rumaysho.com lainnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Selesai disusun setelah ‘Isya’, 5 Ramadhan 1431 H (13/09/2010), di Panggang-Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Story Puding : Ketika Cinta Harus Diperjuangkan


Postingan dengan tema story Puding (cerita seputar pernikahan). Namun di sini saya tidak ingin bercerita tentang pernikahan kami. Walau memori indah masa-masa awal pernikahan kami akan selalu menjadi kenangan manis, dan hari ini masih tetap manis..mudah-mudahan ke depan akan lebih manis..:) Amin..Yaa Rabb
Kali ini saya akan bercerita tentang pernikahan kawan kami, yang saya pikir cukup "seru" untuk diceritakan..

Bismillah..
Awalnya, saya tidak pernah berpikir apapun tentang pernikahan mereka. Semuanya terlihat baik-baik saja, mereka terlihat begitu bahagia -karena memang mereka bahagia pada saat itu- tapi ternyata mereka menyimpan suatu cerita di awal kisah cinta mereka...
Sebut saja, si lelaki bernama Yusran, dan si wanita bernama Bunga... (kedua nama disamarkan)
Yusran adalah seorang "ikhwah" (baca: pemuda yang paham agama), bekerja sebagai praktisi kesehatan yang kebetulan pernah bertempat tugas yang sama dengan suamiku bekerja.
Sedangkan Bunga, gadis tamatan SMA, pemahaman agamanya pun biasa-biasa saja, tapi insya Allah termasuk gadis yang baik..
Mereka tidak saling mengenal, Yusran secara tidak sengaja melihat Bunga yang ternyata termasuk keluarga dari seorang ustadz yang cukup dekat dengannya.
Dalam hati, Yusran menyimpan keinginan untuk melamar sang Gadis guna menyempurnakan setengah dari ad-dien ini. Dan niat itu disampaikannya ke Ustadz.... Dan ustadz-lah yang menjadi perantara bagi mereka berdua..
Singkat kata..mereka pun menikah.. Saya pun hadir di pernikahan mereka.
Pernikahannya sederhana dengan tata cara islam (baca: mempelai dan undangan pria dan wanita terpisah).
Hal yang tak terduga, ternyata walaupun kedua orang tuanya menerima lamaran Yusran, ternyata mereka memendam ketidak setujuan terhadap pernikahan keduanya..
Dan menyedihkannya, kedua orang tuanya berniat memisahkan mereka berdua.. setelah mereka sudah diikrarkan sebagai suami istri...dengan alasan mereka tidak terima tata cara pernikahannya yang tidak bersanding.. Ditambah lagi, Bunga mulai sedikit demi sedikit nampak keinginannya menutup auratnya dengan sempurna.
Sang orangtua khawatir, Bunga akan terpengaruh pada suaminya. Mungkin mereka berprasangka Yusran memiliki pemahaman sesat.. (padahal kami tahu sekali Yusron sangat jauh dari hal itu)..
Yang jadi pertanyaan, "Kenapa tidak dari dulu mereka menolaknya???". Pertanyaan yang sama yang Bunga lontarkan kepada orang tuanya saat itu..
Yusran pun di usir dari rumah mertua, meninggalkan isterinya yang baru saja dinikahinya.. Padahal seharusnya mereka merasakan "honey moon" seperti umumnya pengantin baru...
Tapi qadarullah, kesabaran Yusran diuji. Dia hanya bisa mengatakan kepada mertuanya, "Apa salah saya??"
Akhirnya Yusran meninggalkan rumah itu, Bunga juga tidak bisa melakukan apa-apa...
Sampai pada saat klimaks, mereka berdua disuruh bercerai, namun Alhamdulillah, pada saat proses mediasi di pengadilan, terbukti bahwa mereka berdua tidak memiliki keinginan untuk berpisah.
Yusran hanya berkata, "Saya mencintai istri saya, apa salah saya??"
Dua kali proses pengadilan, belum ada titik temu...
Yusron pun masih teguh pendiriannya untuk mempertahankan bunga sebagai istrinya...
Hal itu juga sebenarnya yang menjadikan Bunga luluh.
Saya teringat waktu dia bercerita kepadaku, "Awalnya sebenarnya saya pasrah pada orang tua, mengingat mama sempat sakit, saya bilang "Ya Sudahlah". Dalam hati saya juga berkata kami kan memang belum saling mengenal, jadi belum cinta"... Saya memperhatikan dia bercerita dengan serius.
"Tapi, karena melihat keteguhannya untuk mempertahankan saya. Padahal saya pikir toh masih ada wanita lain, tapi kenapa dia begitu teguh pendiriannya mempertahankan saya. Dari situlah ada "rasa"...." lanjutnya..
Saya tersenyum mendengarnya...subhanallah...Allah telah menghadirkan kasih sayang di antara keduanya.
Alhamdulillah, ada seorang tante dari pihak Bunga yang menyetujui pernikahan keduanya, dan menginginkan mereka tetap bersatu.
Melalui perantara dialah mereka berdua bisa berkomunikasi..
Sampai suatu saat, Yusron mengambil keputusan nekat untuk "menculik" isterinya.. (seru bukan.. suami menculik isterinya sendiri)..
Akhirnya rencana disusun, mereka janjian untuk bertemu di wartel terdekat.
Bunga juga "terpaksa" melepaskan jilbabnya (memang pada saat itu istilahnya masih "bongkar pasang").
Karena kalau pakai jilbab, ketahuan kalau dia mau kemana-mana..
Mereka bertemu, dan jadilah Yusran berhasil "menculik" isterinya dengan bermodal motor pinjaman (karena memang waktu itu beliau belum punya motor)
Yusron membawa isterinya ke rumah teman sesama staff di tempatnya bertugas.. Disana Bunga diberi jilbab dan mereka berdua dikurung di kamar. Sampai-sampai diberi makan lewat jendela .. (seru ya!!)
Hp Bunga dimatikan, orang tua Bunga bingung mencari putrinya..
Sampai-sampai mendatangi rumah ustadz yang menjadi perantara pernikahan dulu, sambil memohon-mohon agar putrinya dikembalikan.
Padahal, ustadz sendiri tak tahu apa-apa (karena memang tidak diberi tahu)...
Beberapa hari kemudian, Bunga mengaktifkan hp-nya, serentetan pesan sudah memenuhi inbox-nya.
Akhirnya Bunga berkomunikasi dengan orang tuanya dan berjanji akan pulang tapi dengan syarat mereka berdua tidak dipisahkan lagi..
End of story :
Mereka akhirnya bisa diterima sebagai sepasang suami isteri, orang tua Bunga sudah tidak mau mengungkit kejadian yang lalu.

Mereka kini dikaruniai seorang anak perempuan lucu dan aktif.

Oh iya, ingat motor pinjaman tadi??
Akhirnya, motor tersebut berhasil dibeli oleh Yusron (pemiliknya ingin melanjutkan pendidikan) dengan hasil keringatnya sendiri, sebagai saksi bisu "drama penculikan isterinya" untuk memperjuangkan cinta mereka..

Alhamdulillah, Bunga juga sekarang mulai menutup auratnya, sedikit demi sedikit mendekati sempurna.
Yusran akhirnya bisa memperlihatkan bahwa insya Allah, dia adalah lelaki yang pantas mendampingi Bunga,,
Subhanallah...
Saya hanya bisa berkata, seperti cerita sinetron, tapi walaupun disinetronkan akan menjadi cerita yang membosankan dan biasa-biasa saja.
Namun karena ini adalah Kisah Nyata (true story), menjadikan kisah ini menjadi luaarrr biasa.....
Ada pertanyaan di awal kisah tadi "Kenapa tidak dari dulu??". Itu karena rencana Allah mempertemukan mereka.  Jodoh ada di tangannya. Selalu ada hikmah dibaliknya. Dan yang paling tahu tentang hkmahnya, tentu mereka berdua .
Hikmah yang dapat kupetik dari kisah ini :
  • Rencana Allah pasti indah
  • Allah ingin melihat sampai di mana usaha kita, Yusran memperjuangkan cinta yang halal baginya
  • Inna ma'al Usri Yusraa  (setelah kesulitan PASTI ada kemudahan)
  • Menikah tanpa pacaran.. Why not??
Bagaimana dengan anda?? 
 
*dari blog ummu abdillah*

Sabtu, 28 Januari 2012

W A N I T A


Nasihatilah wanita dengan cara yang baik! Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian teratasnya. Jika engkau bersikeras meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok selamanya. Maka nasihatilah Wanita dengan cara yang baik!” (HRBukhari, muslim, ibnu Abi Syaibah, dan Baihaqi)

Kedudukan wanita dimata Allah adalah sama dengan laki-laki dalam hal keimanan.

Wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, bukan berarti Wanita itu bersifat bengkok (jelek), ini hanya masalah fungsi saja, dimana laki-laki dan Wanita memiliki fungsi yang berbeda.

Mengapa dari tulang rusuk yang bengkok? Bukankah masih ada tulang yang lain yang lurus. jika saja dari tulang yang lurus maka akan sempitlah dadanya, karena itu keberadaan Wanita dapat memberi kenyamanan di mana ia berada

Coba kita tengok bentuk tulang rusuk yang bengkok itu, ia berfungsi sebagai kerangka yang menyusun kekuatan tubuh. Jadi perempuan itu juga bagian yang dapat membangun dan menegakkan kehidupan

Dengan tulang rusuk yang bengkok maka banyak organ-organ yang lunak terlindung. Sama halnya dengan Wanita ,ia dapat menjaga kehidupan keluarganya, anak-anaknya yang masih lemah.

Bengkoknya bukanlah bentuk kelemahan Wanita , karenanya Rasulullah mengatakan untuk menasihati Wanita secara baik-baik. Hal ini untuk menjaga agar jiwa Wanita tidak patah, sehingga dapat menjalankan fungsi utamanya sebagai ibu, istri, maupun sebagai insan Wanita itu sendiri

Ketika Aku menciptakan seorang Wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yg istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut pula dalam memberikan kenyamanan

Aku memberinya kekuatan dari dalam untuk menjadi Ibu yg melahirkan anaknya dan menerima segala macam bentuk penolakan yg seringkali datang dari anak-anaknya. Wanita yg memiliki kepekaan yg luar biasa dalam mencintai anak-anaknya di setiap keadaan, bahkan disaat anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya sekalipun

Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh

Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalan, dan melengkapi tulang rusuknya untuk melindungi hatinya

Aku memberinya kebijaksanaan bahwa seorang suami yg baik tak kan menyakiti istrinya, tapi kadang Aku juga menguji kekuatan dan ketetapan hatinya untuk tetap berada disisi suaminya tanpa ragu

Karena tugasnya itulah Wanita diberi kekuatan oleh Allah. Allah telah memberikan kekuatan pada Wanita , karena ditangannya akan terlahir penerus keturunan.

Anak yang baik terlahir dari kehebatan seorang ibu yang mengasuh dan membesarkannya. Di balik kesuksesan suami, ada istri yang hebat yang mendampinginya.

Sejatinya Wanita harus di perlakukan dengan baik, agar jiwanya terbangun dengan kasih sayang dan kesabaran. Kasih dan sayang sepanjang waktu dalam mendampingi anak-anak dan keluarganya tanpa perasaan tersakiti.

Sehingga di harapkan Wanita dapat menjalankan fungsinya dengan baik di dalam keluarga maupun masyarakat.
Dan akhirnya Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan ketika itu dibutuhkan

Kecantikan seorang Wanita bukanlah dari busana yg ia kenakan, sosok yg ia tampilkan ataupun rambut yg ia merah-merahkan. Kecantikan seorang Wanita hanya bisa dilihat dari dalam sorot matanya, karena disitulah pintu
hatinya, tempat dimana cinta itu ada.

Sebaik-baik Perhiasan Adalah Wanita Sholehah

Subhanallah .... Berbahagialah kita menjadi Wanita

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi taufik kepada kita agar dapat menjadi wanita yang sholihah
 
 
 
from blog bu Robby

Jumat, 27 Januari 2012

Enggan Berjilbab Dengan Alasan Belum Dapat Hidayah


Banyak dari wanita muslimah yang belum mau (atau tidak mau?!) berjilbab berdalih: "Allah belum memberiku hidayah. Do'akan aku agar segera mendapat hidayah." Maka mereka ini telah TERPEROSOK ke dalam kesalahan yang NYATA. Kami ingin bertanya: "Bagaimana engkau TAHU bahwa Allah belum memberimu hidayah?"


Jika jawabannya: "Aku tahu."

Maka jawablah dua pertanyaan ini:

1. Apakah engkau ingin mengatakan bahwa dirimu telah melihat ke dalam kitab yang tersembunyi (al-Lauhul Mahfuzh)? Bahwa dirimu telah ditulis sebagai orang yang belum atau tidak mendapatkan hidayah, dan dirimu telah tertulis sebagai orang yang celaka dan bakal masuk neraka?

2. Apakah engkau ingin mengatakan bahwa dirimu telah diberitahu oleh orang lain atau makhluk lain? Bahwa dirimu tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah?

Jika kedua pertanyaan tersebut tidak mampu kau jawab, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah?

Duhai saudariku muslimah...

Pernahkah engkau mencoba untuk MENCATAT, berapa banyak dosa yang kau lakukan dengan "hati yang ringan" dalam setiap harinya hanya dengan SATU perintah Allah yang ENGGAN kau taati?

Siapkanlah alat tulismu dan cobalah kau catat mulai hari ini:

1. Ketika keluar rumah tanpa berjilbab, maka pada hakikatnya dirimu telah berbuat maksiat karena memperlihatkan aurat. Ada berapa orang yang bukan mahram yang lewat di depan rumahmu dan melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

2. Ketika berada di jalan menuju ke pasar atau kemana pun tujuanmu, ada berapa banyakkah orang yang bukan mahram yang melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

3. Ketika berada di tempat tujuan, tempat kerja atau apapun tempat yang kau tuju, ada berapa banyakkah orang yang bukan mahram melihatmu "memamerkan" aurat? Catat....

4. Demikian pula ketika menuju pulang ke rumahmu, ada berapa banyakkah orang yang melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

Maka cobalah kau jumlah, terhadap berapa banyak orangkah dirimu "mempertontonkan" aurat dalam sehari ini?

Lalu cobalah engkau membaca firman Allah Ta'ala berikut ini:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula." (Az Zalzalah: 8)

Siapakah di antara teman-temanmu atau keluargamu yang dapat membelamu ketika dirimu sudah terbujur kaku di dalam kuburmu?

Engkau menambah dosa dengan dosa, lalu dirimu mengharap tingkatan-tingkatan surga dan kemenangan seorang ahli ibadah. Apakah kau lupakan Rabb-mu saat Dia mengeluarkan Adam dari Surga menuju dunia hanya karena disebabkan satu dosa..??

Ketahuilah wahai saudariku....

Hidayah (petunjuk) ada dua macam, yaitu hidayatut taufiq dan hidayatul irsyad.

1. Hidayatut Taufiq

Semata-mata datangnya dari Allah. Sebagaimana yang dimaksud dalam firman-Nya:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang YANG MAU menerima petunjuk." (Al-Qashash: 56)

2. Hidayatul Irsyad

Ini dimiliki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan setiap orang yang berdakwah ilallah, yang mengajak orang lain menuju kebaikan. Sebagaimana dalam firman-Nya:

…وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"…Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Asy Syura: 52).

Jenis hidayah yang ke dua ini (hidayatul irsyad), dimiliki oleh setiap orang yang berdakwah ilallah, karena orang yang berdakwah ilallah hanya memberikan sebuah KUNCI menuju jalan yang benar dan lurus kepada orang lain.

Adapun akhir perkaranya, semua kembali kepada Allah. Sehingga, pada akhirnya Allah-lah saja yang menentukan seseorang mendapatkan hidayah dari-Nya (hidayatut taufiq), ataukah tidak.

[Lihat kitab al Qaulul Mufid ‘ala Kitab at Tauhid (1/348-349)]

Maka yang menjadi masalah adalah, apakah seseorang yang sudah melihat datangnya hidayah mau menerima hidayah (petunjuk) tersebut ataukah dia LEBIH SENANG BERPALING menjauhi hidayah tersebut, lalu mengatakan, "Belum mendapat hidayah." (?!)

Orang-orang yang telah "melihat" datangnya hidayah tetapi TIDAK MAU mengikutinya, maka pada hakikatnya adalah orang-orang yang LEBIH MENYUKAI kesesatan daripada hidayah (petunjuk).

Hal ini telah digambarkan oleh Allah Ta'ala sebagaimana dalam firman-Nya:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى

"Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu.." (Al Fushshilat: 17)

Allah Ta'ala berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya." (Al-Baqarah: 196)

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (Al-Qashash: 50).

Allah Ta'ala berfirman:

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلا عَظِيمًا

"Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)." (An Nisaa': 27)

Semoga bermanfaat.....