Jumat, 17 Juni 2011

Bunda,,,Kemana Kami kan Engkau Bawa ?

Anak adalah amanah. Membesarkan anak bukan semata dengan memenuhi berbagai keinginannya. Lebih dari itu, yang paling penting adalah bagaimana menanamkan pemahaman agama sejak dini, sehingga anak bisa mengenal Tuhannya, Nabinya, dan memiliki akhlak mulia.


Anak adalah karunia dan nikmat dari Alloh. Terasa bahagia hati tatkala melihat mereka, terasa sejuk mata saat memandang mereka.  Begitu pun jiwa terasa bahagia dengan keceriaan mereka. Bahkan nikmat Alloh yang satu ini termasuk dalam doa Nabi Zakaria ‘alaihis salam. Beliau mengatakan :
“Rabbku, janganlah Kau membiarkanku seorang diri, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mewarisi.” QS. Al Anbiya ; 89 

Adapun dirimu, sungguh engkau adalah seorang ibu yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang telah Alloh bebankan kepadamu pada hari kiamat nanti, apakah engkau menjaganya ataukah menyia-nyiakannya ?
Ketahuilah olehmu, kesempurnaan perhiasan seorang anak tidaklah akan diraih kecuali dengan agama dan kebaikan akhlaknya. Bila tidak demikian, anak hanya akan menjadi musibah bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.
Banyak masalah yang berkaitan dengan pendidikan mereka secara umum, akan tetapi kita tidak akan membahas panjang lebar, namun sekedar menyinggung beberapa perkara yang paling penting :
  •  Bersemangatlah untuk menyelamatkan aqidah mereka dari perkara-perkara yang bisa mengotorinya. Hindarkanlah mereka dari memakai jimat-jimat, meramal nasib dengan melihat garis tangan atau bentuk-bentuk ramalan yang lainnya. Jadikanlah Al Qur’an dan Sunnah Rosul-Nya sebagai sesuatu yang agung dalam hati mereka.

  •  Bersemangatlah dalam menanamkan keimanan, kebaikan dan perasaan selalu diawasi oleh Alloh ‘azza wa jalla dalam hati mereka. Renungkanlah wasiat Luqman kepada anak-anaknya :
“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Alloh tetap mendatangkannya (membalasnya)” QS. Luqman ; 16
Mereka harus senantiasa diingatkan bahwa Alloh Maha Mengawasi dan Maha Melihat amalan hamba-hamba-Nya.
Diriwayatkan dari Tsabit bin Qais dari Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhuma, ia mengisahkan : “Rosulullah mendatangiku ketika aku sedang bermain dengan teman-temanku. Beliau memberi salam kepada kami, kemudian mengutusku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat datang kepada ibuku. Ketika aku datang, ibuku bertanya, ‘Apa yang membuatmu terlambat?’ Maka aku menjawab, ‘Rosulullah mengutusku untuk suatu keperluan.’ Ibuku bertanya lagi, ‘Apa keperluan beliau?’ Aku katakan, ‘Ini rahasia.’ Maka ibuku pun mengatakan, ‘Kalau begitu, jangan sekali-kali kau ceritakan rahasia Rosulullah kepada seorangpun.’ Anas berkata : ‘Demi Alloh, seandainya aku memberitahukan rahasia itu kepada seseorang sungguh aku juga akan memberitahukan padamu, wahai Tsabit’.” - Shohih, HR. Muslim -
Perhatikanlah, sang ibu tidaklah menghukum anaknya ketika merahasiakan urusan Rosulullah terhadapnya, berbeda dengan yang dilakukan oleh sebagian ibu yang lain. Bahkan beberapa diantara kaum ibu terlalu banyak bertanya kepada anak mereka tentang hal-hal yang tidak layak diketahui banyak orang dari suatu rumah yang dikunjungi si anak, dan tentang segala yang terjadi di antara penghuni rumah tersebut. Dengan semua itu, tanpa disadari sang ibu telah menanamkan dalam diri anaknya sifat fudhul (terlalu ingin tahu urusan orang lain) dan suka menyebarkan rahasia.
  •  Ingatkanlah mereka, bahwa Alloh Maha Perkasa, menghukum hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya, Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Ingatkanlah mereka tentang maut dan beratnya kematian, tentang alam kubur dan kegelapannya, serta tentang kiamat dan kengerian pada saat itu.

  • Perintahkanlah mereka untuk selalu taat kepada Alloh, terlebih lagi dalam perkara sholat. Dampingilah mereka dalam melaksanakannya dan bangunkan mereka dari tidurnya untuk sholat. Tanamkanlah dalam diri-diri mereka agungnya kedudukan sholat. Waspadalah dari rasa kasih sayang terhadap mereka yang membuatmu tidak membangunkan mereka yang dapat menyebabkan dirimu dan dirinya masuk ke dalam neraka.Wal’iyaadzubillah.

  • Biasakanlah mereka berpuasa sejak kanak-kanak agar mudah melaksanakannya ketika usia mereka telah baligh dan sadarkanlah mereka terhadap pengawasan Alloh. Sesungguhnya puasa adalah pendidik paling besar bagi mereka agar mereka menyadari bahwa Alloh Maha Mengawasi.

  •  Awasilah anak-anakmu dan jangan biarkan mereka bermudah-mudah melakukan perkara-perkara yang mungkar, sementara engkau mengetahuinya. Janganlah berdiam diri sementara engkau mengetahui bahwa putrimu mendengarkan nyanyian atau mengenakan cat kuku (kuteks) lalu ia berwudhu tanpa menghilangkannya, atau mengerik alisnya, atau ia melepaskan hijab yang syar’i, atau keluar dengan memakai wewangian, atau bepergian sendiri ke pasar maupun ke tempat-tempat umum lainnya, atau ia mengendarai mobil berdua saja dengan sopir, atau ia suka membaca majalah-majalah yang dapat merusaknya!

  • Janganlah engkau meletakkan telepon di kamar pribadinya dan awasilah ia dari jauh. Janganlah bersikap terlalu percaya yang berlebihan atau merasa was-was yang keterlaluan yang dapat mempengaruhi diri putrimu hingga ia kehilangan rasa percaya dirinya.

  • Wahai ibu yang mulia, hindarilah memberikan protes tanpa mampu berbuat sesuatu padanya atau engkau semata-mata membenci kemungkaran yang dilakukannya tanpa tindakan apapun. Akan tetapi, jadilah orang yang kuat memegang al-haq yang tidak akan ridha pada sesuatu yang batil, namun lemah lembut dan penyayang dalam perkara-perkara selain itu. Didiklah dengan baik putrimu karena kelak dia bisa menjadi tabir/penghalang api neraka darimu.
Asy-Syaikh Ibnu Baaz berkata: “Berbuat baik terhadap anak-anak perempuan diwujudkan dengan mendidik mereka dengan pendidikan Islami, mengajarkan ilmu kepada mereka, membesarkan mereka di atas al-haq dan semangat untuk menjaga kehormatan diri, serta menjauhkan mereka dari perkara-perkara yang diharomkan Alloh berupa tabarruj dan selainnya. Demikian itulah metode mendidik anak-anak perempuan maupun anak laki-laki, juga dengan hal-hal selain itu yang termasuk sisi-sisi kebaikan, sehingga mereka semua terdidik untuk taat kepada Alloh dan Rosul-Nya dan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharomkan Alloh serta menegakkan hak-hak Alloh. Dengan demikian kita ketahui bahwasanya maksud berbuat baik disini bukanlah semata-mata memberi makan, minum, dan pakaian saja. Bahkan maksudnya lebih besar daripada itu semua, yaitu berbuat kebaikan kepada mereka dalam masalah agama maupun dunia.” Beliau juga berkata: “Hadits ini ditujukan kepada ayah maupun ibu secara umum.” (Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Muta’addidah, 4/377)
  •  Peringatkanlah putra-putrimu dari teman-teman yang jelek dan jelaskan akan bahayanya bergaul dengan mereka. Jagalah mereka dari bermain di jalanan serta bahayanya. Buatlah mereka sibuk dengan perkara-perkara yang memberi manfaat pada diri mereka, seperti menghapal Al-Qur’an di masjid.

  • Janganlah engkau memasukkan alat-alat yang diharomkan ke dalam rumah, terlebih lagi video, walaupun engkau memberikannya dengan maksud sekedar untuk menghibur mereka.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam tafsirnya: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsunya karena Alloh, maka Alloh akan memberi ganti yang lebih baik darinya di dunia dan akhirat. Demikianlah, barangsiapa meninggalkan maksiat karena Alloh, padahal hawa nafsunya ingin melakukannya, Alloh akan menggantikannya dengan keimanan dalam hatinya, berikut keluasan, kelapangan dan berkah dalam rejekinya serta kesehatan badannya, disamping pahala dari Alloh yang ia tidak akan mampu menggambarkannya.” (Taisir Al-Karimir Rahman)
  • Waspadalah wahai saudariku muslimah dari mendoakan kejelekan atas anak-anakmu, walaupun dirimu dalam keadaan marah. Bisa jadi doamu bertepatan dengan waktu terkabulnya doa, hingga doa jelekmu itu terkabul. Sebaliknya, perbanyaklah mendoakan kebaikan bagi mereka.
Kita memohon kepada Alloh untuk memperbaiki anak-anak kita dan menjadikan mereka penghibur hati bagi kita di dunia dan akhirat. Semoga Alloh menolong kita dalam mengemban amanah ini.


dikutip dari Majalah Asy-Syariah No.01/Agustus 2003

0 komentar:

Posting Komentar