Kamis, 18 Agustus 2011

Kasus TKW, Akar Masalah Yang Jarang Terungkap

Beberapa minggu yang lalu, masih segar dalam ingatan kita, bangsa Indonesia dihebohkan oleh kasus TKW yang bekerja di Madinah, Arab Saudi. Pahlawan devisa yang bernasib malang itu bernama Sumiati. Ia disiksa secara sadis oleh majikan perempuannya. Bahkan bibir atasnya, digunting oleh majikannya. Media informasi, baik cetak maupun elektronik, kemudian jor-joran menyajikan kasus TKW ini sebagai berita utama kepada pembaca mereka. Selang beberapa hari setelah itu, Indonesia kembali digemparkan oleh kasus pembunuhan sadis yang dialami oleh Kikim Komalasari. TKW yang bekerja di kota Abha tersebut ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sebuah tong sampah.



Serentetan kasus TKW di atas lalu berujung panjang. Dubes Arab Saudi untuk Republik Indonesia, Abdurrahman al Khayyath, sampai dipanggil beberapa kali ke kantor Kemenlu di Jakarta untuk dimintai keterangan soal kasus yang menimpa dua orang WNI ini di negara mereka, Kerajaan Arab Saudi. Bahkan saking seriusnya, orang nomor satu di negeri ini, Bapak H. Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih akrab disebut Pak SBY, sampai angkat suara terhadap kasus TKW yang menimpa warganya di negeri petrodollar tersebut. Tak sekadar bicara, beliau pun langsung membentuk tim khusus dan memerintahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan untuk berangkat ke Arab Saudi guna mengawasi jalannya penegakan hukum terhadap dua orang TKW bernasib malang tersebut.

Lain di atas, lain pula dengan yang di bawah. Sebagian rakyat Indonesia yang terbakar emosi menyaksikan berita memilukan ini di media-media informasi, langsung mendemo gedung Kedubes Arab Saudi di Jakarta. Selain menenteng spanduk-spanduk yang berisikan kecaman terhadap pemerintah & rakyat Arab Saudi, mereka bahkan juga melempari gedung tersebut dengan -maaf- pembalut wanita sebagai wujud protes terhadap kasus aksi kekerasan yang menimpa dua orang TKW ini di negara mereka. Ditambah lagi ada pihak-pihak yang sepertinya sengaja mengail ikan di air keruh dengan menyebarkan propaganda anti-Arab, yang ujung-ujungnya nanti berimbas kepada isu anti-Islam.

Mencari Akar Permasalahan Kasus TKW Indonesia

Sebenarnya, kalau kita mau memandang lebih jauh dan jernih lagi, dua kasus TKW yang menimpa Sumiati dan Kikim Komalasari di Arab Saudi tak ubahnya seperti gunung es yang timbul di permukaan. Semua itu adalah puncak dari semua kesemrawutan proses pemberangkatan TKI kita, mulai dari Indonesia hingga ketika mereka ditempatkan di Arab Saudi.

Dimulai dari proses perekrutan, tidak semua TKW kita yang bekerja di Arab Saudi masuk  atas keinginan mereka sendiri. Sebagian dari mereka adalah korban human trafficking atau sindikit jual-beli manusia. Mereka rata-rata adalah gadis-gadis desa nan polos yang tidak mengerti apa-apa. Lalu sindikat penjualan manusia ini mendatangi rumah orang tua mereka dan menjanjikan pekerjaan yang sangat menghasilkan di negeri orang. Tak jarang para sindikat ini memberikan bonus uang kepada orang tua si gadis apabila mereka  mau menyerahkan anak perempuan mereka untuk dipekerjakan di negeri orang. Tatkala sampai di Arab, ternyata mereka malah dipekerjakan sebagai pelacur ilegal oleh para sindikat ini.

Selain masuk ke Arab Saudi lewat jalur diatas, sebagian WNI kita ada yang bandel masuk ke Arab Saudi secara ilegal lewat jalur umrah. Para calon TKI gelap ini melakukan perjalanan umrah dan tatkala tiba waktunya untuk kembali ke tanah air, mereka kabur dari rombongan mereka dan bergabung bersama rekan-rekannya yang sebelumnya sudah ada di Arab Saudi. Orang-orang yang masuk ke Arab Saudi dengan dua cara di ataslah yang amat sangat rentan terhadap berbagai kasus kejahatan yang ada.

Masuk lewat jalur resmi pun tidak menjamin keselamatan wanita-wanita Indonesia yang bekerja di Arab Saudi. Banyak PJTKI nakal yang memberangkatkan mereka tanpa terlebih dahulu memberikan pelatihan dan pembekalan terhadap para pahlawan devisa ini. Dengan jurus bil fulus mulus, mereka bisa mendapatkan sertifikat resmi yang menyatakan bahwa para calon TKW yang akan mereka berangkatkan telah menjalani berbagai macam proses pelatihan dan pembekalan, sehingga mereka benar-benar layak untuk diberangkatkan ke negara tujuan. Padahal mereka tidak dilatih dan dibekali sama sekali. Lantaran para TKW ini berangkat dengan modal nekat tanpa ada skill yang memadai, sesampainya mereka di rumah sang majikan, mereka bekerja dengan buruk sekali. Hal ini tak pelak membuat sang majikan yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan mereka menjadi kesal, yang akhirnya dilampiaskan dengan memukuli mereka.

Di sisi lain, keberadaan sindikat-sindikat pelacuran yang notabene adalah orang kita juga semakin memperparah situasi di Arab Saudi. Para mafia 'esek-esek' ini biasanya mengiming-imingi setiap TKW yang mereka temui untuk kabur dari rumah majikannya guna bekerja di tempat lain yang gajinya berkali-kali lipat lebih tinggi. TKW malang yang tergiur dengan tawaran orang Indonesia yang baru saja dikenalnya ini, langsung manut saja ketika mereka disuruh kabur dari majikannya dan pergi bersama mereka. Tak disangka-sangka setelah TKW ini kabur dan tinggal bersama orang yang sebelumnya menawarkan untuknya pekerjaan baru, ia malah diperkosa olehnya terlebih dahulu lalu dipekerjakan sebagai pemuas nafsu kepada orang-orang Saudi dan juga WNI di Arab Saudi. Sungguh mengenaskan sekali. Karena itu, selain dikenal sebagai negara pengekspor pembantu terbesar di mata warga Arab Saudi, Indonesia juga dikenal sebagai negara penghasil pelacur terbesar di negeri petrodollar ini.

Ketidaktahuan para calon TKW kita tentang budaya di Arab Saudi semakin membuat persoalan menjadi runyam. Contoh kecil saja; di Arab Saudi pergaulan antara laki-laki dengan perempuan tidak bebas seperti di Indonesia. Warga Arab Saudi apabila berbicara kepada lawan jenisnya cenderung berbicara seperlunya saja. Dan kaum wanitanya juga turut menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar seperti menggoda. Hal yang sangat bertolak belakang dengan perempuan Indonesia yang berbicara ceplas-ceplos dan kadang dengan nada menggoda kepada lawan jenisnya. Kebiasaan ini memiliki nilai negatif di mata masyarakat Arab Saudi pada umumnya.

Para diplomat Republik Indonesia yang bertugas di Arab Saudi akhirnya hanya bisa pasrah menjadi 'tong sampah' bagi rantai permasalahan TKW yang sesungguhnya bermula dari tanah air sendiri. Dan mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali harus melayani banyaknya pengaduan yang masuk ke meja mereka. Banyaknya pengaduan yang masuk jualah yang membuat para pejabat kedutaan RI yang jumlahnya tidak sebanding menjadi kewalahan menghadapi berbagai macam persoalan yang dialami para TKW kita. Bahkan tak jarang mereka rela harus 'mengemis' kepada amir penguasa setempat demi tuntasnya permasalahan yang dihadapi para TKW ditempat mereka terkena masalah.

Keputusan untuk menghentikan pemberangkatan TKW ke Arab Saudi itu sepenuhnya mutlak berada di tangan pemerintah pusat yang ada di Jakarta. Adapun para pejabat Kedutaan RI yang ada di Arab Saudi, tugas mereka adalah mengurus keperluan WNI yang ada di Arab Saudi, dan tidak memiliki hak sama sekali untuk menstop pemberangkatan TKW. Karena itu Duta Besar RI untuk Kerajaan Saudi Arabia, Bapak Gatot Abdullah Manshur pernah berkata "Saya tidak bisa mendesak pemerintah pusat untuk menghentikan pengiriman TKI, saya bakal ditegur oleh bapak presiden; Kamu saya angkat menjadi Duta Besar disana itu untuk ngurusi warga kita yang ada di sana, bukan untuk menstop..." ujar beliau dalam salah satu kesempatan bersama para mahasiswa Universitas Islam Madinah.

Anggap saja pemerintah pusat mengeluarkan keputusan pemberhentian pemberangkatan TKW ke Arab Saudi. Lantas, apakah masalah yang ada otomatis menjadi selesai? Tidak. Para calon TKW akan berbondong-bondong masuk secara ilegal yakni melalui jalur umrah (seperti yang sudah saya singgung diatas). Tingginya jumlah permintaan warga Arab Saudi akan pembantu rumah tangga dari Indonesia adalah faktor utama yang akan memicu hal ini. Kalau ini yang terjadi, permasalahan yang ada akan lebih gawat lagi dikarenakan akan terdapat lebih banyak TKW yang bekerja sebagai pembantu dan keberadaan mereka akan sukar dideteksi oleh pihak Kedutaan, karena mereka masuk secara ilegal. Akibatnya, tindak kejahatan akan semakin rawan mengintai mereka dan perwakilan pemerintah RI di Arab Saudi  tidak bisa berbuat apa-apa terhadap majikannya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, disebabkan lemahnya kekuatan hukum yang dimiliki oleh TKW ilegal.  Dan bahaya seperti inilah yang telah diperhitungkan oleh para diplomat kita yang bertugas di Arab Saudi apabila keputusan untuk memberhentikan pengiriman TKW diambil oleh pemerintah pusat.

Oleh karena itu, setelah melihat sedikit fakta yang ada diatas (sebenarnya masih buaanyak lagi, tidak mungkin diuraikan satu persatu di artikel pendek ini) kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kasus-kasus yang menimpa TKW kita sebenarnya juga disebabkan oleh ulah orang kita sendiri yang tidak bertanggung jawab. Dimulai sejak para TKW masih berada di tanah air, hingga ketika mereka sudah berada di Arab Saudi. Jadi, kita tidak boleh begitu saja memvonis kalau semua orang Arab Saudi -apalagi semua orang Arab, termasuk yang di Indonesia- itu bejat. Sebagaimana yang dihembuskan oleh sebagian pihak di Indonesia dengan tujuan tertentu. Kita juga harus objektif dalam menilai sesuatu. Apakah di Indonesia sendiri tidak ramai dari kasus kejahatan yang serius sampai kita bisa dengan mudah memvonis sebuah bangsa lain kalau semua orangnya jahat?

Islam dan Hak-Hak Wanita

Ajaran islam sangatlah memperhatikan kehidupan kaum wanita. Tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh orang barat bahwasanya ajaran Islam sangat mengekang kaum wanita. Dalam urusan penghidupan, Islam membebankan kewajiban nafkah kaum wanita tehadap ayahnya. Dan jika ia telah menikah, maka kewajiban ini otomatis bergulir kepada suaminya. Mungkin, dikarenakan kurangnya kesadaran para suami akan hal ini, banyak kita jumpai fenomena suami yang menyuruh istrinya bekerja -bahkan sampai jadi PRT di negeri orang- sementara ia sendiri enak-enakan santai dirumah. Hal ini tentu saja sangat menyalahi ajaran Islam yang memerintahkan kaum laki-laki untuk bekerja keras mencari penghidupan bagi anak dan isterinya. Bukan malah sebaliknya.

Tapi bukan berarti wanita dalam Islam tidak boleh bekerja sama sekali. Asalkan pekerjaannya itu Halal dan tidak membawa dirinya kepada suatu kemudharatan, maka tidak masalah ia bekerja.

Khatimah

Dalam suatu kesempatan, mantan Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi, sempat mengkritik pedas masalah pemberangkatan TKW ke Arab Saudi untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, "Sekarang ini di Saudi juga di negara-negara Islam di timur tengah sudah tidak ada lagi negara yang semiskin apapun mengirim TKW pembantu rumah tangga. Itu sudah tidak ada kecuali Indonesia," kata sekjen International Conference of Islamic  Scholars (ICIS) Hasyim Muzadi. Dan faktanya memang begitu. Tidak ada satupun negara miskin di dunia ini yang rela mengirim para wanitanya untuk bekerja sebagai pembantu di negeri orang kecuali Indonesia. Selain karena faktor keselamatan bagi sang TKW yang sangat rawan dari tindak kejahatan, hal ini juga otomatis akan merendahkan harkat dan martabat bangsa pengirim TKW di negeri orang. Hal ini juga lah yang menjadi pertimbangan negara miskin seperti Bangladesh (Bahkan Indonesia jauuuuuuuh lebih kaya dari negara ini) untuk tidak memberangkatkan kaum wanitanya guna bekerja sebagai PRT di negeri orang.

Nampaknya  angka pengangguran yang tinggi, minimnya lapangan pekerjaan di negeri sendiri dan semakin naiknya kebutuhan hidup ditambah ketidaktahuan para TKW tentang ajaran agamanya sendiri yang mengajarkan umatnya untuk tidak membawa dirinya ke dalam suatu bahaya, menjadi akar utama dari segala permasalahan ini. Dan ini merupakan tanggung jawab bersama yang harus di selesaikan oleh rakyat Indonesia, terutama pemerintah.

Dalam sebuah buku yang berjudul "Mengelola Keuangan Keluarga" yang ditulis oleh Safir Senduk, seorang konsultan keuangan keluarga yang cukup terkenal di Jakarta, beliau membahas pada bab 4 bukunya tersebut masalah perlukah seorang istri bekerja guna membantu perekonomian keluarganya? Sedangkan di sisi lain seorang istri juga memiliki tugas untuk merawat dan membesarkan anaknya dengan baik. Safir Senduk mengakhiri uraiannya dengan: ... (Bila salah satu dari Anda bekerja dan pasangan Anda tidak bekerja, padahal ia ingin juga bekerja tanpa meninggalkan anak, cobalah untuk bekerja di rumah. Jangan khawatir bahwa orang yang bekerja di rumah tidak bisa mendapatkan penghasilan sebesar orang yang bekerja di luar rumah. Jenis usaha apapun bisa memberikan penghasilan yang besar, walaupun usaha itu dijalankan dari rumah). Apa yang beliau sampaikan agaknya bisa menjadi jawaban tepat bagi wanita yang ingin bekerja ke Arab Saudi sebagai PRT dikarenakan alasan klasik; ingin membantu kondisi keuangan suaminya...

Oleh: Rahman Hakim
at Muslimah Berbagi ^^

0 komentar:

Posting Komentar