Selasa, 15 November 2011

Hati-Hati, Anak Anda Mengawasi Dan Mencotek Anda!!



Berapa sering kita menyuruh anak-anak kita mengganti bajunya, atau menyikat gigi mereka, atau mengerjakan PR atau perintah-perintah lainnya ? Tentu sudah berkali-kali bahkan mungkin tak terhitung jumlahnya.

Bagi sebagian besar dari kita, hal ini lumrah dan sudah menjadi bagian dari keseharian. Kita menyuruh mereka, mereka mengabaikannya, kemudian kita suruh lagi, lagi dan lagi. Dan jika kita beruntung, anak kita akan melakukan apa yang kita perintahkan setelah kita menyuruhnya hingga empat lima kali, atau setelah kita membentaknya. Namun tak jarang perintah kita itu tidak mendapat respon sama sekali dari mereka. Kitapun lantas mengeluh karena anak-anak tidak pernah mau mendengarkan kita, kemudian kita tanyakan pada ibu-ibu yang lain bagaimana caranya menyuruh anak mentaati mereka, mau makan sayuran, mau mebereskan mainan atau mau lekas tidur seperti kita perintahkan. Materi-materi pendidikan anak dan parenting di buku-buku dan internet tak lupa kita sikat, namun tetap saja anak-anak kita tak mau mendengarkan.

Namun yang perlu diingat, anak-anak kita selalu mengamati. Ketika kita berteriak-teriak pada mereka, mereka melihat kita. Ketika kita ribut dengan suami kita, mereka menyaksikan. Dalam kemacetan di jalanan, tatkala keluar makian dari mulut kita, anak-anak kita melihatnya. Percakapan kita dengan teman kita di telepon pun tak luput dari pengamatan mereka.

Jika anda punya anak batita (bawah tiga tahun), anda dapat melihat pengaruh pengamatan mereka. Anda mungkin pernah melihat mereka mengangkat telepon dan bilang "halo", atau melihat mereka membawa-bawa tas bilang mau ke kantor. Ya, anak-anak kita mengamati setiap tindakan kita, meski tak ada satu katapun yang mereka dengarkan.

Mereka Belajar

Sebenarnya, kita tak perlu khawatir anak-anak kita tidak mendengarkan kita. Namun yang musti kita khawatirkan adalah mereka selalu mengamati kita. Dan ini adalah nyata. Ketika kita minta anak kita untuk membereskan mainannya, mereka tidak mendengarkan. Kita kencangkan suara kita, dan mereka tetap mengacuhkannya. Lantas kitapun kesal dan berteriak, yang membuat mereka jadi ketakutan dan terkadang mereka menangis. Namun alih-alih mereka jadi patuh, malah ada satu catatan kecil yang membekas di hatinya.

Pada kenyataannya, setiap kali kita suruh anak kita melakukan sesuatu, kita telah memberikan mereka satu pelajaran. Kita bermaksud meminta satu hal, tapi sebenarnya kita menunjukkan pada mereka bagaimana melakukan hal lainnya. Ketika kita berteriak pada mereka karena marah perintah kita tak dituruti, di saat itu kita telah menunjukkan pada mereka bagaimana caranya memaksa orang melalukan apa yang kita mau. Begitu juga ketika kita melempar mainan ke kotak mainan, atau menendang mainan ke arah yang kita perintahkan, di situ kita telah menunjukkan pada mereka bagaimana cara menunjukkan kemarahan mereka pada orang lain.

Coba bayangkan ketika anda sedang mengantar anak ke sekolah pada pagi hari, ketika tiba-tiba ada pengemudi lain yang ngebut dan memotong jalan, mengakibatkan anda kaget dan hampir menabraknya. "Sialan!", atau kata-kata umpatan lain akan terlontar dari mulut anda. Anda kemudian menepi dan bersyukur pada Allah tak terjadi hal yang lebih buruk. Anak anda yang berada di belakang menyaksikan semua ini terjadi. Dalam kondisi seperti ini kita jarang menjelaskan pada anak jika pengemudi tadi telah salah karena ngebut dan memotong jalan. Malah, kita menunjukkan pada mereka bagaimana jika terjadi situasi seperti ini: mengumpat.


Apa yang kita ajarkan

Sebagai orang tua tentu kita menyadari bahwa mendisiplinkan anak adalah salah satu hal yang tidak mudah. Dalam usaha ini, tidak jarang keluar dari diri kita teriakan-teriakan, luapan emosi dan kemarahan, juga kata-kata merendahkan anak. Jika kita coba liat diri kita dari kacamata anak-anak kita, mungkin ada satu atau dua hal yang  dapat kita pelajari.

Tentu saja kita tak dapat melihat perilaku kita sendiri, dan jarang bisa menghentikan emosi yang sedang meledak tatkala perintah kita tak digubris anak. Namun kita dapat menyiapkan diri kita menghadapi saat-saat seperti itu agar akibat-akibat yang tidak kita inginkan tidak terjadi. Sebagai contoh, kita ingin agar anak kiya belajar bahwa mereka tidak harus berteriak agar mereka didengarkan. Maka, lain kali ketika anda meminta anak anda memungut mainannya yang berserakan dan sudah siap untuk makan malam, cobalah anda bersabar. Jika anda ingin agar anak anda mendegarkan anda dan mau melakukan perintah anda, coba pikirkan satu cara yang tepat tanpa berteriak. Mintalah dia untuk melihat anda dan rendahkan tubuh anda, kemudian mulai tunjukkan padanya bagaimana cara merapikan mainan dan meletakkan di kotaknya. Lakukan apa saja, asala jangan berteriak dan ngomel-ngomel.


Apa yang kita pelajari

Jika kita menyadari bahwa anak kita selalu mengamati kita, kita akan selalu berusahan menjaga tingkah laku kita. Kita akan bicara lebih lembut, mengontrol emosi kita, dan mulai bersikap sebagaimana sikap apa yang kita mau dari mereka. Dengan kata lain, hal ini seperti lingkaran yang melatih orang tua dan anak-anak mereka agar berperilaku lebih baik dan menjaga emosi. Jika kita tahu bahwa anak-anak selalu mengamati setiap langkah kita, kita akan senantiasa berperilaku dan menjaga adab-adab yang baik, karena hal ini akan menjadi contoh bagi mereka. Dengan sendirinya anak akan meniru contoh yang baik itu, dan akhirnya kita semuapun senang.

Urusan janji adalah satu hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Mereka berjanji pada seseorang, terkadang menepati, terkadang melanggarnya. Amat mudah membuat janji, dan lebih mudah lagi melanggarnya. Banyak orang tua membuat janji sekedar untuk membuat anak diam, dan kemudian kata-kata itu tidak ada realisasinya. Berapa banyak anda bilang ke anak anda, "Iya, iya, insyaAllah nanti mama belikan mainan itu," hanya agar anak anda diam dan tidak merengek-rengek terus? Saat ketika kata janji itu terlontar dari mulut anda, anda harus menyadari bahwa janji itu telah ditulis di batu. Seorang anak yang dijanjikan hadiah, atau mainan, atau jalan-jalan ke suatu tempat, tidak akan melupakannya, tidak juga membiarkan anda melupakannya. Hal lain yang ditakutkan adalah, dan ini cukup menyedihkan, banyak anak ketika mendengar orang tuanya bilang "InsyaAllah" manganggap kata itu berarti "mungkin" atau bahkan berarti "tidak".

Banyak tindakan kita yang bergantung pada kemauan kita. Jika anda memang ingin membelikan mainan pada anak anda, yakinkan dia bahwa hal itu benar. Namun jika tidak berencana membelikannya, maka jujurlah. Sebuah janji yang tidak jujur mungkin berhasil membuat anak anda tidak merengek selama beberapa menit ketika belanja, namun hal ini akan terus membekas di hatinya dan berpotensi akan mereka tiru ketika dewasa kelak.

Intinya, kita mendesain masa depan anak-anak kita dengan tingkah laku kita sendiri. Mengapa kita masih mempraktekkan perilaku-perilaku yang kita tak mau kelak akan dilakukan oleh anak-anak kita? Tanamkan sekali lagi di pikiran kita bahwa anak-anak kita tidak hanya mengamati kita tapi juga mencontoh kita. Semoga ini cukup bagi kita untuk mulai merubah tingkah laku kita di depan anak-anak, agar kelak mereka menjadi generasi sebaik yang kita harapkan.Aamiin...

0 komentar:

Posting Komentar