Kamis, 18 Agustus 2011

TRAGEDI KARTINI

PERJALANAN SPIRITUAL SANG PUTRI MERETAS JALAN MENUJU TERANG 
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juni 1902)Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya. Namun wanita-wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Kian hari Emansipasi kian mirip saja dengan “liberalisasi” dan “feminisasi”. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya. Dan kembali kepada fitrahnya.

Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas dari kungkungan adatnya. Dan jangan salahkan Kartini kalau dia tidak dapat lepas dari pendidikan Baratnya. Kartini bukan “anak keadaan”, terbukti dia sudah berusaha untuk mendobraknya. Yang harus kita persalahkan adalah mereka yang menyalah artikan kemauan Kartini.


Kartini tidak dapat diartikan lain, kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya. Seperti yang ada dalam Door Duisternis tot Licth. Yang terlanjur di artikan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Armin Pane. Prof. Dr. Haryati Soebadio, mantan Menteri Sosial RI, yang notabene cucu tiri R.A. Kartini mengartikan buku itu menjadi Dari Gelap Menuju Cahaya atau bahasa Qur’an nya Minazh-Zhulumaati Ilan-Nuur (QS Nur :31) adalah inti dari Panggilan Islam. Yang maksudnya membawa manusia dari kegelapan (kejahiliyahan atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (kebenaran Al Haq).
“Allah Pemimpin orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. “ (Q.S. Al-Baqarah, 2 : 257)

Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dia belum sampai pada tujuannya.

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Tapi, cahaya itu belum purna menyinari secara terang benderang. Karena cahaya itu masih terhalang oleh atmosfir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini kembali pada Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasanya sebelum ia menyelesaikan usahanya untuk mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkan sebagaimana yang di cita-citakan.

Kartini yang di kungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba meretas jalan menuju terang. Tapi, anehnya tak seorang pun meneruskan perjuangannya.Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah di pintal oleh Kartini. Sungguh pun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya. Gagasan-gagasan Kartini yang di rumuskan dalam kamar yang sepi mereka peringati di atas panggung yang ramai. Kecaman Kartini yang pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan.

Wanita kini telah maju ke belakang! Kita belajar dari sejarah, bahwa manusia itu unik. Keunikan manusia adalah dia belajar sejarah tapi tidak belajar dari sejarah. Tragedi yang menimpa Kartini bukanlah tragedi yang menimpa seorang manusia pada hari kemarin, tapi tragedi yang menimpa kita semua, umat Islam sepanjang abad. Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang kalah menghadapi pertarungan ideologi (al ghazwul fikri). Islam di satu sisi dan Yahudi serta Nasrani di sisi yang lain.

Jangan kecam Kartini. Karena walau bagaimanapun dia sudah berusaha mendobrak adat dan mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan. Manusia itu berusaha, Allah lah yang menentukan. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900). Demikian kata-kata Kartini yang mencerminkan sikap tawakal. Memang, kita (manusia) sebaiknya berorientasi pada usaha, bukan berorientasi pada hasil. Ini perlu agar kita tidak kehilangan cakrawala sehingga tidak akan mengukur keberhasilan suatu perjuangan dengan batasan umur kita. Dan agar kita tidak mudah mengecam kesalahan yang di buat oleh orang-orang sebelum kita. Bukan mustahil jika kita dihadapkan pada kondisi yang sama, kita juga akan berbuat hal yang sama.

Di nukil dari buku “Tragedi Kartini “, Syaamil, 2007

0 komentar:

Posting Komentar