Sabtu, 08 Oktober 2011

Ketika Rindu Menyergap Kalbu..

Masih lekat dalam ingatan, saat menghabiskan waktu bersama. Berbagi cerita, merenda impian dan angan bersama. Lagi-lagi selalu dengannya…

Banyak waktu yang tak pernah kulewatkan sedetik pun untuk sekadar menyapanya. Bahkan mengeluarkan unek-unekku yang tiada habisnya. Hingga malam menjelang tiba, sungguh tak terasa…

Momen-momen yang selalu dijalani bersama, tak ayal membuat banyak orang iri akan kekompakkan kami. Seperti sepasang kakak-adik yang selalu ceria menikmati segala aktivitas.

Menemaninya adalah hobiku, seperti dia juga yang selalu menemaniku… Dari mengurusi keperluan hal sederhana hingga yang rumit, tak lepas aku darinya. Ahh, seperti saudara kembar yang sulit dipisahkan.

Sampai suatu saat, ada sebuah obrolan diantara kita… Ketika bercerita tentang masa depan, apa yang perlu dipersiapkan dan bagaimana menghadapinya. Banyak petuah bijak yang diberikannya. Aku ingat ketika banyak hal sepele yang kini rasanya sangat berarti ketika aku terapkan. Contohnya saja, aku belajar darinya untuk bisa mengarsipkan data-data dengan rapi. Ya, data-data yang berkaitan semua dengan anggota keluarga. Dimulai dari akte kelahiran, KTP, STNK, struk pembayaran rekening telepon, PAM, PLN dan berkas-berkas lainnya. Semuanya dia simpan dengan rapi dalam sebuah map. Dulu aku anggap sepele sebuah kebiasaan seperti itu, tapi ternyata kini baru terasa… Aku harus mempraktekannya pula.

Dan masih ingat juga… Ketika nasihatnya membuatku harus berlaku lemah-lembut terhadap siapapun, tidak mudah mengeraskan suara dan mengangkat dahi lalu harus banyak mengalah hanya agar aku bisa diterima keberadaannya oleh orang lain. Kemudian dia juga mengajariku untuk bisa menjadi seorang wanita yang mandiri, tak ketergantungan terhadap siapapun. Bahkan beliau berpesan untuk aku bisa mencari penghasilan sendiri, agar tak mudah meminta-minta pada orang lain sekalipun itu pada suami atau anggota keluarga sendiri.

Struggle.. Ya, aku melihatnya seperti itu. Usia yang hampir senja, dengan semangatnya yang berjiwa muda tak membuatnya lelah dan berdiam diri di rumah sebagai ibu rumah tangga biasa. Dia tetap aktif dalam mengikuti majelis ta’lim, dia juga masih terus jalan kesana-sini demi menawarkan barang dagangannya. Atau dia sampai terkantuk-kantuk demi menjaga toko kecil yang tak seberapa pendapatannya. Ya, dia lakukan demi anak-anaknya termasuk aku.

Dia yang selalu bisa menutupi pengeluaran di keluarga kami. Dengan penghasilan dari seorang bapak yang ternyata harus tetap dibantu oleh peran serta istri. Maka, dia lah yang mampu menstabilkan perekonomian keluarga, memposkan segala pemasukan untuk bisa diposkan kembali sebagai pengeluaran dengan baik.

Ahh.. habis kata untuk aku bisa mendefinisikannya. Dengan segala keterampilan yang dia punya, sebagai juru masak, juru dakwah, juru dagang atau juru-juru lainnya… yang pasti beliau bagiku adalah juru ibu yang paling hebat sedunia.

Sampai sekarang dimana aku sudah tak bisa lagi turut bersamanya… Tak mampu lagi untuk selalu menemaninya bahkan tak bisa lagi baktiku sempurna dipersembahkan. Aku akan selalu mengingat segala petuah dan ajaran-ajarannya yang bermakna. Sebisa mungkin aku akan mempraktekannya dengan baik… Menjadi seorang anak yang harus tetap berbakti pada orang tua, menjadi seorang istri yang harus full bakti pada suami dan tetap aku adalah aku. Dimanapun berada, kehadiranku harus bisa memberi manfaat. Setidaknya itupula yang menjadi pesan dari seorang wanita hebat di kehidupanku.


Untukmu ibuku… Aku sangat rindu. Meski mungkin kita tak lagi selalu bisa bersama, namamu masih selalu kuingat dalam sujud malamku, dalam lirih doaku. Berharap perjumpaan kembali di surgaNya nanti, berharap kita kan berkumpul bersama kembali. Dalam naungan cintaNya, cinta orang-orang yang saling mencintai satu sama lain.

Ibuku... Ketika rindu menyergap kalbu. Hanya bisa kutitipkan salam cintaku, semoga DIA menjagamu selalu. Luv u...

0 komentar:

Posting Komentar